Aku selalu menaruh hormat dan respek setinggi-tingginya pada TKI. Ya, tenaga kerja Indonesia yang berangkat dalam diam, kadang-kadang dibaluri tangis karena meninggalkan keluarga tercinta demi sesuap nasi di negeri antah berantah. Kadang mereka bahkan tak tau peruntungan nasibnya disana, untung ataukah buntung.
Kenekadan mereka berjuang tanpa peri adalah akibat dari 'terusirnya' mereka dari peluang mencari yang halal di tanah bunda. Negeri ini tak mampu lagi menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi anak kandungnya sendiri. Dimataku, mereka sungguh-sungguh pahlawan devisa. Berjuang berpeluh, kadang tangis bahkan darah dibawah lecut perintah majikan lalu mengirimkan jutaan uangnya pada sanak saudara di tanah air!
Dekade terakhir ini, teman-teman TKI di beberapa belahan dunia bergeliat semakin liat. Mereka -lewat ragam pelatihan yang mereka adakan sendiri di kalangan mereka- semakin memberdayakan diri dan menyuarakan hak haknya diantara kewajiban-kewajiban yang selama ini selalu dikejar-kejar oleh banyak pihak. PJTKI, agen bahkan atas nama pemerintah lewat kaki tangan oknum di bandara 3 Soekarno Hatta.
Perkembangan semakin berdayanya TKI ini bahkan bisa kita lihat dengan lahirnya buku-buku sastra yang ditulis mereka! Isinya menceritakan perjuangan bahkan kadang mengurai sisi tergelap derita mereka di negeri seberang. Sebuah langkah berani yang luar biasa! Bahkan belum tentu berani dan mampu dilakukan oleh kita-kita yang mengaku terdidik dan dibesarkan oleh jenjang pendidikan formal sekalipun. Berapa banyak siy diantara kita yang sudah berani menulis dan menerbitkan bukunya sendiri? Jujur, aku saja belum.
Lalu, salah satu contact ku di MP, saudariku Nera menuliskan letup di hatinya berjudul SIAPA TKI DI OTAK ANDA?, dalam gaya ungkap yang sedikit lebih serius dibanding celoteh kesehariannya di tengah perjuangannya di Hongkong. Tulisan yang akan mencubit siapapun yang membacanya, seberapa jauh siy kepedulian kita pada nasib saudara kita sendiri? Kepedulian yang nyata maksudku, tak sekedar turut prihatin lalu berlalu dan lupa!!!
Tak lama berselang Nera menulis kembali dalam getir tawa disini. Tiba-tiba saja ada seseorang yang memperingatkan dirinya untuk berhati-hati dalam menuliskan isu satu itu, kalau tidak mau dirinya mendapatkan teror dari pihak-pihak tertentu atau bahkan diciduk!
What a shame! Hari gini getu loh! Dimana kebebasan berekspresi dijunjung tinggi di dunia blog dan ini jugalah salah satu alasan mengapa blog menjadi populer di semua kalangan. Blog terlahir dan menjadi hampir kebutuhan semua makhluk bernama manusia yang melek internet justru karena sifatnya yang sangat cair dan lentur! Bahkan blog di beberapa belahan dunia telah dijadikan ajang untuk mengkampanyekan isu-isu politis tertentu atau jadi sarana protes mendunia atas isu tertentu.
Singkat kata, blog pada wacana terkini bukan lagi sekedar wadah menumpahkan curhat, having fun, pun keluh kesah, ajang narsis diri atau sekedar meratapi. Blog pada lini tertentu sudah mewujud menjadi alat transformasi ide bahkan pemberdayaan komunitas tertentu. Sekali lagi karena kenyamanan dan kebebasan berekspresi di dunia maya yang dijanjikannya. Tidak ada polisi di dunia ini walau etika menulis penuh tanggung jawab dan bergaul apik tetap harus kita junjung tinggi!
Bagiku menjadi sangat aneh jika kemudian tiba-tiba di dunia blog -tempat semua orang merayakan kebebasan berekpresinya- datang seseorang yang bertindak seperti polisi kata-kata atas nama politis!
Untuk seseorang yang telah menegur dan mengancam suara hati dan aspirasi teman-teman TKI kita, aku sarankan untuk meminta maaf. Sikap anda sangatlah mematikan wacana demokrasi yang menggelinding! Kalau kita tak suka atau tak setuju dengan tulisan seseorang, cukup sampaikan kritikan secara sopan atau tinggalkanlah! Ini pilhan terbaik. Tak perlu menakut-nakuti segala!
Untuk Nera dan kawan-kawan TKI dimanapun berada, aku meletakkan respek ku setinggi-tingginya pada anda semua. Nera, jangan sedih dan takut ya, Qulil haqqa wa lau kaana muuran! (katakanlah yang benar walau pahit sekalipun!).