Imazahra's posts with tag: social life

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag social life
Blog EntryKisah Dua Lembar Tissue pada Sebuah Cafe...Jun 27, '08 6:58 AM
for everyone
... di bilangan Malioboro Mall. Aku terdampar di Mall ini karena perut sudah sangat melilit belum diisi apapun sejak pagi tadi!

Karena beberapa urusan dan kepentingan aku harus melupakan rasa lapar dan meluncur ke Rifka Annisa (Women Crisis Center) di daerah Jambon, Jalan Magelang dan Diana Music di Jl Kranggan, demi menatap biola-biola cantik itu! Pantas saja perempuan cantik dan bertubuh proporsional selalu disebut memiliki body bak biola atau gitar!

Inti kisah bukan tentang perjalananku di atas, hehehe... tapi pada dua 'keterpesonaan'ku di bawah ini:

Sampai di Malioboro Mall, aku melirik ke kiri dan kanan, ke manakah akan kulangkahkan kaki mengisi perut yang melilit ini.

Aha, J.CO sekarang sudah berjalan 'normal'. Sebelumnya sungguh mengerikan!!! Karena antrian mengular dan masing-masing orang harus rela menunggu berjam-jam demi menikmati donat-donat bulat dengan full western taste itu!

Sekarang sepertinya waktu yang pas untuk membeli J.CO yang baru saja hadir di jantung kota Jogja. Kelembutannya yang pernah kurasakan sekali (bersama teh Ari) di Jakarta menggodaku untuk membelinya seperlunya demi mengganjal perutku.

Saat mengantri, tidak ada hal istimewa yang terjadi, semua berjalan biasa.

Saat membayar di cashier, semuanya juga biasa-biasa saja!

Saat mulai menikmati sepotong J.CO dan membuka laptop yang memang kubawa, keanehan dalam tanda kutip mulai terjadi.

Aku celingak celinguk mencari waitress/waiter demi menanyakan password milik LCnet yang jadi penyedia free hotspot di Mall ini.

Seorang waiter akhirnya muncul di hadapanku. Pertanyaan yang keluar dari mulutnya,

"Ibu sudah membeli minuman?"

"Eh???" Aku bingung dengan pertanyaannya.

"Iya Bu, Ibu bisa mendapatkan password di sini kalau Ibu membeli minuman!"

"Loh, saya kan sudah membeli setengah lusin donat...," sambil dalam hati kutambahkan kata-kata, 'Apa itu kurang demi mendapatkan password free hotspot ini?'

"Mas, saya kan sudah beli donat. Lagian di halaman LCNet ini disebutkan, password bisa didapatkan secara cuma-cuma di lantai dasar dan di Foodcourt. J.CO kan juga bagian dari foodcourt toh!? Lantai dasar di bawah kan Mas? Ribet buat saya hanya demi mendapatkan password gratis turun ke basement dan balik lagi ke sini menikmati donat yang sudah saya BELI DI SINI!" Aku menjelaskannya dengan menekankan kata-kata terakhir. Agak kesal sih! Kok hitungan banget, ck ck ck...!

Si Mas 'mengalah' dan mendekati laptopku. Ini passwordnya teman-teman:

ID             : lcnet
password  : malmalioboro

(Jadi kalau pas mampir ke Malioboro Mall dan membawa laptop, teman-teman bisa langsung login tanpa harus tanya kesana kemari).

Oke, masalah password terselesaikan. Aku mulai membuka email, karena inilah sesungguhnya salah satu tujuanku kali ini mampir ke Mall ini. (Diingat-ingat, aku baru dua kali ke mall ini sepanjang 6 bulan tinggal di Jogja, bukan anak Mall sih, hehehe...).

Sembari membuka email itu aku baru tersadar, aku menikmati si donat bulat tanpa mengambil selembar tissu di bar yang telah disediakan. Hehehe, dampak perut meronta nih! Padahal donat kedua yang kugigit berisi cream yang lumer dan meleleh kemana-mana saat digigit. Waaaaaaaaaahhhhhhhh! Sementara tangan kananku memegang si donat leleh dan tangan kiriku terletak di keyboard laptop!

Gegas kuayun langkah ke arah bar! Belum tiga langkah kakiku menuju bar, seorang gadis bule berwajah ayu berdiri, mencondongkan badannya ke arahku dan menyorongkan dua lembar tissue bersih bertuliskan J.CO di salah satu sudutnya ke tangan kiriku, karena tangan kananku memegang si donat leleh!

Aku terpana, beberapa saat aku gagap... dan akhirnya bisa membebaskan diriku,

"Thank you, it's very kind of you..." senyum ramah dan bersyukur kusunggingkan di bibirku, dan dia membalasnya dengan senyum termanisnya.

Duh, hatiku  ikut lumer! Melebihi donat yang lumer di mulut. Tanpa banyak kata, si gadis bule telah menyentuh hatiku. Sementara orang-orang Indonesia di sekelilingku cuek bebek melahap donat mereka masing-masing.

Sungguh, tidak ada kewajiban bagi si gadis bule untuk memberikan sisa tissue J.CO nganggur miliknya ke tanganku. Tapi dia ternyata diam-diam melihat kekikukan dan kealpaanku, lalu menolongku.
***

Bukan Ima namanya kalau tidak bisa menemukan cara berkenalan dengan gadis bule dengan good attitute itu, hehehe... Oh iya, dia juga duduk disamping teman laki-lakinya.

Walau awalnya sungkan, akhirnya bisa juga aku membuka percakapan dengan Englishku yang semakin memburuk dan terpatah-patah karena sudah lama tidak digunakan, huhuhu...

"Excuse me, may I know, where do you come from?"

"I'm from England..." sahutnya lembut dengan aksen British selatannya yang kental!

"Wow, what a coincidence! Actually I'm guessing you while I'm eating my donat, which country in the world probably do you come from, and guess what, I chopped you off from one of the European countries, based on your beautiful manner and my old experience when I did backpacking!"

"That's interesting!" Dia menyunggingkan senyum manisnya.

"When you said you come from England, suddenly I miss my old memories when I was studying in Leeds"

"Oh really? When did you go to England?"

"It was... bla bla bla..."

Singkat cerita, akhirnya kita bertukar nomor HP dan email dan saling berjanji akan keep in touch.
***

Kejadian yang agak menjengkelkan dan sekaligus manis dari dua anak manusia  berbeda bangsa menutup soreku hari ini.

PS.
Poto minjam Mbah Google

Tak terasa aku menapak kepala tiga. Seperti baru kemarin aku belajar membaca-menulis! Aaah waktu, begitu cepat berlari...

Alhamdulillah aku masih diberiNya kesehatan, rizki, cinta dan kasih sayang dari sahabat dan semesta.

Tak putus kuucap Alhamdulillah atas perjalanan hidupku selama ini. Duka derita yang kukecap tidak sebanding dengan Kasih SayangNya yang tercurah untukku. Alhamdulillah...

Jujur, di keluarga kami tidak ada tradisi merayakan ulang tahun. Kembali mengenang masa kecilku dulu, saat itu, jangankan memikirkan perayaan ulang tahun, memikirkan uang makan sehari-hari saja kami sekeluarga sangat-sangat kesulitan. Allah menguji Abahku, beliau benar-benar sedang terpuruk, jatuh bangkrut.

Sejak kanakku, aku hanya tahu perayaan ulang tahun teman-temanku. Ulang tahun kawan-kawanku identik dengan meniup lilin, memotong kue dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun, lalu mendapatkan puluhan hadiah dibungkus kertas warna warni memikat mata kanak kami. Tapi aku sendiri dan ketujuh adik-adikku sampai kami besar-besar, belum pernah sekalipun merayakannya. Apalagi Abah kami sering bilang, "Merayakan ultah adalah tradisi jahiliyah." Ya sudah, Ima kecil dan adik-adiknya bisa menerima itu semua dengan lapang dada. Walau yang namanya anak kecil, sekali-kali rasa iri menyala di hati kanakku, hehehe... namanya juga anak-anak ya

Sekarang, setelah aku Alhamdulillah punya sedikit penghasilan pun, tetap saja pesta ulang tahun itu tidak pernah ada. Kami diajarkan oleh Abah untuk berpuasa di hari milad kami masing-masing. Apakah ada tumpengan atau masak-masak besar untuk syukuran di rumah kami? Tidak, itu juga tidak ada. Soalnya Abah belum pernah mengingat ulang tahun anak-anaknya secara spesial. Mungkin kami keluarga kolot dan tradisional sekali ya :-)

Tapi kami tidak kehilangan kegembiraan, karena tepat di hari lahir, biasanya yang ingat dan mengucapkan doa-doa adalah kami sesama saudara kandung dan tiri, hihihi...

Tak apa, toh buatku milad bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan apalagi sampai menghambur-hamburkan uang. Buatku, milad adalah momentum untuk mengevaluasi diri, "Sudah seberapa besarkah keberadaanku di dunia ini bermanfaat bagi sesama?" Sebagaimana Sang Nabi  Mulia mengingatkan ,

"Khairunnas anfa'uhum linnas!" "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain."

Dengan mengusung semangat kemanfaatan itu, mohon maaf, aku tidak berencana mentraktir teman-teman semua di cafe atau restoran mana gitu, [hehehe, soalnya ada yang tanya], khususnya teman-teman MP-ers Jogja, gak papa ya :-)

Tapi...
Ada tapinya nih, hehehe...

Aku mengajak teman-teman khususnya MP-ers Jogja, untuk bersama-sama berbagi kasih sayang [ada sedikit tabungan yang kupunya] ke sebuah panti kecil dan sangat membutuhkan uluran bantuan tangan kita. Aku pikir, di saat harga-harga sedang melonjak naik, tak ada salahnya kita kurangi bersenang-senang secara pribadi, tapi kita salurkan yang kita miliki untuk berbagi.

InsyaAllah aku ingin silaturahmi ke Panti Asuhan di Imogiri, Bantul. Tepatnya hari Minggu tanggal 15 Juni besok. Tempat masih tentatif ya, jadwal saja yang fixed!

Kok jauh? Iya, soalnya panti asuhan di dalam Jogja sudah lumayan banyak dermawannya, jadi kali ini kudu menyisir pinggiran Jogja. Gak papa kan?

Ada yang mau ikutan menambah-nambah isi goodie bag??? Sekalian saja dijadikan ajang baksosnya MP-ers, boleh kan? Darling Shant sih sudah mengacungkan tangan, insyaAllah dia sekeluarga akan join :-)

Silahkan PM aku ya kalau mau ikutan berbagi, boleh uang, boleh berupa isi goodie bag atau apa saja yang berguna untuk adik-adik :-)

Eh, ajakan ini juga boleh dilink ya, aku akan senang sekali :-)
===========================================================================

UPDATE:

Belum juga beberapa jam berlalu sejak jurnal ini kutulis, ternyata reaksi keluarga besar MP-ers Subhanallah mengagumkan. Sejauh ini yang mau mentransfer dana, buku bahkan isi goodiebag terdaftar di bawah ini ya:

1. Ardhanamesvari, insyaAllah berupa isi goodiebag

2. Ngrejekeni, insyaAllah sejumlah uang

3. Arynsis, insyaAllah berupa buku cerita anak-anak

4. Winda, insyaAllah sejumlah uang

5. Eva_nda2 insyaAllah sejumlah uang

6. Teh Tina di Jeddah insyaAllah sejumlah uang

7. Mba Tita insyaAllah goodiebag or uang

8. Sovie insyaAllah ikutan juga

9. Siapa menyusul??? Akan saya update terus ya :-)

Hiks, terharu banget. Sampai speechless! Ayo yang jadi penulis atau kerja di penerbitan, boleh loh nyumbang buku-buku. Pas lagi dengan jelang tahun ajaran baru, Alhamdulillah.

Nanti total nominal akan saya umumkan juga di sini. Sedikit-sedikit kan jadi bukit. InsyaAllah, berlomba-lomba dalam kebajikan ya :-)

ddd
dThumbnaild
ddd
Laporan lengkap silahkan dibaca di situ ya: http://imazahra.multiply.com/journal/item/247/Laporan_Kopdar_Anadia_Seru_Penuh_Ilmu

Di photo ini yang tidak ada adalah Mba Tita, karena beliau sudah pulang duluan dan sesaat sebelum dia pulang, alarmku sebagai dokumenter gak langsung 'nyala', huhuhu... ketinggalan deh Mba Tita di photo rame-ramenya!

Blog EntryLaporan Kopdar Anadia: Seru, Penuh Ilmu!Jun 2, '08 3:15 AM
for everyone
Declaration:

Mulai awal bulan Juni ini jurnal-jurnal yang kutulis ditujukan untuk diikutsertakan pada Blogging Contest yang diadakan oleh British Council.

Untuk term putaran kedua kali ini tema besarnya adalah Knowledge Economy.

Kata Om Wikipedia, knowlegde economy adalah:

"The
knowledge economy is a vague term that refers either to an economy of knowledge focused on the production and management of knowledge in the frame of economy constrains, or to a knowledge-based economy. In the second meaning, more frequently used, it refers to the use of knowledge technologies (such as knowledge engineering and knowledge management ) to produce economic benefits."

Melihat penjelasan di atas, bisa kualihbahasakan pengertian Knowledge Economy sebagai sebuah terminologi yang samar-samar pengertiannya. Pengertian pertama, ekonomi pengetahuan dimaknai sebagai usaha yang fokus pada produksi dan manajemen pengetahuan dalam bingkai 'tarikan-tarikan' ekonomi. Sedang di pengertian kedua, dan lebih sering digunakan, knowledge ekonomi merujuk pada penggunaan teknologi-teknologi pengetahuan [seperti rekayasa pengetahuan dan pengelolaan pengetahuan] untuk memproduksi kemanfaatan pengetahuan secara ekonomis.

Nah, berhubung tema ini terasa berat, aku menantang diriku untuk menerjemahkan Knowledge Economy secara sederhana melalui jurnal-jurnal yang akan kutulis sampai tanggal 15 Juni nanti.

Menurutku pribadi, proses sharing pengalaman dan saling belajar melalui kopdar  [kopi darat] yang diisi dengan diskusi yang terarah pun merupakan bagian dari knowledge economy!

So, izinkan daku menceritakan proses sharing pengetahuan tentang dunia kepenulisan secara fun dalam kopdar milis pembacaanadia [sebagai bagian kecil dari knowledge economy] di bawah ini:

Menjelang Kopdar...!

Ba'da sholat Subuh  aku sudah berniat ingin segera mandi, beres-beres kamar, dan meluncur ke pasar Demangan [beli jajanan pasar untuk kopdar] karena kopdar tanpa jajanan kok rasanya hambar, hihihi... dasar akunya saj
a yang gembul sepertinya :-)

Tapi, baru juga melangkahkan kaki ke kamar mandi, teleponku berdering kencang. Seorang adik [yang juga asisten rumah tangga di rumah mixed couple] menjeritkan isi hatinya. Ia terisak dan menumpahkan segala! Duh, aku jadi kebingungan sendiri. Sementara jam terus merambat tanpa bisa kutahan.

Pagi itu kutampung segala kesah gelisahnya. Kuminta ia menghapus air mata dan menenangkan diri dan berjanji akan menjemputnya sore itu juga. Kujelaskan bahwa aku harus berangkat ke UGM karena akan ada pertemuan. Andai kalau bukan karena sudah mengiyakan undangan Mba Yunita Chandra yang mengordinir acara kopi darat milis pembacaanadia [Gabungan kata sekaligus singkatan dari Milis Pembaca Asma Nadia] aku barangkali akan mengurungkan niat menghadiri kopdar perdana ini. Bukan apa-apa, aku merasa harus bertanggung jawab pada 'adik' satu ini, karena aku lah yang memperkenalkan ia pada mixed couple tersebut. Bagaimanapun, aku harus bertanggung jawab menjernihkan 'danau yang keruh!'

Tak terasa, jam di HPku sudah menunjukkan pukul 8.30 pagi. Whoaaaaaaa, padahal janji kopdar juga jam 8.30. Hiks, aku paling tidak suka telat tapi jelas kali ini aku sepertinya akan telat satu jam-an, mengingat lokasi kopdar agak-agak sulit dicapai dari kosku. Ada banyak jalur bus ke sana, tapi mutar-mutar dulu ke Ringroad Utara.

Uh, bagaimana nantilah, bisik hatiku. Yang penting aku harus memenuhi janjiku membawa jajanan pasar. Gegas kuayun langkah ke pasar Demangan dan memilih beberapa kue manis [kalau tak salah bolu kukus beras dan nogosari] ditambah gorengan bakwan udang. Sepertinya sih menggoda iman, soalnya masih mengepulkan panas ketika kubeli.

Mencari Ojek!

Agak panik melirik jam HP, whuaaaaaaa, sudah jam 9 pagi! Kutanya pak parkir setengah mendesak,

"Pak, ada ojek gak di sekitar sini," sembari mataku menatap nyalang jejeran motor yang tersusun rapi di samping kiri jalan raya.

"Duh Mba, ya gak ada tho..., naik becak aja!"

"Wah, gak mungkin Pak, becak pelan sekali, saya perlu buru-buru..."

"Ya, gak ada Mba, gimana lagi..." si Bapak peduli ini memperlihatkan ekspresi prihatinnya.

"Haduh Pak, saya ada pertemuan, kalau ada teman Bapak yang mau antar saya, tolong kasih tau saya ya, Pak," ujar saya sekilas sembari menolehkan kepala diujung kalimat kepada Bapak tukang parkir. Setelah itu si tukang parkir kutinggalkan dan aku menyeberang jalan raya karena teringat pulsa teleponku habis! Kacau balau nanti kalau aku tidak bisa menghubungi Mba Nita saat mau memastikan lokasi kopdaran!

Selesai membeli pulsa elektronik, aku mendengar seseorang memanggil sayup-sayup!

"Mba..., Mba..."

Aku celingukan, aku kah yang dipanggil???

"Mba..., Mba..." masih ada panggilan itu, tapi sungguh aku benar-benar amnesia, huhuhu...

Akhirnya kutolehkan kepala ke arah suara panggilan sayup-sayup itu dan... oalaaaaaaah! Si Bapak tadi melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Uhuks! Betapa pelupanya aku! Aku kan tadi berpesan minta dicarikan ojek, ck ck ck... Ima, dasar penderita 'amnesia' kelas kakap!

Aku hampir mau menyeberang, tapi si Bapak memberikan kode tidak perlu menyeberang. Aku disuruh menunggu. Oh, senangnya. Langsung kuberikan instruksi pada Bapak ojek dadakan ini untuk secepat mungkin meluncur ke lokasi kopdar, mengingat aku hampir telat satu jam, hehehe... Dan bapak ini juga mengenakan seragam tukang parkir yang sama, sepertinya beliau ini temannya si Bapak tukang parkir baik hati itu.

Akhirnya sampai juga setelah meluncur lewat jalan-jalan tikus beberapa saat dan aman dari kejaran polisi karena aku gak pakai helm, huhuhu... Si Bapak ini sempat kutanya,

"Pak, helm buat saya mana?"

"Ah, gak pake gak papa, Mba"

"Entar kalau kenapa-kenapa, Bapak yang tanggung loh ya?!"

"Tenang aja, Mba..."

Duh, sungguh aku deg-degan karena melanggar hukum begini dan ternyata kejadian ini terulang lagi pas pulangnya, iya kan Sov, hihihi... bandel dan jadi lebih berani... jangan ditiru ya pembaca :-)

Bertemu PembacaAnadia Milisters

Singkat cerita, sampai juga di pojokan Graha Sabha dan Purna Budaya. Sempat celingak celinguk mencari ibu-ibu dan gadis-gadis cantik. Manaaaaa sih mereka??? Aku sempat melangkahkan kaki ke serombongan keluarga yang sepertinya sedang piknik. Lho kok ada bapak-bapak dan mas-mas? Padahal seingatku daftar confirmed yang akan hadir di milis tidak menunjukkan satu pun nama lelaki kecuali Rifqi, hehehe... jadi agak bingung juga dan hampir mau menghampiri mereka. Entah kenapa ada suara di hati, sepertinya itu bukan mereka.

Saat badanku berbalik arah, mataku melirik ke kanan dan... Ahaaaaaaaaa! Itu dia para gadis dan ibu-ibu. Hihihi... senangnya hatiku :-)

"Assalaamu'alaikum teman-teman milis Anadia"

"Wah Ima, wa'alaikum salam..., bla bla bla..."

Sapa hangat pertama kudapatkan dari Mba Nita yang sungguh lembut dan keibuan. Ibu satu ini hebat, imut-imut, anaknya sudah dua tapi cerpen a
nak dan English short story-nya dong, bertebaran di Kompas, Annida, Bobo dan majalah lainnya. Kagum banget sama produktifitasnya!

Pagi itu aku berkenalan dengan semua yang hadir. Alhamdulillah bisa menambah saudara lagi di dunia nyata. Sayangnya Mba Wiwit yang sudah confirmed mau hadir, karena satu dan lain hal terpaksa dibatalkan karena belahan jiwanya sedang tak di Indonesia mendadak, otomatis Mba Wiwit repot mengatur semuanya, apalagi ada buntut Vari cantik :-)

Yang hadir (kuambil daftarnya dari MPnya Sovi):

1. Mbak Nita - http://nitacandra.multiply.com
2. Mbak Selly - http://cintaeropa.multiply.com
3. Mbak Vanny - http://nymediana.multiply.com
4. Mbak Mutia [belum ada MPnya, tapi kemarin kita rayu supaya bikin, hihihihi...]
5. Mbak Rifqi - http://juicemelon.multiply.com
6. Mbak Novi - http://nikinput.multiply.com
7. Mbak Sri - http://dusrinah.multiply.com
8. Mbak Sovi - http://iwananashaya.multiply.com
9. Aku sendiri dong! - http://imazahra.multiply.com
10. Mbak Rani [juga belum punya, tapi insyaAllah segera bikin nih, hehehe]
11. Mbak Tita - http://putrihapsari.multiply.com

Pas kopdar kita ngapain saja kah???

Berhubung aku gak ikutan sejak awal, urutan acaranya kuambil di MP Sovi ya, sambil kutambahi kesan-kesan versiku, hihihi...

1. Dibuka dengan doa

2. Kenalan pastinya

Walau sesi kenalan ini agak-agak lucu gitu, karena datangnya gak serentak, jadinya sesi perkenalannya diulang-ulang seiring jumlah anggota milis yang berdatangan, hihihi... tapi seru juga, biar gak terlalu serius dan tegang gitu :-)

3. Diskusi dunia kepenulisan

Nah, kita ini kan dipertemukan di dunia maya oleh milis pembaca Anadia, otomatis yang dibahas ya gak terlepas dari tema dunia tulis-menulis itu sendiri. Mba Asma sendiri kan mendirikan milis itu tidak sekedar untuk menghimpun para pembaca buku-buku seorang Asma, tapi juga untuk meng-empower teman-teman -yang kebanyakan perempuan- untuk  bergiat mengekspresikan rasa, fikir dan karya di bidang kepenulisan. Kalau istilahnya Mba Asma itu, "Perempuan bisa habis-habisan bergelut di bidang kepenulisan. Ada wilayah tanpa batas yang bisa dimaksimalkan di dunia kepenulisan dan menembus ruang dan waktu." Aku setuju banget sama idealisme Mba Asma satu ini.

Jujur, aku semangat banget kemarin itu meng-encourage alias memanasi teman-teman untuk menulis, menulis dan menulis. Intinya saling menyemangati karena aku sendiri sadar diri, kadang-kadang suka loyo ditengah-tengah aktifitas menulis yang coba kuseriusi. Dengan memanas-manasi sahabat milister pembacaanadia, aku berharap memanaskan bara di dalam diriku sendiri. Ayo semangat Ima! Bukunya kudu diselesaikan!!!

Aku juga senang dengan semangat berbagi Mba Nita. Semangat berbagi beliau menunjukkan kebenaran pepatah padi, "Semakin berisi semakin merunduk." Mba Nita banyak sharing soal proses kreatifnya selama memproduksi karya-karya yang sukses menembus koran sekaliber Kompas, ck ck ck...

Akhir-akhir ini aku semakin menyadari bahwa dunia kepenulisan itu luar biasa menantang! Ada ruang-ruang kepenulisan yang selama ini belum serius coba kujenguk sekaligus kupelajari. Ruang anak-anak. Ruang Remaja. Ruang Fiksi. Ruang Non Fiksi.

Khusus ruang anak, entah kenapa, setiap kali menuliskan kisah anak-anak [sungguh beberapa kali aku mencoba!] aku selalu merasa hambar saja. Datar dan 'basi'. Bahkan aku sempat mencetuskan asumsi saat kopdar kemarin,

"Jangan-jangan masa kecil seseorang, bahagia tidaknya menurut memori kanaknya yang disimpannya dibawah alam sadarnya, akan menjadi stimulan yang sangat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menuliskan kisah anak-anak!"

Ahai, ini jadi memunculkan hipotesa yang menarik untuk kuteliti. Kapan-kapan mewawancara penulis anak-anak di Multiply ah :-)
*lirik-lirik Mba Renny, Mba Nita, Mba Ary, Kang Iwok dan Bhai*

Pagi itu Mba Nita juga sempat membagikan beberapa lembar file yang berisi tips menulis buku anak dari Mba Reny [diambil di halaman akhir salah satu buku anak Mba Renny], tulisannya Bambang Trim dan tulisannya Mba Arlien yang komunikasi langsung dengan Mbak Nita. Makasih ya Mba, sudah menyempatkan sedemikian rupa, Allah yang akan membalasnya.

4. Ada teleconference bo!!!

Jadi, sehari sebelumnya, Mba Nita yang penuh inisiatif ini mengontak Mba Asma agar bersedia meluangkan waktunya memberikan motivasi keenulisan langsung! Wah, sungguh aku terharu atas inisiatif jenial yang datang dari Mba Nita. Jelang Zuhur Mba Nita menelpon Mba Asma dan semua diminta menyiapkan daftar pertanyaan, hihihi... ternyata banyak yang speechless, ahahahaha! Suaranya Mba Asma di telpon merdu dan keibuan ya, teman-teman :-)

Siang itu Mbak Asma menyampaikan beberapa pesan penting, yang masih segar kuingat:

  • Tips menulis sebetulnya sudah terangkum di file yang ada di milis. Silahkan dipelajari lagi. Ada banyak hal bisa dielaborasi dari situ
  • Tips menulis paling jitu? Ya menulis, menulis dan menulis!
  • Mba Asma juga memberikan beberapa catatan atas naskah-naskah antologi yang masuk ketika ada proyek antologi: Biasanya penulis pemula ada kecenderungan memasukkan seluruh pengalaman subyektifnya yang menurutnya penting dan harus dituliskan, sementara di mata penerbit sendiri, tulisan itu terlalu kedodoran alias terlalu banyak detil yang tidak perlu. Sebagai penulis, kita dituntut untuk rajin mengedit tulisan kita sendiri sebelum kita kirimkan ke penerbit. Intinya, pengalaman dan kerendahhatian untuk melakukan otokritik atas tulisan sendiri adalah wajib hukumnya. Ayo Ima, semangat!
  • Kalau dimungkinkan dan pembacaanadia milister Jogja semakin solid, alangkah bagusnya kalau bisa membuka Rumah Cahaya atau apapun itu namanya. Intinya mengumpulkan buku-buku bekas lalu dicari lokasinya, dimana anak-anak di lokasi tersebut memang membutuhkan buku-buku gratis bermutu.
  • Kalau teman-teman milister Jogjakarta punya ide-ide yang ingin diusung dan diterbitkan apalagi ada celah [alias pasar buku sendiri belum menerbitkan tema terkait] Mba Asma dari LPPH bersedia memfasilitasi teman-teman. Tentunya di tingkat milister Jogja sendiri, konsep ini harus dimatangkan dahulu!

Apalagi ya? Sementara itu dulu ya. Mba Asma ngomongnya cepat sih, hihihi :-) Aku juga sempat mengajukan satu pertanyaan, dan untuk Mba Asma, jangan bosan-bosan dengan sapa cerewetku ya :-)

Catatan dariku sendiri: Aku tertarik banget dengan konsep mendirikan rumah buku itu. Kemiskinan tidak seharusnya menghentikan anak-anak dari haknya menjadi cerdas dan terberdayakan lewat buku kan? Ayo teman-teman Jogja, kita godok yok konsep satu ini.

5. Sesi curhat dan berbagi

Aku senang banget soalnya bisa sharing macam-macam sama teman-teman.  Hihihi, mudahan pada gak eneg ya :-p Tidak melulu soal tulisan, tapi juga backpacking! Soalnya ada beberapa yang juga berencana mau backpacking sendirian. Kebayang sih gimana deg-degan sekaligus excitednya: Perempuan, sendirian dan untuk pertama kali :-)

Cerita Sri soal dialog sekaligus konflik-konflik kebudayaan antar Asrama Daerah-Asrama Daerah yang ada di Jogja juga menarik. Bagus tuh kalau diseriusi oleh Sri dan ditulis menjadi buku tersendiri. Ayo Sri, kamu pasti bisa :-)

6. Kita juga menghasilkan beberapa kesepakatan praktis sekaligus strategis

Diantaranya:
-Membuat kesepakatan sharing ilmu kepenulisan, membantu mengkritisi dan memberikan masukan tulisan masing-masing sekaligus saling menyemangati via Multiply group, ditunggu ya Sovi rumah MP baru kita
-Kemungkinan-kemungkinan membuat buku bersama

Kalau aku gak salah ingat, kita benar-benar bubar dari sudut Graha Sabha itu setelah setengah jam azan Zuhur berkumandang, whuaaaaa! Berarti total kita sudah berdiskusi sekitar 3 jam lebih dan rasanya masiiiiiiiihhhhhhh kurang banget :-) Berdiskusi dengan orang-orang yang punya passion sama dengan kita itu selalu menyenangkan ya :-)

Bubar pun pada akhirnya gak benar-benar bubar, soalnya aku ngajakin teman-teman menicicipi sup buah, es doger, siomay goreng dan es jamu segala rupa di Bundaran UGM. Ngobrol-ngobrol santainya otomatis dilanjuuuuuuuuuuttttttttttt! :-D

Kita akhirnya tetap harus mengucap sayonara setelah perut berhenti kriuk-kriuk, hati senang dan badan terasa mulai lelah, hihihi...

See you all in the next kopdar!
***

Photo-photo lengkap silahkan diintip di SINI ya :-)

Tag: ‘BC blog competition - KE’

Blog EntrySepotong Kisah Bapak Bercaping dan BBMMay 26, '08 9:55 PM
for everyone
Siang itu aku duduk terpekur menatap langit Jogja yang garang. Gerah bukan main! Untungnya aku duduk di alam terbuka. Saat itu aku duduk di atas sebuah becak yang sedang menunggu sahabatku, teh Ari yang sedang sibuk memesan tiket travel di sebuah sudut jalan Malioboro, dipojok depan RM Cirebon disamping Mirota Batik. Cukup lama aku menunggu, si ibu kemungkinan besar kelayapan juga mencari-cari souvenirs sebagai tanda mata pemahat kenangan jiwa.

Awalnya aku hanya berdiam diri, tapi lama-lama bosan juga. Entah mengapa, aku selalu suka mengajak bicara supir taxi, mas ojek, supir bus, bapak tukang becak. Bahkan kebiasaan ini terbawa-bawa sewaktu di UK dulu.

Siang itu kubuka dialog,

"Bapak, sekarang mbecak di Malioboro persaingannya ketat enggak?" sembari mataku melayangkan pandang ke banyak becak yang berjejer rapi di sepanjang jalan Malioboro dan bisa menduga jawaban apa yang akan diberikan si Bapak tua.

"Duh Nak, bukan ketat lagi, berebut malah! Lha tadi kan saya menjemputmu di depan Beringharjo, bahkan rela hanya 5000 rupiah saja sampai Gerjen"

Tadi saat kami baru saja keluar dari pintu pasar Beringharjo, Bapak tua ini langsung memepet dan menjejeri langkah kami. Sibuk bertanya kemana lagi tujuan kami selanjutnya. Aku sempat panik dan bingung mau mengingat tujuan selanjutnya, seolah-olah hilang orientasi karena saat itu manusia penuh sesak.  Teh Ari sampai menatapku tajam, "Ima, kita mau kemana nih???" Sesaat kupilih diam menenangkan diri, dan... aha!

"Kami mau ke Gerjen Pak! Pinten nggih?"

"5000 mawon..."

Jujur aku kaget. Dugaanku si Bapak bakal minta sepuluh ribu minimal. Langsung saja hatiku dan hati teh Ari luluh. Duh, 5000! Gerjen itu kan jaraknya sekitar lima  tujuh kilometer-an dari Malioboro. Jalannya juga agak berliku dan ramai sekali. Aku langsung menduga, pasti si Bapak masih sedikit sekali nariknya hari ini. Beliau terpaksa pasti...

Aku tersadar dari lamunanku. Si Bapak ternyata sudah tidak di atas sadel, tapi sudah berpindah disampingku, sembari tangannya memegang umbul-umbul hiasan becak di sisi kiriku. Wajahnya adalah nestapa. Kutatap dalam-dalam. Kutaksir umur beliau kisaran 55-60 an. Otot-ototnya bertonjolan membuktikan bahwa hidupnya tidaklah mudah dan bersantai-santai. Kulitnya legam dan kasar memperlihatkan bahwa ia pekerja keras menantang kejamnya kehidupan. Tapi dari situ juga terlihat, si Bapak tidak mau menyerah pada gurat nasib yang sepertinya tak adil untuknya.

"Bapak, maaf, umurnya kalau boleh saya tebak, sudah 55-60-an ya?"

Sang Bapak tersenyum dan menyahut, "Benar Nak, umurku 60."

Duh, saat itu aku mau menangis. Setua ini, masih membanting tulang menjajakan tumpangan becaknya?

"Bapak punya anak? Kenapa masih kerja Pak?"

Aku sadar, aku sudah terlalu jauh bertanya, tapi aku tidak bisa menahan mulutku!

"Ada satu, tapi dia juga penghasilannya pas-pasan, wong cuma lulusan SMA mau kerja apa? Saya juga gak papa kok Nak, sudah biasa bekerja, asal tidak mengemis"

Saat itu kutatap lagi matanya. Mata tua yang melamur dimakan usia. Selaput keabu-abuan terlihat mulai menutupi lingkaran mata hitamnya. Apakah itu gejala katarak? Entahlah... yang pasti kurasakan gerimis membasahi hati. Kemanakah  pemerintahan yang mengayomi rakyatnya yang jelata? Rakyat yang renta, dibawah garis kemiskinan, anak-anak yang terlahir menjadi anak jalanan, yang sepertinya bekerja sekeras apapun sulit lepas dari belitan kemiskinan karena kepapaan pendidikan.

"Bapak, kalau pas ramai sehari bisa dapat berapa?"

"Wah, gak pasti ya Nak. Seperti hari ini, saya belum narik sama sekali. Makanya tadi pas kamu bilang mau ke Gerjen, saya tawarkan saja 5000, saya sudah tidak peduli. Saya cuma berharap, kamu minta diantar ke Bakpia Pathok atau ke Dagadu, biar saya dapat tambahan dari toko-toko itu."

"Enggak Pak, kami tidak kesitu. Cuma mau makan bakso saja, langganan saya jaman saya di pesantren dulu. InsyaAllah nanti Bapak kami ajak makan bersama dan bayaran Bapak juga kami tambahkan."

"Wah Nak, saya gak mau ah makan sama-sama. Saya malu. Saya mau antar dan nunggu. Uang makan saya buat tambah-tambah saya saja. Terima kasih ya."

"Ah enggak, Bapak pokoknya harus ikut makan dengan kami, kan Bapak bilang tadi, Bapak belum makan sejak pagi, nanti jatuh lagi pas bawa becaknya karena kelaparan," aku ingat, saat itu senyumku melebar seusai menyampaikan candaan itu.

"Ah Nak, saya pokoknya gak mau ikut makan. Saya malu. Saya gak mau."

Dalam hatiku aku menyusun rencana supaya si Bapak mau masuk warung Bakso yang kami tuju, hihihi...

"Oh iya Pak, Bapak aslinya darimana???"

"Saya dari Kretek. Berpuluh kilometer dari sini. Jadi, setiap pagi, saya naik angkot dari Kretek sampai Parangtritis. Biayanya 2500. Dari Parangtritis saya naik bus sampai sini. Biayanya 4000. Jadi pulang pergi saya menghabiskan 13000."

Wow, modal yang tidak sedikit dan harus dikeluarkan setiap hari. Berarti untuk balik modal dan bisa membawa uang pulang ke rumah, minimal si Bapak harus memperoleh 30 ribuan sehari!

"Kalau pas ramai turis, sehari bapak bisa dapat berapa?" selidikku lebih jauh.

"Wah, gak tentu ya Nak. Kalau pas beruntung, saya bisa dapat sampai 50 ribu sehari. Tapi ya itu, tak menentu. Kadang-kadang saya cuma narik satu dua kali sehari, seperti hari ini, saya baru bawa Mba, kemarin apalagi, seharian saya gak narik, soalnya ada demo sepanjang hari di jalan Malioboro."

Tak terasa, kepalaku mengangguk-angguk pelan seperti boneka yang bergoyang di sebuah dashboard mobil.

"Ditambah Nak, sekarang mobil di Jogja semakin banyak saja, sepeda motor apalagi. Kami-kami ini benar-benar tersingkir, tidak seperti dulu..."

Mata lamurnya menerawang sampai jauh. Andai ia ayahku, pasti sudah kupeluk tubuh tuanya itu. Aku benar-benar merasa ikut sakit hati. Aku teringat isu BBM yang mau naik.

Entah mengapa, aku berdoa, mudahan orang-orang mengurangi pemakaian mobil dan motornya dan beralih menggunakan becak saja. Tapi waktu sepertinya amat tak bersahabat dengan becak, karena becak itu lambat, tidak seperti motor dan mobil yang sanggup menerabas seluruh hukum rimba jalan raya.


Apalagi, becak ramah lingkungan karena gak pakai bensin! Sayangnya semakin tersingkir oleh gaya hidup modern.

Aku juga tak bisa membayangkan dampak kenaikan BBM bagi Bapak ini dan orang-orang miskin lainnya. Apakah mereka sanggup membeli minyak tanah, apalagi minyak gas yang harganya meroket ini???

Dari koran yang kubaca [kalau aku gak salah ingat koran Jogja] jumlah penerima Bantuan Langsung Tunai [BLT] justru malah berkurang. Apakah ini indikator angka kemiskinan di kota Jogja telah menurun? Aku curiga tidak! Karena data yang dipakai adalah data BPS tahun 2006.

Walaupun ada BLT, itu kan sifatnya sangat temporer! Lalu selanjutnya seperti apa??? Apakah pemerintah pusat kemudian akan dengan suka rela mengalihkan dana subsidi BBM untuk menggratiskan sekolah-sekolah dan Rumah Sakit? Dua hal yang paling asasi dan mendesak karena itu kebutuhan rakyat yang paling primer. Aku kok tidak yakin ya ada iktikad baik ke arah sana.

Aku marah pada pemerintah negeri ini tapi sekaligus merasa tak berdaya. Aku hanya bisa membantu yang perlu kubantu sebisaku. Itu saja. Tapi pada tingkat kebijakan, aku bukan siapa-siapa...

Kurang lebih setengah jam kami mengobrol. Tak lama berselang Teh Ari muncul. Tiket sudah beres dipesan dan souvenirs sudah didapatkan. Sang Bapak membawa kami menelusuri Jogja yang sepertinya juga mulai kejam pada rakyatnya yang kurang berpendidikan dan kurang beruntung hidupnya.

Blog EntryHadiah-hadiah CintaMay 4, '08 10:52 AM
for everyone

Dua hari terakhir ini aku digulung resah. Banyak masalah yang tiba-tiba berjatuhan begitu saja dari langit ujian. Lagi-lagi aku tak nyaman tidur. Merasa serba salah. Tak bersemangat menyelesaikan amanah menulis yang dipercayakan padaku. Semestaku membuntu.

Kemarin pagi kamarku diketuk,

“Mba Ima, ini ada paket dari Pak Pos.” Sebuah kepala menyembul dari balik pintu yang kubuka sedikit.  Pintu kubuka lebih lebar. Sebuah paket diangsurkan ke tanganku.

“Makasih ya, Dek. Pagi sekali ya Pak Pos mengantarnya.” Aku menyambut sambil tersenyum hangat. Pagiku terasa berbeda.

Berdebar gegas kubuka. Sret… sret!

Waaaaaah! Isinya buku-buku dan sebuah piagam. 

Alhamdulillah! Hadiah Pemenang Hiburan sebagai satu diantara 23 pemenang dari 200an tulisan yang masuk untuk “Sayembara Menulis Esai Tingkat Nasional: Helvy Tiana Rosa, Karya dan Dunianya” sudah berada di pangkuanku.  Satu buah piagam dan tiga buah buku. Bukan main senangnya!

Apalagi BUKAVU memuat salah satu cerpen masterpiece seorang HTR, Lelaki Kabut dan Boneka. Kisah dari negeri surealis yang ‘menggigil’ dan mengalirkan tak hanya kekayaan bahasa tapi juga rasa, ketika selesai membacanya.

Belum beberapa jam aku kembali ke tulisanku, tiba-tiba pintu kamarku diketuk lagi. Aku menghentikan aktifitas mengetikku beberapa saat. Apalagi nih?

“Mba Ima…, ada di kamar gak?” tanya seseorang dibalik pintu. Chris! Anak kos yang lain memanggilku.

“Iya, Chris, aku lagi ngetik, kenapa?” sambil gegas kudekati pintu. Setelah pintu terkuak, senyumku melebar melihat pemandangan didepanku.

“Nih Mba, paket lagi. Mba Ima asik banget sih, dalam sehari bisa sampai dua kali dapat paketnya,” Chris mengangsurkan sebuah amplop besar. Kali ini terasa lebih ringan, tapi ada benjolan aneh didalam amplop besar tersebut.

"Pengirimnya dari Penerbit Republika? Perasaan aku belum pernah kirim naskah ke Republika deh! Aneh banget sih ini..." Aku menggigiti bibir bawahku. Bingung!

"Loh, kok bisa, Mba?"

"Entahlah Chris..."

“Apa ya ini, Chris?” sembari tanganku menimang-nimang amplop besar tersebut.

“Hehehe…, buka aja, Mba. Nanti juga tahu isinya apa,” Chris menyahut sembari memperlihatkan wajah jenakanya.

Sret sret sret. Waaaaaahhhhhhhhh!

Aku ternganga! 

Ternyata paket dari seorang adik nun jauh di sana. Mesir!!! Negeri eksotis yang sangat ingin kukunjungi. Belum sempat takdirku membawaku ke sana, ternyata sebuah kotak mungil entah berisi apa sudah lebih dahulu hadir dan ‘menyapaku’ di Jogja.

Di dalam amplop itu juga ada buku berjudul "Hapalan Sholat Delisa" yang sudah sangat lama ingin kubeli. Konon sangat menyentuh karena menuturkan setumpuk derita anak SD berumur 6 tahun akibat Tsunami. Kemungkinan ini hadiah dari teman si adik Mesir itu. Soalnya hadiah ini dititipkannya lewat temannya yang pulang ke Indonesia.

Lucunya, alamatnya ditulis bukan Mesir, tapi Singkawang. Mungkin dia takut hadiahnya nyasar dan harus dikembalikan lagi oleh Pak Pos :-)

Box mungil ini kutimang. Aku menikmati sensasi penasaran yang perlahan merebak dalam hatiku. Aku mengajak Chris menebak isinya,

“Ayo Chris, kira-kira isinya apa ya???”

“Waaah, ya aku gak tahulah, Mba. Wong yang dapat kiriman Mba Ima kok.”

“Seru ya, dalam waktu tak berjauhan, aku dapat dua paket langsung. Let me guess this one!”

Tanganku meraba kotak mungil itu lagi. Kotaknya dibungkus kertas kado berwarna pink bermotif hati. Sungguh manis membayangkan adik itu membungkusnya dengan segenap rasa sayangnya pada seorang kakak.

Tiba-tiba darahku mendesirrrrrrr….!!!

Subhanallah! Jangan-jangan… Jangan-jangan isinya…???!

“Chris, sepertinya aku bisa menebak isinya…!"

"Aku ingat, Chris, beberapa minggu lalu aku sempat chatting dengan adik ini. Waktu itu aku sedang blogwalking ke salah satu MP-ers yang jualan jewellery cantik dari wire dan batu-batuan alam. Buatan tangan beliau halus dan bercita rasa seni tinggi. Lalu iseng-iseng aku perlihatkan website si pembuat perhiasan ini dan meminta dia ikutan membantuku memilih. Warna mana yang kira-kira bagus menurut dia. Soalnya aku tipe orang yang sulit memutuskan pilihanku sendiri.”

"Padahal nih, Chris ya, aku juga belum memutuskan juga beli apa enggak, hihihi..."

“Berarti, maksud Mba Ima, isinya perhiasan nih?” Chris membaca pikiranku dengan sangat jitu!

“Iya, dek! Sepertinya begitu. Apalagi pas chatting kapan itu, dia bilang kalau dia menitipkan sesuatu ke temannya. Ya hadiah ini maksudnya. Aku sempat maksa dia untuk ngasih tau kadonya apa, dia ngotot gak mau ngasih tau. Waktu itu aku juga lagi malas bermain tebak-tebakan, soalnya YM-ku sering disconnect!”

“Ya udah, buka aja Mba Ima, aku  ikut penasaran loh!”

Segera kuambil gunting. Pelan-pelan kubuka bungkusan mungil itu. Aku yakin banget, isinya pasti perhiasan. Baru setengah membuka, tanganku berhenti bergerak. Kepalaku kuangkat dan kutatap Chris lekat-lekat.

“Dik, aku sepertinya tahu isinya apa…”

“Apa, Mba?”

“Sepertinya, mudahan aku gak salah ya, aku sering lihat photo dan jurnal teman-teman yang menceritakan objek wisata di Mesir. Mereka juga mengisahkan salah satu souvenir Mesir yang terkenal. Iya, aku tahu, jangan-jangan isi dalam box mungil ini adalah Asfour crystal!!!”

Aku excited sekali dengan permainan menebak isi box ini. Dengan tangan gemetar  dan perasaan tegang mau memastikan benar tidaknya tebakanku, kertas kado itu tuntas kubuka.

Di hadapanku terpampanglah kotak berwarna kuning dan biru bertuliskan ASFOUR CRYSTAL!!!

Hehehe, see...! Aku berhasil menebak sebelum kadonya tuntas dibuka. Chris pun menyunggingkan senyumnya.

“Ayo Mba, buka dong, mau liat perhiasannya seperti apa?”

Kotak kubuka. Isinya sungguh manis. Gelang mirip jam tangan ditaburi tiga buah crystal Asfour berwarna ungu gelap yang tersohor itu.

Airmataku menetes. Aku larut dalam rasa haru. Betapa persahabatan di dunia maya mampu menciptakan keindahan persaudaraan seperti ini.

Terima kasih Dik Hadi. Allah lah yang akan membalas budi baikmu.

***

Hadiah yang kuterima dari Hadi membuat ingatanku melayang pada sepotong replyku di jurnal Mba Ratna [ratnajanuarita.multiply.com]. Ceritanya beliau baru saja pulang dari Jepang dan mengisahkan kesan-kesannya setelah mengunjungi negeri matahari terbit itu.

Iseng kugoda, “Mba, mau dong oleh-oleh dari Jepang,” padahal aku sekedar bercanda. Hal ini sering kan kita lakukan di Multiply saat berkunjung ke MP teman. Ternyata Mba Ratna menanggapinya dengan serius. Beliau menghubungiku berkali-kali, tapi waktu itu HP sedang tidak kuaktifkan selama berhari-hari. Mba Ratna tak putus asa, beliau menghubungi Uni Dina [bundakirana.multiply.com] yang dianggap sering komunikasi denganku.

Tak lama berselang, kuterima PM dari Uni Dina yang memintaku untuk mengirimkan alamat ke Mba Ratna.

Duh, jadi gak enak. Karena reply isengku, dua ibu cantik super sibuk itu menjadi repot karenanya.

Sekitar lima harian setelah komunikasi itu, hadiah manis mampir di pangkuanku. Isinya berupa gantungan kucing berwarna biru yang sangat imut-imut dan sepasang kaos kaki cantik made in Japan.

Terima kasih Mba Helvy, terima kasih adinda Hadi dan terimakasih Mba Ratna Januarita. Mudahan Allah membalas semuanya.

***

Hadiah-hadiah yang baru kuterima ini melemparku lebih jauh pada kenangan saat aku baru sampai di Indonesia setahun lalu.

Aku mendapat setumpuk buku bagus-bagus dari beberapa MP-ers sekaligus. Ada buku-buku dari Mba Deeyand [deeyand.multiply.com], Mba Asma Nadia [anadia.multiply.com], Bang Udin [udintpi.multiply.com], juga Mba Ira [prajuritkecil.multiply.com].

Aku juga dapat bros cantik dari Bunda Wirda [wirdayanti.multiply.com], beberapa cake coklat dan coklat aneka bentuk yang sungguh sedap dari Mba Alya, [nilaalya.multiply.com] Mas Wib [wib711.multiply.com], kalung-kalung cantik khas nusantara dari Teh Ari [srisariningdiyah],  juga cake coklat lagi dari Mba Ira [prajuritkecil.multiply.com].

Ida [ida22.multiply.com] dan Mas Agung [mbot.multiply.com] juga bersedia menjadi tuan dan nyonya rumah yang menyiapkan aneka masakan sedap-sedap. Momen itu sangat manis, pertama kalinya aku bertemu dengan MP-ers Jakarta yang heboh dan tingkat narsisnya mencapai level 'gila'. Hehehe :-D

Waktu aku masih di UK juga, ketika Mba Tita [suluhpratita.multiply.com] datang ke apartmentku, beliau juga membawakan setumpuk buku yang beliau hadiahkan semua untukku berikut bumbu aneka jenis yang dibeli berdua dengan Mba Iwed [rempahjawa.multiply.com]. Masih juga membawa titipan coklat cinta dari Mba Wiwit [ardhanamesvari.multiply.com] Jogja.

Ah, manisnya mengenang kembali semua perhatian itu. Sambil kumemohon maaf jika ada nama yang terlewat yang tak kusebut di sini, yang juga sudah memberiku hadiah.

Bukan main. Hari ini, karena dua buah paket yang sampai kemarin pagi, aku jadi mengenang kebaikan, cinta dan persahabatan MP-ers semua.

Kuucapkan terima kasih tak terhingga. Mudahan Allah membalas semuanya dengan kebaikan, kecintaan dan keindahan yang Maha Indah. InsyaAllah.

***

Namun, sore ini masih saja mood ku turun naik. Aku memilih istirahat saja. Mumpung si seniman stres sedang tak beraksi. Tiba-tiba, teleponku berdering,

“Assalaamu’alaikum…”

“Iya, wa’alaikum salam, ini siapa...?”

“Dek, ini Mba. Masa lupa sama Mba?”

“Subhanallah…! Ada apa Mba?” Aku jadi cemas. Soalnya sudah lama sekali kami tak silaturrahmi lewat telepon. Bukan apa-apa, beliau sangat sibuk dan aku tak mau mengganggu.

“Masa nelpon cuma kalau ada apa-apa, dek?”

“Hehehe, iya sih. Tapi Mba kan sangat-sangat sibuk. Surprise saja..., tapi senang banget sih ditelpon Mba, sebuah kehormatan malah...”

“Mba kangen kamu, dek, sudah lama gak dengar suaramu, gak dengar kabarmu.” Suara riang di seberang sana membuatku tersenyum senang.

Ya Allah, aku dikangeni si 'perempuan berselendang bintang', julukan yang diberikan oleh anaknya? Rasa sejuk mengalir di hatiku. Orang sesibuk beliau, masih menyempatkan menyapaku yang bukan siapa-siapa? Indahnya akhlakmu, Mba sayang. Aku sungguh tersentuh atas perhatianmu.

Mba Helvy, MPnya sekarang jarang dijenguk ya, soalnya sibuk bukan main sih ya :-p

Malam ini, moodku membaik. Mengenang semua kebaikan MP-ers dan telpon dari Mba Helvy yang baru saja menyapaku, memompa semangatku kembali. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku. Aku wajib berkarya, karena itu adalah salah satu ibadah yang disukaiNya juga.

Sekali lagi, kepada seluruh pemberi hadiah-hadiah cinta, kutak tahu harus mengucap apa selain terima kasih. Aku hanya mampu mendoa, mudahan Allah hadiahkan cintaNya untukmu semua.

Again, I love you all!


Blog Entry[III] Rahasia Dibalik Dentuman Musik Rock ItuMay 2, '08 2:21 PM
for everyone
Attention: Sambungan dari SINI.
============================================================

"Maksudnya, Bu???" Aku mengejar jawab. Bukannya menjawab pertanyaanku, si Ibu malah memanggil anaknya. Aku kurang jelas siapa nama anaknya. Setelah dipanggil berapa kali, sang anak muncul di hadapanku.


"Ada apa, Mba?" sang anak menanyaiku ramah.

"Ini loh Mas, saya kan kos di rumah Ibu Sulis, lalu sudah dua malam ini rumah Joglo di sebelah kos saya menyetel radio, kencangnya bukan main! Tadi saya sudah gak tahan lagi, jadi saya periksa sendiri. Saya ketok-ketok, saya bel juga, gak ada satu pun yang menyahut!" Terpaksa aku harus mengulangi penjelasanku lagi.

"Ooooooooh..." Dia hanya ber oh dan kemudian diam, lalu menatap ibunya berulang kali. Tentu saja aku semakin bingung dengan sikap aneh mereka.

"Ada apa sih, Mas?" Aku tambah gak sabar jadinya.

"Gini Mba, si Mas yang tinggal di rumah itu stres. Seperti yang sudah Ibu saya jelaskan. Cuma stresnya sudah parah. Kalau lagi kumat, ya seperti itu Mba. Tetangga di sini sudah maklum semua kok."

"Apa...?" Aku sama sekali gak menduga akan mendapatkan jawaban ini. Jadi, ada orang stres didalam rumah itu dan penghuni kampung ini maklum semua?

"Kita gak mungkin negur Mba. Kalau ditegur dia ngamuk. Pernah kejadian soalnya."

"Maaf, Mas, didalam rumah itu gak ada yang menjaganya? Gak ada orang lain selain dia yang bisa kuhubungi dan kumintai tolong untuk mematikan radio?"

"Ehm, anu, Mba... Ibunya si Mas itu sudah mengungsi ke Magelang. Beliau saja sudah gak kuat ngurusin anaknya yang stres. Jadi, si Mas itu tinggal sendirian. Kalau kita yang negur gak mempan, Mba." Jelas si anak Ibu berkaos merah panjang lebar.

Pada titik ini aku 'lemas'. Aku ternyata sedang 'berperang' dengan orang sakit jiwa! Oh My God!
"Jadi, saya gak punya pilihan lain ya, Mas. Selain menerima situasi ini. Atau..., saya memang harus pindah cari kos lain lagi." Saya menyahutinya.

"Susah sih, Mba. Begini saja, saya akan coba kontak salah satu saudaranya yang tinggal gak jauh dari sini. Biasanya dia yang menengok Mas yang stres ini. Mas ini baik kok Mba, walau stres tapi gak ganggu orang kampung ini"

Aku sudah tidak begitu menghiraukan jawaban Masa berkacamata ini. Aku mendadak merasa sangat lelah! Lelah karena kurang tidur, merasa lelah juga karena sudah menduga yang tidak-tidak. Lelah atas su'udzhon yang sudah mengotori hatiku. Astaghfirullah...

"Ya sudah Bu, Mas, terima kasih banyak untuk penjelasannya. Mohon maaf juga saya sudah menggangu Ibu dan Mas malam-malam gini. Mari Bu, mari Mas, saya pamit."

Terseok kuseret langkah kakiku menuju gerbang kosku. Pikiranku berkecamuk. Dalam diam kurasakan kepedihan mengalir dalam hatiku. Pemuda di sebelah kamarku adalah laki-laki sakit jiwa? Jadi, saat dia menyetel radio kencang-kencang itu kemungkinan dia sedang merasa sangat-sangat kesepian. Tidak ada siapa-siapa dalam rumahnya. Tidak ada orang yang bisa diajaknya bercakap-cakap saat kesadarannya timbul tenggelam. Bahkan seorang ibu yang semestinya ada di sisinya, merawatnya, membantunya, malah kabur ke kota lain. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan sikap sang ibu atau saudara-saudara Mas stres ini. Mereka punya alasannya masing-masing.

Kalau aku jadi pemuda ini, aku barangkali akan melakukan hal yang sama ketika kesepian mendera. Ketika kesendirian menyiksa. Sebegitu dalam, sebegitu gelap, sebegitu menakutkan. Sekarang yang tersisa adalah doa yang kuterbangkan ke langit. Siapa pun Mas stres itu, mudahan Allah sembuhkan ia...

Allah!
Malam ini Engkau bentangkan lagi hikmah untukku.
Aku harus banyak bersyukur

Aku masih waras...
Seberat apa pun masalah-masalah yang menghadang di depanku

Aku belum gila...
Se-stres dan seberat apapun garis kehidupan yang Engkau goreskan untukku

Aku masih normal, masih sadar menjadi bagian dari kampung ini, sehingga tahu diri untuk menempatkan sikap di kampung yang rumah-rumahnya saling berdempetan ini.

Allah,
Aku bersyukur padaMu...
Aku merasa sangat Engkau cintai
karena masih Engkau mampukan
'menikmati' semua masalah-masalah yang sedang kupetiki hikmahnya satu demi satu
tanpa harus menjadi GILA karenanya!
***

Malam ini, aku mencatat pelajaran kehidupan sekali lagi. Berkali-kali.

PS.
Sampai jurnal ini diselesaikan, dentuman musik di sebelahku semakin menjadi-jadi. Aku gak punya pilihan lain, selain pindah kos atau bertahan! Aku sudah dua malam gak tidur soalnya. Kegilaannya semakin menjadi keliatannya. Kasian...


Blog Entry[II] Rahasia Dibalik Dentuman Musik Rock ItuMay 2, '08 2:16 PM
for everyone
Attention please: Ini sambungan dari SINI.
=====================================================================

Sambil mencari-cari bel yang bisa kutekan, pikiranku melayang kemana-mana.  Aku sampai pada kesimpulan, ini sebuah rumah tua yang aneh. Sama sekali tak terlihat ada tanda-tanda keberadaan manusia di dalamnya, kecuali suara penyiar radio channel musik rock itu sesekali. 


Aduh, jangan-jangan benar kata Mas Agung di jurnalku. Siapa tahu ada orang mati di dalam rumah itu. Sebelum dia menenggak sekaleng racun tikus atau sebelum menjerat lehernya di tali gantungan, dia menyalakan radionya! Imajinasiku bergerak liar. Membuat aku ketakutan sendiri. Tapi aku gak punya pilihan lain! Aku harus bertemu makhluk di dalam rumah ini. Seperti apapun kondisinya. Aku gak mau menyerah. Aku sudah terlalu capek bertoleransi atas polusi suara yang diciptakan penghuni rumah ini!

Saat putus asa dan setengah takut, mataku menangkap bayangan putih kecil di sudut atas kiri pintu. Ah...! Sebuah BEL!!! Langsung kupencet! Saking semangatnya, aku memencetnya dalam dan panjang.

Sekali... Tidak ada reaksi sama sekali. Aku tercenung. Biar bagaimana pun ada adab dalam berkunjung. Apalagi ini sudah malam. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Dia sudah mengganggu kenyamananku juga!

Bismillah. Coba saja kupencet lagi. TEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTT!!! Ini yang kedua kali... Sekitar lima menit kutunggu. Sama sekali tidak terdengar langkah kaki mendekat ke pintu.

Ya Allah, aku hanya punya jatah sekali lagi, sesuai adab bertamu yang diajarkan Nabi. Oke, sekali lagi, kalau tidak dibukakan juga, aku harus menghubungi Pak RT malam ini juga. Biar besok pagi yang bersangkutan ditegur beliau!

Kupencet bel itu sekuat-kuatnya. Sepanjang-panjangnya! TEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTT!!! Semenit, dua menit, lima menit, sepuluh menit! Oke, cukup Ima! Tegurku pada diriku sendiri. Mungkin yang bersangkutan sudah tidur!

Aku tidak punya pilihan lagi. Perlahan kuseret kakiku menjauhi rumah joglo itu. Tentu saja hatiku dongkol bukan main! Panas di dalam sana butuh penyaluran... Segera!

Mataku nyalang menatap sekitar. Ternyata rumah di depan kosku masih benderang. Lamat-lamat kudengar suara mesin jahit. Kudekati. Pintu rumahnya malah terbuka lebar. Mungkin kepanasan. Semakin dekat aku melangkah, aku semakin bisa melihat dengan jelas. Aku melihat seseorang sedang menjahit. Aku sudah tidak berpikir lagi. Aku harus bicara dengan orang itu.

Seorang ibu berumur empat puluhan berkaos merah dengan sepasang kacamata terpasang di wajahnya asik menjahit. Suara mesih jahit mendesing memecah sunyi. Pelan kuucap salam.

"Ibu, maaf... permisi. Saya mau tanya Bu..."

Si ibu setengah kaget dan langsung menghentikan aktifitasnya. Beliau mengangkat wajahnya. Bingung menatapku karena beliau tidak kenal denganku.

"Iya Mba, ada apa ya???" Tatapannya menyelidik.

"Maaf Bu malam-malam begini... saya cuma mau tanya. Rumah joglo di depan itu ada penghuninya gak ya, Bu?"

"Kenapa memangnya, Mba?" Si Ibu terlihat semakin curiga dan menatapku tajam.

"Hhh..., saya terganggu Bu. Sejak kemarin malam, sekitar jam sembilam malam, sampai sekarang, seseorang dalam rumah itu menyetel radio. Gaduh bukan main. Saya gak bisa istirahat, Bu..." Semua meluncur lancar. Aku yakin, suaraku terdengar memelas. Aku sudah berada pada titik hopeless!

"Oooh... gitu!" Wajah Ibu itu terlihat melunak. Dia malah beranjak dari kursinya dan meninggalkan mesin jahitnya.

"Gini Mbak...," Dia menghentikan kalimatnya. Aku semakin penasaran.

"Iya, Bu? Kenapa? Ada orangnya gak ya Bu di rumah itu???" Aku mencecar tak sabar.

"Jadi Mba..., rumah itu hanya dihuni oleh satu orang pemuda..."

"Dia stres Mba..."


Aku bingung dengan jawaban tak terduga!
Apa???
Rumah itu dihuni laki-laki stres???

Padahal aku tidak menginginkan jawaban ini. Kalau dia stres, aku mau tidak mau harus menerima, harus memaklumi.

Tunggu, aku harus memastikan! Aku masih ingin jawaban lain. Siapa tahu aku cuma salah dengar, karena fisikku yang lelah sudah tidak tidur dua malam ini.
***

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Blog Entry[I] Rahasia Dibalik Dentuman Musik Rock itu!May 2, '08 12:26 PM
for everyone
Attention: Sebelum membaca seri ini, supaya paham konteksnya, silahkan baca jurnal saya yang DI SINI. Terima kasih.
=====================================================================

Malam sudah sempurna meluruhkan tirainya. Hening menyelimuti pelosok kampung. Tak terdengar lagi suara orang bercakap-cakap. Sepertinya semua telah lelap di peraduan masing-masing. Istirahat malam adalah sunnatullah, untuk membayar kelelahan berjibaku seharian penuh di kantor-kantor dan tempat lain untuk mengais rejeki atau menuntut ilmu.

Tapi..., sudah dua hari ini aku tak bisa lelap. Sudah kubaringkan tubuhku. Sudah kupejamkan mataku, tapi otakku tetap gelisah. Tak hanya karena deadline-deadline itu, tapi juga dentaman musik rock yang sangat mengganggu.  Menggetarkan seluruh ruang kamarku!

Aku menanggung derita polusi suara ini sejak kemarin malam!  Hingar-bingar yang tercipta lebih dari 24 jam lalu, nonstop. Orang edan seperti apakah yang melakukan kegilaan seperti ini? Sosok egois yang tak kukenal itu mulai memutar radionya sejak jam 9 malam kemarin. Sepertinya channel lagu-lagu rock. Karena hanya sesekali terdengar suara penyiar ngobrol, sisanya lengkingan senar gitar elektrik dan dentuman bass yang mencabik-cabik ketenangan kamarku.

Ini bukan yang pertama kali. Sudah yang kesekian kali semenjak aku kos di sini. Aku juga tidak tinggal diam, berpangku tangan. Waktu ibu kos mampir ke sini, aku memohon pada beliau,

"Ibu, saya sering sekali terganggu dengan tetangga sebelah yang sering kali menyetel musik rock. Kencangnya bukan main. Padahal pekerjaan saya menuntut ketenangan, Bu. Saya pikir anak-anak kos lain juga membutuhkan ketenangan"

Aku tahu, anak-anak kos lain mungkin tidak seterganggu aku, karena kamar-kamar mereka tidak tepat bersebelahan dengan penghuni rumah pembuat onar tersebut. Mungkin hanya terdengar sayup-sayup. Tapi tidak ada salahnya menyertakan anak kos lainnya. Toh semua juga butuh ketenangan sepertiku. Untuk menguatkan permintaan sederhanaku,

"Tolong, Bu, disampaikan ke Pak RT, saya sangat terganggu dan mohon yang bersangkutan ditegur," sambungku.

Ibu kos menjawab dengan keanggunan khas ningrat Jogja,

"Sabar aja Mba, gak setiap hari kan berisik begitu?" raut wajahnya memperlihatkan keberatan atas permintaanku. Entah apa alasannya. Haruskah aku tahu? Aku pikir itu bukan urusanku.

"Tapi Bu, saya butuh ketenangan, saya pikir anak kos lain juga begitu..."

"Yah, mau gimana lagi ya Mba, namanya juga anak kampung..."

Kalimatnya dibiarkan menggantung, aku menebak sambungannya dalam hati,

"Mba Ima kan numpang di sini." Duh, aku sudah menjatuhkan diriku ke jurang su'udzhon!

"Ya sudah, Mba Ima sabar saja dulu ya, nanti kalau kejadian lagi saya akan mengabari Pak RT deh" dan Ibu kos berlalu dari hadapanku.

Seperti inikah penyelesaiannya? Padahal yang aku butuhkan adalah berhentinya musik rock  membahana itu di malam hari. Aku pikir aku juga berhak atas ketenangan. Bukan hanya karena aku sudah membayar uang kos semata, tapi karena permintaanku sederhana!  Aku hanya memohon ketenangan di atas jam 10 malam sampai pagi. Apalagi jam wajib belajar di kampung-kampung di Jogjakarta setahuku diterapkan cukup bagus. Masak hanya menegur satu makhluk pembuat onar ini Pak RT dan Ibu kosku tidak sanggup?
***

Kejadian serupa ini pertama kali terjadi di pertengahan bulan Maret lalu, tapi hanya satu malam. Aku masih bisa bersabar dan menganggapnya sebagai 'selingan' hidupku. Lalu pertengahan April terjadi lagi. Aku masih bisa menahan diri, sambil menjejalkan musik-musik kesukaanku lewat headphone saat musik rock berkumandang! Tapi, Kejadian dua malam terakhir ini sudah menghabiskan sisa toleransiku! Secara fisik juga sudah sangat mengganggu. Aku jadi kurang tidur. Buntutnya panjang, aku jadi lemas, hilang mood seharian dan uring-uringan, pekerjaanku juga terganggu akhirnya. Aku harus melakukan sesuatu! Apapun yang akan terjadi!

Segera kusambar jilbabku dan bergegas membuka gerbang halaman. Setengah tergesa aku keluar pagar diiringi tatapan bingung si penjaga kos. Aku tak peduli. sambil  berjalan ke arah samping kanan kosku, aku menebak-nebak rumah manakah yang menjadi sumber pengganggu malam-malamku selama ini?

Perlahan, setengah ragu kulangkahkan kakiku. Tak sampai  lima menit aku sudah  sampai  di sebuah halaman yang luas. Sekarang aku bingung sendiri, karena ada tiga rumah yang berdiri tegak. Aku harus menentukan rumah yang mana.

Kupilih yang paling dekat dengan kamarku. Sebuah rumah bergaya joglo yang temaram. Hanya ada satu lampu kecil berwarna kuning yang pendar kelipnya tak mampu menerangi halamannya yang luas.

Pilihanku tak salah. Aku mendengar dentuman musik rock yang terdengar jelas! Pasti rumah ini, tak salah lagi! Aku yakin seyakinnya. Dalam gelap aku merasakan mulutku mengembangkan lengkung puas.

Perlahan tapi pasti aku mendekati rumah itu. Apa yang harus kulakukan ya? Kalimat apa yang akan kulontarkan ya? Aku sibuk menyusun kata-kata. Ah, mungkin ini,

"Maaf Mas, Pak, Bu, bisa tolong dikecilkan radionya? Ini bukan yang pertama dan saya sudah cukup sabar selama ini. Tapi sekarang saya punya banyak kerjaan yang menuntut ketenangan di malam hari. Suara gaduh yang Mas, Pak, Bu timbulkan sangat-sangat mengganggu saya, Terima kasih."

Ah sudahlah, gimana nanti saja! Yang penting aku bisa bertemu seseorang dalam rumah ini.

Sekarang langkah kakiku sudah mencapai pintu rumahnya. Rumahnya sangat gelap! Bahkan tirai yang menutupi jendela di sebelah pintu tidak membiaskan cahaya lampu sedikit pun. Aku jadi ragu-ragu mengetuk pintunya.

Setengah ragu, kuketukkan kunci kamarku ke jendela kaca bertirai itu. Kupikir suaranya cukup nyaring untuk menarik perhatian penghuni di dalamnya. Sekali... tak ada sahutan. Dua kali..., masih tak bergeming. Tiga kali, aku putus asa.
***

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Blog EntryDentuman Musik Rock Itu!May 2, '08 10:44 AM
for everyone
Ya Tuhaaaaaaaan...!
HambaMu mau curhat nih... :-(
Sudah gak tahan lagi.

Tetangga sebelah kok bisa-bisanya gak tau diri gitu sih! hiks...
Siang malam nyetel lagu-lagu rock!
Kencengnya naudzubillah!
Sampe memekakkan telingaku!


Gimana gak kedengaran kencang
wong dapur manusia egois itu sebelah-sebelahan dengan taman
dan garasi kosku

sementara kamarku berada persis di belakang taman itu

Aku hitung-hitung sudah sejak kemarin malam hingar-bingar itu menyiksa
mulai sekitar jam 9 malam!
Coba! Itu kan jam orang-orang mulai istirahat!
Sampai pagi aku gak mampu memejamkan mata barang sedetik pun!
Musik keras itu menggedor-gedor gendang telingaku
Menyelusup menjauhkan lenaku
menerbangkan nikmat tidur nyenyakku!

Bahkan sampai sekarang... sejak jurnal ini ditulis,
berarti sudah lebih dari 24 jam nonstop!
dentaman musik kerasnya masih menghantam
seluruh ruangan kamarku
bahkan terdengar sampai ke kamar mandi

Kalau aku lagi gak ngapa-ngapain sih ya silahkan
aku masih bisa bertoleransi!

Lah ini, aku juga sedang dihajar beberapa deadline
Ada dua naskah buku yang harus diselesaikan
Ada beberapa tips dan tricks yang kudu diolah lagi
Ada satu lomba menulis yang ingin kuikuti lagi