Imazahra's posts with tag: japanese artist
[Laporan Selayang Pandang Menikmati Pameran KITA!! Japanese Artist Meet Indonesia]Tempat pameran sangat luas. Kufikir sanggup menampung ribuan pengunjung yang mengalir menikmati karya seni kontemporer. Ruang-ruang yang disediakan cukup besar. Maklum, gedung yang dipakai adalah gedung ASRI tempo dulu. Setelah berkeliling-keliling melihat aneka instalasi, aku mengambil kesimpulan bahwa seniman Jepang sangat-sangat concern pada isu penyelamatan bumi yang sudah semakin renta.Ada seni instalasi barang-barang bekas yang diolah menjadi instrumen musik unik dan terdengar aneh karena semua alat bekas tumplek blek di situ [Sonton].Ada Recycle Art berupa ikan raksasa. Site ini menyedot banyak pengunjung. Sebuah TV yang diletakkan di sisi ikan 'bekas bungkus household things' dinyalakan. TV ini memutar kepingan CD yang menuturkan kisah dibalik layar berupa ide, proses pembuatan dan percobaan menggunakan ikan daur ulang tersebut di atas sungai! Hei, ikan 'palsu' ini tidak sekedar bisa berlayar tegak, tapi juga bisa ditumpangi orang!
Di ruang ini orang ramai bersorak sorai begitu mereka melihat si seniman berhasil menaiki 'kapal' ikan daur ulangnya tanpa rebah di air. Sebuah karya seni yang sangat memperhitungkan ketepatan matematis walau terlihat sangat rapuh secara fisik.Ada sebuah ruangan yang di-setting sebagai TPS [tempat pembuangan Sampah] dan tentu saja bau busuk menyergap hidung kita. Lagi-lagi isu yang diusung adalah environmental issues. Di depan tumpukan sampah yang rata-rata merupakan plastik bekas bercampur segala macam 'buangan', diletakkanlah sebuah layar LCD raksasa dua buah, isinya menjelaskan 'kisah' sam pah, para pemulung dan anak-anak muda Jepang yang berinteraksi dengan mereka.Cuma aku kurang 'ngeh' dengan konsep instalasi ini karena perhatianku malah tersedot pada pada kerumunan kecil di sudut ruang itu dengan bunyi musik seperti mesin jahit. Ternyata layar TV tersebut mempertontonkan tatto Jelangkung. Jadi ada seorang seniman Jepang yang dibaringkan dan punggungnya dibiarkan terbuka lalu ditatto oleh teman-temannya beramai-ramai.Si 'pesakitan' menjerit-jerit sementara mesin tatto juga melengking tanpa ampun menggoreskan jarumnya ke sekujur punggung si seniman. Ada sekitar 4 seniman yang bersama-sama memegang mesin tatto tersebut tanpa mereka sendiri mengerti apa yang mau di'lukis' oleh si roh jelangkung.Hasilnya ternyata gambar sesosok tengkorak [kurang lebih begitu] dan serangkai kalimat Jepang. Aku gak bisa motret potonya karena manusia berkerumun di situ.Kreatif sekali ya seniman Bali yang menjual 'ide' dan mitos jelangkung ini, mengawinkan rasa penasaran tentang 'permainan' jelangkung dengan keinginan turis untuk ditatto. Tatto Jelangkung! Ada-ada saja!Ada angkringan. Ini 'lucu' juga. Di meja angkringan [sepertinya sih ini angkringan juga apa bukan ya? Soalnya bentuknya seperti gerobak penjual rujak buah] disediakan lembaran kertas yang berisi pertanyaan kurang lebih begini:"Saya menyapa dunia lewat masakan. Saya sedang melakukan penelitian tentang masakan-masakan yang dianggap paling populer sekaligus merakyat. Masakan apa yang anda sukai di Indonesia???"Tentu saja dengan bersemangat aku menuliskan daftar masakan kesukaanku:BaksoSiomayMartabakSoto BanjarEmpek-empek, anda sendiri mau menambahkan? Datang saja ke KITA!!Ada lukisan lumpur. Aku suka sekali berlama-lama di sini.Menikmati setiap detil. Lukisannya beraliran dekoratif. Enak dipandang karena dia menggunakan warna alam. Seniman pembuatnya anak muda bernama Asai Yusuke kelahiran 1981 dari Prefektur Kanagawa. Konsep yang diusungnya berbeda dengan seniman lukis pada umumnya: Jika seniman lukis membutuhkan kanvas dan alat lukis berupa cat dan kuas. Maka Asai hanya membutuhkan alam dan semesta sebagai mediumnya. Sekaligus Asai menganggap bahwa berkesenian harus ramah pada mother earth. Asai bilang, dia tidak merasa 'sakit hati' ketika lukisannya tidak bertahan lama, hilang atau terhapus karena medium yang dia gunakan adalah alam dan cat yang digunakan pun adalah alam [seperti tanah, lumpur, pewarna tumbuh-tumbuhan, selotip bekas, dan seterusnya]. Dia sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet kimia.Buatnya, lukisannya adalah perayaan kecintaannya terhadap alam. Terdengar mengagumkan ya!Semua informasi ini kudapatkan dari exhibition staff yang menyapaku saat aku asik memotret sana sini. Dia fikir aku wartawan. Aku bilang aja aku citizen journalist. Dan dia sukses mengernyitkan keningnya, huehehehe...Terakhir, yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah koleksi pameran berupa ikan. Ikan dari perairan Indonesia, hingga 'ikan' yang didatangkan dari Jepang. Ikan yang dari Jepang terlihat sangat hidup karena keahlian seniman pembuatnya. Suasana semakin terasa 'real' karena ikan-ikan dari perairan Indonesia itu diawetkan tanpa bahan pengawet kimia juga. Si seniman hanya menggunakan panas matahari sebagai alat pengering dan garam pengawet alami. Tentu saja bau amis menguar ke seluruh ruang dan udara yang kuhirup. Begitu mataku menjauh dari ikan-ikan aneka jenis tersebut, hatiku mendesir!Ada sesosok makhluk! Tubuhnya adalah tubuh manusia. Bertelanjang dan hanya memakai celana dalam fancy berwana kuning ngejreng dan sepatu boots berhak lancip berwarna senada! Manusia ikan yang seksi! Sekaligus sangat nyata. Berulang kali aku menatap tak berkedip! Perasaanku teraduk-aduk.Antara ngeri, sedih bingung dan agak 'terhina' [kenapa harus ikan perempuan yang seksi? Kenapa gak Deni si manusia ikan yang laki-laki itu???].Sampai-sampai aku bingung sendiri, Ini jangan-jangan benar-benar manusia ikan yang ditemukan dan diawetkan, hiiiiiiiyyyyyyy!'Dia' terkapar tak berdaya dan mati. Sisa darah kering yang mengalir dari tubuhnya terlihat menyebar di berbagai titik. Sangat mengenaskan kondisinya.Saat menatap manusia ikan berupa perempuan 'cantik' ini, aku mendadak 'hening' sejenak. Membayangkan biota laut kita yang cantik-cantik di dasar laut sana...perlahan tapi pasti semakin terancam kepunahankarena ulah manusia-manusia serakah.Sebuah repertoir gabungan keahlian beberapa seni yang mengagumkan!Secara umum, aku puas! Aku seperti menikmati pameran-pameran di museum-museum Inggris. Hanya saja seluruh karyanya diangkut ke Jogja, hehehe...
Yang kuingat setiap kali mengunjungi museum di Inggris, museum di sana bukanlah ruang-ruang pamer tua yang sepi. Museum adalah benar-benar tempat di mana manusia bisa belajar banyak hal atas segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu dan sekarang. Museum adalah sahabat jiwa yang berulang kali mengingatkan manusia pengunjungnya: jangan lupa pada sejarah dan cintai bumi dan isinya!Dan KITA!! berhasil menyampaikan pesan itu kembali, setidaknya untukku!Selamat kuucapkan untuk panitia KITA!! dan tentu saja untuk para seniman Jepang yang sudah berkarya menggunakan sumber daya alam yang ada di Indonesia.
Mudahan seniman Indonesia juga tak mau ketinggalan berkarya. Seni yang kreatif sekaligus environmentally friendly!
PS Photonya silahkan meluncur ke album berjudul: Ada Manusia Ikan!!!
|  | Laporan Photo Selepas Menghadiri Pembukaan KITA!! Japanese Artist Meet Indonesia.
Tempat pameran sangat luas. Kufikir sanggup menampung ribuan pengunjung yang mengalir menikmati karya seni. Ruang-ruang yang disediakan cukup besar. Maklum, gedung yang dipakai adalah gedung ASRI tempo dulu.
Setelah berkeliling-keliling melihat aneka instalasi, aku mengambil kesimpulan bahwa seniman Jepang sangat-sangat concern pada isu penyelamatan bumi yang sudah semakin renta.
Ada seni instalasi barang-barang bekas yang diolah menjadi instrumen musik unik dan terdengar aneh karena semua alat bekas tumplek blek di situ [Sonton].
Ada Recycle Art berupa ikan raksasa. Site ini menyedot banyak pengunjung, karena ada TV yang dinyalakan yang memutar kisah dibalik layar berupa ide, proses pembuatan dan percobaan menggunakan ikan daur ulang tersebut di atas sungai! Hei, tidak sekedar ikan 'palsu' ini bisa berlayar tegak, tapi juga bisa ditumpangi orang! Di ruang ini orang ramai bersorak sorai begitu mereka melihat si seniman berhasil menaiki 'kapal' ikan daur ulangnya tanpa rebah di air. Sebuah karya seni yang sangat memperhitungkan ketepatan matematis walau terlihat sangat rapuh secara fisik.
Ada sebuah ruangan yang di-setting sebagai TPS [tempat pembuangan Sampah] dan tentu saja bau busuk menyergap hidung kita. Lagi-lagi isu yang diusung adalah isu environmental. Jadi di depan gunungan sampah itu diletakkan sebuah layar LCD raksasa dua buah, isinya menjelaskan 'kisah' sampah, para pemulung dan anak-anak muda Jepang yang berinteraksi dengan mereka.
Cuma aku kurang 'ngeh' dengan konsep ini karena perhatianku malah tersedot pada pada kerumunan kecil di sudut ruang itu dengan bunyi musik seperti mesin jahit. Ternyata layar TV tersebut mempertontonkan tatto Jelangkung. Jadi ada seorang seniman Jepang yang dibaringkan dan punggungnya dibiarkan terbuka lalu ditatto oleh teman-temannya beramai-ramai.
Si 'pesakitan' menjerit-jerit sementara mesin tatto juga melengking tanpa ampun menggoreskan jarumnya ke sekujur punggung si seniman. Ada sekitar 4 seniman yang bersama-sama memegang mesin tatto tersebut tanpa mereka sendiri mengerti apa yang mau di'lukis' oleh si roh jelangkung. Hasilnya ternyata gambar sesosok tengkorak [kurang lebih begitu] dan serangkai kalimat Jepang. Aku gak bisa motret potonya karena manusia berkerumun di situ.
Kreatif sekali ya seniman Bali yang menjual 'ide' dan mitos jelangkung ini, mengawinkan rasa penasaran tentang 'permainan' jelangkung dengan keinginan tourist untuk ditatto. Tatto Jelangkung! Ada-ada saja!
Ada angkringan. Ini 'lucu' juga. Di meja angkringan disediakan lembaran kertas yang berisi pertanyaan kurang lebih begini:
"Saya menyapa dunia lewat masakan. Saya sedang melakukan penelitian tentang masakan-masakan yang dianggap paling populer sekaligus merakyat. Masakan apa yang anda sukai di Indonesia???"
Tentu saja dengan bersemangat aku menuliskan daftar masakan kesukaanku: Bakso Siomay Martabak Soto Banjar Empek-empek, anda sendiri mau menambahkan? Datang saja ke KITA!!
Ada lukisan lumpur. Aku suka sekali berlama-lama di sini. Menikmati setiap detil. Lukisannya beraliran dekoratif. Enak dipandang karena dia menggunakan warna alam. Seniman pembuatnya anak muda bernama Asai Yusuke kelahiran 1981 dari Prefektur Kanagawa. Konsep yang diusungnya berbeda dengan seniman lukis pada umumnya: Jika seniman lukis membutuhkan kanvas dan alat lukis berupa cat dan kuas. Maka Asai hanya membutuhkan alam dan semesta sebagai mediumnya. Sekaligus Asai menganggap bahwa berkesenian harus ramah pada mother earth.
Asai bilang, dia tidak merasa 'sakit hati' ketika lukisannya tidak bertahan lama, hilang atau terhapus karena medium yang dia gunakan adalah alam dan cat yang digunakan pun adalah alam [seperti tanah, lumpur, pewarna tumbuh-tumbuhan dan seterusnya]. Dia sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet kimia.
Buatnya, lukisannya adalah perayaan kecintaannya terhadap alam. Terdengar mengagumkan ya!
Semua informasi ini kudapatkan dari exhibition staff yang menyapaku saat aku asik memotret sana sini. Dia fikir aku wartawan. Aku bilang aja aku citizen journalist. Dan dia sukses mengernyitkan keninganya, huehehehe...
Terakhir, yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah koleksi pameran berupa ikan.
Ikan dari perairan Indonesia, hingga 'ikan' yang didatangkan dari Jepang.
Ikan yang dari Jepang terlihat sangat hidup karena keahlian seniman pembuatnya.
Suasana semakin terasa 'real' karena ikan-ikan dari perairan Indonesia itu diawetkan tanpa bahan pengawet kimia juga. Si seniman hanya menggunakan panas matahari sebagai alat pengering sekaligus pengering. Bau amis pun menguar ke seluruh ruang dan udara yang kuhirup.
Begitu mataku menjauh dari ikan-ikan aneka jenis tersebut, hatiku mendesir!
Ada sesosok makhluk! Tubuhnya adalah tubuh manusia. Bertelanjang dan hanya memakai celana dalam fancy berwana kuning ngejreng dan sepatu boots berhak lancip berwarna senada! Manusia ikan yang seksi!
Sekaligus sangat nyata. Berulang kali aku menatap tak berkedip! Sampai-sampai bingung sendiri, ini jangan-jangan benar-benar manusia ikan yang ditemukan dan diawetkan, hiiiiiiiyyyyyyy!
'Dia' terkapar tak berdaya dan mati. Sisa darah kering yang mengalir dari tubuhnya terlihat menyebar di berbagai titik. Sangat mengenaskan kondisinya.
Saat menatap manusia ikan berupa perempuan 'cantik' ini, aku mendadak 'hening' sejenak. Membayangkan biota laut kita yang cantik-cantik di dasar laut sana... perlahan tapi pasti semakin terancam kepunahan karena ulah manusia-manusia serakah.
Sebuah repertoir gabungan keahlian beberapa seni yang mengagumkan!
In general, aku merasa seperti menikmati pameran-pameran di museum-museum Inggris. Museum di sana bukanlah ruang-ruang pamer tua yang sepi. Museum adalah benar-benar tempat di mana manusia bisa belajar banyak hal atas segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu dan sekarang.
Museum adalah sahabat jiwa yang berulang kali mengingatkan manusia pengunjungnya: jangan lupa pada sejarah dan cintai bumi dan isinya!
Dan KITA!! berhasil menyampaikan pesan itu kembali, setidaknya untukku!
Selamat kuucapkan untuk panitia KITA!! |
| |