Imazahra's posts with tag: poem
Teman,
Pernahkah kamu terlibat begitu jauh pada sepenggal kisah seorang musafir kehidupan? hingga kemudian emosimu pun menghunjam dalam rasa bernama: kepedulian atas nestapa yang maha dalam
Aku pernah tak hanya sekali bahkan berkali-kali
Hingga kusadari semua bukan tanpa rencana Sang Maha Tinggi 'kebetulan-kebetulan' yang kukira adalah tetirah sejenak dari hidupku sendiri sungguh adalah kepastian yang berjentera turun dari petala langit sebagaimana rencanaNya sejak alam azali
Dan di senja yang lalu lembaran nestapa itu berulang Ia rentakkan kabar lewat angin utara Ia tumpahkan segenap kepahitan jiwa untuk kupunguti hikmahnya dari kolam airmata yang menggenangi sejarah nasibnya
Aku dalam hening sejenak berhenti: untukmu...
 Aku penyuka puisi-puisi Mas Agunks. Walau gak setiap saat mereply di rumah beliau :-) Entah kenapa, menurutku puisi beliau padat tapi tetap indah. Tanpa banyak kata, puisi-puisi beliau sampai ke hatiku... Entah kenapa juga, disaat kalut-gundah, aku merasa lebih mudah berpuisi. Aku bisa menyampaikan resahku tanpa pembaca perlu tahu lebih detil apa saja yang kuresahkan. Puisi buatku adalah ruang untuk melepaskan 'gumpal-gumpal' atau 'kusut masai' benang masalah yang sedang kuhadapi. Setelah menuliskannya, hatiku lebih nyaman... Berpuisi buatku adalah terapi jiwa :-) Aku gak peduli puisiku bagus apa enggak, yang penting aku bisa bermain bahasa ^_^ Nah, kali ini aku meng-copy salah satu puisi Mas Agunks, yang kemudian dibawahnya kureply dengan sebait puisi juga. Selamat menyelami kawan ^__^ BATANG BUNGA YANG MELENGKUNGbatang bunga itu melengkungmeski bukan milikkutapi lengkung batangnya yang berbunga menghiasi dan mengharumi halaman rumahkuorang-orang berdatangan dan memuji"ah, indah nian kebunmu ini.pasti engkau orang yang berbahagia.""kamu salah.aku berbahagia karena aku sadar dengan apa yang kumiliki.aku sadar, bunga itu tidak berakar di sini, di tanahku."Sleman, Mei 2000Dibawahnya, aku mereply dengan puisi pendek: Batang yang melengkung indah ke pekarangan rumahmubarangkali pertandabahwa sebagian saripati akarnyamenyimpan rindu sunyipada tanah gemburdalam hatimu...
Silahkan disambung berbalas puisinya disini, teman ^_^
 ....danmatahari menyengathingga melelehkan otak...danbulan menghitam darah sangathingga membutakan mata
...dan sekonyong-konyong keping galaksi menghambur cepat menyedot dan menabrakkan matahari dan bulan
...dan nafas kehidupanku terhenti!
PS Photo dijemput disini.
Ini rumahku...
tempatku bercengkerama dan mengukir kisah
Disini aku nyaman menulis semesta
tentang keseharianku yang sederhana dan persentuhanku dengan sesama
Kalau kamu tak suka
tak usah dibaca dan tutup saja pintunya,
karena aku juga tak pernah mengundangmu masuk!
Aku tersentak di hening siang!
Sekonyong-konyong kamu sengit,
"kamu pembohong, kamu penipu dan kamu
ternyata perempuan berhati buruk seperti yang selama ini dibisikkan
banyak perempuan lain dibelakangmu..."
Hey, aku sudah turuti pintamu, bayu yang mengganggumu sudah ku'sembunyikan'.
Walau jujur aku tidak mengerti dimana letak ''pelanggaran asasi' itu.
Pun, bagaimana caraku 'menyembunyikan' adalah hakku!
Katamu ini juga pelanggaran literasi. Oke. Sepertinya aku harus kompromi.
Tanda-tanda yang tak kau suka sudah kuhilangkan, bahkan semua menjadi 'tanpa wajah'!
"Aku tidak suka caramu 'menyimpan', hapus saja"
Maaf, ini semestaku! Aku 'melahirkannya dengan susah payah'
"Kenapa kamu diam saja, aku benar-benar marah! Kamu perempuan pendusta"
Maaf, aku gagap bicara. Aku terlalu takjub dengan kutuk sihir dan tusuk mantramu.
Hatiku jelas berdarah , memerah dan kental.
Untuk semua 'mata-mata' pengintip rumahku, semestaku
Akulah angin bisu dan berserah pada usapNya,
dan kamu... berbuatlah sesukamu!
Menapak:
tilas usia mu sahabat
yang semakin dewasa
dan matang karena cinta
juga kasih sayang tak bertapal
di atas bara waktu.
Hari-harimu yang memayah
karena kau sedang mengandung buah hatimu
walau penuh bulir kesadaran
dan kesabaran semesta.
Setelah kita berkawan maya
dua tahun terakhir ini
Hidup semakin kuselami dalamnya
lautan kasih & persaudaraan kita.
Dan pintu Ilahi pun terkuak
dengan aura mata batin yang bening
setelah ku melewati kesendirian
dan kesepian yang hening.
Ternyata tak ada yang lebih nirwana
dan membahagiakan dalam raya ini,
selain tulusnya berbagi pada sesama
Dan penyerahan diri padaNya
tanpa selembar pun topeng dunia!
Happy Milad Shanti Saptaning. May Allah always bless and love you, amin.
Photo diculik disini
 | Isak ku | Jan 6, '07 12:33 PM for everyone |
Tuhanku Allah
Hamba mengerti lara yang Kau beri
Adalah ujian kasihMu
Menuju tangga mihrabMu
Hamba tahu jalan itu tak lempang
dan berliku
pun ditengahnya Kau selipkan onak nestapa
Sebagai cambuk jiwa
Tapi Tuhan
Badai ini bergulung dahsyat
Bahkan hampir menelan raga jiwa
Suratanku kah aku tenggelam?
Tuhan, ini isak ku
Aku tak mau dustakan KasihMu
Ku tetap berharap pada buhul cintaMu
Seiring deras tangisku
Jemputlah aku
Meniti cahaya bintang-bintang
Mereguk ketenangan arasy Mu
di pertiga malamMu
"Wa tathmainnu quluubuhum bidzikrillahi, alaa bidzikrillahi tathmainnul quluubu -Dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingai Allah-lah hati menjadi tenteram"
Bisik lirihku: 5:30 PM, picture taken from Google
Leeds, 12 October, 2006
Seorang perempuan menangis
meneteskan butir butir bening
menggenangi jiwa
membentuk kolam kisah:
retak kaca, benang merah yang putus, tusuk duri tak berujung
:
aku mengaca
tenggelam didalamnya!
Ramadhan ke 16
dirayakan purnama terang dan penuh
menggantung ayu di antara awan
jelang malam Nuzulul Qur’an*
Purnama malam itu berwarna putih keperak-perakan
bulat, besar dan tersenyum di hadapanku
bahkan seperti ingin diraih tanganku
nafasku pun tercekat, melambat,
ia tampak turun menyentuh jalan
indah... Subhanallah!
Ia
menyapaku:
Kenapa sendu?
Aku terdiam menatapmu lamat!
Jam semakin menujah malam
aku pamit undur
meninggalkan si cantik
Angin mendesir
seiring kayuhan sepedaku
daun dan ranting menguning, luruh menjuntai
menguatkan aura duka yang menyelinap gesit
Pohon-pohon sepanjang jalan
terlihat bagai manusia mencangkung
menyapa, mengajakku mengadu
Maaf, gerimis ini tak perlu kau tahu
cukup kuselami sendiri
bersama bayu
yang menyaput purnama
Rabb,
pintaku,
dengarkanlah lirihku
diantara sujud sujud tarawihku.
* Catatan menjelang Nuzulul Qur’an yang sepi-sepi saja disini, tak seperti di tanah air yang dirayakan secara khusus dan khusyu’. Catatan ini ditulis tanggal 8 October lampau, terilhami purnama yang bulat, besar dan terang.
** Photo koleksi pribadi, "Purnama di Chapeltown". Sayangnya hanya direkam dengan digicam tua, jadi gak bisa menangkap keutuhan purnama!

Dingin,
Terdengar lagi gemeletuk gigiku…
dan angin utara perlahan berhembus
menyusup kebalik jilbabku
Surya melambatkan tebar cahayanya:
Lebih senang berlama-lama di peraduan
dan bersegera meninggalkan lazuardi kesepian kala senja
Srrrrrrrrrrrrrrr….
Suara angin bersenandung riang,
bercanda mengejar daun daun kekuningan
Lalu terduduk kelelahan dalam tawa sambil hempaskan diri
merata di tanah setapak, bukit dan taman kota yang kecoklatan
Kesyahduan tersendiri;
Kota yang melindap
Penghangat ruangan yang gegas dinyalakan
Pohon pohon tua yang perlahan meranggas,
istirahat mengambil nafas
pun mengizinkan dedaun meluruh
bersama kenangan masa lalu
Autumn selalu hadirkan warna dan ibroh:
Meluruh, mengelupas kulit ari, berkali-kali
Mengenyahkan daki daki hati
Melepaskan seluruh luka
yang tak patut bertahan di dalam sana
Merusak jiwa!
Leeds 3:08 PM 5 September 2006
Selamat datang Ramadhan dijelang Autumn
*this poem is dedicated to Uni Desti and all my beloved friends who are going to celebrate Ramadhan kariim this year.
** photo taken as usual, from google.
 Hai, hai!
Ya kamu!
Menolehlah kesini…
Aku terkenang-kenang mimpi semalam
Berwarna warni, seperti kupu-kupu yang beterbangan
dan sontak ku ingat kamu!
Angin berbisik sendu di telingaku…
Apa…?
Setitik duka berjelanga di hatimu?
Kutitip rangkaian doa yang dibawa terbang kuda sembrani
Tolong jatuhkan saja ke pangkuan
sang pemilik lara disana!
Kamu membaca ini kan?
Kuharap kamu sekarang bisa melukis senyum
Di bibir ikhlasmu itu:
Tariklah segaris saja untuk dunia...
Dan semua akan tersenyum untukmu, sungguh!
©imazahra 2006
PS.
Senyum Ilhan diculik disini ^_^ 
 Ball…
Bola ditendang
Ball…
Bola melayang
Ball…
Bola disundul
Ball…
Bola menyundul awan
Ball…
Bola terbang melewati langit
Ball…
Matahari ditabrak dan jatuh
Ball…
Goooooooool!
Ball…
Bulan jadi pemenang…,
sekonyong-konyong... PRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT!
Bola itu bundaaaaaaaaaar!
Ball…bull… ball…
Bulan melakukan pelanggaran
Ball…
Bintang sebagai wasit mengadili
Ball…
Tak ada pemenang kali ini.
Ps.
Suka bola *maksudnya menonton dan bersemangat* menjelang perempat final saja. Puisi ini ditulis karena terkenang 'ajaibnya' Korea di World Cup lalu :-)
Selamat menikmati permainan bola yang bundar itu ya, di setiap gelindingnya ada permainan nasib, trilyunan uang, sandiwara politik dan pertemuan bangsa-bangsa. Aneh. Kita bisa bermain damai dan sportif karena ulah si bundar! Ternyata manusia yang berbudi tunduk pada si bola tak bernyawa yang bundar... hidup bola!!!
Btw, kamu menjagokan siapa kali ini? 
 Teteh sayang...,
Usiamu menjelang lagi di titian warna pelangi pagi,
yang menyembulkan kecantikan bunga-bunga entah kuntumnya yang keberapa
Kupastikan ia mekar dan mewangi disisa usiamu yang indah karena selalu berbagi
Kau tau Teteh...?
...atas nama cinta kuntum tulusmu
telah menyentuhku... merubahku... mendewasakan kedirianku...*
Teteh...,
jika manusia diluar sana meng-onak duri hatimu mengertikah kau, semuanya sirna belaka;
karena bunga kasihmu menyebarkan harumnya ke semesta!
lalu semesta pun menyanyikan kidung terindahnya
:untuk cinta kasihmu.
*Pertemuan kami (yang baru sekali) di Bandung medio 2003, sungguh menginspirasi pilihan-pilihan hidupku dan merubah tapak kaki sejarahku! Terima kasih yang tak terhingga, hingga hari ini. Happy birthday Kakakku :-D Mudahan kasih Tuhan tercurah untukmu selalu..., amin.
Love U always! 

Kubaca laku seorang Ibu
lewat rumah terbukanya
kulihat keping-keping kaca kasih, berbunga cinta
untuk tetirah tiga mutiara jiwa
Dia buai anak-anaknya seiring desau angin,
lengkung langit biru, terbang kupu-kupu
ditengah serakan buku-buku, daras al-Qur'an dan suami terkasih
Rumah hangat itu bersinar
oleh celoteh dua kakak yang terkagum-kagum
pada sang adik mungil hadiah Tuhan
Diantara titian lelah tak berujung
menimang buah hati
Dia sempatkan sapa sahabat-sahabat terkasih
berbagi kisah, kue hangat, masakan sedap
dan warna hidup;
Merah yang bersemangat
Biru lazuardi menenangkan
Kuning sang kecerdasan
dan Lembayung yang tunduk pada Ilahi
... disela goresan pena tak berujung miliknya!
***
Mba Mamiek sayang..., happy Milad yang ke ... di 3 January 2006 ini :-)
Mudahan berkurangnya usia, membuat Mba lebih bijak dan diberkahi Rahmat
dan Rizki berlimpah dari Allah Azza wa Jalla, hingga makin banyak lagi
percikan rahmaan dan rahiim yang tersebar untuk sesama, amiiiiiiin.
Photo dicomot disini

 Bulir salju menari bagai kunang-kunang, ditimpa temaram lampu jalanan di luar jendela kamarku
Sunyi kini terbanding riuhnya City center, Town Hall, Millenium Square dan pub-pub beraroma bir dan hiruk pikuk mainan dunia
5 detik lagi tahun berganti baju dan satu setengah tahun kuhabiskan usia di kota dingin ini
Bukan..., bukanlah keriaan diluar sana yang kuinginkan, berbaur bersama orang-orang mabuk yang lupa diri, bersenang-senang seakan hidup ini abadi!
Aku tercenung lalu merenung jelang 5 detik ke depan usia ini berkurang lagi! Dan cukupkah sanguku nanti???
Teringat kembali tutur Nabi Mulia SAW puluhan abad silam, agar selalu mawas dan menghisab diri;
"Manfaatkan lima waktumu sebelum datang lima waktu yang lain" "Isi dengan berguna masa mudamu sebelum datang masa tuamu" "Pergunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu" "Masa kayamu sebelum datang masa miskinmu" "Masa lapangmu sebelum datang masa sempitmu" "Manfaatkan seluruh hidupmu sebelum datang matimu"
Aku tersentak! Dentuman kembang api memerah di luar jendela menyapu langit dengan warna-warninya menandai 2006 di kota ini, "Bismillah, ku berazzam tuk cipta kebaikan!"
*picture just taken recently, from our window at the 3rd floor! 
 | I.B.U | Dec 22, '05 8:31 PM for everyone |
Ibu...
Dari rahim garba mu yang kokoh
bermula kisah anak manusia
Ibu...
Lalu bermilyar kesabaran kau ukir
mencipta kasih
menyebar cinta
menumbuhkan manusia
Ibu...
Berpeluh meniti waktu
Menyulam kebajikan
dan bersabar menanam benih
Demi anak-anak manusia
: maka Ibu...
pun dunia dan seisinya
menyesaki jagad semesta
tak kan sanggup memenuhi
bejana cintamu
Bersama do'a dan bakti
kutumpahkan dalam bejana kasihmu
sejumput kata:
"Terima kasih melebihi luas mayapada
dan Selamat Hari mu, Ibu"
dirangkai diujung malam, 22 December 2005
Untuk Mama di 'alam sana' dan seluruh Ibu di dunia!
 Dalam secangkir teh temani gundahku sobeki pinggir kertas mendaras kabar yang dibawa angin timur
Dalam secangkir teh kuhitung pelan detak jantungku sambil menata hati
Dalam secangkir teh yang diaduk-aduk waktu berjelaga karena rindu meneteslah airmata syukur dalam cangkir teh dinginku : 5 Januari 2006 Kau akan menggenapiku! *terinspirasi oleh style dan ajakan Mas Agung KS untuk membuat puisi kolaborasi.
Kisah dibalik puisi: (ditulis pukul 03.00 AM, 5 Januari 2006)
Puisi ini lahir tatkala 28 November lampau aku mendapat kabar dari yang terkasih. Dari mulutnya mengalir warta manis, "Sayang, tak lama lagi penantian dan asa penuh bunga milik kita, akan segera terwujud".
Aku melayang, buncah haru dan bahagia menyeruak bersamaan.... Bagaimana tidak, kami sudah mengikat janji di hadapan Allah untuk hidup bersama, saling mengasihi, saling memberi kebaikan dan mau menerima kekurangan sebagai pendewasaan hidup, diikrarkan sepenuh hati, disaksi orang tua dan sanak famili terkasih pada 15 Mei 2003 silam. Ah..., memoriku terbang meninggi, pada wangi melati yang menutup hijabku, pada warna putih kebayaku dan pada senyum ikhlas tawadhumu... Lalu suasana hening yang menyergap semesta ketika kau bersaksi akan menjalani Miitsaaqhan ghaliidzha (ikatan yang kokoh) itu denganku. Disaksi orang tua dan keluarga besar kita, dan barangkali Abahmu dan Mamaku dari 'rumah' mereka.
"Asyhadu alla Ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad ar-Rasuulullah..." teguh kau ucap syahadat memulai janji, berharap Allah dan RasulNya berhadir menyaksikan penyatuan dua jiwa ini, dibawah ridhoNya, insyaAllah.
Hari berputar, dan status kita yang semula orang asing sama sekali, berubah sempurna menjadi "engkau pakaian bagiku, dan aku pakaian bagimu". Tawa, tangis, canda, percik api sebagai pemanis mewarnai usia muda pernikahan kita. Belajar bersama, memahami kefanaan dan kedhoifan diri.
Hari terus berlari, seiring bersilihnya bulan dan matahari. Hingga purnama ke empat, Allah memberiku ujian sekaligus nikmat. Aku dihadiahiNya kesempatan mengecap pendidikan lebih tinggi, yang bahkan tak akan mampu kuraih diluar nalar logikaku sendiri. Melalui jalanNya yang digariskan, dengan berat aku harus berucap,
"Kakak, Ima mendapatkan surat pengumuman dari IIEF, Ima berhasil melewati seleksi tahap akhir dari program beasiswa mereka, dan Ima harus berangkat bulan depan ke Jakarta, untuk mengikuti training bahasa selama 6 bulan, apakah Kakak....," terputus kalimatku, tak sanggup lagi jiwaku meneruskannya, akankah kudurhaka?
Hening sesaat....,
"Sayang, apakah kamu lupa, bagaimana dalam bulan-bulan terakhir ini aku dampingi kamu dan kubantu apapun keperluanmu demi memenangkan mimpimu melihat dunia?"
Airmataku jatuh, teringat kembali di hari Desember yang dingin, dalam deras hujan dia tunggangi sepeda motor tuanya dan mempostkan formulir isian tahap akhir yang harus kukirimkan hari itu juga. Demi sayangnya agar sang istri tak berhujan-hujan, dia rela pergi sendiri dan mengantarkan amplop bernama sang nasib!
Siapakah aku? Istri yang meninggalkan suami diawal perkawinan demi meraih mimpi? Siapakah aku, perempuan berhati keras lagi terasing dengan dirinya sendiri? Siapakah dia, seorang suami yang sepenuh hati rela melepas halalnya 'surga'? Siapakah dia, yang selalu bangun ditengah malam ketika istri gelisah dan resah dalam belajarnya? ***
Tak sampai 6 bulan kuhabiskan, tanpa direncana dan diduga sebelumnya, bagai petir tiba-tiba membakar ranting pohon, aku mendapatkan surat bertubi-tubi dari funding di belahan bumi sana dan Leeds University UK, bahwa bulan depan aku harus memulai kuliah!
Belum kutata hati menghabiskan masa 6 bulan hidup terpisah dengan belahan jiwa, sudah datang lagi amanah untuk segera bertolak ke negeri antah berantah yang tak kukenal sama sekali. Aku ini anak desa udik, yang bahkan selalu terpana dan masygul menatap kehidupan metropolitan Jakarta, apalagi disana? Sendirian..., tanpa siapapun yang kukenal?
Tercekat, keluar kata, "Ka, seperti apa ini? Langkah apa yang harus aku ambil? Aku sudah berusaha meminta agar keberangkatanku ditunda tahun depan saja! tapi kenapa yang terjadi malah sebaliknya??? Aku harus bagaimana....? pucat pasi wajahku, gemetar dan basah hatiku.
Sebuah tangan hangat meraih kepalaku dan meletakkannya didadanya. Detak jantungnya kudengar jelas, "Sayang..., kesempatan tak akan datang dua kali, berkali-kali. Bisa jadi di tahun depan calon penerima beasiswa kemampuan akademisnya jauh melebihi Ima saat ini. Inilah masamu, pergilah... selanjutnya akan kita fikirkan dan tata di belakang hari..." tenang kau elus hatiku, kau besarkan jiwa keberanianku.
Sekali lagi, perpisahan itu terjadi, menyakitkan... merobek-robek kesadaranku, entah denganmu. Tak ada pilihan lain dan harus dilangkahi, karena azzam telah dipancangkan. Soekarno Hatta saksi bisu, saat aku memelukmu untuk terakhir kalinya, seakan tak ingin kulepas untuk selamanya. Aku sudah tak mempedulikan orang-orang yang terheran-heran melihat kita berdua. Barangkali mereka berfikir aku akan dikirim ke mahkamah kematian, untuk terpenjara selamanya.
Bengkak mataku saat mendarat di Leeds Bradford airport. Disapa pucat kota Leeds, dingin menusuk, dan tak seorangpun yang kukenal.
Bulan pertama, kedua, ketiga... Hampir tiap malam kuhabiskan poundsterling untuk mendengar rinai kasihmu, nasehatmu dan pertengkaran-pertengkaran kecil milik kita. Betapa menyiksa! Mendengar suaranya, tapi sama sekali tak bisa melihat raut wajah belahan jiwa kita.
Kalender dinding sudah ratusan kali kusobek, tanpa lelah tapi diiringi debar di dada, akankah kita bersama lagi? Kapan...? Sulitnya visa dan besarnya uang jaminan yang belum sanggup juga kita kumpulkan, perak rupiah dan coin penny!
Ditengah-tengah assignment yang diberikan dua supervisors, summer berlalu, autumn, winter, spring dan summer kembali datang, tanda-tanda akan menyatunya 'dua pakaian' ini belum jua menerang.... Gelisah, perih, kadang kosong bergoyang dalam lubang hati.... menghitung tak jelas jalinan hari, tik tok tik tok tik tok! Detak jam kamarku seperti irisan pisau yang menyayat kesunyian.
Hanya keajaiban Allah kembalilah yang terjadi, tiba-tiba saja tanah warisan Kai untuk keluarga besar laku terjual. Dengan kasih dan ikhlas, Kaka, Ading, Mama, Gulu, Angah, Acil, sanak saudara, merelakan uang hak mereka dipinjamkan sementara pada kita.
Bergegas kita ajukan visa. Seminggu berlalu, menjerat jantungku, mengiris-iris sukma kesadaranku. Diiringi doa-doa sunyi di sepertiga malam, bercucur tangis mengharap izinNya menyatukan dua pecinta. ***
Alhamdulillah, di hening malam kutulis jurnal ini berlinang air mata syukur, dia yang terkasih akan kujemput nanti malam, doakan Kakak mendarat mulus di Manchester Airport pukul 18.15 PM, insyaAllah.
Mohon iringi langkah saya sore ini sahabat-sahabat MP-ers tercinta, mudahan kami, sepasang anak belia yang merajut mimpi untuk bersama, Bismillah..., bisa mencipta Sakinah, Mawaddah wa Rahmah berkali-kali, amin...

|  | BUNGA YANG MEKAR BULAN SEPTEMBER:
DIKECUP MENTARI PAGI DALAM USAPAN EMBUN MALAM DISELIMUTI DEBU KESUNYIAN DAN MASIH DALAM PELUKAN ANGIN
KAU... MENIMANG KUMBANG MEMBELAI KUPU-KUPU
ADA YANG BERDENTANG ... DENGAN CEPAT DAN TERUS MELAJU ALARM WAKTU YANG BERDENYUT TANPA DIMINTA TANPA MENUNGGU KEHENDAK KITA
DETIK-DETIK KE MENIT-MENIT MENUJU JAM-JAM MENJADI SAKSI KELAK ATAS SEMUA PERBUATAN BERBICARA TANPA HENTI SEPERTI SAAT INI MELAJU TANPA DIMINTA
DALAM SATU WAKTU DI BULAN SEPTEMBER
... SELAMAT ULANG TAHUN Kakakku PATRICK! ... SEMOGA PANJANG UMUR ... SENANTIASA DALAM KASIH ALLAH, JUGA CINTA Kak ITA dan ILHAN..., jantung hatimu.
Dari aku yang mendo'a, saudaramu di seberang!
*photo diambil dari koleksi pribadi ketika tetirah di rumah mereka medio Agustus 2005 |
June 1, 2005
Sayangku,
Hari lahirmu berulang,
yang ke 30 hari ini,
Sebuncah permohonan maaf Dinda
sebab tak disisimu kini...
Andai waktu dan ruang sanggup kupeluk,
ingin saat ini jua mendampingi Kakak,
Ucap syukur atas jutaan nikmat Allah
yang terberi pada kita,
diantara pertemuan jiwa ini!
Jika semesta ruang menjadi tak berjarak
karena rasa kasih,
ingin ku melesat detik ini jua,
mengucap do'a-do'a kebaikan dan cinta di telinga Sayang...
Membisik kejujuran nan lembut,
"Semoga Allah selalu menjaga dan mengasihimu,
karena ku mencintaimu..."
Inspired by the rain outside my window, here in Leeds..., far away from my lovely husband.
PS.
Kanda sayang, maaf jika
puisinya jelek, Ima belum pernah belajar menulis puisi, tapi mencobanya
karena saran seorang yang Ima kagumi, Bunda Helvy!
Apalagi jika dibandingkan dengan puisi romantisnya Bapak satu ini:
"Hujan di Bulan Juni"
Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
By:
Sapardi Djoko Damono, puisi ini dikutip sebagai hadiah untuk
orang-orang yang terlahir di bulan Juni, selamat Milad kawan :-)
| |