Imazahra's posts with tag: daily life
Sejak Jum'at lalu aku tak menjejakkan kaki lagi di dunia maya, hingga hari ini! Pas 7 hari!!! Rinduku sudah di ubun-ubun!!! There's something missing, kata wong London, huhuhu... memang sungguh benar adanya!Aku tak bisa terus-menerus 'melayang pepat' karena berduka atas 'tewasnya' si laptop! Laptop akhirnya dibengkelkan berdasarkan saran seorang MP-er.
Tujuh hari yang mendebarkan sekaligus padat. Tujuh hari penuh warna! Tujuh hari penuh tawa bersama MP-ers Jogja. Kadang berdua, bertiga, berlima bahkan bertujuh kita ramai-ramai membelah Jogja di malam hari, mengusir rindu dan mendedah duka sambil menyesap teh poci porsi jumbo bersama-sama.Kadang kita bertemu di Taman Budaya menyaksikan pertunjukan seni bercita rasa international, sebut saja Tari Balet dari Rotterdam/NewYork Dance , atau pun tarian magis dan rancak dari Japan Dance Comtemporary Network dan kawan-kawannya. Kadang kita asik berdiri berjam-jam di panggung terbuka di LIP Sagan menatap takjub jemari lentik dan liar menabuh gong dan seperangkat gamelan dimainkan oleh bule-bule dari Prancis. Malam-malam di mana aku merasa malu sebagai bagian dari bangsa Indonesia, karena diam-diam seniman luar negeri 'memeluk' segenap kekayaan budaya leluhur kita sementara aku tak bisa memainkan satu pun alat musik tradisional itu. Ada yang mau mengajariku???7 malam itu kami berdua, bertiga, berempat, berlima, bertujuh mencipta kata, dari sejak Blandhongan, nasgor Sapi Timur Tengah, hingga menyesap kopi pahit pekat di sudut remang Kali Code Jogja. Banyak kisah, banyak dialog, banyak persaudaraan dicipta. Terima kasih MP-ers Jogja. Kangen pingin jalan lagi sama kalian semua "Tewasnya" laptopku dalam seminggu ini dan baru kembali ke pangkuanku sejak tadi malam sungguh akhirnya tak terlalu membuatku begitu berduka. Walau jujur kepalaku sebetulnya senut-senut tak karuan karena di dalam laptop terkandung sekian ribu harta karunku yang belum tuntas kugali kerumitan dan keindahannya, apalagi untuk 'dilahirkan' ke hadapan pembaca! Uh, kamu gak boleh malas lagi memback-up data-datamu, Ima!!!Malam ini, pukul 9 malam kuputuskan mampir sejenak ke warnet sebelah, ketika sebuah sms memintaku untuk ke warnet, demi menemukan pengumuman ini di inbox MPku:Assalaamu'alaikum, Alhamdulillah, akhirnya dari kurang lebih 100 naskah yang masuk, telah terpilih 10 naskah yang insya Allah akan disertakan dalam buku bersama HTR. Mohon maaf atas keterlambatan pengumuman ini yaaaa.... 10 naskah terpilih (tidak diurut berdasarkan ranking), adalah karya dari : 1. Adi Nugraha 2. Fatimah Chairi 3. Dani Ardiansyah 4. Yusuf Maulana 5. Titin Fatimah 6. Lizsa Anggrainy 7. Nera Adiyanti 8. Rini N. Badariyah 9. Azti Arlina 10. Luluk Lestari. Selamat yaaaa... Untuk selanjutnya akan dihubungi oleh saya (Sulis). Terimakasih. ========================================================
Untuk teman-teman bersepuluh yang juga terpilih naskahnya, selamat ya. Kalian semua sama hebatnya!
Untuk 90 an kawan yang belum lolos kali ini, jangan patah arang! Tetap semangat!!!
Pengumuman manis itu juga mencipta amunisi dan mencambuk jiwaku! Ayo Ima, selesaikan 'hutang-hutang' karyamu!
*si Ima yang meringis karena rindu dengan MP-ers semua... juga meringis karena ingat hutang-hutang karya, uhuks*
Dua hari terakhir ini aku digulung resah. Banyak masalah yang tiba-tiba berjatuhan begitu saja dari langit ujian. Lagi-lagi aku tak nyaman tidur. Merasa serba salah. Tak bersemangat menyelesaikan amanah menulis yang dipercayakan padaku. Semestaku membuntu. Kemarin pagi kamarku diketuk, “Mba Ima, ini ada paket dari Pak Pos.” Sebuah kepala menyembul dari balik pintu yang kubuka sedikit. Pintu kubuka lebih lebar. Sebuah paket diangsurkan ke tanganku. “Makasih ya, Dek. Pagi sekali ya Pak Pos mengantarnya.” Aku menyambut sambil tersenyum hangat. Pagiku terasa berbeda. Berdebar gegas kubuka. Sret… sret!  Waaaaaah! Isinya buku-buku dan sebuah piagam. Alhamdulillah! Hadiah Pemenang Hiburan sebagai satu diantara 23 pemenang dari 200an tulisan yang masuk untuk “Sayembara Menulis Esai Tingkat Nasional: Helvy Tiana Rosa, Karya dan Dunianya” sudah berada di pangkuanku. Satu buah piagam dan tiga buah buku. Bukan main senangnya!
Apalagi BUKAVU memuat salah satu cerpen masterpiece seorang HTR, Lelaki Kabut dan Boneka. Kisah dari negeri surealis yang ‘menggigil’ dan mengalirkan tak hanya kekayaan bahasa tapi juga rasa, ketika selesai membacanya. Belum beberapa jam aku kembali ke tulisanku, tiba-tiba pintu kamarku diketuk lagi. Aku menghentikan aktifitas mengetikku beberapa saat. Apalagi nih?
“Mba Ima…, ada di kamar gak?” tanya seseorang dibalik pintu. Chris! Anak kos yang lain memanggilku. “Iya, Chris, aku lagi ngetik, kenapa?” sambil gegas kudekati pintu. Setelah pintu terkuak, senyumku melebar melihat pemandangan didepanku.
“Nih Mba, paket lagi. Mba Ima asik banget sih, dalam sehari bisa sampai dua kali dapat paketnya,” Chris mengangsurkan sebuah amplop besar. Kali ini terasa lebih ringan, tapi ada benjolan aneh didalam amplop besar tersebut.
"Pengirimnya dari Penerbit Republika? Pera saan aku belum pernah kirim naskah ke Republika deh! Aneh banget sih ini..." Aku menggigiti bibir bawahku. Bingung! "Loh, kok bisa, Mba?" "Entahlah Chris..."
“Apa ya ini, Chris?” sembari tanganku menimang-nimang amplop besar tersebut. “Hehehe…, buka aja, Mba. Nanti juga tahu isinya apa,” Chris menyahut sembari memperlihatkan wajah jenakanya. Sret sret sret. Waaaaaahhhhhhhhh!
Aku ternganga! Ternyata paket dari seorang adik nun jauh di sana. Mesir!!! Negeri eksotis yang sangat ingin kukunjungi. Belum sempat takdirku membawaku ke sana, ternyata sebuah kotak mungil entah berisi apa sudah lebih dahulu hadir dan ‘menyapaku’ di Jogja.
Di dalam amplop itu juga ada buku berjudul "Hapalan Sholat Delisa" yang sudah sangat lama ingin kubeli. Konon sangat menyentuh karena menuturkan setumpuk derita anak SD berumur 6 tahun akibat Tsunami. Kemungkinan ini hadiah dari teman si adik Mesir itu. Soalnya hadiah ini dititipkannya lewat temannya yang pulang ke Indonesia. Lucunya, alamatnya ditulis bukan Mesir, tapi Singkawang. Mungkin dia takut hadiahnya nyasar dan harus dikembalikan lagi oleh Pak Pos :-) Box mungil ini kutimang. Aku menikmati sensasi penasaran yang perlahan merebak dalam hatiku. Aku mengajak Chris menebak isinya, “Ayo Chris, kira-kira isinya apa ya???” “Waaah, ya aku gak tahulah, Mba. Wong yang dapat kiriman Mba Ima kok.” “Seru ya, dalam waktu tak berjauhan, aku dapat dua paket langsung. Let me guess this one!” Tanganku meraba kotak mungil itu lagi. Kotaknya dibungkus kertas kado berwarna pink bermotif hati. Sungguh manis membayangkan adik itu membungkusnya dengan segenap rasa sayangnya pada seorang kakak. Tiba-tiba darahku mendesirrrrrrr….!!! Subhanallah! Jangan-jangan… Jangan-jangan isinya…???! “Chris, sepertinya aku bisa menebak isinya…!"
"Aku ingat, Chris, beberapa minggu lalu aku sempat chatting dengan adik ini. Waktu itu aku sedang blogwalking ke salah satu MP-ers yang jualan jewellery cantik dari wire dan batu-batuan alam. Buatan tangan beliau halus dan bercita rasa seni tinggi. Lalu iseng-iseng aku perlihatkan website si pembuat perhiasan ini dan meminta dia ikutan membantuku memilih. Warna mana yang kira-kira bagus menurut dia. Soalnya aku tipe orang yang sulit memutuskan pilihanku sendiri.” "Padahal nih, Chris ya, aku juga belum memutuskan juga beli apa enggak, hihihi..."
“Berarti, maksud Mba Ima, isinya perhiasan nih?” Chris membaca pikiranku dengan sangat jitu! “Iya, dek! Sepertinya begitu. Apalagi pas chatting kapan itu, dia bilang kalau dia menitipkan sesuatu ke temannya. Ya hadiah ini maksudnya. Aku sempat maksa dia un tuk ngasih tau kadonya apa, dia ngotot gak mau ngasih tau. Waktu itu aku juga lagi malas bermain tebak-tebakan, soalnya YM-ku sering disconnect!” “Ya udah, buka aja Mba Ima, aku ikut penasaran loh!” Segera kuambil gunting. Pelan-pelan kubuka bungkusan mungil itu. Aku yakin banget, isinya pasti perhiasan. Baru setengah membuka, tanganku berhenti bergerak. Kepalaku kuangkat dan kutatap Chris lekat-lekat. “Dik, aku sepertinya tahu isinya apa…” “Apa, Mba?” “Sepertinya, mudahan aku gak salah ya, aku sering lihat photo dan jurnal teman-teman yang menceritakan objek wisata di Mesir. Mereka juga mengisahkan salah satu souvenir Mesir yang terkenal. Iya, aku tahu, jangan-jangan isi dalam box mungil ini adalah Asfour crystal!!!” Aku excited sekali dengan permainan menebak isi box ini. Dengan tangan gemetar dan perasaan tegang mau memastikan benar tidaknya tebakanku, kertas kado itu tuntas kubuka. Di hadapanku terpampanglah kotak berwarna kuning dan biru bertuliskan ASFOUR CRYSTAL!!!
Hehehe, see...! Aku berhasil menebak sebelum kadonya tuntas dibuka. Chris pun menyunggingkan senyumnya. “Ayo Mba, buka dong, mau liat perhiasannya seperti apa?” Kotak kubuka. Isinya sungguh manis. Ge lang mirip jam tangan ditaburi tiga buah crystal Asfour berwarna ungu gelap yang tersohor itu. Airmataku menetes. Aku larut dalam rasa haru. Betapa persahabatan di dunia maya mampu menciptakan keindahan persaudaraan seperti ini. Terima kasih Dik Hadi. Allah lah yang akan membalas budi baikmu. *** Hadiah yang kuterima dari Hadi membuat ingatanku melayang pada sepotong replyku di jurnal Mba Ratna [ratnajanuarita.multiply.com]. Ceritanya beliau baru saja pulang dari Jepang dan mengisahkan kesan-kesannya setelah mengunjungi negeri matahari terbit itu. Iseng kugoda, “Mba, mau dong oleh-oleh dari Jepang,” padahal aku sekedar bercanda. Hal ini sering kan kita lakukan di Multiply saat berkunjung ke MP teman. Ternyata Mba Ratna menanggapinya dengan serius. Beliau menghubungiku berkali-kali, tapi waktu itu HP sedang tidak kuaktifkan selama berhari-hari. Mba Ratna tak putus asa, beliau menghubungi Uni Dina [bundakirana.multiply.com] yang dianggap sering komunikasi denganku.
Tak lama berselang, kuterima PM dari Uni Dina yang memintaku untuk mengirimkan alamat ke Mba Ratna. Duh, jadi gak enak. Karena reply isengku, dua ibu cantik super sibuk itu menjadi repot karenanya. Sekitar lima harian setelah komunikasi itu, hadiah manis mampir di pangkuanku. Isinya berupa gantungan kucing berwarna biru yang sangat imut-imut dan sepasang kaos kaki cantik made in Japan. Terima kasih Mba Helvy, terima kasih adinda Hadi dan terimakasih Mba Ratna Januarita. Mudahan Allah membalas semuanya. ***
Hadiah-hadiah yang baru kuterima ini melemparku lebih jauh pada kenangan saat aku baru sampai di Indonesia setahun lalu.
Aku mendapat setumpuk buku bagus-bagus dari beberapa MP-ers sekaligus. Ada buku-buku dari Mba Deeyand [deeyand.multiply.com], Mba Asma Nadia [anadia.multiply.com], Bang Udin [udintpi.multiply.com], juga Mba Ira [prajuritkecil.multiply.com].
Aku juga dapat bros cantik dari Bunda Wirda [wirdayanti.multiply.com], beberapa cake coklat dan coklat aneka bentuk yang sungguh sedap dari Mba Alya, [nilaalya.multiply.com] Mas Wib [wib711.multiply.com], kalung-kalung cantik khas nusantara dari Teh Ari [srisariningdiyah], juga cake coklat lagi dari Mba Ira [prajuritkecil.multiply.com].
Ida [ida22.multiply.com] dan Mas Agung [mbot.multiply.com] juga bersedia menjadi tuan dan nyonya rumah yang menyiapkan aneka masakan sedap-sedap. Momen itu sangat manis, pertama kalinya aku bertemu dengan MP-ers Jakarta yang heboh dan tingkat narsisnya mencapai level 'gila'. Hehehe :-D
Waktu aku masih di UK juga, ketika Mba Tita [suluhpratita.multiply.com] datang ke apartmentku, beliau juga membawakan setumpuk buku yang beliau hadiahkan semua untukku berikut bumbu aneka jenis yang dibeli berdua dengan Mba Iwed [rempahjawa.multiply.com]. Masih juga membawa titipan coklat cinta dari Mba Wiwit [ardhanamesvari.multiply.com] Jogja. Ah, manisnya mengenang kembali semua perhatian itu. Sambil kumemohon maaf jika ada nama yang terlewat yang tak kusebut di sini, yang juga sudah memberiku hadiah. Bukan main. Hari ini, karena dua buah paket yang sampai kemarin pagi, aku jadi mengenang kebaikan, cinta dan persahabatan MP-ers semua. Kuucapkan terima kasih tak terhingga. Mudahan Allah membalas semuanya dengan kebaikan, kecintaan dan keindahan yang Maha Indah. InsyaAllah. *** Namun, sore ini masih saja mood ku turun naik. Aku memilih istirahat saja. Mumpung si seniman stres sedang tak beraksi. Tiba-tiba, teleponku berdering, “Assalaamu’alaikum…” “Iya, wa’alaikum salam, ini siapa...?” “Dek, ini Mba. Masa lupa sama Mba?” “Subhanallah…! Ada apa Mba?” Aku jadi cemas. Soalnya sudah lama sekali kami tak silaturrahmi lewat telepon. Bukan apa-apa, beliau sangat sibuk dan aku tak mau mengganggu.
“Masa nelpon cuma kalau ada apa-apa, dek?” “Hehehe, iya sih. Tapi Mba kan sangat-sangat sibuk. Surprise saja..., tapi senang banget sih ditelpon Mba, sebuah kehormatan malah...” “Mba kangen kamu, dek, sudah lama gak dengar suaramu, gak dengar kabarmu.” Suara riang di seberang sana membuatku tersenyum senang.
Ya Allah, aku dikangeni si 'perempuan berselendang bintang', julukan yang diberikan oleh anaknya? Rasa sejuk mengalir di hatiku. Orang sesibuk beliau, masih menyempatkan menyapaku yang bukan siapa-siapa? Indahnya akhlakmu, Mba sayang. Aku sungguh tersentuh atas perhatianmu. Mba Helvy, MPnya sekarang jarang dijenguk ya, soalnya sibuk bukan main sih ya :-p
Malam ini, moodku membaik. Mengenang semua kebaikan MP-ers dan telpon dari Mba Helvy yang baru saja menyapaku, memompa semangatku kembali. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku. Aku wajib berkarya, karena itu adalah salah satu ibadah yang disukaiNya juga. Sekali lagi, kepada seluruh pemberi hadiah-hadiah cinta, kutak tahu harus mengucap apa selain terima kasih. Aku hanya mampu mendoa, mudahan Allah hadiahkan cintaNya untukmu semua. Again, I love you all!
"Sayang,
dah sampe kan? Tlg balas sms Ima dong, khawatir niy. Tadi Mas XXX sms
Ima, tny nama Kk. Dia mau ajak Kk jum'atan di mesjid termegah di
Makasar. *titik titik alias sensor! tau dong kenapa, khas pasutri, silahkan diisi dengan imajinasi sendiri*. I
luv U"
sent!
Trrrrrrrrrrrt,
trrrrrrrrrrt, trrrrrrrrrrrrt... loh! Tumben si Kk cepat pisan
membalasnya. Gak biasanya niy... *sambil meraih si biru*
"Wah, salah kirim nih Mba Ima. Dikirim ke Kakak aja lg. Takut nggak dibalas, hehehehe". *titik titik, sensor lagi*
from +6281525XXXXX. What????
WHUAAAAAAAAAAA, malunya!!! *mukaku merah padam seperti kepiting rebus!* Ternyata nomornya malah terkirim ke MP-er yang rencananya janjian ketemu sama Kk 
*tanganku beraksi sambil menahan rasa panas yang menjalar, mengirim beberapa baris kata ke nomor 'nyasar' itu*
sent!
Trrrrrrrrrrrt, trrrrrrrrrrrt, trrrrrrrt... Waks, again, from +6281525XXXXX !!! He's teasing me now!
"Mba Ima ternyata ya, bla bla bla ... ... ..." 
Si MP-er yang menerima sms nyasar itu masih terus saja menggodaku.
*kepiting rebusnya matang deh!*
PS.
Ada yang punya pengalaman sama? Atau lebih gokil, bikin mokal dan gak bisa tidur saking malunya? Share disini dong ^_^
Hp meng-sms ke sini.
Assalaamu'alaikum semua ^_^
Duh kangennya! Setinggi gunung sedalam lautan judulnya! Pa kabar semua? Hopefully everybody is alright, amin...
Pyuh, jadi bingung mo cerita apa dulu, saking banyaknya yang pingin kubagi ke teman-teman tercinta ^_^
Most of my stories I would like to share to you all is about my newest job as an interpreter. Everybody knows it's not the most difficult job on earth, but still not the easiest job, neither. There is such a big responsibility to deliver what the speaker talk about correctly and respectively.
Sounds easy for you? Huh, not at all, especially for me! Coz my English even hasn't passed the intermediate level of ability. I thought Mr. Hywel chose me not because I'm already a good interpreter, but he chose me more because of a limited number of interpreter he got for this season. Still, I felt happy been chosen!
I'll give you one example why I felt this job is not a really easy job! In interpreting process, my duty is not only translating the speaker's whole idea every 5 to 7 minutes or one paragraph, that's quite easy, but I also should interpret the participant's comments that sometimes are not using the formal Indonesian and telling the issue in a long long long sentence. So, the difficulty I faced not only in searching the short and correct sentence but also to deliver it quickly to the speaker. Often I found my hands getting wet, lol ^_^
What I would like to tell you is a story behind the interpreting process! So many unpredictable things happen and affected all of us. In a sentence, chaos and confusing, at least for me!
Would you like to know the rest of the story then? *wink wink wink* ^_^ From where I should start this story then? I'm getting confused again, hahahaha :-D
PS. My big condolence for recent earthquake in Sumatera and Garuda's accident in Jogjakarta. (Al Fatihah ku untuk seluruh korban).
Semalam aku menggores sapa. Meniup salam tuk Indonesia, khususnya Jakarta yang baru saja terendam banjir. Semalam aku juga merasa sangat tak berdaya, ditengah dingin yang menggila dipenghujung sepertiga malam.
Kusentuh jari-jari tangan telanjangku, dingin bukan main. Juga kakiku, walau sudah bersarung kaos kaki thermal. Aku menggeletuk, sempat terucap keluh. Sampai berapa lama akan seperti ini? Aku sudah membaringkan diri disisi heater, tapi panasnya seperti tak seberapa (walau sudah disetel paling maksimal).
Diluar tidak sedang badai! Bahkan cuaca Leeds 4 hari terakhir ini luar biasa bagus. Matahari bersinar terang dan langit sangat biru, tanpa segumpal awan pun. Walau tetap saja ketika kulangkahkan kaki keluar, hawa luar biasa dingin menerpa, serasa dalam lemari es!
Sebuah ironi sungguh! Langit terang dan biru tapi dingin menggigilkan sukma. Aku sampai gamang, merasa tak berdaya melakukan apapun. Aku hanya membacai berita dan merasa semakin useless! Jauh dari tanah air, belum bisa berbuat apa-apa!
Semalam aku sempat berujar, kapan salju pertama akan turun di kota ini? Aku merindukan putihnya dan jatuhnya bulir kapas dingin itu. Menyentuhnya lalu meniupnya terbang kembali. Aku ingin keluar dan merasakan berhujan-hujan dibawah salju, seperti tahun 2005 lalu.
Lalu kutersentak, tak pantas aku ribut meminta ini itu. Aku jauh lebih beruntung dibanding saudara-saudara di Jakarta dan kota-kota bencana lainnya. Aku masih bisa berbaring disisi heater yang hangat, sementara mereka barangkali hanya tidur beralas koran di pengungsian ala kadarnya.
Ah, alangkah tak bersyukurnya aku! Aku pun semakin lindap dalam diam. Hening menyelami hatiku yang sedang tak jelas warnanya. Kudekati laptop tuaku dan mulai menuliskan rasa.... Tak terasa sudah hampir 500 kata... hatiku mulai nyaman dan tanganku bergerak spontan, SEND!
Sedetik, dua detik, satu menit, dua menit, lima belas menit berlalu... ternyata tulisanku tak muncul di halaman jurnalku. Sssssssssssssah! Aku sempat kesal... cemberut dan berpaling dari laptopku. Sesaat ragu, tapi aku kembali menggapai laptop lalu kumatikan dan beringsut ke pembaringan. Aku lelap.
***
Pagi ini aku terbangun dengan gumun. Kenapa pagi ini tak sedingin 4 hari terakhir ini? Kenapa diluar sana terlihat gulita? Secara alami aku bergerak menuju jendela. Waaaaaaaaaaaaaaaaah! Subhanallah! Peri-peri kecil diluar sana melayang anggun! Putih seputih-putihnya, terbang dan turun di atap-atap rumah berwarna bata. Juga di atap mobil berjejer. Juga menyapu seluruh jalanan, menjadi putih semesta...
Selamat datang salju pertamaku di tahun 2007, though it's not my really thick snow!
PS. Berphoto didepan rumah saat salju mereda diawal 2005. Btw, kalau mau liat snowy nya Leeds 2005 lalu, silahkan membuka halaman ini ^_^
Dua hari lalu aku meluncur ke city center. Jarak tempuh sekitar 6-7 kilometer menjadi tak terasa dengan si "merah". Apalagi jalanan terus-terusan menurun. Langit tetap sama, gloomy seperti hari-hari sebelumnya. Apalagi anginnya, whuah! Jangan ditanya, sanggup menerbangkan badan orang dan ini sama sekali bukan hiperbola!
Aku sudah mencoba menaiki si merah senyaman dan sehati-hati mungkin, considering the bad wheather! Tetap saja awasku naik berlipat-lipat, mengingat sepedaku seperti didorong-dorong si angin nakal! Sampai kurang dua kilo lagi, tiba-tiba...
"Wuuuuuuuuuuuuuuuuuuush..." angin maha nakal mendorongku dari belakang. Hei, aku maunya lurus saja, tapi malah... @#$%^&*@#$%^&!!!!
"Deciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit!!!" suara keras mendesis dari sebuah mobil persis disampingku tak sampai dua inchi, saat sepedaku terlempar ke tengah dan hampir diterjang dua buah mobil yang sedang melaju kencang!
"Heiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii! I thought you'll go straight...!" Si driver biru metalik meneriakiku gusar!
"I'm really sorry, I can't handle my bike, the wind blowed my bike.......!" Kusahuti teriakannya dengan gugup sekaligus kencang. Aku yakin mukaku saat itu pucat seperti mayat!
. Hampir saja nyawaku melayang atau minimal luka-luka. Untung aku masih sempat spontan meloncat dari sadel dan membuang badan dan sepeda sejauh-jauhnya.
"Haaaaaaaaaaaaah! I will never ever forget this...!" batinku berbisik saat kutuntun sepeda menuju open market. Sepanjang jalan kuucap "La haula walaa quwwata illa billah" dan istighfar berkali-kali. Aku masih lemas kalau ingat itu, sampai sekarang...!
Catatan penting: Kalau angin sedang mengganas, aku harus jalan kaki! No choice!
***
Btw, sepulang dari bersepeda, aku langsung menonton Anastasia cartoon buat menghilangkan ketegangan. Whoa, bagus banget lagu-lagunya, terutama yang judulnya "Once Upon A December". Hiks, liriknya tak hanya indah, musiknya juga syahdu dan pas. Setelah kucek, yang nyanyi ternyata si Diana ayu! Who has Diana Carter's cassette, please, please share her beautiful songs in MP's music.
Hey, I beg you for Diana Carter's voice in here, thanks before ya ^_^
Hari ini aku punya appointment dengan dr. J. Russel langgananku pukul 15.30. Gigi, bagian mulut dan gusiku harus dicek kembali setelah operasi pengangkatan dua buah stones yang menutup aliran kelenjar saliva ku pertengahan Desember lalu! Ini operasi kedua di Inggris setelah operasi impaksi dalam yang diangkat sebelumnya. Hm, aku sepertinya ditakdirkan selalu bermasalah dengan mulut dan sekitarnya.
Sayangnya, diluar angin menderu kencang. Seperti bernyanyi dengan keras! Aku sampai bergidik, bunyinya saja menakutkan! Aku jadi ragu-ragu, berangkat naik sepeda seperti biasa atau bus ya? Kalau naik bus, nyamannya cuma satu hal: hangatnya bus yang ber heater, tapi gak enaknya: bersiap menunggu datangnya bus lebih dari 20 menitan, kadang sampai satu jam lebih. Aku juga masih harus berganti bus di town, plus masih harus jalan kaki ke Dental Hospital nya. Aih ribet banget ya! Hmm, ditimbang-timbang, aku akhirnya memutuskan naik sepeda saja! Tak hanya alasan olahraga, tapi juga hemat dan cepat, cukup 15 menit, sampai!
Sepeda merah sudah kukeluarkan, bismillah, mulai kukayuh. Eh, ada cairan menetes ke mataku, spontan aku mendongak ke langit. Awan bergelung kain hitam yang menjulur. Mirip hantu malam! Padahal masih jam 3 sore!
Sekali lagi kuucap bismillah, kukayuh lagi sepeda merah butut perlahan-lahan. Aku harus ekstra hati-hati karena jalanan licin dan aku akan menyeberangi Sheepscar street yang lebar dan sangat sibuk itu.
Hiks, mau gak mau, dalam suasana seperti ini, aku jadi teringat suami tercinta. Bersepeda selalu menjadi hal yang menyenangkan! Tak hanya karena kita beriring mengayuh, tapi juga karena dia adalah navigator yang handal. Entah kenapa, aku selalu grasa grusu dan sering gak melihat lalu lintas kendaraan-kendaraan lain. Aku juga malas memakai kacamata minusku. Walhasil navigatorku tercinta sering memperingatkan dengan teriakan khasnya,”Awas Ima…”
Alhamdulillaah sampai Little London perjalananku mulus tanpa hambatan. Hup, sekarang aku mulai menarik nafas. Perjalanan mulai menanjak. Semakin tajam sampai akhirnya aku gak sanggup lagi mengayuh pedal mendaki. Aku harus turun dan sepeda harus dituntun. Kalau aku mau memaksakan diri, bisa saja, tapi tetap saja useless, memaksa diri menghabiskan energi!
Sambil menuntun sepeda kesayangan, aku mencoba menghayati kehidupanku setahun terakhir ini. Banyak yang sudah terjadi dan ratusan hikmah tercecer yang harus dipunguti dan dimaknai satu persatu.
Hidup ibarat mengayuh sepeda. Agar bisa bersepeda dengan nyaman, onderdil sepeda harus rutin kita periksa dan dibersihkan. Kalau ada yang rusak, ya harus diganti atau diperbaiki.
Begitu juga dengan hidupku. Saat aku menghadapi hal-hal yang paling tidak menyenangkan akhir-akhir ini, aku harus bertindak layaknya mengayuh sepeda. Aku perlu berhenti sejenak dan mengambil hikmah dari tanjakan potongan-potongan fragmen kehidupanku. Memang terasa berat saat harus berhenti sejenak, sementara aku dikejar oleh banyak planning yang telah dibuat. Tapi ternyata tidak ada salahnya! Toh, kesulitan dalam kehidupan kata Tuhan adalah ujian untuk meluluskan kita ke grade berikutnya, menjadi hambaNya yang ikhlas dan tawakkal. Mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan.
Memoriku melayang pada kenangan saat pertama kali diajak suami bersepeda ria. Saat itu aku merasa, tanjakan yang kulalui pertama kali sangatlah curam dan tajam. Sampai saat harus berjalan menuntun sepeda pun, nafasku terasa ngos-ngosan! Tapi setelah berulang-ulang melewati rute yang sama, aku merasa lebih mudah melampauinya. Walau sedikit lelah tapi aku sudah tidak menganggap terlalu payah seperti sebelumnya.
Kata kunci dalam menghadapi ujian kehidupan ternyata sama seperti bersepeda: bersabar menjalani. Izinkan waktu yang bekerja untuk diri kita. Alah bisa karena biasa!
Saat aku menghadapi banyak tanjakan dan kerikil dalam hidup, aku jadi mengaca ke dalam jiwa.
Barangkali juga satu tahun terakhir ini shadaqahku masih sangat kurang, diluar kewajiban berzakat. Ampuni aku ya Allah!
Barangkali juga dalam satu tahun terakhir ini, aku terlalu mementingkan diriku sendiri dan tidak menengok kepentingan orang lain atas diriku, hak orang lain terhadap diriku dan kebendaan yang kumiliki. Yang sungguh kalau kusadari lagi, semua hanyalah pinjaman Tuhan semata!
Saat aku akhirnya menangis hingga sesak dan sulit bernafas, lalu sakit kepala, aku jadi tercenung! Barangkali seperti ini juga rasanya sakit hati orang lain terhadap diriku. Menyesakkan sampai tidak bisa berfikir jernih.
Setelah airmata terkuras, I saw an ugly person in the mirror so badly! Aku tergugu. Betapa rapuhnya aku, padahal baru diujiNya dengan sedikit pelajaran dariNya.
Padahal dia belum mengambil apa-apa yang kumiliki dalam arti hakiki, kematian atau bencana alam yang meluluh lantakkan semua yang ada menjadi tiada! Astaghfirullaah al’adzim!
Mengayuh sepeda dibawah hujan sore ini membuatku memetik hikmah: aku memaknai proses belajar! Seberat apapun tantangan dan ujian yang menamparku, aku pasti akan bisa melewatinya seperti saat aku belajar pertama kali mengayuh sepeda di kota Leeds yang berbukit-bukit ini!
*Yang, makasih ya sebelum pulang ke Indonesia menyempatkan men-cek semua onderdil sepeda dan mengganti ban luarnya*
Uuuh! dadaku sakit sekali tadi malam. Tepatnya serangan rasa seperti diiris-iris silet itu dimulai sekitar jam 3 pagi sampai jelang 7 pagi. Otomatis aku gak bisa lagi memejamkan mata barang sekejap, karena sakit itu tepat di jantungku, selain rasa seperti disilet, jantungku juga seperti diremas-remas dengan sadis, hiks. Akhirnya aku gak bisa tidur sejak kemarin, total hampir 30 jam lebih, hiks T_T
Jujur, rasa sedih karena banyak hal yang terjadi dalam seminggu ini mungkin salah satu penyebabnya! Mungkin saking stressnya aku, rasa sedih itu berubah jadi psikomatis, alias menyerang ke fisik. Huh, aku gak mau begini terus. Pola hidupku jadi berubah, back to ngalong aka. kayak kelelewar, tidur di siang hari *itupun gak bisa lebih dari 3 jam, pasti terbangun karena mimpi buruk* dan bangun di sepanjang malam. Sangat-sangat tidak sehat ya! Entah sampai kapan.
Duh, maaf sekali ya teman-teman, posting seminggu terakhir ini mengeluh dan mellow terus, hiks. Aku gak mungkin cerita sama Abah di Banjarmasin, kasihan beliau, sudah terlalu banyak masalah, jadi izinkan daku melepaskan 'keluh kesah' disini ya. Kalau kau tak suka, cukup tinggalkan halaman ini dan terima kasih untuk pengertiannya.
Pssst, aku tadi menguplek uplek sesuatu di dapur. Pertama-tama aku mencampur terigu 250gr dengan gula pasir 150gr lalu dibuat lubang ditengahnya, seperti tukang semen yang mau mengaduk semen dengan pasir *ngelantur deh!* Terus, aku pecahkan telur dua biji didalam lubang itu, lalu diaduk sepenuh hati.
Selesai? Nooo! Selanjutnya aku menakar santan sampai 375 cc, dihangatkan lalu dicampur permifan sebanyak 1sdt. Ssst, kok gak berbuih ya? Apa yang salah ya? Ah sutralah, sekarang aku sudah mencampur santan berpermifan itu dengan si semen terigu sampai kalis dan rata. Katanya tunggu sekitar dua puluh menitan sampai berbuih.
Kalau sudah, aku akan melanjutkannya dengan menuangkannya ke wajan tebal sampai mengembang, lalu akan kutaburi kacang *yang tadi sudah kusangrai dan ditumbuk*, coklat dan keju. Hmmm, membayangkan proses membuatnya saja sudah membuatku ngiler!!! Duuuh, mudahan sukses dan cantik hasilnya ya ^_^
Kalo hasilnya memuaskan seperti terangnya rembulan, aku akan sharing photonya disini, kalo jelek, huhuhu, gak usah aja ya, cukup masuk perutku aja ^_^
Hayo tebak, aku lagi bikin apa? 
*judul di atas adalah clue nama penganan yang dibuat, Mba Kucing gak boleh jawab!
UPDATE: Woy, sudah jadi dan rasanya mantap! Walo baru pertama kali bikin, uh, kata testerku, rasanya gak kalah dengan yang dijual Mamang-mamang gerobak dorong di Indonesia. Wanginya memabukkan, teksturnya lembut banget dan manis legit! *aih, mulai hiperbola deh* Silahkan ditengok disana making process dan final resultnya! ^_^
 Sesekali kuseka air mata di sudut bola, yang hiks…, semakin memerah karena panas didalam sana. Sudah beratus lembar tissue kuhabiskan menghapusnya. Panas meleleh diujung sana.
Jangan tanya sudah berapa banyak kuhabiskan tissue gulung… Untuk apalagi kalau bukan untuk menampung air asin yang tercurah dari si lubang hidung. Ngocoooooooor terus tanpa ampun!
Jangan tanya lagi keadaan si hidung;
Ada luka dan perih di setiap sudut karena setiap saat dipaksa atau tidak, terus menerus mengeluarkan cairan penyumbat nafas.
Pedih, perih seperti disayat-sayat.
Badan meriang-riang siang malam.
Kepala senut nut walau episode sakit gigi sudah berakhir…
Huhuhuhuhu, kenapa juga jadi demam begini. Uhuk uhuk, masih pula diselingi batuk-batuk, uhuk!
Duduk salah, berdiri salah, melayang layang…
Berbaring salah nungging salah, hidung malah mampet sejadi-jadinya.
Tak terbayang gak bisa bernafas 10 menit. Sekian detik saja sudah sangat menyiksa.
Ah, masih perlu disyukuri ternyata!
Seumur hidup inilah pilek terparah yang pernah kualami. Ngocoooooor tanpa jeda. *sambil menatap gunungan tissue bekas pakai yang tak berdosa*
"Ya Allah, ampuni dosa-dosa hamba", terucap doa seiring summer yang berlalu disulih autumn kelabu yang mulai menyapa.
***
Kalau kalian diserang pilek hebat, apa yang biasanya dilakukan ya?  
 Mukanya manyun.
Bibirnya tertarik ke bawah…,
Membuat hatiku juga sediiiiiiiih, hiks!
Aku tanya-tanya…
Ia tak bergeming…, bahkan bungkam seribu bahasa.
Menjalani derita dalam diam, duh sengsara.
Aku tau,
Memang teramat sakit rasanya!
Aku juga merasakannya sekarang, snut, snut… nyuuuuuuuut!
Bukan sayang, ini bukan jenis empati. Apalagi basa-basi.
Kemarin masih kuabaikan,
ah ini biasa, hanya gangguan sesaat,
sambil berdoa.
Aku kok jadi teringat lagi ucapanku sendiri, belasan tahun silam ketika remaja,
”Alhamdulillah sampai hari ini aku belum pernah merasakannya, hiiiiiiiiy, jangan sampai!” mengalir lewat mulutku ringan, disusupi rasa bangga.
Ternyata, aku malah mengalaminya disini. Duh, kenapa harus disini... Yang sulitnya minta ampun hanya untuk membuat appointment pertemuan. Apalagi untuk diperiksa alat-alat canggih itu, kabarnya perlu menunggu sedikitnya dua minggu. Ini negeri antri neng! Jadilah penderitaan kami berdua berlipat-lipat ganda.
Rasanya seperti apa??? Mau tau..., sebentar, kucari padanan kata yang tepat... Bukan, sakitnya bukan seperti menderita jerawat raksasa... Meggy Z ternyata bohong! Rasanya bahkan lebih sakit dari putus cinta!!! Seperti dibor mesin berkarat, perlahaaan... masuk sampai perut bumi! Ouch!!!
Parahnya lagi, kenapa harus berbarengan siiiiiiiiiy Yang?
… … …
#$%@^#&*!!!!!!!
Snut…, snut… nyuuuuuuuuuuuuuuuuuuut!
Hiks… hiks… hiks…,
I need you now dokter Alya  
| |