Imazahra's posts with tag: inspiring story

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag inspiring story
Blog EntryKisah Dua Lembar Tissue pada Sebuah Cafe...Jun 27, '08 6:58 AM
for everyone
... di bilangan Malioboro Mall. Aku terdampar di Mall ini karena perut sudah sangat melilit belum diisi apapun sejak pagi tadi!

Karena beberapa urusan dan kepentingan aku harus melupakan rasa lapar dan meluncur ke Rifka Annisa (Women Crisis Center) di daerah Jambon, Jalan Magelang dan Diana Music di Jl Kranggan, demi menatap biola-biola cantik itu! Pantas saja perempuan cantik dan bertubuh proporsional selalu disebut memiliki body bak biola atau gitar!

Inti kisah bukan tentang perjalananku di atas, hehehe... tapi pada dua 'keterpesonaan'ku di bawah ini:

Sampai di Malioboro Mall, aku melirik ke kiri dan kanan, ke manakah akan kulangkahkan kaki mengisi perut yang melilit ini.

Aha, J.CO sekarang sudah berjalan 'normal'. Sebelumnya sungguh mengerikan!!! Karena antrian mengular dan masing-masing orang harus rela menunggu berjam-jam demi menikmati donat-donat bulat dengan full western taste itu!

Sekarang sepertinya waktu yang pas untuk membeli J.CO yang baru saja hadir di jantung kota Jogja. Kelembutannya yang pernah kurasakan sekali (bersama teh Ari) di Jakarta menggodaku untuk membelinya seperlunya demi mengganjal perutku.

Saat mengantri, tidak ada hal istimewa yang terjadi, semua berjalan biasa.

Saat membayar di cashier, semuanya juga biasa-biasa saja!

Saat mulai menikmati sepotong J.CO dan membuka laptop yang memang kubawa, keanehan dalam tanda kutip mulai terjadi.

Aku celingak celinguk mencari waitress/waiter demi menanyakan password milik LCnet yang jadi penyedia free hotspot di Mall ini.

Seorang waiter akhirnya muncul di hadapanku. Pertanyaan yang keluar dari mulutnya,

"Ibu sudah membeli minuman?"

"Eh???" Aku bingung dengan pertanyaannya.

"Iya Bu, Ibu bisa mendapatkan password di sini kalau Ibu membeli minuman!"

"Loh, saya kan sudah membeli setengah lusin donat...," sambil dalam hati kutambahkan kata-kata, 'Apa itu kurang demi mendapatkan password free hotspot ini?'

"Mas, saya kan sudah beli donat. Lagian di halaman LCNet ini disebutkan, password bisa didapatkan secara cuma-cuma di lantai dasar dan di Foodcourt. J.CO kan juga bagian dari foodcourt toh!? Lantai dasar di bawah kan Mas? Ribet buat saya hanya demi mendapatkan password gratis turun ke basement dan balik lagi ke sini menikmati donat yang sudah saya BELI DI SINI!" Aku menjelaskannya dengan menekankan kata-kata terakhir. Agak kesal sih! Kok hitungan banget, ck ck ck...!

Si Mas 'mengalah' dan mendekati laptopku. Ini passwordnya teman-teman:

ID             : lcnet
password  : malmalioboro

(Jadi kalau pas mampir ke Malioboro Mall dan membawa laptop, teman-teman bisa langsung login tanpa harus tanya kesana kemari).

Oke, masalah password terselesaikan. Aku mulai membuka email, karena inilah sesungguhnya salah satu tujuanku kali ini mampir ke Mall ini. (Diingat-ingat, aku baru dua kali ke mall ini sepanjang 6 bulan tinggal di Jogja, bukan anak Mall sih, hehehe...).

Sembari membuka email itu aku baru tersadar, aku menikmati si donat bulat tanpa mengambil selembar tissu di bar yang telah disediakan. Hehehe, dampak perut meronta nih! Padahal donat kedua yang kugigit berisi cream yang lumer dan meleleh kemana-mana saat digigit. Waaaaaaaaaahhhhhhhh! Sementara tangan kananku memegang si donat leleh dan tangan kiriku terletak di keyboard laptop!

Gegas kuayun langkah ke arah bar! Belum tiga langkah kakiku menuju bar, seorang gadis bule berwajah ayu berdiri, mencondongkan badannya ke arahku dan menyorongkan dua lembar tissue bersih bertuliskan J.CO di salah satu sudutnya ke tangan kiriku, karena tangan kananku memegang si donat leleh!

Aku terpana, beberapa saat aku gagap... dan akhirnya bisa membebaskan diriku,

"Thank you, it's very kind of you..." senyum ramah dan bersyukur kusunggingkan di bibirku, dan dia membalasnya dengan senyum termanisnya.

Duh, hatiku  ikut lumer! Melebihi donat yang lumer di mulut. Tanpa banyak kata, si gadis bule telah menyentuh hatiku. Sementara orang-orang Indonesia di sekelilingku cuek bebek melahap donat mereka masing-masing.

Sungguh, tidak ada kewajiban bagi si gadis bule untuk memberikan sisa tissue J.CO nganggur miliknya ke tanganku. Tapi dia ternyata diam-diam melihat kekikukan dan kealpaanku, lalu menolongku.
***

Bukan Ima namanya kalau tidak bisa menemukan cara berkenalan dengan gadis bule dengan good attitute itu, hehehe... Oh iya, dia juga duduk disamping teman laki-lakinya.

Walau awalnya sungkan, akhirnya bisa juga aku membuka percakapan dengan Englishku yang semakin memburuk dan terpatah-patah karena sudah lama tidak digunakan, huhuhu...

"Excuse me, may I know, where do you come from?"

"I'm from England..." sahutnya lembut dengan aksen British selatannya yang kental!

"Wow, what a coincidence! Actually I'm guessing you while I'm eating my donat, which country in the world probably do you come from, and guess what, I chopped you off from one of the European countries, based on your beautiful manner and my old experience when I did backpacking!"

"That's interesting!" Dia menyunggingkan senyum manisnya.

"When you said you come from England, suddenly I miss my old memories when I was studying in Leeds"

"Oh really? When did you go to England?"

"It was... bla bla bla..."

Singkat cerita, akhirnya kita bertukar nomor HP dan email dan saling berjanji akan keep in touch.
***

Kejadian yang agak menjengkelkan dan sekaligus manis dari dua anak manusia  berbeda bangsa menutup soreku hari ini.

PS.
Poto minjam Mbah Google

Blog Entry[III] Rahasia Dibalik Dentuman Musik Rock ItuMay 2, '08 2:21 PM
for everyone
Attention: Sambungan dari SINI.
============================================================

"Maksudnya, Bu???" Aku mengejar jawab. Bukannya menjawab pertanyaanku, si Ibu malah memanggil anaknya. Aku kurang jelas siapa nama anaknya. Setelah dipanggil berapa kali, sang anak muncul di hadapanku.


"Ada apa, Mba?" sang anak menanyaiku ramah.

"Ini loh Mas, saya kan kos di rumah Ibu Sulis, lalu sudah dua malam ini rumah Joglo di sebelah kos saya menyetel radio, kencangnya bukan main! Tadi saya sudah gak tahan lagi, jadi saya periksa sendiri. Saya ketok-ketok, saya bel juga, gak ada satu pun yang menyahut!" Terpaksa aku harus mengulangi penjelasanku lagi.

"Ooooooooh..." Dia hanya ber oh dan kemudian diam, lalu menatap ibunya berulang kali. Tentu saja aku semakin bingung dengan sikap aneh mereka.

"Ada apa sih, Mas?" Aku tambah gak sabar jadinya.

"Gini Mba, si Mas yang tinggal di rumah itu stres. Seperti yang sudah Ibu saya jelaskan. Cuma stresnya sudah parah. Kalau lagi kumat, ya seperti itu Mba. Tetangga di sini sudah maklum semua kok."

"Apa...?" Aku sama sekali gak menduga akan mendapatkan jawaban ini. Jadi, ada orang stres didalam rumah itu dan penghuni kampung ini maklum semua?

"Kita gak mungkin negur Mba. Kalau ditegur dia ngamuk. Pernah kejadian soalnya."

"Maaf, Mas, didalam rumah itu gak ada yang menjaganya? Gak ada orang lain selain dia yang bisa kuhubungi dan kumintai tolong untuk mematikan radio?"

"Ehm, anu, Mba... Ibunya si Mas itu sudah mengungsi ke Magelang. Beliau saja sudah gak kuat ngurusin anaknya yang stres. Jadi, si Mas itu tinggal sendirian. Kalau kita yang negur gak mempan, Mba." Jelas si anak Ibu berkaos merah panjang lebar.

Pada titik ini aku 'lemas'. Aku ternyata sedang 'berperang' dengan orang sakit jiwa! Oh My God!
"Jadi, saya gak punya pilihan lain ya, Mas. Selain menerima situasi ini. Atau..., saya memang harus pindah cari kos lain lagi." Saya menyahutinya.

"Susah sih, Mba. Begini saja, saya akan coba kontak salah satu saudaranya yang tinggal gak jauh dari sini. Biasanya dia yang menengok Mas yang stres ini. Mas ini baik kok Mba, walau stres tapi gak ganggu orang kampung ini"

Aku sudah tidak begitu menghiraukan jawaban Masa berkacamata ini. Aku mendadak merasa sangat lelah! Lelah karena kurang tidur, merasa lelah juga karena sudah menduga yang tidak-tidak. Lelah atas su'udzhon yang sudah mengotori hatiku. Astaghfirullah...

"Ya sudah Bu, Mas, terima kasih banyak untuk penjelasannya. Mohon maaf juga saya sudah menggangu Ibu dan Mas malam-malam gini. Mari Bu, mari Mas, saya pamit."

Terseok kuseret langkah kakiku menuju gerbang kosku. Pikiranku berkecamuk. Dalam diam kurasakan kepedihan mengalir dalam hatiku. Pemuda di sebelah kamarku adalah laki-laki sakit jiwa? Jadi, saat dia menyetel radio kencang-kencang itu kemungkinan dia sedang merasa sangat-sangat kesepian. Tidak ada siapa-siapa dalam rumahnya. Tidak ada orang yang bisa diajaknya bercakap-cakap saat kesadarannya timbul tenggelam. Bahkan seorang ibu yang semestinya ada di sisinya, merawatnya, membantunya, malah kabur ke kota lain. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan sikap sang ibu atau saudara-saudara Mas stres ini. Mereka punya alasannya masing-masing.

Kalau aku jadi pemuda ini, aku barangkali akan melakukan hal yang sama ketika kesepian mendera. Ketika kesendirian menyiksa. Sebegitu dalam, sebegitu gelap, sebegitu menakutkan. Sekarang yang tersisa adalah doa yang kuterbangkan ke langit. Siapa pun Mas stres itu, mudahan Allah sembuhkan ia...

Allah!
Malam ini Engkau bentangkan lagi hikmah untukku.
Aku harus banyak bersyukur

Aku masih waras...
Seberat apa pun masalah-masalah yang menghadang di depanku

Aku belum gila...
Se-stres dan seberat apapun garis kehidupan yang Engkau goreskan untukku

Aku masih normal, masih sadar menjadi bagian dari kampung ini, sehingga tahu diri untuk menempatkan sikap di kampung yang rumah-rumahnya saling berdempetan ini.

Allah,
Aku bersyukur padaMu...
Aku merasa sangat Engkau cintai
karena masih Engkau mampukan
'menikmati' semua masalah-masalah yang sedang kupetiki hikmahnya satu demi satu
tanpa harus menjadi GILA karenanya!
***

Malam ini, aku mencatat pelajaran kehidupan sekali lagi. Berkali-kali.

PS.
Sampai jurnal ini diselesaikan, dentuman musik di sebelahku semakin menjadi-jadi. Aku gak punya pilihan lain, selain pindah kos atau bertahan! Aku sudah dua malam gak tidur soalnya. Kegilaannya semakin menjadi keliatannya. Kasian...


Blog Entry[II] Rahasia Dibalik Dentuman Musik Rock ItuMay 2, '08 2:16 PM
for everyone
Attention please: Ini sambungan dari SINI.
=====================================================================

Sambil mencari-cari bel yang bisa kutekan, pikiranku melayang kemana-mana.  Aku sampai pada kesimpulan, ini sebuah rumah tua yang aneh. Sama sekali tak terlihat ada tanda-tanda keberadaan manusia di dalamnya, kecuali suara penyiar radio channel musik rock itu sesekali. 


Aduh, jangan-jangan benar kata Mas Agung di jurnalku. Siapa tahu ada orang mati di dalam rumah itu. Sebelum dia menenggak sekaleng racun tikus atau sebelum menjerat lehernya di tali gantungan, dia menyalakan radionya! Imajinasiku bergerak liar. Membuat aku ketakutan sendiri. Tapi aku gak punya pilihan lain! Aku harus bertemu makhluk di dalam rumah ini. Seperti apapun kondisinya. Aku gak mau menyerah. Aku sudah terlalu capek bertoleransi atas polusi suara yang diciptakan penghuni rumah ini!

Saat putus asa dan setengah takut, mataku menangkap bayangan putih kecil di sudut atas kiri pintu. Ah...! Sebuah BEL!!! Langsung kupencet! Saking semangatnya, aku memencetnya dalam dan panjang.

Sekali... Tidak ada reaksi sama sekali. Aku tercenung. Biar bagaimana pun ada adab dalam berkunjung. Apalagi ini sudah malam. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Dia sudah mengganggu kenyamananku juga!

Bismillah. Coba saja kupencet lagi. TEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTT!!! Ini yang kedua kali... Sekitar lima menit kutunggu. Sama sekali tidak terdengar langkah kaki mendekat ke pintu.

Ya Allah, aku hanya punya jatah sekali lagi, sesuai adab bertamu yang diajarkan Nabi. Oke, sekali lagi, kalau tidak dibukakan juga, aku harus menghubungi Pak RT malam ini juga. Biar besok pagi yang bersangkutan ditegur beliau!

Kupencet bel itu sekuat-kuatnya. Sepanjang-panjangnya! TEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTT!!! Semenit, dua menit, lima menit, sepuluh menit! Oke, cukup Ima! Tegurku pada diriku sendiri. Mungkin yang bersangkutan sudah tidur!

Aku tidak punya pilihan lagi. Perlahan kuseret kakiku menjauhi rumah joglo itu. Tentu saja hatiku dongkol bukan main! Panas di dalam sana butuh penyaluran... Segera!

Mataku nyalang menatap sekitar. Ternyata rumah di depan kosku masih benderang. Lamat-lamat kudengar suara mesin jahit. Kudekati. Pintu rumahnya malah terbuka lebar. Mungkin kepanasan. Semakin dekat aku melangkah, aku semakin bisa melihat dengan jelas. Aku melihat seseorang sedang menjahit. Aku sudah tidak berpikir lagi. Aku harus bicara dengan orang itu.

Seorang ibu berumur empat puluhan berkaos merah dengan sepasang kacamata terpasang di wajahnya asik menjahit. Suara mesih jahit mendesing memecah sunyi. Pelan kuucap salam.

"Ibu, maaf... permisi. Saya mau tanya Bu..."

Si ibu setengah kaget dan langsung menghentikan aktifitasnya. Beliau mengangkat wajahnya. Bingung menatapku karena beliau tidak kenal denganku.

"Iya Mba, ada apa ya???" Tatapannya menyelidik.

"Maaf Bu malam-malam begini... saya cuma mau tanya. Rumah joglo di depan itu ada penghuninya gak ya, Bu?"

"Kenapa memangnya, Mba?" Si Ibu terlihat semakin curiga dan menatapku tajam.

"Hhh..., saya terganggu Bu. Sejak kemarin malam, sekitar jam sembilam malam, sampai sekarang, seseorang dalam rumah itu menyetel radio. Gaduh bukan main. Saya gak bisa istirahat, Bu..." Semua meluncur lancar. Aku yakin, suaraku terdengar memelas. Aku sudah berada pada titik hopeless!

"Oooh... gitu!" Wajah Ibu itu terlihat melunak. Dia malah beranjak dari kursinya dan meninggalkan mesin jahitnya.

"Gini Mbak...," Dia menghentikan kalimatnya. Aku semakin penasaran.

"Iya, Bu? Kenapa? Ada orangnya gak ya Bu di rumah itu???" Aku mencecar tak sabar.

"Jadi Mba..., rumah itu hanya dihuni oleh satu orang pemuda..."

"Dia stres Mba..."


Aku bingung dengan jawaban tak terduga!
Apa???
Rumah itu dihuni laki-laki stres???

Padahal aku tidak menginginkan jawaban ini. Kalau dia stres, aku mau tidak mau harus menerima, harus memaklumi.

Tunggu, aku harus memastikan! Aku masih ingin jawaban lain. Siapa tahu aku cuma salah dengar, karena fisikku yang lelah sudah tidak tidur dua malam ini.
***

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Blog Entry[I] Rahasia Dibalik Dentuman Musik Rock itu!May 2, '08 12:26 PM
for everyone
Attention: Sebelum membaca seri ini, supaya paham konteksnya, silahkan baca jurnal saya yang DI SINI. Terima kasih.
=====================================================================

Malam sudah sempurna meluruhkan tirainya. Hening menyelimuti pelosok kampung. Tak terdengar lagi suara orang bercakap-cakap. Sepertinya semua telah lelap di peraduan masing-masing. Istirahat malam adalah sunnatullah, untuk membayar kelelahan berjibaku seharian penuh di kantor-kantor dan tempat lain untuk mengais rejeki atau menuntut ilmu.

Tapi..., sudah dua hari ini aku tak bisa lelap. Sudah kubaringkan tubuhku. Sudah kupejamkan mataku, tapi otakku tetap gelisah. Tak hanya karena deadline-deadline itu, tapi juga dentaman musik rock yang sangat mengganggu.  Menggetarkan seluruh ruang kamarku!

Aku menanggung derita polusi suara ini sejak kemarin malam!  Hingar-bingar yang tercipta lebih dari 24 jam lalu, nonstop. Orang edan seperti apakah yang melakukan kegilaan seperti ini? Sosok egois yang tak kukenal itu mulai memutar radionya sejak jam 9 malam kemarin. Sepertinya channel lagu-lagu rock. Karena hanya sesekali terdengar suara penyiar ngobrol, sisanya lengkingan senar gitar elektrik dan dentuman bass yang mencabik-cabik ketenangan kamarku.

Ini bukan yang pertama kali. Sudah yang kesekian kali semenjak aku kos di sini. Aku juga tidak tinggal diam, berpangku tangan. Waktu ibu kos mampir ke sini, aku memohon pada beliau,

"Ibu, saya sering sekali terganggu dengan tetangga sebelah yang sering kali menyetel musik rock. Kencangnya bukan main. Padahal pekerjaan saya menuntut ketenangan, Bu. Saya pikir anak-anak kos lain juga membutuhkan ketenangan"

Aku tahu, anak-anak kos lain mungkin tidak seterganggu aku, karena kamar-kamar mereka tidak tepat bersebelahan dengan penghuni rumah pembuat onar tersebut. Mungkin hanya terdengar sayup-sayup. Tapi tidak ada salahnya menyertakan anak kos lainnya. Toh semua juga butuh ketenangan sepertiku. Untuk menguatkan permintaan sederhanaku,

"Tolong, Bu, disampaikan ke Pak RT, saya sangat terganggu dan mohon yang bersangkutan ditegur," sambungku.

Ibu kos menjawab dengan keanggunan khas ningrat Jogja,

"Sabar aja Mba, gak setiap hari kan berisik begitu?" raut wajahnya memperlihatkan keberatan atas permintaanku. Entah apa alasannya. Haruskah aku tahu? Aku pikir itu bukan urusanku.

"Tapi Bu, saya butuh ketenangan, saya pikir anak kos lain juga begitu..."

"Yah, mau gimana lagi ya Mba, namanya juga anak kampung..."

Kalimatnya dibiarkan menggantung, aku menebak sambungannya dalam hati,

"Mba Ima kan numpang di sini." Duh, aku sudah menjatuhkan diriku ke jurang su'udzhon!

"Ya sudah, Mba Ima sabar saja dulu ya, nanti kalau kejadian lagi saya akan mengabari Pak RT deh" dan Ibu kos berlalu dari hadapanku.

Seperti inikah penyelesaiannya? Padahal yang aku butuhkan adalah berhentinya musik rock  membahana itu di malam hari. Aku pikir aku juga berhak atas ketenangan. Bukan hanya karena aku sudah membayar uang kos semata, tapi karena permintaanku sederhana!  Aku hanya memohon ketenangan di atas jam 10 malam sampai pagi. Apalagi jam wajib belajar di kampung-kampung di Jogjakarta setahuku diterapkan cukup bagus. Masak hanya menegur satu makhluk pembuat onar ini Pak RT dan Ibu kosku tidak sanggup?
***

Kejadian serupa ini pertama kali terjadi di pertengahan bulan Maret lalu, tapi hanya satu malam. Aku masih bisa bersabar dan menganggapnya sebagai 'selingan' hidupku. Lalu pertengahan April terjadi lagi. Aku masih bisa menahan diri, sambil menjejalkan musik-musik kesukaanku lewat headphone saat musik rock berkumandang! Tapi, Kejadian dua malam terakhir ini sudah menghabiskan sisa toleransiku! Secara fisik juga sudah sangat mengganggu. Aku jadi kurang tidur. Buntutnya panjang, aku jadi lemas, hilang mood seharian dan uring-uringan, pekerjaanku juga terganggu akhirnya. Aku harus melakukan sesuatu! Apapun yang akan terjadi!

Segera kusambar jilbabku dan bergegas membuka gerbang halaman. Setengah tergesa aku keluar pagar diiringi tatapan bingung si penjaga kos. Aku tak peduli. sambil  berjalan ke arah samping kanan kosku, aku menebak-nebak rumah manakah yang menjadi sumber pengganggu malam-malamku selama ini?

Perlahan, setengah ragu kulangkahkan kakiku. Tak sampai  lima menit aku sudah  sampai  di sebuah halaman yang luas. Sekarang aku bingung sendiri, karena ada tiga rumah yang berdiri tegak. Aku harus menentukan rumah yang mana.

Kupilih yang paling dekat dengan kamarku. Sebuah rumah bergaya joglo yang temaram. Hanya ada satu lampu kecil berwarna kuning yang pendar kelipnya tak mampu menerangi halamannya yang luas.

Pilihanku tak salah. Aku mendengar dentuman musik rock yang terdengar jelas! Pasti rumah ini, tak salah lagi! Aku yakin seyakinnya. Dalam gelap aku merasakan mulutku mengembangkan lengkung puas.

Perlahan tapi pasti aku mendekati rumah itu. Apa yang harus kulakukan ya? Kalimat apa yang akan kulontarkan ya? Aku sibuk menyusun kata-kata. Ah, mungkin ini,

"Maaf Mas, Pak, Bu, bisa tolong dikecilkan radionya? Ini bukan yang pertama dan saya sudah cukup sabar selama ini. Tapi sekarang saya punya banyak kerjaan yang menuntut ketenangan di malam hari. Suara gaduh yang Mas, Pak, Bu timbulkan sangat-sangat mengganggu saya, Terima kasih."

Ah sudahlah, gimana nanti saja! Yang penting aku bisa bertemu seseorang dalam rumah ini.

Sekarang langkah kakiku sudah mencapai pintu rumahnya. Rumahnya sangat gelap! Bahkan tirai yang menutupi jendela di sebelah pintu tidak membiaskan cahaya lampu sedikit pun. Aku jadi ragu-ragu mengetuk pintunya.

Setengah ragu, kuketukkan kunci kamarku ke jendela kaca bertirai itu. Kupikir suaranya cukup nyaring untuk menarik perhatian penghuni di dalamnya. Sekali... tak ada sahutan. Dua kali..., masih tak bergeming. Tiga kali, aku putus asa.
***

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Blog Entry[5] Mau Backpacking Keliling Dunia for Free???Mar 9, '08 8:58 AM
for everyone

Sudah berminggu-minggu aku  tidak lagi mendengar kabar dari si Mba. Aku sudah hampir-hampir lupa, karena mulai tenggelam pada kesibukan lain. Sampai suatu ketika, tepatnya tanggal 5 Maret kemarin, sebuah sms masuk, 

Halo Ima! Aku akhirnya dapat juga grant ke Canada tapi sayang hanya untuk satu orang, padahal penulisnya dua orang. Aku mau tanya-tanya lagi boleh kan? 

Alhamdulillah! Senangnya. Melambung hatiku Mba mendengar kabar baik ini. Boleh Mba, telpon aja ke Flexi ku entar malam ya? Atau, siang ini juga bisa? 

Trims ya Ima, jam berapa bisa kutelpon? I really think that better for me not to go, karena aku hanya ‘record’ apa yang saudaraku lakukan. Aku jadi gak yakin mengingat grant yang diberikan sepertinya gak cukup untuk berdua. Saudaraku lebih membutuhkannya untuk menunjuang karirnya. 

Aku membatin setelah membaca sms terakhir, “Ketika kesempatan sudah mulai terbuka di depan mata, sudah sepatutnya kita raih, seragu apapun hati kita. Kita gak akan pernah tahu apakah akan ada kesempatan berikutnya, jika kita tidak meraih yang di depan mata kita. Saat ini juga!” 

Setelah itu aku ditelpon, disambung bolak balik sms-sms an karena ada beberapa hal mendesak yang harus diperjelas.

Berapa banyak kah grant yang diberikan. Cukup tidaknya untuk berangkat dua orang. Bagaimana cara memanfaatkan uang yang ada sebaik-baiknya dan setaktis mungkin. Namanya juga mau backpacking gratisan, hehehe…

Also, I still need to encourage her again to go, again and again! Since she is still  not sure yet to go due to some obstacles lie down in front of her.

Siang itu lagi-lagi aku bisa tersenyum. Senyum yang sangat lebar. Senang bukan main! Sekecil apapun peranku, aku merasakan satu hal besar: Kebajikan bisa dilakukan dengan banyak cara dan berbagi selalu membuat hati kita besar dan penuh dengan kebahagiaan!

As I told you earlier in this story, good spirit is always contagious in any forms!

The story is almost end with happy ENDING. Isn't it? ^_^

Ayo, sekarang giliranmu menceritakan ‘mimpi-mimpimu’ dan bagaimana caramu mencapai mimpi itu! 


Blog Entry[4] Mau Backpacking Keliling Dunia for Free???Mar 9, '08 7:47 AM
for everyone

Sekali-sekali si Mba masih kutanyai perkembangan pencarian grantnya. Kadang-kadang beliau lah yang menelponku. Seperti rembang sore di suatu hari, kami sms-sms-an, isinya kurang lebih seperti ini [maaf, otakku gak bisa mengingat semua detail diskusi]: 
       

        Mba, gimana perkembangan pengajuan grantnya?
Sms sent

Duh Im, enggak tau nih, sepertinya aku harus memupus impianku saat ini. Paper sudah diterima saja aku sudah senang kok. Mungkin belum saatnya.
Sms accepted

Mba, jangan putus harapan dulu ya. Terus berusaha dan berdoa ya. Allah suka pada hambaNya yang terus memanggil dan memohon padaNya. Ada jalan yang tak terduga nantinya!
Sms sent
 

Entahlah Im! Aku tidak begitu berharap. Mengingat panitia sendiri menyatakan di websitenya tidak bisa memberikan direct financial assistant.
 

Sms balasannya terbaca sangat hopeless! Oh No! Please, don’t give up now! InsyaAllah akan ada jalan lain!
 

Aku fikir, jika abstrak yang dikirimkan memang bagus dan menarik bagi panitia, masa sih panitia gak mencoba membantu dengan mengontak CIDA langsung? Panitia di sana kemungkinan besar punya networking yang lebih kuat ke lembaga donor, karena acara konferensi kali ini pun didanai oleh lembaga donor. Entah kenapa, feeling ku tetap saja mengatakan, beliau insyaAllah akan berangkat!
 

O iya Im, perlu kukirim gak papernya sekarang? Mengingat aku belum tentu bisa berangkat walau paperku sudah diterima. Takutnya digunakan untuk yang enggak-enggak?
Sms received

        Dikirim aja Mba. Justru ketika panitia membaca paper Mba dan menurut mereka bagus, insyaAllah akan membuat mereka mempertimbangkan lagi. Siapa tahu hati mereka jadi lebih tergerak untuk mengundang Mba. Minimal banget di sini kita berharap mereka bisa kasih grant untuk pesawat pulang pergi. Soal akomodasi bisa kita fikirkan nanti.
Sms sent 

Jujur, saat itu dibenakku terlintas ide:

“Kenapa si Mba gak pengumuman aja di MP soal butuh tumpangan, kan MP-ers Indonesia hampir-hampir ada di seluruh penjuru dunia! Dulu pas aku backpacking 21 hari tahun 2005 keliling Eropa, pernah melakukan hal yang sama dan Alhamdulillah ada saja teman-teman MP yang bersedia ditumpangi rumahnya. Seperti ini yang sangat-sangat membantu pembiayaan travelling ku saat itu.”

(Teman-teman MP yang pernah kutumpangi yang membaca jurnal seri ini, terima kasih banyak ya, tanpa kalian, aku sudah jadi gembel di jalanan. Ah, old memories! Jadi kepingin backpacking lagi, huhuhuhu….)

Nanti ah, aku coba usulkan ide ini ke si Mba. Sekarang waktunya banyak-banyak menerbangkan doa.

“Allah, kupanjatkan doa lagi padaMu, mudahkanlah urusannya. Sekali lagi aku meminta padaMu, bukakanlah jalan baginya untuk meraih salah satu mimpinya”


Blog Entry[3] Mau Backpacking Keliling Dunia for Free???Mar 8, '08 4:34 AM
for everyone

Semenjak itu, si Mba kadang-kadang menghubungiku. Menanyakan hal-hal yang lebih teknis sifatnya. Aku senang melihat antusiasme yang beliau miliki. Aku juga senang diberikan kesempatan membagi sedikit yang kupunya.

Sampai suatu ketika,

“Trrrrrrrrrrt, rrrrrrrrrttttttttttttttttt,” teleponku berdering di sebuah siang di Kebun Raya Bogor. Iya, di Kebun Raya. Aku sedang diundang mengikuti sebuah diskusi di hotel Salak, Bogor. Selesai diskusi, aku ngajak panitia untuk main sejenak ke situ.

 

“Ima! Abstrakku yang kukirim ke sebuah konferensi di Canada ternyata diterima! Alhamdulillah!” dalam gesa suara si Mba yang lembut mengabari berita membahagiakan ini.

Aku melompat-lompat gembira! Aku betul-betul melompat dalam arti harfiahnya! Aku sudah tak peduli lagi ditatap orang-orang yang asik memadu kasih di Kebun Raya. Aku betul-betul senang. Kesuksesannya adalah kesuksesanku juga. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga!

“Tapi Ma, mereka tidak menyediakan grant untuk transportasi (pesawat pulang pergi) dan akomodasi, apalagi uang saku,” suaranya terdengar sedih sekali.

“…”

Aku tercekat! Baru saja aku melampiaskan kebahagiaanku, tapi ternyata…!

Perlahan kuhela nafas dan mencoba melihat kabar ini dari sisi positif. Ima, look at the bright side when you try to tell something to her. Don’t stop her dream. Help her, encourage her!

“Mba…, aku juga pernah kok mengalami hal seperti ini. Tapi jangan langsung patah semangat Mba,” sambil tanpa kusadari aku menarik sebuah senyuman. Padahal hey! Beliau kan gak melihat wajahku, wong ini ngobrol di telepon.

“Gini Mba, gimana kalau Mba kirim email ke panitia, bilang bahwa Mba datang dari developing country (suka tidak suka kita harus mengakui ini: ed.) dan selisih currency (mata uang: ed.) kita beda jauh dengan mereka. Dengan menjelaskan ini baik-baik, mudahan mereka akan bisa membukakan jalan lain.” Jelasku hati hati.

“Gitu ya Ma? Lazim ya kita bernegosiasi seperti ini…?” ada nada ragu terdengar jelas di suaranya.

“Menurutku sah-sah saja Mba! Toh mereka sudah menyatakan tertarik dengan abstrak Mba kan,” entah kenapa, siang itu aku begitu yakinnya bicara seperti itu. Padahal belum tentu seperti itu kan keadaan real di Canada nya. Aku hanya punya niatan untuk menghibur dan mengajak  beliau untuk tidak patah semangat. Itu saja.

 

Waktu berlalu. Sekitar dua minggu kemudian…

 

“Trrrrrrrrt, rrrrrrrrrrtttttttttttt….”

“Ima, aku disuruh menghubungi pihak CIDA, untuk mencari funding untuk berangkat. Tapi kemana aku harus melangkah? Aku belum pernah berurusan dengan lembaga seperti ini.” Si Mba menghubungiku lagi. Suaranya terdengar cemas bukan main.

“Oh, kalau memang seperti itu, ya sudah Mba. Ayo langsung dimasukkan proposal pengajuan grant untuk mengikuti konferensi” sahutku cepat. Gimana-gimana dia butuh saran taktis sekarang ini.

Saat itu aku memberikan beberapa info lembaga terkait yang biasa memberikan grant untuk mengikuti konferensi di luar negeri jika abstrak paper kita sudah diterimanya. Intinya usahakan cari lembaga yang se-visi dengan topik paper yang akan kita bawakan. Biasanya kemungkinan ditolaknya lebih kecil. Walau waktunya memang cukup lama. Yah, namanya juga minta dibiayai dan jumlahnya kan gak sedikit!

“Jangan patah semangat ya Mba. Belum ada kata ‘gagal’ berangkat di sini ya Mba! Tetap usaha dan berdoa. Aku juga bantu doa dari sini, ok!”

 
Berhasil kah kami??? *aku jadi merasa satu tim dengan beliau* Wish us luck!

To be continued...!


Blog Entry[2] Mau Backpacking Keliling Dunia for Free???Mar 8, '08 3:22 AM
for everyone

Flash back to Jakarta, few months ago...


Catatan Jakarta
, 7 October 2007 dinihari.

Setelah keliling sepanjang dinihari membagi-bagikan nasi bungkus pada acara Sahur on the Road 2007, aku duduk bersisian menikmati indomie rebus menu sahurku, dengan seorang MP-er yang malang melintang di dunia kepenulisan.

Tercipta lah sebuah dialog, kurang lebih seperti dibawah ini:

“Im, aku suka banget liat photo-photo aktifitas backpackingmu. Betapa panjang langkah kakimu. Kamu berhasil mengelilingi keindahan alam di berbagai belahan dunia.”

“Iya Mba, Alhamdulillah. Tapi aku belum seberapa kok Mba! Masih ada Mba Ambar yang hebat banget itu, Gus Weng yang heroik atau Teh Merlyna Lim. Mereka semua inspiratorku,” sahutku sambil tersenyum manis. Manis gak ya senyumku saat itu? Hehehe…

         “Tapi biayanya pasti mahal ya Im….” Dia hampir-hampir berbisik lirih.

       “Mba, asal tahu aja ya, gak semua dari backpackingku itu kubiayai dari kantungku sendiri. Rata-rata justru karena aku menghadiri aneka konferensi di negara-negara yang sedang kukunjungi. Lalu kulangkahkan kakiku lebih jauh setelah konferensi berakhir ke negara-negara atau kota-kota terdekat di negara yang sedang kudatangi” sahutku bersemangat menerangkan.

“apa Im? Jadi maksudmu, kamu hampir-hampir gratis mengunjungi berbagai negara itu?”

“Rata-rata iya Mba. Ada yang full dibiayai oleh pihak pengundang, termasuk di dalamnya pesawat pulang pergi, akomodasi dan uang saku. Ada yang ditanggung akomodasi dan conference fee nya. Ada juga yang ditanggung uang conference saja. Yah, biasanya aku akan mengusahakan untuk hadir di konferensi yang full menanggung semua biaya. Kalau pas aku punya tabungan lebih, ya aku akan hadir juga di konferensi yang hanya menanggung biaya akomodasi dan conference fee. Intinya, memanfaatkan setiap peluang yang ada dan kemampuan yang kita punya.”

“Gimana cara mengetahui info berbagai conference ini Ima?” kejar si Mba.

“Oh iya. Aku rajin mengunjungi website www.conferencealerts.com Mba! Di situ lengkap sekali dafar jadwal conference yang akan diselenggarakan di berbagai belahan dunia. Include didalamnya informasi website yang harus kita telusuri lebih jauh jika kita ingin mengirimkan abstrak sesuai tema konferensi” kisahku perlahan-lahan. Kami sama-sama sudah mengantuk dan capek, karena ikut membagikan nasi Sahur on the Road acara MP-ers Jakarta.

“Hem, lalu Ma, berapa halaman harus kita buat? Panjang kah? Duh, aku belum pernah ikutan Ma! Apa bisa???” si Mba terlihat excited sekaligus cemas.

“Kalau abstrak, mba cukup mengirimkan setengah halaman saja. Sekitar 350 kata, gak berat kan Mba. Nanti kalau mereka tertarik dengan ide-ide kita, mereka akan memberitahukan list abstrak yang diterima dan meminta kita mengirimkan paper lengkap. Panjangnya tergantung durasi waktu yang diberikan pada kita untuk mempresentasikan paper kita. Rata-rata sekitar 15-25 halaman. "

"Wah, banyak bener Maaaaaaaaaa! Aku keder niy dengernya. Belum tentu lagi abstrak kita itu menarik apa enggak?" si Mba mengerenyitkan keningnya.

"Justru itu Mba, kita gak pernah tahu kita bisa apa enggak, menarik apa enggak, bagus apa enggak, kalau kita gak pernah mau mencoba! We’ve never known what is behind something we want to go through, before we step into it” ujarku menyemangati si Mba.

“Iya yah Ma…, aku kudu mencoba! We’ve never known!” si Mba mulai tersenyum.

“Iya Mba, lagian, nothing to loose kan? Cuma ngirim abstrak by email ini. Murah meriah bo!!!”

"Kalau gagal yang satu ini, tinggal kirim abstrak ke conference lainnya ya, Ma!" Si Mba menyambung kalimatku dengan tatap jenaka.

Tawa kami pun berderai dan mengakhiri sahur kami. Dia meminta nomor HP ku dan berjanji akan menghubungiku sewaktu-waktu jika dia perlu beberapa informasi tambahan.

Dinihari menjelang pagi itu aku berdoa pada Allah,

"Ya Allah, gerakkan hatinya untuk mencoba jalan yang pernah kucoba. Jika ada kesulitan, mudahkanlah ia, jika ada halangan, ringankanlah bebannya. Aku melihat bara di matanya. Jangan padamkan itu ya Allah yang Maha Kasih dan Sumber Pengetahuan, amin..."

To be continued!

PS.
Hayo tebak, siapa kah dia diantara kami-kami di photo ituw? hehehe ^__^

Blog Entry[I] Mau Backpacking Keliling Dunia for Free???Mar 8, '08 2:52 AM
for everyone

Orang-orang sering bertanya, bagaimana bisa aku yang biasa-biasa saja sudah bisa backpacking keliling dunia? Dalam usia relatif muda pula. Apakah aku anak orang kaya, kerling tanya mereka? Oh, no, no, NO! I’m definitely not a rich person! I am just a really ordinary girl coming from a really modest family.

Atau beasiswa kuliahku sangatlah besar? Sampai-sampai aku bisa menyisihkan living allowance bulananku dan hasilnya kutabung? Oh, beasiswaku biasa saja, bahkan separuh dari standar hidup minimal di UK. Artinya aku harus dua kali lebih hemat dari orang-orang Inggris biasa yang hidup di Inggris.

Lalu, darimana kamu dapatkan uang untuk travelling menjelajah separuh dunia? Orang-orang terheran-heran setiap kali menatap photo-photo travelling ku mengunjungi hampir seluruh Eropa, Uni Emirat Arab (sudah dua kali kukunjungi), dan USA. Sampai-sampai aku memutuskan untuk tidak memposting photo-photo travelling ku lagi. Khawatir dianggap pamer, hiks!

Yang pasti sih, aku gak punya tuyul. Apalagi tuyul sepertinya gak sanggup menyeberang lautan Inggris. Hehehe, apa siy Im!

So, darimana sebetulnya  uang yang kudapatkan untuk membiayai backpacking dan travelling ku ke berbagai tempat???

Jawabannya sangat simpel.

Aku “berguru” pada Teteh Prof. satu ini.

Ya, beliau salah satu inspirator terbesarku.

Tahun 2003 dia menceritakan padaku bagaimana caranya dia bisa mendapatkan beasiswa dan aneka konferensi yang diikutinya yang pada akhirnya mengantarkannya pada berbagai 'petualangan' mengunjungi berbagai belahan dunia secara gratis. Iya, GRATIS BOOO!!!!!!

Beliau juga “memanas-manasiku” dengan memperlihatkan beberapa lembar photo-photo yang diprint di atas kertas. Memperlihatkan sudah kemana saja dia menghadiri aneka konferensi di penjuru dunia, sambil setelahnya jalan-jalan dong! Wow wow wow!

Terbit lah rasa ‘iri’ku! Kalau dia bisa, kenapa aku enggak bisa???

Ya ya ya… tentu aku harus tahu diri! Saat itu aku adalah ‘itik buruk rupa’ dalam kemampuan bahasa Inggris yang boleh dibilang nol! NOL BESAR malah, hehehe… Jujur, aku pembenci bahasa Inggris nomor wahid karena ‘trauma gaya ngajar’ guruku! Tapi aku gak boleh patah semangat. Dia makan nasi kan? Aku juga. Berarti kalau dia bisa, kenapa aku enggak bisa? Sejak itu aku berazam pada sang waktu, izinkan aku mengejar mimpi!

Dan sampai hari ini dia masih saja menjadi inspiratorku. Walau hampir dalam segala hal, aku belum ada apa-apanya dibanding dia.

Tiba-tiba, senja dua hari lalu aku mendapat sebuah kabar. Subhanallah, now I’ve just found one fact, that good spirit is always contagious! Bahkan tanpa kita sadari…!

Penasaran ada apakah? baca lanjutannya di seri kedua ^__^


Blog EntryHubungan mesra Miss Potter dan Lake DistrictJun 28, '07 10:50 PM
for everyone
Pernah mendengar namanya??? Kalau belum, coba tonton film tentang dirinya, "Miss Potter." Di Indonesia juga sudah diputar kan ya filmnya :-p

Film yang bertutur pelan dan halus tentang perjuangan seorang perempuan Inggris di pertengahan abad ke 19 (1866-1943) mewujudkan impiannya: menerbitkan bukunya sendiri. Beatrix tentu saja harus bersusah payah meyakinkan keluarganya, terutama ibunya yang kolot dan tidak menganggap penting arti sebuah buku. Belum lagi perempuan pada masa itu dipandang sebelah mata oleh sistem patriarki Inggris yang kental saat itu.

Tapi syukurlah, sang ayah Beatrix sangat memahami hasrat dan bakat terbesar anaknya,
menjadi penulis buku dongeng anak-anak.

Silahkan teman-teman tonton sendiri deh filmnya, gak rugi kok! Kalau semua aku ceritakan disini, nanti jadi resensi film deh ^_^

Oke deh, sedikit bocoran ya: alur ceritanya biar lambat tapi bagus. Setting alam Inggris masa lalunya apalagi, ehm, indah! Plus semangat dalam film yang coba disampaikan: jangan pernah berputus asa mengejar mimpimu, semesta akan membantu mewujudkan impianmu...!!!
***

60 tahun sudah berlalu sejak Beatrix meninggalkan dunia fana ini, tapi jejaknya ada dimana-mana. Buku-bukunya-yang paling terkenal tentu saja seri Peter Rabbit, sudah diterbitkan dalam 35 bahasa dan dicetak ulang lebih dari 15 juta copy, sampai hari ini! Luar biasa!!!

Dongeng-dongengnya dan lukisan cat airnya tentang persahabatan binatang kecil mungil seperti kelinci, bebek, babi, ayam dan lain lain berhasil menciptakan senyum dan imajinasi indah dalam kepala anak-anak. Menjadi pengantar tidur dan penghidup nilai-nilai kebaikan dan membentuk karakter anak-anak yang tekun membaca buku-buku tersebut.

Dan konon katanya, Beatrix semakin produktif menulis setelah dia membeli tanah di Lake District, tepatnya di Hill Top-Sawrey. Desa kecil di Cumbria ini dulunya menjadi tempat berliburnya semasa masih kecil. Di film itu digambarkan, bagaimana keindahan alam Lake District menginspirasi Beatrix untuk melukis dan mengarang 'sahabat-sahabat imajiner'nya yang kemudian menjadi seri dongeng abadi "Peter Rabbit". 

Royalti yang didapatnya selama menulis dan menerbitkan buku-bukunya membuatnya mampu membeli lahan ini dan bahkan akhirnya menjadikan dirinya sebagai seorang conservationist, karena ia membebaskan puluhan kilometer lahan cantik di Lake District dari tangan serakah sekelompok pengusaha kaya setempat yang ingin merubah kawasan tersebut sebagai daerah industri.

Sebelum dia meninggal, dia berwasiat: mewariskan seluruh lahan yang dimilikinya untuk dikelola oleh National Trust (sebuah organisasi charity yang bekerja untuk konservasi situs bersejarah di Inggris) sehingga dia yakin Lake District akan tetap terjaga kealamiannya bahkan setelah ia mati.

Beatrix bilang, "Teman-temanku dan alam raya yang cantik ini sudah hidup berbilang tahun disini dan merupakan kesatuan ekosistem, tolong jangan dirusak dengan pembangunan pabrik(industri) karena ini adalah keindahan alam yang diberikan Tuhan."

Wow, perempuan yang menginspirasi bukan!
***

Nanti sore, aku akan meluncur ke Lake District sampai hari Ahad (3 hari dua malam), menapak tilasi keindahan alam yang menginspirasi Beatrix Potter menjadi penulis anak-anak yang melegenda!

Kata panitia, kami akan banyak hiking loh, jadi aku sekarang sibuk berdoa mudahan cuaca disana bagus, amin amin amin...

InsyaAllah cerita-ceritanya akan kusambung kalau sudah kembali dari Lake District, sekarang kudu packing nih ^_^

PS.
Photo-photo kali ini diunduh dari Om Google.

ReviewReviewReviewReviewReviewDENIAS: Senandung di atas awanJun 15, '07 12:55 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Education
Teman-teman sudah nonton film Denias, Senandung di Atas Awan ? Aku telat banget yak! Film ini diproduksi tahun 2006 kan? Barusan saya menamatkan episode ke 12 nya. Soalnya saya mendownloadnya di Youtube, hehehehe...

Ditengah-tengah maraknya film Indonesia yang booming tapi gak jelas banget dari sisi kualitas sinematografi dan alur cerita, film ini ibarat oase ditengah padang pasir!

Adegan pembukanya saja sudah sangat menarik. Setelah upacara adat berlangsung, muncul dialog ibu Denias menasehati anaknya,

"Denias, kau sudah besar, kau jangan nakal ya... kalau kau nakal, gunung disana bisa makan kau! Betul itu, itu sudah! Tapi kalau kau belajar yang rajin, pintar sekolah, gunung disana takut sama kau!"

Keindahan alam dan adat istiadat orang Papua yang dihamparkan juga menghipnotis mata! Silahkan dijenguk di LINK INI. Oh iya, kalau ingin menonton keseluruhan episodenya, Anrra nya kudu di add as a friend, setelah itu kita bisa menonton kedua belas episode nya :-)

SYNOPSIS dari DENIAS's WEBSITE:

“Bapak yakin kamu bisa jadi ahli matematika,” kata pak Guru.

“Gunung takut sama anak sekolah,” kata Mama.

“Belajar bisa di mana saja …” kata Maleo.

Denias, anak seorang petani suku di pedalaman tengah Papua. Semangat dan keinginan sekolah selalu bergejolak di batin dan pikirannya. Kalimat-kalimat orang yang ia sayang dan hormati terus terngiang dan membakar semangatnya. Dunia Denias adalah dunia sederhana, bermain dan bersekolah selain membantu Bapak di ladang.

Hidup Denias berikutnya dibayangi kesedihan beruntun karena orang-orang yang ia cintai dan hormati satu demi satu meninggalkannya. Ibunya tersayang meninggal dalam suatu tragedi kebakaran honai keluarga mereka.

Maleo pernah bilang ada sekolah fasilitas di balik gunung. Agar bisa tetap sekolah, Denias pergi meninggalkan rumah. Tidak perduli perjalanan ke sana sangat jauh dan sama sekali tidak mudah, harus berhari-hari melewati sungai, hutan dan gunung, Denias terus mengejar cita-citanya.

Di tempat yang dituju, perjuangan Denias belum selesai. Sebagai anak suku biasa, Denias tidak mungkin boleh bersekolah di sekolah fasilitas itu. Perkenalannya dengan Enos membuat Denias bisa masuk ke dalam sekolah dan berupaya memetik pengetahuan dengan caranya sendiri.

Kegigihan dan semangat Denias mengetuk hati Ibu Sam, salah seorang pengajar di sana. Rintangan datang dari sana-sini hingga Denias pun hampir putus asa.

Apakah ibu Sam bisa membantu Denias bersekolah?

Apakah Denias bisa sekolah lagi?
***

Selanjutnya? Komentar saya hanya satu : Ini film yang LUAR BIASA!

Jalan ceritanya sangat bagus, tidak terkesan menggurui padahal sarat pesan moral dan penyadaran atas kepedulian sosial yang mulai digerus zaman di bagian Papua kota. Contohnya bisa dikutip dari dialog Ibu Gembala yang diperankan Marcella dengan apik, dia memprotes aparat sekolah yang pilih-pilih murid,

"pertama kali saya menjejakkan kaki ke pulau ini, saya fikir, ketidak adilan hanya dilakukan oleh orang di luar pulau ini, ternyata ketidakadilan juga dilakukan oleh orang-orang dalam pulau ini sendiri."

Ck ck ck! Sindiran sosial tanpa tedeng aling-aling.

DENIAS definitely is a must see movie: menggugah, mengharukan dan menyentak alam bawah sadar kita!

Pengambilan gambarnya juga proporsional dan mahir, my applause to John De Rantau, orang Padang yang mensutradarai film berbobot ini.

Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik untuk me-review film ini. Pertama, film ini mencoba mengungkapkan dengan gamblang bahwa betapa mewahnya pendidikan buat sekelompok masyarakat tertentu di negeri ini (film ini mengambil contoh masyarakat pedalaman Papua).

Kedua, film ini berhasil melukiskan dengan indah sebuah tekad anak manusia untuk maju. Tak hanya kemauan baja sang tokoh yang berhasil diungkap, tapi film ini juga berhasil menggambarkan sosok Denias dan Enos yang berjuang keras untuk sekolah. Melarikan diri dari rumah, mendaki gunung, menyeberangi sungai, bermalam berhari-hari ditengah hutan dan kelaparan adalah lukisan sinematographi yang begitu manis sekaligus menyesakkan disuguhkan didepan mata kita.

Ketiga, sampai detik ini saya masih sangat meyakini bahwa akar berbagai permasalahan struktural dan kultural dalam masyarakat salah satunya bisa dipecahkan melalui pendidikan.

Keempat, film ini sukses membelalakkan alam fikir kita, bahwa dibelahan lain negeri Indonesia, berbagai kenyataan yang mungkin tidak kita sadari telah terjadi di negeri ini. Contohnya isu diskriminasi untuk mendapatkan akses terhadap pendidikan.

Dari sisi akting, saya pun kagum! Denias yang diperankan oleh Albert dibawakan dengan cukup alami, padahal dia baru sekali ini bermain film! Wow! Bakat alam yang harus terus diasah. Walau konon Albert lebih memilih untuk menekuni seni suara.

Akting tokoh-tokoh lainnya juga bagus, sebut saja nama Ari sihasale (sebagai Maleo, tentara ABRI yang berhati lembut dan idealis), ibu Gembala (Marcella Zalianti yang berperan sebagai ibu guru di kota), Mathias Muchus (yang menjadi guru di pedalaman Papua) dan sederet pemain lainnya.

For me, this movie is a must see! Boleh dibilang, ini adalah film ethnography yang dikemas dengan serius tapi terasa ringan dicerna, karena adegan-adegan humor yang segar terselip disana sini, mengalir alami!

Bravo John de Rantau. Piala Citra memang pantas diraih film ini. Aku menunggu karya-karyamu berikutnya!

Ps.
Kalau pulang nanti, mau ngajak adik-adikku nonton film ini ah di bioskop, masih diputar gak ya???


ReviewReviewReviewReviewReviewthe Pursuit of HappynessMay 12, '07 3:31 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Review yang ditulis hampir dua bulan lalu.
Aku bilang sih, ini film WAJIB TONTON, bagi pencinta kerja keras, bagi pejuang hidup! Sangat-sangat menyemangati jiwa!


My reflection on my own life after watched this movie:

I've just watched a -so touchy movie- this afternoon. To be honest, I was crying for almost the third part of the movie. Hiks hiks hiks...

After watching the Will Smith-starer The Pursuit of happy-ness I had realized that my own problems were trivial compared to the problems of a jobless father who couldn't find a home for his young son.

The movie further reminds me that there were little parts of my life called happiness - that day when I graduated from my pesantren also graduated from my university, that day when I got my really really first job, that day I officially got a new role as a wife and etc.

Of course there were also other parts -that part called for being so stupid-naive and that part called running but then finally I could appreciate my life more and more if I would focus on the parts when I was actually happy.
***
I also really believe that HAPPINESS should be spelled with an I and not a Y. Not because it's what the dictionary dictates but because the meaning of happiness itself! For me, I could say Happiness is largely a personal decision that the I makes and a personal disposition that the I takes. Also as you can see, the letter I is the center of the word happ-i-ness. Why? Because the I is central to having a happy life. Don't you think like that as me think about it??? ^_^
***
Oke, sekarang reviewnya niy:

Film ini diangkat dari kisah nyata! Tentang keluarga kelas bawah Afro American yang berjuang untuk survive di belantara Amerika ditengah-tengah himpitan kemiskinan yang mendera mereka karena salah memulai langkah dalam berbisnis.
*Kita semua juga pernah salah langkah kan?*

Si ayah adalah seorang salesman yang menjual alat kedokteran karena salah perhitungan dalam menginvestasikan uangnya. Dia fikir alat yang akan dijualnya tersebut akan menjadi fenomena masa depan bagi dunia kedokteran. Walau faktanya tak semudah apa yang ia bayangkan sebelumnya.

Ironis, perhitungan matematisnya meleset! Semua tabungannya dan istrinya Linda terkuras habis dan tak balik modal. Faktanya sangat sulit meyakinkan para dokter di hospital untuk membeli alat tersebut.

Di seperempat film pertama, kita akan disuguhi adegan dialog ayah dan anak yang berangkat ke nursery. Setelah mengantar si anak, si ayah lalu duduk menunggu bus, disapa orang gila, keluar masuk rumah sakit merayu dokter agar membeli mesin ‘canggih’nya, berlari-lari mengejar bus kembali dan dialog suami istri atas kesulitan mereka dalam menghadapi hidup: membayar bills, tax, dan kebutuhan sehari-hari. Adegan panjang yang melelahkan tapi sekaligus menyentuh hati kita: KESUKSESAN HIDUP HARUS DICAPAI MELALUI PROSES PANJANG. TAK ADA YANG TURUN DARI LANGIT BEGITU SAJA!!!

Karena kemiskinan tak terlerai, istrinya terpaksa harus bekerja dua shift dan Chris sendiri tetap menjadi salesman menjual alat kedokteran yang menumpuk di rumahnya.

Mereka terus berjuang keras untuk hidup, sekedar bisa membayar uang kontrakan, uang nursery anak mereka satu-satunya dan kebutuhan makan sehari-hari.

Puncaknya, Linda akhirnya memutuskan meninggalkan Chris dan Christopher anaknya, karena dia ingin mencari peruntungan hidupnya di New York.

Kisah berjalan semakin menyesakkan, seiring Chris yang sangat tertekan karena ditinggal istri disatu sisi, dan disisi lain ia juga dikejar-kejar oleh landlord supaya membayar uang sewa rumah. Sampai pada akhirnya mereka harus angkat kaki dari rumah sewaan (sebanyak dua kali!) karena tidak mampu membayar uang sewa.

Sementara, Chris tetap tak berputus asa dan memutuskan menerima tawaran bekerja internship selama enam bulan di sebuah bank, walau tidak dibayar!!! Keputusan ini dia ambil karena tidak ada pilihan lain!
***
Buatku, adegan paling menyesakkan adalah ketika Chris dan anaknya diusir paksa dari rumah sewa mereka dan terpaksa untuk semalam mereka harus tidur di WC umum! Seiring airmata Chris meluruh waktu menahan pintu WC dari gedoran orang yang ingin masuk WC, airmataku pun ikut runtuh. Hiks hiks hiks…

Sisanya adalah perjuangan dari hari ke hari, bahu membahu dengan anaknya melewati hari tanpa atap, alias mereka harus berpindah dari satu shelter ke shelter lain, berebut tempat satu malam dengan ratusan homeless lainnya. Sementara disisi lain Chris tetap harus belajar supaya dia lulus dalam internship nya dan mendapatkan pekerjaannya. What a really really tough life they have!
***
Akankah Chris berhasil menjadi banker dan terselesaikankah masalah-masalah yang dihadapinya? Silahkan anda tonton sendiri ya ^_^
*siapin tissue sebelumnya loh ya*


Blog EntryLSJ, 1st day: Ke rumah Bush dan 'tetangganya'!Jun 20, '06 11:59 PM
for everyone

'Leadership for Social Justice, 18 June 2006'

Hari itu, seusai sarapan pagi Indonesian fellows sepakat ngelayap lagi, karena Opening Ceremony masih nanti siang baru dimulainya. Time is an adventure itself, wekekekek ^_^  Apalagi, sehari sebelumnya kita belum sempat menjenguk kediamannya si Bush. Kek apa siy rumah manusia 'berhati jahat' satu itu? Huh... penasaran.dot.com judulnya.

Akhirnya, sampai juga kami ke White House yang ternyata biasa-biasa aja. Bahkan sepintas terlihat seperti sebuah rumah dalam pengasingan, karena dikelilingi jeruji besi hitam yang tinggi. Kesannya Bush sekeluarga ada dalam penjara buatannya sendiri. Poor you!

Banyak turis, banyak yang photo-photo dan beberapa pedagang liar yang sewaktu-waktu datang dan pergi jika terlihat patroli polisi.

Yang unik, ada nenek sangat tua, sudah berumur 60 an yang setiap hari kerjanya demo, persis didepan rumah si Bush itu. (Red.silahkan liat photo-photonya disini). Sejak tahun 1981. Nonstop, 24 jam setiap hari! Hebat yah!

Dialah Conchitta, "the President's Neighbor White House Anti-Nuclear Vigil", yang walau pada faktanya tak pernah sekalipun berhasil mengetuk hati salah satu presiden -sejak Jimmy Carter- untuk berbicara dan mendengarkan tuntutan beliau. Sejak 1 June 1981 hingga hari ini! What an ignorance!

Beliau setiap hari memajang poster-poster bergambar yang melukiskan ragam isu ketertindasan negara lain akibat olah congkak si Bush dan kawan-kawannya. Sebut saja perang di Iraq, Korea Utara, penjara Guantanamo, anti nuclear America, kelaparan di Africa dan seterusnya. You name it! Dia bilang, inilah jalan satu-satunya untuk dia, menghentikan kebijakan politik America yang tak beradab, secara damai.

Si Nenek bernama Concepcion Picciotto ini sudah acapkali dimuat di berbagai majalah international juga website atas kiprah antiknya: Berdemo sepanjang sisa hidupnya, setiap hari, 24 jam di depan rumah Bush, selalu! Unik dan mengagumkan, karena ini pilihan hidup yang mengandung banyak resiko tentunya.

Beliau juga sudah bolak balik dipukul, ditembak dengan sinar laser, ditampar dan dipenjarakan oleh antek-anteknya Bush. Tapi begitu bebas, si nenek gak pernah kapok. Lanjut lagi demonstrasinya! Sampai hari ini!!!

Setelah kuamati cukup lama... si nenek yang aslinya berasal dari Spain ini ternyata menerima uang dari setiap tourist ataupun photografer yang memotretnya berkali-kali. Rupanya dari belas kasih orang juga beliau hidup. Dia memang 24 jam tinggal di depan rumah Bush dengan poster-poster protesnya, jadi gak punya kesempatan lagi untuk mencari sesuap nasi diluar aktifitas demonya. Ini persangkaan baikku ^_^

Untuk mengetahui sepak terjang nenek berhati emas ini, silahkan tengok official website beliau, klik disini!
***
Puas mengamati dan memotret WH dan suasana disekelilingnya, hari sudah semakin terik. Mengingatkan kami semua agar beranjak siap-siap kembali ke lokasi institute, menghadiri LSJ opening ceremony, jam dua siang itu. (Red.beberapa photo LSJ opening ada juga
disini).

***

Sorenya dimulailah Story circle di masing-masing thematic group. Tujuannya untuk mengakrabkan sesama fellows, sambil mendengarkan ketidak-adilan nyata yang dialami oleh fellows lain dari sudut-sudut dunia.

Mengharukan, karena hari itu aku mendengarkan  kisah-kisah ketertindasan luar biasa dan they solved their problems! That's why, we chosed by IFP program because we are marginalized people.



Blog EntryInternet, aku, dia dan scholarshipJun 7, '06 2:02 PM
for everyone

Aku sering ditanya, bagaimana ceritanya sampai aku bisa mendapatkan beasiswa Ford Foundation. Sebisanya kujawab dan kuberikan informasi yang kupunya pada si penanya. Namun, aku percaya, dibalik usaha-usaha tak kenal putus asa (sebelum mendapatkan Ford Foundation, aku telah meng-applied beasiswa lain sebanyak tiga kali) ada tangan-tangan berbudi yang telah menginspirasi dan membimbingku dengan kasih. Inilah kisahnya:

 

Medio January 2003

 

Aku berpeluh, mual dan ingin muntah…, “hk… hk… hk…”

Kuedar pandang dan kusadari kalau bis yang kutumpangi dari Cibodas menuju Bandung ini jelek sekali. Maklum, aku ingin menghemat uang yang terbatas jumlahnya di kantong. Jadinya nekat saja naik omprengan gak jelas ini.

 

“Juleeeeeeeha, la…la…tralala…la…la…” peningku memuncak, mendengar nyanyian sumbang lagu dangdut dari seorang pengamen kurus yang melintas disamping kursiku. Hhh, bau mulutnya, rokok!!! Supir pun tak kalah mengacau suasana. Ia menyetir busnya dengan ugal-ugalan. Perpaduan bau rokok yang kuat, keringat, terantuk-antuk dan bising house music campur dangdut membuatku gak kuat dan hampir memuntahkan isi perutku.

 

Gak ada yang bisa aku lakukan ditengah-tengah rasa tak nyaman ini, selain berdoa dan berharap semoga perjumpaanku dengan dia menghapus segala ketaknyamanan sekitar dua jam ini.

***

Hari ini kami janjian ketemuan, setelah sekian lama kami hanyalah teman maya belaka. Lebih tepatnya lagi, saya adalah pencari informasi dan pembaca setia milist Beasiswa yahoogroups dan beliau adalah salah satu penjaga gawangnya.

 

Berulang kali beliau membagi ilmu-ilmunya yang sangat berharga, tips dan triks dalam mencari beasiswa, sekaligus memenangkannya. Ribuan jam ku habiskan mengubek-ubek sekaligus memelototi isi milist ini sejak tahun 2001, ketika aku masih Kuliah Kerja Nyata di Gunung Kidul. Sejak itu pula aku sudah mengenal namanya, sangat tersohor karena ia salah satu moderator milist yang cepat tanggap atas pertanyaan dan kesulitan membernya. Dan itu semua dilakukannya ditengah-tengah jam kuliah dan penelitiannya yang padat antara Belanda, Hawaii dan Bandung!!! Hebat ya…!

 

Hari ini aku bakal ketemu dia, senangnya! Bukan main, aku merasa masih bermimpi! Hanya karena beberapa waktu sebelumnya aku email dia. kubilang, aku bermimpi ingin sekali bertemu muka langsung dengan dia, karena membaca prestasinya yang mendunia di websitenya. Dengan jujur pula kukatakan, seorang wartawan freelance yang amateur di sebuah media ini ingin mengangkat topik tentang perempuan hebat jelang Hari Kartini.

 

Dia bersedia setelah tiga kali email-emailan yang singkat! Ditengah-tengah kesibukannya mengurus penelitian PHD nya di Twente University, the Netherlands, bahkan jelang keberangkatannya kembali ke sana, ia luangkan sedikit waktu untukku, yang bukan siapa-siapa. Bahkan dia janji mau menjemput aku di terminal bus Bandung. Bukan main deg-degan hati saya saat itu..., pertemuan yang mendebarkan!!!

***

Terminal Leuwi Panjang, Bandung 

 

Sekitar setengah jam menunggu seperti anak ayam yang hilang karena gak tau Bandung, kutunggu dia sambil sms-sms-an. Akhirnya dari jauh kulihat seorang perempuan keluar dari mobil merahnya. Putih, cantik, menarik, sederhana dan ramah!

 

Tangan terulur dan kami bersalaman, “Ayo Ima, langsung aja naik mobilku, kita cari café yang enak yuk”.

Aku gak tahu mau dibawa kemana, tapi yang pasti, aku langsung menyukainya dan menganggap dia kakak baruku!

 

Kami tiba di Atmosphere café yang nyaman sekali, karena bergaya natural. Kami lesehan aja, terbawa suasananya yang cozy. Café itu luas, dibelakangnya membentang perbukitan yang hijau, cantik sekali. Angin Bandung pun sepoi-sepoi keringkan keringatku, nyaman.

 

Gemetar kubuka obrolan. Grogi kutanya identitas pribadinya, sambil menyalakan tape recorder pinjaman. Setengah jam tak terasa, tahu tahu pesanan kami sudah datang. Dia yang traktir aku loh

 

Hari itu dia berkisah banyak. Keluarganya, hobbynya, kenangan masa kecilnya, ITB dan paduan suara kampusnya, penelitian-penelitiannya dan cintanya pada ilmu pengetahuan. Juga kisah travellingnya yang seru-seru abiiiiiiiiiiiiiz!!! Aku mengikuti semuanya di blog travellingnya. Hari itu dia bahkan membawakan photo-photo travellingnya yang sudah menjangkau hampir 30 negara lebih! Those were amazing!!!

 

Dia balik menanyai aku juga loh! Bukan basa basi, tapi benar-benar ingin tahu dan mendengar. Dengan semangat kuceritakan sedikit siapa aku dan mimpi-mimpiku yang masih tertatih-tatih kucoba raih. Dia membesarkan hatiku, “Coba aja terus Ima, kamu gak akan pernah tau batas kemampuanmu kalau kamu sendiri gak mencobanya, kita moderator di milist siap membantu”.

 

Hampir 3 jam kami habiskan bersama, dan waktu membuat kami harus berpisah, hiks…! Aku sedih sekaligus bahagia, bisa bertemu dengan orang yang aku kagumi. Yang selama ini hanya kubaca baris katanya di milist kami dan kuintip malu-malu lewat internet sepak terjangnya di dunia akademis penuh warna.

 

Hari itu kami berjanji untuk menjaga persaudaraan yang baru tercipta. Dia membuktikannya! Ketika berulang kali aku mengontaknya untuk urusan application beasiswaku ke Ford, berulang-ulang emailnya datang memberikan masukan-masukan yang sangat berharga, bahkan ketika dia ada di ujung dunia terjauh sekalipun.

***

 

June, 2006

Hari ini adalah lompatan tahun ketiga sejak pertemuan kami yang pertama. Kami tak pernah bertemu lagi semenjak itu di alam nyata, Indonesia, pun luar negeri. Tapi kami selalu bertegur sapa, sesekali bercanda, di alam maya. Aku bersyukur dengan kemajuan teknologi: internet yang luar biasa! Dia mempertemukan kami untuk pertama kali dan berkali-kali hingga kini

***

 

Kemarin, sebuah personal message nan manis mampir di Multiply ku, dari dia. Masih ditambah dengan repro photoku ketika di Denmark, hiks, terharu.......!!!

Makasih ya Teteh sayang!

***

From Teteh, yesterday:

 

Dearest Ima,

On this very special day, let me recite you some lines:

May the sun shine upon you
and brighten each of your day
May the moonlight console you
and light you up in your darkest moments
May the wind breeze onto you
and comfort you in your difficult times
May the whole universe be united
to help and guide you in pursuing your dreams

Wish you the real contentment at this moment of your life
Wish you more courage to be the person you always want to be
(as I know you already have always been)
Wish you still be brave to dream and to pursue your dreams

Happy Birthday my beloved sister!

With so much love,
m

 

ps.

Mau liat photo repro utak atik beliau? Sila tengok disini ya :-D



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help