Leeds mendung tiga hari terakhir ini.
Juga hatiku.
Aku kemarin tergugu membaca drama kehidupan seorang bunda
yang berjuang dalam koma nya, walau akhirnya hari ini dipanggilNya.
Bukan, dia bukan temanku, kami belum saling kenal.
Bukan juga kontakku disini.
Tapi diam diam aku sering menjenguk rumah mayanya
beberapa bulan terakhir ini, apalagi dia juga punya rumah maya di MP.
Senyumnya yang hangat dan manis, semanis resep resep kue di rumahnya
yang sering kuintip kala kuingin menjajal kebisaanku di dapur,
terasa akrab di hatiku.
Ah…
Getir sekali kisah hidup yang digariskanNya.
Dia yang disapa Bunda meninggalkan dua buah hati
yang masih kecil-kecil di usia mudanya.
Penyebab kematiannya sendiri dan prosesnya
yang ditulis oleh sahabatnya
mengingatkanku pada kematian sahabat terkasihku.
Tidak sama, tapi membuatku ingin menulis.
Aku merasa sesak, pepat!
Izinkanlah aku tuturkan gundahku:
Namanya Sylvia Lazzary.
Kerling matanya indah,
khas gadis Bali campuran Arab yang beranjak ranum.
Pembawaannya riang sehangat mentari pagi.
Tak ada yang tak tertawa jika ia mulai angkat suara.
Dia sahabat terdekatku sejak tahun 1990.
Masa remaja yang kami habiskan bersama dalam tembok bernama pesantren;
Mendaras kitab, nahwu-shorrof,
matematika fisika yang kubenci,
sampai belajar menjahit walau aku dan dia sama-sama tak pernah bisa.
Kita juga mengerjai ustadz lugu pengajar hadist Arbain sampai beliau keluar kelas, atau mengaduk-ngaduk kamar seorang santri yang sedang ulang tahun
:kenakalan khas santri puteri yang kita lakoni bersama!
Lalu kita lulus dan berpisah kampus.
Aku di kampus putih dan dia di kampus UMY di ringroad sana.
Makin lama interaksi kita menurun,
walau kedekatan hati kita tetap terjaga.
Dia selalu ada dimasa-masa tersulitku.
Bagai petir menyambar,
kabar sekonyong-konyong datang.
Seorang ustadz memintaku datang ke rumah sakit.
Ada apa gerangan?
Dengan mata merah beliau menyerahkan barang dagangan milikku,
batu batu Martapura yang sebulan ini coba dijual Sylvia;
dia bilang mau belajar dagang sepertiku
karena bapaknya di rumah kesulitan mengirimi uang bulanan.
Sylvia yang malang, kata ustadzku:
Dalam perjalanannya menuju perpustakaan
dan rumah salah seorang calon pembeli, semua terjadi.
Ia sedang berada di atas bus merah jalur 9 yang ugal-ugalan.
Saat dia minta pak supir menghentikan busnya
di perpustakaan daerah Kotabaru,
pak kernet berteriak dan mendorongnya ke ujung pintu.
Tak lama pak supir mengerem mendadak, petaka itu pun terjadi.
Badan Slyvia terlontar ke trotoar,
terbanting keras…
aku menangis membayangkan sakitnya!
Polisi katanya menemukan batu-batu dagangan kami
berserakan diantara badannya,
tak jauh dari tas kainnya.
Ustadz selesai bercerita dan menyerahkan batu-batu itu ke tanganku,
dinginnya!
Sebeku hatiku…
Bundanya belum tiba,
akulah yang pertama dipanggil dokter bedah,
"Ima, lihatlah hasil scan otaknya, sudah hancur, seperti bubur"
"Sudah tak ada harapan, semua akan sia sia saja,
kecuali mukjizat,
tangan sang malaikat diperintah Tuhan memperbaikinya".
Dia koma selama 10 hari
di bulan October yang kelam tahun 2000
menjelang sidang skripsinya.
10 hari yang pekat itu kami semua mengelilingi jasadnya
di ruang putih Bethesda.
Bergantian menjaganya sambil dibacakan al-Qur’an tanpa putus,
kata Kiai ini akan memanggilnya kembali jika diizinkanNya.
Juga diajak bercerita, walau tak ada suara beningnya.
Hanya tersenyum dalam diamnya…
Kadang aku ‘goda’ dia tentang kekasih hatinya,
yang sedang memperjuangkan nasibnya di kedutaan Perancis sana.
Lagi-lagi Sylvia tak bergeming,
pun hanya dengan sedikit bahasa tubuh sekali saja.
Ajaib,
dia sempat menggerakkan tangan
dan mengerjapkan mata di hari kedelapan.
Ketika sang kekasih hati tiba
duduk hening dalam tangis yang ditahan sekuat tenaga.
Kutahu mereka bercakap-cakap dengan hati yang mengapung...
10 hari yang membekas dalam memori kelabuku.
Menyaksikan sendiri dari hari ke hari
kondisi fisik Slyvia yang terbujur kaku.
Dipenuhi selang-selang aneh ditusuk disekujur badannya.
Ngilu dilihat oleh kita yang mengaku sehat.
Malam kesembilan aku bermimpi,
sangat aneh.
Dia bilang dia sudah sehat dan kangen sekali pada kekasih hati.
Dia bilang tolong dijaga kekasih hatinya.
Dia bilang penyakit kekasih hatinya akan sembuh...
Aku tersentak terbangun…
Gegas kudatangi ruang rawat ICU
Sylvia masih terbaring kaku disana, tanpa suara.
Aku merasa kosong!
Mamanya memintaku dan teman-teman pulang untuk istirahat.
Tak baik berhari-hari di rumah sakit,
hanya tidur beralas tikar diluar ruang ICU.
Yang lucu, para suster Bethesda sempat mengira dia artis,
“Mba, yang sakit ini artis ya, kok didatangi banyak tamu dan tokoh?”
Aku tersenyum,
“Dia sahabat kami yang baik,
mahasiswi semester akhir yang kreatif dan pemberani”.
Suster-suster itu wajar terheran-heran,
karena DR Amin Rais saja datang mengunjungi setelah kehadiran Rektor UMY.
Hari kesepuluh aku ditelpon Kakak,
diminta segera ke rumah sakit.
Sampai sana hanya kudapati mayatnya,
bersiap dibawa ke RS PKU Muhammadiyah untuk dimandikan.
Innalillahi wa inna ilaihi raa’jiuun…
Aku melayang, biru
hanya terdengar dengung lebah.
Semua menangis. Bahkan yang laki-laki.
Lalu seorang kawan berujar, jangan berati langkahnya
Tangisan membuatnya sakit, kata Nabi.
Kami semua tersadar!
Lalu gegas menghubungi semua kawan.
Dari PKU jenazahnya dibawa ke rumah kos di Suronatan.
Santri santri pun berdatangan,
kusaksi ribuan...
mensholatkan jenazahnya sebelum diterbangkan ke Bali.
Slyvia, tugasmu di dunia sebagai khalifah fil ardh telah berakhir.
Kutaburkan bunga bersama Yasin di atas pusaramu di tanah Bali...
Hari itu seperti mimpi.
Ini bukan déjà vu!
Nama Teh Inong beredar di alam maya Indonesia tiga hari terakhir ini, semua menangisi kepergiannya. Duka ini menggantung di hati kita semua.
Bahkan aku tersentak membaca salah satu reply di jurnal Mba Monica, sudah 800an blog yang menuliskan duka dan berdoa untuk kebaikan beliau, menurut technorati.
Tidak di alam nyata tidak di alam maya sekalipun, manusia berbudi baik meninggalkan harum nama! Sebagaimana Harimau mati meninggalkan belangnya. Pun gajah mati meninggalkan tanduknya.
Kepergian Teh Inong yang mendadak ini juga mengingatkanku,
Allah sang pemilik nyawa bisa memanggil kita kapan saja!
Cukupkah sanguku...?
Slyvia dan Teh Inong,
Hari ini kukirimkan Al Fatihah untuk kalian berdua:
Bismillaah-hirrahmaanirrahiim, Alhamdulillaahi rabbil 'alamiin,
ar-Rahmaanir-Rahiim, Maaliki yaumiddin, Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin, Ihdinasshiraathal mustaqiim, shirathal lladziina an'amta 'alaihim,
ghairil maghdhuubi 'alaihim, wala-dhdhalliin, aamiin.
Mudahan Allah terangi kubur kalian disana, amin.