Teman-teman sudah nonton film Denias, Senandung di Atas Awan ? Aku telat banget yak! Film ini diproduksi tahun 2006 kan? Barusan saya menamatkan episode ke 12 nya. Soalnya saya mendownloadnya di Youtube, hehehehe...
Ditengah-tengah maraknya film Indonesia yang booming tapi gak jelas banget dari sisi kualitas sinematografi dan alur cerita, film ini ibarat oase ditengah padang pasir!
Adegan pembukanya saja sudah sangat menarik. Setelah upacara adat berlangsung, muncul dialog ibu Denias menasehati anaknya,
"Denias, kau sudah besar, kau jangan nakal ya... kalau kau nakal, gunung disana bisa makan kau! Betul itu, itu sudah! Tapi kalau kau belajar yang rajin, pintar sekolah, gunung disana takut sama kau!"
Keindahan alam dan adat istiadat orang Papua yang dihamparkan juga menghipnotis mata! Silahkan dijenguk di
LINK INI. Oh iya, kalau ingin menonton keseluruhan episodenya, Anrra nya kudu di add as a friend, setelah itu kita bisa menonton kedua belas episode nya :-)
SYNOPSIS dari DENIAS's WEBSITE:“Bapak yakin kamu bisa jadi ahli matematika,” kata pak Guru.
“Gunung takut sama anak sekolah,” kata Mama.
“Belajar bisa di mana saja …” kata Maleo.
Denias, anak seorang petani suku di pedalaman tengah Papua. Semangat dan keinginan sekolah selalu bergejolak di batin dan pikirannya. Kalimat-kalimat orang yang ia sayang dan hormati terus terngiang dan membakar semangatnya. Dunia Denias adalah dunia sederhana, bermain dan bersekolah selain membantu Bapak di ladang.
Hidup Denias berikutnya dibayangi kesedihan beruntun karena orang-orang yang ia cintai dan hormati satu demi satu meninggalkannya. Ibunya tersayang meninggal dalam suatu tragedi kebakaran honai keluarga mereka.
Maleo pernah bilang ada sekolah fasilitas di balik gunung. Agar bisa tetap sekolah, Denias pergi meninggalkan rumah. Tidak perduli perjalanan ke sana sangat jauh dan sama sekali tidak mudah, harus berhari-hari melewati sungai, hutan dan gunung, Denias terus mengejar cita-citanya.
Di tempat yang dituju, perjuangan Denias belum selesai. Sebagai anak suku biasa, Denias tidak mungkin boleh bersekolah di sekolah fasilitas itu. Perkenalannya dengan Enos membuat Denias bisa masuk ke dalam sekolah dan berupaya memetik pengetahuan dengan caranya sendiri.
Kegigihan dan semangat Denias mengetuk hati Ibu Sam, salah seorang pengajar di sana. Rintangan datang dari sana-sini hingga Denias pun hampir putus asa.
Apakah ibu Sam bisa membantu Denias bersekolah?
Apakah Denias bisa sekolah lagi?
***
Selanjutnya? Komentar saya hanya satu : Ini film yang LUAR BIASA!
Jalan ceritanya sangat bagus, tidak terkesan menggurui padahal sarat pesan moral dan penyadaran atas kepedulian sosial yang mulai digerus zaman di bagian Papua kota. Contohnya bisa dikutip dari dialog Ibu Gembala yang diperankan Marcella dengan apik, dia memprotes aparat sekolah yang pilih-pilih murid,
"pertama kali saya menjejakkan kaki ke pulau ini, saya fikir, ketidak adilan hanya dilakukan oleh orang di luar pulau ini, ternyata ketidakadilan juga dilakukan oleh orang-orang dalam pulau ini sendiri."
Ck ck ck! Sindiran sosial tanpa tedeng aling-aling.
DENIAS definitely is a must see movie: menggugah, mengharukan dan menyentak alam bawah sadar kita!
Pengambilan gambarnya juga proporsional dan mahir, my applause to John De Rantau, orang Padang yang mensutradarai film berbobot ini.
Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik untuk me-review film ini. Pertama, film ini mencoba mengungkapkan dengan gamblang bahwa betapa mewahnya pendidikan buat sekelompok masyarakat tertentu di negeri ini (film ini mengambil contoh masyarakat pedalaman Papua).
Kedua, film ini berhasil melukiskan dengan indah sebuah tekad anak manusia untuk maju. Tak hanya kemauan baja sang tokoh yang berhasil diungkap, tapi film ini juga berhasil menggambarkan sosok Denias dan Enos yang berjuang keras untuk sekolah. Melarikan diri dari rumah, mendaki gunung, menyeberangi sungai, bermalam berhari-hari ditengah hutan dan kelaparan adalah lukisan sinematographi yang begitu manis sekaligus menyesakkan disuguhkan didepan mata kita.
Ketiga, sampai detik ini saya masih sangat meyakini bahwa akar berbagai permasalahan struktural dan kultural dalam masyarakat salah satunya bisa dipecahkan melalui pendidikan.
Keempat, film ini sukses membelalakkan alam fikir kita, bahwa dibelahan lain negeri Indonesia, berbagai kenyataan yang mungkin tidak kita sadari telah terjadi di negeri ini. Contohnya isu diskriminasi untuk mendapatkan akses terhadap pendidikan.
Dari sisi akting, saya pun kagum! Denias yang diperankan oleh Albert dibawakan dengan cukup alami, padahal dia baru sekali ini bermain film! Wow! Bakat alam yang harus terus diasah. Walau konon Albert lebih memilih untuk menekuni seni suara.
Akting tokoh-tokoh lainnya juga bagus, sebut saja nama Ari sihasale (sebagai Maleo, tentara ABRI yang berhati lembut dan idealis), ibu Gembala (Marcella Zalianti yang berperan sebagai ibu guru di kota), Mathias Muchus (yang menjadi guru di pedalaman Papua) dan sederet pemain lainnya.
For me, this movie is a must see! Boleh dibilang, ini adalah film ethnography yang dikemas dengan serius tapi terasa ringan dicerna, karena adegan-adegan humor yang segar terselip disana sini, mengalir alami!
Bravo John de Rantau. Piala Citra memang pantas diraih film ini. Aku menunggu karya-karyamu berikutnya!
Ps.
Kalau pulang nanti, mau ngajak adik-adikku nonton film ini ah di bioskop, masih diputar gak ya???