Tahun 2003 kutinggalkan Jogja. 2007 pertengahan aku kembali menjejak kaki di kota ini. Mendadak aku tak bisa menahan diri ingin ‘berceloteh’ tentang kota yang setengah mati kucintai dan separuh umurku sudah kuhabiskan di sini.
Dari hari ke hari, Jogja kota semakin sibuk saja, sama berlarinya seperti Jakarta 'raja' sibuk, dan sesekali macet, tentu saja. Entah seperti apa berapa tahun ke depan nanti?
Awal tiba di Jogja September kemarin aku bahkan sempat shock! Sepanjang jalan Gejayan yang dahulu lengang dan nyaman untuk dinikmati, ternyata sekarang penuh toko besar kecil menjajakan handphone. Dari yang second sampai model terkini-tercanggih dipamerkan. Mataku bahkan sakit saat menatap aneka plang berbagai bentuk, warna dan ukuran! Mengagumkan! Apakah sekarang masyarakat Jogja sudah sedemikian konsumerisnya sehingga toko-toko handphone tumbuh bak toko makanan yang diperlukan setiap saat untuk menaikkan gengsi pemakainya? Ataukah sebenarnya bukan masyarakat Jogja yang konsumeris, melainkan para pendatangnya?
Jogja yang menggeliat. Sekaligus berubah, ke arah yang lebih baik kah?
Setiap kali aku menyambangi café-café dengan fasilitas free hotspot, berulangkali juga aku menemukan fakta yang sama, pemiliknya atau pun penanam saham datang dari Jakarta. Sepertinya semua yang ada di Jakarta ingin dipindahkan ke Jogja.
Mal-mal raksasa pun bertumbuhan. Padahal di penghujung 2000, sewaktu Malioboro Mall ingin dibuat lebih dari tiga tingkat, masyarakat Jogja bersama Sultan bisa menolak laju icon konsumerisme itu, dengan melarang membangun Malioboro Mall lebih dari dua tingkat! Tapi sekarang? Mal-mal sudah menyergap setiap ruang kota dan membuat Jogja semakin sesak. Semakin kehilangan identitas bersahajanya, sebagai Never Ending Asia!
***
Tiba-tiba senja ini aku mendadak merindukan Hyde Park di samping Leed University dan Roundhay Park [tidak jauh dari flatku, jadi ada di tengah-tengah kota!] ataupun Central Park di London.
Roundhay Park adalah taman publik berukuran hampir 3 km
persegi, yang paling sering kusambangi. Seharian juga gak selesai kalau mau dinikmati semua! Luasssss banget! Di Indonesia jangankan taman kota seluas 3 km, 50 meter persegi saja sulit menemukannya.
Roundhay Park tak hanya tua, karena sudah ada sejak abad ke 13 tapi juga cantik panoramanya dan menyuguhkan hamparan hijau di setiap sudutnya. landscape cantik raksasa ini memanggil-manggil orang-orang untuk mampir.
Masih segar dalam kenanganku, banyak hal menarik yang ditangkap mataku ketika berada di taman besar ini, terutama sekali ketika matahari bersinar benderang. Surya memang pemalu memunculkan dirinya di tanah Inggris.
Akan banyak sekali keluarga-keluarga yang berkumpul setelah semingguan penuh sibuk bekerja.
O iya, satu hal penting yang kuamati dari karakter British urban, mereka serius bekerja di hari-hari kerja dan betul-betul menikmati hari libur ketika libur! Mereka akan bermain sepuasnya dengan anaknya dan hewan peliharaannya, menebus kesibukan dan energi yang lebih dicurahkan untuk kantor tinimbang keluarga.
Akan kudengar gelak tawa anak-anak -seperti nyanyian burung-burung surga- yang saling kejar, mengelilingi lapangan yang luas tanpa takut bakal tertabrak pedagang asongan. Hey, tentu saja gak ada pedagong asongan di sana.
Akan kutatap banyak pasangan menghabiskan hari sambil berbaring di atas rumput hijau dan tebal, entah sambil ngobrol, atau masing-masing membaca buku, atau menonton film kesayangan di laptop mereka.
Kelihatannya semua orang yang sedang menikmati hari berlalu di taman itu begitu bahagianya. They’re enjoying their life!
Selain keasikanku berlama-lama menjadi observer, mengamati orang-orang yang menikmati hari, aku betah duduk berjam-jam sekedar menikmati senja, memotret alam, mencandai burung-burung yang jinak.
PPI Leeds juga sering kumpul kumpul di taman ini. Berbagai kegiatan dari tahun ke tahun diselenggarakan dan diakhiri dengan makan-makan. Wangi masakan dan bakar-bakaran aneka ikan, ayam dan potongan kambing bahkan mengundang British mampir dan ikut menikmati kebersamaan.
Jika rindu akan taman-taman di Inggris itu begitu menggoda, aku akan mulai sibuk bertanya-tanya, kapan pengusaha dan pemerintah berhenti membangun mal dan mengalihkan dana negara –yang sebenarnya duit rakyat juga- untuk membangun taman kota? Yang hijau, segar dan tentu saja free!???
Akankah taman-taman yang ada di luar negeri itu hanya bisa kunikmati ketika aku ada di luar negeri saja?
Tanya yang terlalu bodoh sepertinya, karena taman kota sepertinya tidak menguntungkan sama sekali buat penguasa negeri. Tidak ada instant profit!
Padahal dalam benak sederhanaku, kalau setiap kota besar di Indonesia punya taman yang nyaman dan warga kota bisa menikmatinya, bisa dibayangkan hari Senin nya mereka kembali segar bugar bekerja dan meningkatkan kinerja perusahaan tanpa harus menghambur-hamburkan banyak uang perusahaan untuk aneka training motivasi kinerja!
PS.