Description:Aku bingung memberi nama masakannya, sebingung ekspresi wajahku saat aku menanyakan ke Uncle butcher langgananku.
"What is that, please?"
"Which one?"
"That one, the yellow one!"
"Oh, this is cow feet..."
"Hah...! Excuse me?"
"..." si Uncle menatapku heran, orang Asia kok gak tau kikil siy!
Hihihihihi, kalo inget-inget percakapan tadi, aku jadi senyum-senyum sendiri. Jujur, seumur hidup aku belum pernah makan Sop Kikil, apalagi memasaknya! Aih, amit-amit. Bayanganku tentang Kikil *terutama kaki si kambing* itu adalah geli-geli enek, soalnya kan itu kaki menginjak kemana-mana, hiiiiiiiiiy! Belum lemaknya, pasti banyak kan, seperti ceker ayam.
<--- ternyata menurut ahli gizi kita Ibu Pepy tersayang, kikil itu sedikit lemaknya, yang banyak ototnya, karena si sapi rajin olahraga! ^_^ Anyhow, ntah kenapa hari ini sepulang ku bersepeda dari Dental Hospital, sekembalinya tertarik hati tuk mampir ke Continental Halal Shop dan melirik-lirik si kaki kuning yang bertengger paling ujung.
Hm, harganya not bad, sekilo cuma 2,5 pounds! Udah deh, dicoba! Apalagi Sapto dan Pak Thoriq *yang meng-catering meal sama daku* saling promosi kalo yang namanya Kikil Kambing itu lezat bukan main! Hem, aye kan jadi tambah penasaran!
Yup, akhirnya kumenenteng-nenteng seplastik kaki sapi, hiiiiiiiiiiiiy! Masih untung bukan kaki kambing!
O iya, biar gak kesulitan memotong-motong tulang kikilnya, minta potongin sama Uncle butcher yak! Jangan lupa! Mesin jagal dia kan tajem banget, hihihi. So, kikil yang kumasak kali ini tidak diambil dagingnya saja, tapi kumasak semuanya bersama tulang kakinya.
Sampai rumah, terbingung-bingung lagi! Cara masaknya gimanaaaaaaaaaaaa??? Dudududuh, aku males ah buka internet. Soalnya kalo udah keburu naik ke lantai atas, aku malah lebih tertarik tuk tidur, soalnya kurang tidur beberapa hari terakhir ini.
Duh, gimana niy? *lirak lirik kiri kanan, berharap pak Ilham mampir* ^_^
Ingredients:Akhirnya dengan sikap sok tahu luar biasa, aku mulai menyiapkan bahan-bahan mengarang indah dibawah ini:
-Bawang merah / bombay 1 buah dirajang
Bumbu yang diulek halus:
-Bawang putih 3 siung
-1 sdt merica
-1/2 sdt ketumbar
-kunyit satu ruas kecil
-Sedikit Laos
-3 buah cabe merah
-5 buah kemiri
Pelengkap tumisan:
-Daun salam dua buah
-1 batang serai digeprak
-300 cc santan, yang encer aja, biar gak enek!
Sayur-sayur secukupnya. Kalo aku pake wortel, kentang dan kol!
Directions:Oke, tarik nafas dulu Im *hihihihi, asli ini resep paling ngarang seumur hidup karirku di dapur!*
Hem, kupandang-pandang, ini kikil kok keras pisan! Oke deh, sepertinya aku kudu merebusnya dulu, minimal dua jam niy! *Gubraks* Lamaaa amat. Terus aku ngapain dong! Oke, ngempih aja deh, dan lahirlah jurnal berjudul
"Sepeda Merah!" Hihihihihi ^_^
Setelah si kikil direbus kurang lebih dua jam dalam air mendidih *sekitar 1500 liter* dan menjadi lunak dan empuk (o iya, jangan lupa lemak berwarna hitam dibuang ya!), aku mulai mengulek kemiri, bawang putih, cabe, laos, merica dan ketumbar sampai halus.

Setelah semua bumbu diulek halus, aku ambil sedikit minyak goreng, diletakkan di wajan dan sreng sreng! Bawang merah rajang ditumis pertama kali sampai wangi, disusul si bumbu halus ditumis bersama-sama daun salam dan serai sampai wangi. Setelah itu tumisannya dicemplungkan kedalam rebusan kikil! Didihkan sekali lagi ya, biar bumbunya meresap
Terakhir masukkan santan encer yang sudah disiapkan, didihkan sesaat, masukkan semua sayur yang sudah disiapkan. Tunggu 10 menit, matikan api! Soalnya aku suka sayur-sayurnya masih kres kres kres pas digigit ^_^
Conclusion: It's not bad at all, yang ada badan malah jadi anget dan melayang-layang, sedaaaaaaap!!! Runtuhlah mitos dan pandangan burukku terhadap si kikil enek-enek geli selama ini!