[Travelogue 1 November 2006]
Pyuh, tidur kami sangat lelap! Hari yang melelahkan seharian kemarin itu, although we enjoyed it a lot!
Sehabis Shubuhan dan mandi, gegas kuturun kebawah. Mba Iin ternyata menyiapkan teri kacang goreng dan bakwan jagung untuk teman sarapan, yummy! Kita berdua sampai nambah berkali-kali, lupa kalau ini bukan lunch time ^_^
***
Tiba tiba Steve menawarkan untuk mengantar kami ke City Center, tentu saja tidak kami tolak. Apalagi pagi ini kami harus bergegas ke Scotline tours, memesan one day tour kami ke Loch Ness dan Highlands keesokan harinya.
Tak sampai 25 menit kami sudah sampai di jalan berbatu Royal Mile! Wow, cepatnya! Kalau naik bus dari Mayfield seperti pagi kemarin, kami minimal menghabiskan waktu sekitar 45 menit bahkan 1 jam! Thanks Steve!
Segera kami masuki Scotline tour office, looks professional! Luas dan nyaman. Begitu pendaftaran dan pembayaran diselesaikan, gegas kami undur pamit, tak mau kehilangan waktu untuk menikmati objek dan atraksi terpenting sepanjang Royal Mile!
***
Kita sempat kehilangan orientasi, diujung manakah Edinburgh castle dan Hollyrood Palace berada? Orang-orang bilang ujung akhir Royal Mile adalah Edinburgh Castle dan ujung akhir satunya adalah Hollyrood Palace, tempat tetirah musim panasnya Queen! Tanya sana sini, ketemulah jawabnya. Sekarang tinggal menentukan, mau kemana dulu kita?
Oke, kita susuri Royal Mile ke arah istana Ratu dulu, mau kulonuwun ^_^
***
Sebelum sampai di istana, kita sempat masuk kedalam satu museum kecil yang bercerita tentang kehidupan dan potret social sepanjang Royal Mile seratus dua ratus tahun lalu, interesting!
Sejam kemudian sampailah kaki kita di istana Ratu, ternyata untuk masuk lapis pertamanya saja harus bayar. Hiks, sama saja dengan Buckingham Palace di London sono!
Sudahlah, kita nikmati saja istana ini dari luar, not bad! Lagian, kita pingin mendaki ke Calton Hill juga, nanti malah keburu gelap kan!
Sebelum naik, kita sempatkan sebentar menyambangi kaki Salisbury Crags.Konon Jeng Fanny sudah mendaki kesana ^_^
***
Oke, sekarang kita sudah di atas Calton Hill. Ujung Salisbury Crags keliatan sama tingginya dengan tempat kita berdiri! Wow, berarti tempatku berdiri ini tinggi! Pemandangannya jangan ditanya, sedaaaaaaaap!!! Didepan mataku persis, dibawah sana terlihat Hollyrood Palace bertahta. Putar badan 45 derajat, terbentang laut maha luas! Biruuuuuuuu! Putar 45 derajat lagi, Edinburgh Castle kelihatan diujung sana, megah dan gagah!
“Kak, kita lunch disini ya…?”
“Oke…” si Kakak menjawab sambil menggigil. Dia sabar menuruti maunya istri yang terjerat dengan keindahan seantero Edinburgh dipandang dari Calton Hill ini.
Kita sesap secangkir teh susu yang dibuat tadi pagi. Uap panasnya segera ditelan dingin, tapi lunch kami tetap nikmat. Apalagi sambal terasinya, surga!
***
Aku masih belum ingin beranjak walau sudah jam tiga sore. Camera ku masih beraksi mengambil puluhan gambar ciptaanNya. Lalu dari balik digicamku mataku tertumbuk pada seorang kakek tua yang dari tadi menyeret koper birunya kemana-mana! Hmm, menarik!
“What are you doing Sir…?” kusapa pelan ia.
“I am looking for the best angle for my sunset shoot” jawabnya halus.
“I see…” kuulas senyum tulus untuknya.
Tutur lembut mengalir dari mulutnya. Sebuah kebetulan yang indah. Dia ternyata lulusan department ku juga di Leeds University. Sekarang dia menetap di Australia dan sedang menulis photography book. Wow! Beliau sempat juga memperlihatkan pada kami setumpuk photo-photo romantis di Venice. Rahasia photo indah kata beliau: angle yang tak biasa dan objek yang sederhana!
Hmmm..., harus kupraktekkan niy...!
Sejumput sejarah romantis tentang kenangan beliau di bukit ini mengalir dari mulutnya. Dulu dia melamar istrinya disini. Sesaat jeda, beliau mengambil nafas lagi.
“Saat itu bornfire. Sekota Edinburgh dimatikan lampunya, terutama city center. Aku mengajak jantung hatiku ke bukit ini sambil menggenggam tangannya. Tanpa disengaja, saat aku berucap, “would you marry me…?” sambil membuka kotak cincin, tiba-tiba born fire pertama meledak, bintang-bintang terindah bertaburan di langit Edinburgh malam itu” Beliau tersenyum bahagia mengakhiri kisah pribadinya.
Yay, what a romantic scenary!
Senja itu kami menuruni Calton Hill bergenggam tangan sambil membayangkan kisah indah itu. Bukit itu ternyata menyimpan ribuan kisah. Andai ia bisa bicara.