Imazahra's posts with tag: dentist

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag dentist
Blog EntryKraaackkkh...!!!Aug 26, '06 9:16 AM
for everyone

Brrrrrrrrrrrrrrrrrrr, duingiiiiiiiiiin!

Hiks, masih atit juga… :-(

 

         Suami siy nyuruh-nyuruh diriku menghadiri pengajian hari ini di rumah Ibu Sofia, dan tentu saja ada banyak makanan lezat siap dicicipi disana. Tapi apa daya, hasrat hati tak berbanding lurus dengan pipiku yang masih bengkak. Snut-snut edisi kedua masih berlanjut, walau dengan versi lebih horror!

 

Gimana gak horror! Sebentar-sebentar aku harus kumur-kumur pelan-pelan dengan air garam menuruti saran dentist ganteng itu, Hasan dari Jordan, supaya bleeding dalam mulutku segera berhenti secepat mungkin, tentu saja dibarengi si antibiotik dan si pain killer. Kok bisa bleeding siy? Gini ceritanya, hiks…

 

Setelah melewati serangkaian telpon sana sini dan mendapati jawaban bahwa nama kami berdua baru dimasukkan dalam daftar peng-apply dentist, disambung lobby teman-teman Indonesia dan Chinese yang jadi assistant di beberapa dentist tersebar di Dewsbury dan Shipley, juga menunggu dengan tak sabar selembar mail berisi appointment dengan seorang consultant hasil penunjukan dari Leeds Dental Institute yang tak kunjung tiba, dengan pertolongan temannya teman, kami berhasil mendapatkan appointment kemarin siang.

 

Kemarin siang sodara-sodara, yang kata temanku yang bekerja menjadi assistant nya dentist, "Ini adalah sebuah mukjizat! Karena biasanya paling cepat 1 minggu baru bisa mendapatkan appointment". Wuih, keburu sang pasien mati kan! Ini bukan hiperbola, benar-benar sudah terjadi berkali-kali di UK sini.

 

Pyuh, benar-benar lega, syukur Alhamdulillah terucap. Gegas kami putuskan untuk registrasi. Tinggal menyiapkan mental dan bersiap menjadi ‘korban’ tangannya si dentist. Aku udah gak peduli sama rasa ngeri. Jauh lebih ngeri membayangkan tersiksa karena gusi meradang dan dampak sampingannya daripada ‘ulah tangan’nya si dentist!

 

Alamat si dentist ini ternyata di suburb nya Leeds, Golfordh. Whoa, sekitar 45 menit dengan bus. Anyway, maju terus pantang mundur, mumpung sudah ter-registered. Jadilah kami berdua pagi-pagi keluar rumah, turun naik bus menuju Jenix Health Care.

 

Sampai disana, aku langsung happy dan merasa sembuh duluan. Tempatnya bersih, baru saja selesai di-refurbished dan assistant-assistant nya ramah-ramah. Feel at home already. Eh, surprised lagi, si dentist ternyata Muslim, Alhamdulillah, ganteng pula, wah ini siy bonus!

 

         Beriringanlah kami berdua memasuki ruang pesakitan. Alatnya lengkap banget keliatannya. Canggih-canggih lagi. Jadi ingat waktu operasi gigi geraham bawahku di ruang praktek sederhana untuk mahasiswa kedokteran gigi UGM. What a gap!

 

Dentist nya ternyata ramah, walau ngomong Inggris nya cepat banget. Sampai sampai aku harus konsentrasi habis-habisan untuk mendengarkan penjelasannya, tapi pada tahap ini aku masih asik-asik aja.

 

Dia bilang, gusi tempat gigi geraham bawahku yang sudah dicabut karena impaksi menjadi korban ‘kekejaman’ si geraham atas, yang menumbuk tanpa ampun setiap kali aku mengunyah makanan. Makanya si gusi jadi ‘babak belur’ begitu. Apalagi sekian tahun tanpa lawan tanding, si gigi ternyata tumbuh memanjang dan makin menyiksa si gusi, huhuhuhu…

 

“We don’t have another option Fatimah, we should pull out the impacted upper tooth, now!”

 

“Waks…”

 

“…”

 

Aku tetap aja kaget, walau sejak di rumah udah siapin mental duluan bakal begini. Tetap aja gak menyangka secepat ini. Soalnya waktu periksa di Acute dental service nya Leeds Dental Institute, si dentist gak mengeksekusi to the point begini. Ada tahap-tahapannya, diobservasi dulu, lalu di X ray dululah, terus diajak ngobrol hasil X Ray, lalu dibuatin appointment. Tapi si Hasan ini, hiks… benar-benar dentist berhati dingin, hiiiiiiiiy…

 

“Oke doctor, but may I tell something…?” Aku melirik Hasan dan dia mengangguk sambil tersenyum ramah.

 

“Actually I am really scared. As you knew, I already got two surgeries before, on the lower impacted teeth and one of these surgeries was quite traumatic for me because the dentist did not do the proper surgery. She left some root inside the surgery. The result was really terrible, hiks… Could you please do it properly for me…”

 

Hasan starred at me, and said bismillah!

 

Nyeeeeeeeees…, langsung tenang di hati. Akhirnya aku mengangguk dan bilang bismillah juga.

 

Kursi siksaanku mulai diturunkan,

 

“Janet, please bring an injection …”

 

“Janet, please…”

 

Terdengar perintah-perintah Hasan pada assistantnya, sementara aku mulai bersholawat diam-diam…

 

“Oke Fatimah, we are ready now” Huhuhuhuhu, aku akan di’siksa’ niy… kakiku mulai dingin...

 

“Could you please make your mouth like this…?” sambil Hasan mencontohkannya untukku.

 

Aku turuti, lalu perlahan jarum suntikan besar dan panjang itu masuk ke sisi gusi kiri atasku. Menghunjam pelan dan dalam. Sakit dan ngilu. Seperti menusuk sampai ke tulang, ouch! Pada tahap ini, aku sudah gak sanggup lagi membuka mata, ngeri!

 

“Oke Fatimah, another one please…”

 

"..."

 

“Then, finished for these…”

 

Tanpa terasa sudah tiga suntikan mengepung gusi atas kiri. Pelan tapi pasti mulai terasa getarannya. Aku mulai merasakan bius local itu. Huh, suami mah senyum-senyum ajah. Dia malah gak berani mendekat sama sekali…

 

Suara Hasan terdengar lagi,

 

“Let’s do it now Fatimah…bismillahirrahmanirrahiim…”

 

Mataku langsung kupejamkan. Aku memutuskan gak melihat saja. Takut banget! Soalnya posisi benda-benda mengerikan itu dekat sekali dengan mataku, dibanding ketika operasi gigi impaksi geraham bawahku dulu.

Aku terus berdoa dalam hati. Ya Allah, please lipat gandakan kekuatan si obat bius, aku gak mau trauma yang kesekian kalinya terulang. Begitu nyeri dan mengerikan!

 

"..." Kakiku semakin dingin, detik detik seperti berjalan sangat lambat.

 

“Kraaaaaaaak…” Bunyi pengungkit dan penjepit beradu bersama gigi, sepertinya! Aku hanya menduga-duga saja. Aku merasakan gigi atasku ditarik-tarik. Sedikit ngilu, walau tidak sakit. Hmm, si bius bekerja sangat efektif rupanya. Hasan kelihatannya sangat berpengalaman. Tapi tetap saja aku gak berani membuka mataku. Aneh. Kenapa aku jadi lebih penakut ya sekarang? Trauma itu terlalu membekas ternyata!

 

"..."

 

"From here Janet, give me..." Entah benda apa yang dimintanya.

Aku gak peduli! Aku merasa ngeriku mulai berangsur-angsur menurun setelah menyadari aku ternyata gak kesakitan ketika Hasan mengungkit paksa si gigi. Ngiluku berganti tegang!

 

"Krsk, krsk..." bunyinya membuatku kehilangan rasa. Aku merasa melayang. Sangat dekat di telingaku. Menggelisahkan dan asing!

 

“Kraaak…., rrrrrrrrrrrt……., krak, KRACCCCCCCCCCKHHHHHHH”. Duh, nyaringnya benar-benar melinglungkan saraf pendengaranku. Seperti pohon raksasa yang dicabut buldozer secara paksa dari akar-akarnya yang menghunjam ke perut bumi.

 

Pada tahap ini aku teringat si penemu obat bius. Betapa besar jasa beliau, Subhanallah!!!

 

“Alhamdulillah, we finished now! Well done Fatimah, you are really good”

 

         Lalu kurasakan segumpal gulungan kasa masuk mulutku. Is it finish...? Aku gak percaya, terasa lama sekali, tapi kata suami hanya 5 menit! Lega!!! One problem is solved! Alhamdulillah…

 

Giliran suami tiba. Ternyata Hasan hanya berdiskusi dan meng Xray suami, dan memutuskan akan melakukan filling Selasa besok. Wah, terbebas dia dari benda-benda sadis itu.

 

Sisanya kita hanya membicarakan appointment berikutnya. Soalnya dalam mulutku sendiri ada masalah lain, penyumbatan kelenjar liur. Mereka bilang siy stone! Entahlah, aku masih belum jelas sama masalah satu ini, mudahan gak terlalu rumit, amin.

 

Selebihnya adalah pertanyaan malu-maluku soal bagaimana caraku meng-claim back the money that I’ve already paid, 42 pounds bukan jumlah yang kecil kan! Untungnya aku student, jadi aku bisa mengajukan health certificate ke NHS. Walau application form nya baru ajah dikirimkan kemarin pagi. Mudahan aku bisa mendapatkan full refund ya teman-teman, tolong doanya.

***

Ternyata pagi ini darah masih mengalir di lokasi penjagalan kemarin, huhuhuhu… Aku sudah turuti semua perintah Hasan: jangan sikat gigi dulu, jangan kumur-kumur. Telan saja air liur dan darahnya, *eh, aku vampir dung?* Berkumur-kumurlah dengan air garam 6 kali sehari, minumlah obat dan seterusnya. Tapi kenapa masih bleeding juga ya?

 

Anyway, satu pelajaran besar kuambil, Allah Maha Luar Biasa nikmatnya! Satu saja benda dalam tubuh kita bermasalah, sekecil apapun itu, satu tubuh merasakan deritanya! Betapa lemahnya hamba!!! Mudahan ini adalah ujian kesabaran yang bisa kulalui, amin.

 

Nafsu makanku kemarin langsung membaik setelah surgery. Sebelumnya aku hanya makan demi hidup. Bubur dari hari ke hari, karena seluruh mulut sakit dan indera perasa pun gak karu-karuan. Tapi kemarin siang aku langsung kalap beli Fish and Chips, makan menggunakan gigi kananku dengan riang gembira. Disambung tadi malam dan pagi ini, menikmati Mie Ayam Bakso buatan sendiri. Persetan ah dengan darah di pojok sana!



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help