Imazahra's posts with tag: husband and wife
Dia yang selalu sabar mengingatkan:Sederhanalah menatap indahnya duniatundukkanlah syahwat hatimu padanyakarena ia fanaDia yang selalu berujar:Cinta sejati tidak pernah memaksaapalagi sampai memenjarajiwa cinta dalam cintaDia yang selalu meyakini:pohon kasih akan kokoh jika akar saling percayamelilit menghujam di dasar hatiwalau dipisah benuadan diamuk badai goda dan fitnahDia yang selalu ikhlas:Berbakti pada bunda adalah wujud pelangi surgaNyaDia yang selalu mengingat:kematian yang lebih dekatdari urat leher hambaDia yang selalu mendukung:menghapus bulir airmatakudan menghadiahkan setitik surgaNyamenjadi nyatadalam titian hari-hariDia yang hari ini menekuri usia:membuka lembar tarikh ke 32dengan daras Qur'an dan lirih doaDia yang kusayangi:aku bisik doa dari seberangsemoga Allah perkenan tetes surgaNyahadir selaludi hati indahmu.Happy Milad Sayangku,I love you!
Gulita yang bening Shubuh menggema, memanjang dan biru Matahari belum semburat penuh
Aku beranjak dari peraduan Mengalirkan keran air Membasuh wajah membersihkan hati Bersiap melangkah mengikat janji di hadapan Allah
Berjanji: hidup menyatu, saling kasih, seiring tebar kebajikan, ikhlas atas kekurangan, sebagai
derma bagi pendewasaan hidup.
Diikrarkan sepenuh hati, disaksi orang tua dan sanak
famili terkasih pada 15 Mei 2003 silam.
Ah..., memoriku terbang membumbung tinggi, pada wangi melati yang menutup hijabku, pada warna putih kebayaku dan pada senyum ikhlas tawadhumu...
Suasana hening menyergap semesta ketika kau bersaksi akan menjalani Miitsaaqhan ghaliidzha (ikatan
yang kokoh) denganku. Disaksi orang tua dan keluarga besar kita,
dan barangkali Abahmu dan Mamaku dari 'rumah' mereka.
"Asyhadu alla Ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad ar-Rasuulullah..."
teguh kau ucap syahadat memulai janji, berharap Allah dan RasulNya
berhadir menyaksikan penyatuan dua jiwa ini, dibawah ridhoNya,
insyaAllah.
Hari berputar. Status kita yang semula orang asing sama sekali, berubah sempurna menjadi "engkau pakaian bagiku, dan aku pakaian bagimu".
Tawa, tangis, canda, percik api, adalah pemanis mewarnai usia muda
pernikahan kita. Belajar bersama, memaklumi kefanaan dan dhoif diri.
Apalagi hubungan kita selalu dibangun dari jarak jauh atau kata psikologi populer: Long Distance Relationship Berat? Luar biasa goda-tantangan-kesulitannya tapi kita selalu dan selalu saling percaya sampai hari ini!
Aku semakin menjadi, bersamamu: Kuharap kamu pun merasakan yang sama!
I love you my darling,
Happy 4th anniversary for us Alhamdulillah...
 | Mimpi | May 10, '07 9:57 PM for everyone |
Pernahkah kamu bermimpi tentang orang yang kamu cintai? Seperti apa rasanya??? Indah? Debar yang tak biasa?
Melambung, melayang, seperti busa-busa sabun yang dihembus kencang? Lalu saat kau terbangun, ada sisa airmata di sudut mata?
Atau pernahkah orang yang sangat kamu cintai bermimpi tentangmu? Lalu dia wartakan padamu 'kisah alam bawah sadar' itu. Tentang rindu yang menggelegak. Tentang puzzle masa lalu. Tentang hari ini dan mungkin kuakan misteri masa depan?
Aku pernah kedua-duanya dan mendadak ingin terbang
Tak hanya menemuinya lagi dalam mimpi
Tapi ingin memeluknya: sekarang...!
Miss you so much Kakak and thanks for dreaming and seeing me in your dream!
Jurnalku yang berjudul HITUNG MUNDUR dan NONSTOP memang belum ada jawabannya. Sampai detik ini. Karenanya aku juga belum bisa bercerita tentang apakah itu sesungguhnya. Pamali kata orang tua.
Terima kasih untuk reply dan PM nya sahabat hati. Aku benar-benar tersentuh. Komunitas kita luar biasa indah. Saling menguatkan, berbagi dan menyayangi. Terima kasihku yang tak terhingga. I love you all.
Sahabat... masih ingatkah dengan jurnalku yang berjudul Mencari dan Memilih: Dutch, Sweden or Australia? Jurnal itu khusus kudedikasikan untuk suami tercinta. Sebetulnya Kakak sendiri tidak meminta dicarikan, karena proses seleksi beasiswa nya pun belum selesai. Dia baru lolos tahap administrasi dan tes kemampuan akademik. Belum final. Belum maju untuk wawancara.
Si Kakak juga, to be honest, orangnya boleh dibilang pemalu dan humble. Saking humble nya, malah terlihat gak PD-an. Kata dia, ini juga yang terjadi saat wawancara. Pyuh! Padahal aku sudah memberikan tips-tips wawancara. Namun dia bilang tak satupun dari tips itu yang diingatnya, karena dia gugup luar biasa ditambah stress, karena teringat aneka masalah keluarganya. Oh, poor hubby!
Biarpun begitu, aku tetap menerbangkan doa-doa padaNya. Pendidikan lanjut itu sesungguhnya tidak hanya impianku untuknya, tapi sungguh kebutuhan mendesak buatnya karena dia tenaga pengajar di Universitas. "Allah, sekali lagi hambaMu yang dhoif ini memohon."
***
Banyak hal yang terjadi selama empat tahun rentang pernikahan kami. Hubungan yang tak mudah karena kami selalu terpisah ruang dan waktu. Airmata yang banyak tumpah karena sulitnya mengelola LDR. Hati yang kadang terluka karena kesalahpahaman yang tercipta. Kesabaran yang terasa menumpul ketika ego masing-masing membuncah.
Belum lagi bisik orang dibelakang kami. Menusuk sampai membutakan mata hati. Berat buatku. Berat juga untuk si Kakak. Sampai akhirnya dia harus mengalahkan kepentingan pribadinya untuk orang banyak, atas nama keluarga dan juga istri. I owe you a lot my dear.
***
Tiba-tiba siang ini aku melihat reply suami di jurnal Not Now. FYI, dia itu paling malas buka dan baca MPku. Dia bilang bukan interestnya berinteraksi di dunia maya. Eh, mendadak dia reply gini,
"Iya, nungguin apa sih, paling yang lainnya juga pada gak tahu? Toloong baca email!"
Wah, ada apa nih? Tentu saja aku langsung meluncur...
Assalamu alaikum wr. wb.
Sayang berhentilah membujuk kaka mengenai beasiswa-beasiswa. Posisi kaka sekarang sulit, jangan diperparah sehingga kaka merasa terdesak. Jangan buat kaka bersedih karena menyalahkan kondisi yang ada.
Kaka sudah tahu beasiswa ITB itu sejak lama. Pak Bandi juga sudah memberitahukan sejak 3 bulan yang lalu. Dan kaka tahu bahwa syarat-syaratnya telah kaka penuhi. Saat itu kaka bilang,
"Kalau sekarang berangkat dijinkan gak saya Pak?"
Pak bandi terlihat bingung menjawab. Terus dia bilang,
"Tahun depan aja lah, tenagamu masih diperlukan disini."
Lagian ngapain daftar di ITB, kalau beasiswa DEPKOMINFO (ke Eropa) LULUS!!! he he he .... :)
love you,
Kanda
What???
I'm stunning for a moment, after that, I can't hold my tears. I'm crying because I'm so happy and proud of you, my husband. Finally, you made it! You deserve it Honey *till now I'm smile widely, could you see it?*
***
Sahabat hati, terima kasih banyak atas doa-doa yang dituliskan dalam reply teman-teman di jurnal itu. Indahnya, kekuatan doa bersama terbukti lebih kuat auranya dan didengarNya.
Terima kasih Allah. Sujud syukurku untukMu.
Karena kakandaku tercinta sedang 'long stay' di Banjarmasin, nun jauh di sana dan masih kesulitan
mengakses internet dengan leluasa, maka istrinya di sini
disuruh menjaga gawang emailnya.
Entah kenapa sore ini sang istri tergerak membuka email kakanda dan
istri terpekik bahagia menemukan fakta didalamnya. Jantungku berdegup lebih cepat, aliran darahnya mengalirkan rona ke wajahku!
Alhamdulillah,
Subhanallah!
Allah Maha Bijaksana dan Tahu segala-galanya.
Ayo Sayang,
Tetap semangat menuju langkah 'ajaib'
di tahap berikutnya, wawancara.
Yang akan menentukan akankah jarak kita memendek, tentu dengan seizinNya.
Sayang,
Sekarang terbukti bisikku, kamu mampu!
dan kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak pernah memulai langkah pertama!
Pembaca budiman,
tolong bantu doa dari bilik hati tulusmu ya... please please please... ^_^
Ttd,
Istri yang sedang bersenandung, happy tak terkira ^_^
 Dalam secangkir teh temani gundahku sobeki pinggir kertas mendaras kabar yang dibawa angin timur
Dalam secangkir teh kuhitung pelan detak jantungku sambil menata hati
Dalam secangkir teh yang diaduk-aduk waktu berjelaga karena rindu meneteslah airmata syukur dalam cangkir teh dinginku : 5 Januari 2006 Kau akan menggenapiku! *terinspirasi oleh style dan ajakan Mas Agung KS untuk membuat puisi kolaborasi.
Kisah dibalik puisi: (ditulis pukul 03.00 AM, 5 Januari 2006)
Puisi ini lahir tatkala 28 November lampau aku mendapat kabar dari yang terkasih. Dari mulutnya mengalir warta manis, "Sayang, tak lama lagi penantian dan asa penuh bunga milik kita, akan segera terwujud".
Aku melayang, buncah haru dan bahagia menyeruak bersamaan.... Bagaimana tidak, kami sudah mengikat janji di hadapan Allah untuk hidup bersama, saling mengasihi, saling memberi kebaikan dan mau menerima kekurangan sebagai pendewasaan hidup, diikrarkan sepenuh hati, disaksi orang tua dan sanak famili terkasih pada 15 Mei 2003 silam. Ah..., memoriku terbang meninggi, pada wangi melati yang menutup hijabku, pada warna putih kebayaku dan pada senyum ikhlas tawadhumu... Lalu suasana hening yang menyergap semesta ketika kau bersaksi akan menjalani Miitsaaqhan ghaliidzha (ikatan yang kokoh) itu denganku. Disaksi orang tua dan keluarga besar kita, dan barangkali Abahmu dan Mamaku dari 'rumah' mereka.
"Asyhadu alla Ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad ar-Rasuulullah..." teguh kau ucap syahadat memulai janji, berharap Allah dan RasulNya berhadir menyaksikan penyatuan dua jiwa ini, dibawah ridhoNya, insyaAllah.
Hari berputar, dan status kita yang semula orang asing sama sekali, berubah sempurna menjadi "engkau pakaian bagiku, dan aku pakaian bagimu". Tawa, tangis, canda, percik api sebagai pemanis mewarnai usia muda pernikahan kita. Belajar bersama, memahami kefanaan dan kedhoifan diri.
Hari terus berlari, seiring bersilihnya bulan dan matahari. Hingga purnama ke empat, Allah memberiku ujian sekaligus nikmat. Aku dihadiahiNya kesempatan mengecap pendidikan lebih tinggi, yang bahkan tak akan mampu kuraih diluar nalar logikaku sendiri. Melalui jalanNya yang digariskan, dengan berat aku harus berucap,
"Kakak, Ima mendapatkan surat pengumuman dari IIEF, Ima berhasil melewati seleksi tahap akhir dari program beasiswa mereka, dan Ima harus berangkat bulan depan ke Jakarta, untuk mengikuti training bahasa selama 6 bulan, apakah Kakak....," terputus kalimatku, tak sanggup lagi jiwaku meneruskannya, akankah kudurhaka?
Hening sesaat....,
"Sayang, apakah kamu lupa, bagaimana dalam bulan-bulan terakhir ini aku dampingi kamu dan kubantu apapun keperluanmu demi memenangkan mimpimu melihat dunia?"
Airmataku jatuh, teringat kembali di hari Desember yang dingin, dalam deras hujan dia tunggangi sepeda motor tuanya dan mempostkan formulir isian tahap akhir yang harus kukirimkan hari itu juga. Demi sayangnya agar sang istri tak berhujan-hujan, dia rela pergi sendiri dan mengantarkan amplop bernama sang nasib!
Siapakah aku? Istri yang meninggalkan suami diawal perkawinan demi meraih mimpi? Siapakah aku, perempuan berhati keras lagi terasing dengan dirinya sendiri? Siapakah dia, seorang suami yang sepenuh hati rela melepas halalnya 'surga'? Siapakah dia, yang selalu bangun ditengah malam ketika istri gelisah dan resah dalam belajarnya? ***
Tak sampai 6 bulan kuhabiskan, tanpa direncana dan diduga sebelumnya, bagai petir tiba-tiba membakar ranting pohon, aku mendapatkan surat bertubi-tubi dari funding di belahan bumi sana dan Leeds University UK, bahwa bulan depan aku harus memulai kuliah!
Belum kutata hati menghabiskan masa 6 bulan hidup terpisah dengan belahan jiwa, sudah datang lagi amanah untuk segera bertolak ke negeri antah berantah yang tak kukenal sama sekali. Aku ini anak desa udik, yang bahkan selalu terpana dan masygul menatap kehidupan metropolitan Jakarta, apalagi disana? Sendirian..., tanpa siapapun yang kukenal?
Tercekat, keluar kata, "Ka, seperti apa ini? Langkah apa yang harus aku ambil? Aku sudah berusaha meminta agar keberangkatanku ditunda tahun depan saja! tapi kenapa yang terjadi malah sebaliknya??? Aku harus bagaimana....? pucat pasi wajahku, gemetar dan basah hatiku.
Sebuah tangan hangat meraih kepalaku dan meletakkannya didadanya. Detak jantungnya kudengar jelas, "Sayang..., kesempatan tak akan datang dua kali, berkali-kali. Bisa jadi di tahun depan calon penerima beasiswa kemampuan akademisnya jauh melebihi Ima saat ini. Inilah masamu, pergilah... selanjutnya akan kita fikirkan dan tata di belakang hari..." tenang kau elus hatiku, kau besarkan jiwa keberanianku.
Sekali lagi, perpisahan itu terjadi, menyakitkan... merobek-robek kesadaranku, entah denganmu. Tak ada pilihan lain dan harus dilangkahi, karena azzam telah dipancangkan. Soekarno Hatta saksi bisu, saat aku memelukmu untuk terakhir kalinya, seakan tak ingin kulepas untuk selamanya. Aku sudah tak mempedulikan orang-orang yang terheran-heran melihat kita berdua. Barangkali mereka berfikir aku akan dikirim ke mahkamah kematian, untuk terpenjara selamanya.
Bengkak mataku saat mendarat di Leeds Bradford airport. Disapa pucat kota Leeds, dingin menusuk, dan tak seorangpun yang kukenal.
Bulan pertama, kedua, ketiga... Hampir tiap malam kuhabiskan poundsterling untuk mendengar rinai kasihmu, nasehatmu dan pertengkaran-pertengkaran kecil milik kita. Betapa menyiksa! Mendengar suaranya, tapi sama sekali tak bisa melihat raut wajah belahan jiwa kita.
Kalender dinding sudah ratusan kali kusobek, tanpa lelah tapi diiringi debar di dada, akankah kita bersama lagi? Kapan...? Sulitnya visa dan besarnya uang jaminan yang belum sanggup juga kita kumpulkan, perak rupiah dan coin penny!
Ditengah-tengah assignment yang diberikan dua supervisors, summer berlalu, autumn, winter, spring dan summer kembali datang, tanda-tanda akan menyatunya 'dua pakaian' ini belum jua menerang.... Gelisah, perih, kadang kosong bergoyang dalam lubang hati.... menghitung tak jelas jalinan hari, tik tok tik tok tik tok! Detak jam kamarku seperti irisan pisau yang menyayat kesunyian.
Hanya keajaiban Allah kembalilah yang terjadi, tiba-tiba saja tanah warisan Kai untuk keluarga besar laku terjual. Dengan kasih dan ikhlas, Kaka, Ading, Mama, Gulu, Angah, Acil, sanak saudara, merelakan uang hak mereka dipinjamkan sementara pada kita.
Bergegas kita ajukan visa. Seminggu berlalu, menjerat jantungku, mengiris-iris sukma kesadaranku. Diiringi doa-doa sunyi di sepertiga malam, bercucur tangis mengharap izinNya menyatukan dua pecinta. ***
Alhamdulillah, di hening malam kutulis jurnal ini berlinang air mata syukur, dia yang terkasih akan kujemput nanti malam, doakan Kakak mendarat mulus di Manchester Airport pukul 18.15 PM, insyaAllah.
Mohon iringi langkah saya sore ini sahabat-sahabat MP-ers tercinta, mudahan kami, sepasang anak belia yang merajut mimpi untuk bersama, Bismillah..., bisa mencipta Sakinah, Mawaddah wa Rahmah berkali-kali, amin...

| |