Imazahra's posts with tag: contemplation

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag contemplation
ddd
dThumbnaild
ddd
Sepulang dari rumah Shant, aku 'terbang' menuju Panti Asuhan Putri Korban Gempa Bumi dan Kebakaran di daerah Sonayan, Madurejo, Prambanan. Kurang lebih 20 kilometer dari jantung Jogjakarta.

Sempat berkali-kali bertanya dan alhamdulillah sampai juga ke Panti Putra. Setelah melihat-lihat dan mengobrol dengan pengurus Panti, hatiku berbisik kuat,

"Aku harus survey ke Panti Putri!"


Bapak pengurus yang ramah menjelaskan rutenya dan Alhamdulillah tak sampai 15 menit kami sudah sampai di Panti Putri. Bangunannya berwarna hijau, warna yang padu dengan hijaunya pepohonan di sekeliling panti. Menyejukkan mata.

Belum sempat kuketuk pintu panti, sang pengurus sudah membukakan untukku. Beliau tersenyum. Saya dipersilahkan masuk.

Baru sesaat masuk, hatiku langsung berdenyut! Dari luar terlihat bersahaja, rapi dan bersih. Begitu masuk ke ruang tamu, pemandangan yang menghampar di depan mataku membuatku sesak dan mendesakkan rasa tak nyaman hingga rongga mulutku. Aku tak kuasa berucap. Sesaat aku "hening" dalam rasa tak bertuan!

Adik-adik sekitar 6 orang sedang tidur nyenyak tanpa kasur, tanpa bantal, hanya beralaskan karpet kusut tua dan sungguh berbau apek. Sesaat setelah berdamai dengan hatiku, kubuka mulut,

"Maaf, Mas, kenapa adik-adik ini tidur siang di sini? Gak ada kamar ya?"

"Bukan gak ada kamar Mba, kamarnya ada, tapi rumah penampungan ini tak cukup besar untuk menampung 23 anak. Jadi ya seadanya seperti ini"

Duh, hatiku terluka.

"Sejak kapan adik-adik ini tinggal di sini, Mas?"

"Sejak Panti mereka sedikit rusak karena gempa dan tak lama berselang panti kami kebakaran."

"Oh, musibah beruntun ya, Mas? Kalau boleh tahu penyebabnya apa ya?"

"Iya, Mba. Cuma panti kami di Sleman itu memang sudah sangat tua rumahnya. Rumah itu dibangun tahun 1972, jadi kemungkinan ada kabel listrik yang putus lalu menyebabkan kebakaran."

Aku semakin menyelami lara mereka.

"Sekarang, di tempat ini sudah berapa lama? Boleh saya lihat kamar-kamarnya dan saya poto?"

"Kami tinggal di sini pasca gempa Jogja. Sudah dua tahun. Alhamdulillah ada seorang dokter baik hati bersedia membangunkan panti baru untuk kami, setelah beliau menjenguk penampungan sementara ini. InsyaAllah akhir tahun kami mudahan bisa pindah dari sini. Do'akan saja, Mba... Ya beginilah adanya, Mba. Kita harus bersabar menerima apapun keadaan kita. Hidup harus terus dilanjutkan. Yang penting, anak-anak ini tak putus sekolahnya."

Tak terasa kuangguk-anggukkan kepala. Tanpa suara.

"Oh iya, adik-adik di sini pendidikannya apa saja ya?"

"TK 1 anak, SD dari kelas 1 sampai kelas 6 masing-masing satu anak, SMP 3 anak dan SMA 5 anak. Kami berharap ada donatur atau orang tua asuh yang akan bersedia membiayai pendidikan kelima anak kami yang sebentar lagi akan menuju universitas atau minimal kuliah di pendidikan kejuruan. Alhamdulillah anak-anak kami ini berprestasi semua."

"Silahkan, Mba kalau mau melihat-lihat," sembari Mas Triyono membukakan salah satu pintu yang katanya menuju kamar.

Begitu pintu dibuka, terasa sesuatu mengambang di pelupuk mata. Aku terlempar pada masa kecilku yang prihatin. Mirip tapi kondisi mereka jauh lebih parah! Kalau dulu kami berdesak-desakan di sebuah rumah sangat sempit dan harus berbagi dengan ketujuh adik-adikku, sekarang aku menyaksikan lagi putaran film itu, tapi lebih lara. Lebih tabah. Lebih prihatin. Lebih nestapa. Lebih melarat.

Saat kaki kulangkahkan masuk melewati pintu, di kegelapan ruangan berukuran sekitar 4 X 6 meter itu, dadaku seperti tumpah!

Karung beras bergeletakan di sisi kiri pintu kamar. Kemungkinan sumbangan warga sekitar yang punya sawah. Gelantungan baju-baju ditata sembarangan. Tas-tas sederhana tergantung diantara tiang gantungan baju, dibelakangnya rak buku dari kayu muda yang digantung di dinding retak seperti hampir menjerit karena disesaki buku-buku. Mungkin buku pelajaran adik-adik itu.

Kulayangkan mata ke arah adik-adik, mereka sedang tidur lelap bergelimpangan. Aku tak tega memotret mereka walau sudah minta izin pada Mas Triyono. Tunggu sampai mereka bangun dulu.

Kuayun kaki menuju kamar mandi di pojok kamar. Cukup besar tapi sungguh tua dan maaf, seperti kamar mandi di terminal-terminal bus! Tak usah kuteruskan ya deskripsinya, silahkan lihat sendiri potonya.

Saat aku memalingkan wajah dan mengangkat kameraku untuk memoto suasana kamar, adik-adik itu satu persatu bangun. Salah satunya membuka pintu. Eh salah! Bukan pintu! Setelah mataku normal melihat sekeliling setelah sebelumnya terbiasa dengan kegelapan. Aku menahan nafas!

Ternyata ini ruangan GARASI!!!

Ya, lebih tepatnya ini adalah garasi yang disulap menjadi kamar karena keterdesakan keadaan. Mereka tidak punya banyak kamar, hingga garasi ini pun menjadi kamar mereka.

Sungguh, ingin kupeluk mereka satu persatu dan kubisikkan kata-kata:

"Yang tabah ya, Dik, Allah akan bangunkan istana indah di surgaNya kelak jika adik-adik bersabar."

Setelah pintu garasi dibuka, mereka menatapku bersahabat. Wajah-wajahnya kulihat penuh rasa ingin tahu.

Kusapa mereka,

"Maaf ya, Dek. mba moto-moto kamar kalian. Untuk dokumentasi dan laporan."

"Dokumentasi itu apa, Mba?" tanya salah seorang diantara mereka. Sepertinya masih SD kelas 1.

"Dokumentasi itu proses pengumpulan bukti dan keterangan untuk suatu keperluan. Kan kita besok tanggal 15 mau bergembira bersama. Nah biayanya datang dari beberapa penyumbang, jadi Mba harus memoto biar para penyumbang di seluruh dunia melihat kamar adik-adik dan mudahan ada yang bisa nyumbang lebih banyak lagi. Biar adik-adik bisa segera pindah ke rumah yang..., yang... lebih... baik dari ini."

Sungguh, saat menjelaskan itu, airmataku hampir runtuh! Aku hampir saja terpeleset mengatakan kamar mereka tidak layak huni. Tapi alarm pemilihan kataku langsung mengingatkan, "kata-kata itu jangan digunakan, bisa melukai hati adik-adik itu."

"Dek, mau kupoto??? Nanti potonya Mba taruh di internet. Biar adik-adik disapa oleh tante dan om di seluruh dunia," ujarku pelan sambil tersenyum.

"Mau, mauuuuuu..."

Serentak mereka bergerak cepat dan mulai merapikan kasur-kasur busa yang rombeng dan sudah sobek dimana-mana itu. Mereka tumpuk jadi satu lalu mereka duduki bersama-sama.

Semua menyunggingkan senyumnya yang paling manis, walau baru saja bangun tidur. Duh, hatiku semakin biru...

"Oh iya, adik-adik ini darimana saja?"

"Kami ada yang dari Fakfak-Papua ada dua orang, lalu Lampung, lalu ada yang dari Aceh, juga dari Nias dan Bantul. Pokoknya kami semua berasal dari daerah yang terkena musibah akibat gempa bumi dan tsunami."

"Ooooooh..."

Aku hanya sanggup ber-oh oh mendengarkan penjelasan salah satu dari mereka.  Mereka semua yatim, bahkan ada beberapa yang sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Bibirku kelu, sampai-sampai lupa menanyakan nama mereka satu persatu. Aku jeri!

"Dek, kalau adik-adik dikasih buku cerita, bakal dibaca gak?"

"Dibacaaaaaaaa Mba, kami semua suka membaca!" jawab salah satu dari mereka sumringah.

"InsyaAllah ya, nanti Mba usahakan buku-buku itu. Ayo senyum yang manis, biar banyak yang mau kirim buku cerita untuk adik-adik."

Tiba-tiba aku teringat obrolanku barusan dengan Mas Triyono, beliau bilang, adik-adik ini sudah lama gak jalan-jalan. Mereka senang sekali waktu ada donatur asing yang mengajak mereka outbond ke Tawangmangu. Mas Tri sempat mengusulkan ide outbond atau piknik saja supaya adik-adik ini merasakan keluar dari daerah mereka, dan terutama menghirup udara segar diluar kamar-kamar mereka yang pengap dan gelap.

"Dek, besok itu kan Mba dan teman-teman lainnya mau syukuran di rumah ini. Mau tumpengan dan berbagi kado dengan adik-adik. Mau enggak? Atau adik-adik pingin yang lain? Seperti piknik atau outbond? Tadi kata Pak Triyono adik-adik baru sekali ya jalan-jalan, tahun 2007 lalu?"

Malu-malu salah seorang dari mereka menjawab, "Kami milih outbond atau piknik saja, Mba" sambil diiringi anggukan keras dari yang lainnya. Duh..., berarti rencana semula harus kurubah lagi...

Semula rencana awalnya kami cukup bertamu ke panti, makan tumpeng bersama-sama lalu membagikan goodie bag dan bingkisan-bingkisan untuk panti. Tapi kondisi real mereka membuatku berpikir keras!

Ah, harus kutanyakan ke teman-teman yang mau ikutan bergabung. Satu orang sudah kukontak, duniamaya dan beliau bersedia menjadi tim kreatif untuk merancang permainan sederhana untuk adik-adik ini.

Duh, sudah panjang saja jurnal kali ini, silahkan teman-teman lihat sendiri kondisi real adik-adik panti di bawah ini:

Sepulang dari rumah Shant, aku 'terbang' menuju Panti Asuhan Putri Korban Gempa Bumi dan Kebakaran di daerah Sonayan, Madurejo, Prambanan. Kurang lebih 20 kilometer dari jantung Jogjakarta.

Sempat berkali-kali bertanya dan alhamdulillah sampai juga ke Panti Putra. Setelah melihat-lihat dan mengobrol dengan pengurus Panti, hatiku berbisik kuat,

"Aku harus survey ke Panti Putri!"

Bapak pengurus yang ramah menjelaskan rutenya dan Alhamdulillah tak sampai 15 menit kami sudah sampai di Panti Putri. Bangunannya berwarna hijau, warna yang padu dengan hijaunya pepohonan di sekeliling panti. Menyejukkan mata.

Belum sempat kuketuk pintu panti, sang pengurus sudah membukakan untukku. Beliau tersenyum. Saya dipersilahkan masuk.

Baru sesaat masuk, hatiku langsung berdenyut! Dari luar terlihat bersahaja, rapi dan bersih. Begitu masuk ke ruang tamu, pemandangan yang menghampar di depan mataku membuatku sesak dan mendesakkan rasa tak nyaman hingga rongga mulutku. Aku tak kuasa berucap. Sesaat aku "hening" dalam rasa tak bertuan!

Adik-adik sekitar 6 orang sedang tidur nyenyak tanpa kasur, tanpa bantal, hanya beralaskan karpet kusut tua dan sungguh berbau apek. Sesaat setelah berdamai dengan hatiku, kubuka mulut,

"Maaf, Mas, kenapa adik-adik ini tidur siang di sini? Gak ada kamar ya?"

"Bukan gak ada kamar Mba, kamarnya ada, tapi rumah penampungan ini tak cukup besar untuk menampung 23 anak. Jadi ya seadanya seperti ini"

Duh, hatiku terluka.

"Sejak kapan adik-adik ini tinggal di sini, Mas?"

"Sejak Panti mereka sedikit rusak karena gempa dan tak lama berselang panti kami kebakaran."

"Oh, musibah beruntun ya, Mas? Kalau boleh tahu penyebabnya apa ya?"

"Iya, Mba. Cuma panti kami di Sleman itu memang sudah sangat tua rumahnya. Rumah itu dibangun tahun 1972, jadi kemungkinan ada kabel listrik yang putus lalu menyebabkan kebakaran."

Aku semakin menyelami lara mereka.

"Sekarang, di tempat ini sudah berapa lama? Boleh saya lihat kamar-kamarnya dan saya poto?"

"Kami tinggal di sini pasca gempa Jogja. Sudah dua tahun. Alhamdulillah ada seorang dokter baik hati bersedia membangunkan panti baru untuk kami, setelah beliau menjenguk penampungan sementara ini. InsyaAllah akhir tahun kami mudahan bisa pindah dari sini. Do'akan saja, Mba... Ya beginilah adanya, Mba. Kita harus bersabar menerima apapun keadaan kita. Hidup harus terus dilanjutkan. Yang penting, anak-anak ini tak putus sekolahnya."

Tak terasa kuangguk-anggukkan kepala. Tanpa suara.

"Oh iya, adik-adik di sini pendidikannya apa saja ya?"

"TK 1 anak, SD dari kelas 1 sampai kelas 6 masing-masing satu anak, SMP 3 anak dan SMA 5 anak. Kami berharap ada donatur atau orang tua asuh yang akan bersedia membiayai pendidikan kelima anak kami yang sebentar lagi akan menuju universitas atau minimal kuliah di pendidikan kejuruan. Alhamdulillah anak-anak kami ini berprestasi semua."

"Silahkan, Mba kalau mau melihat-lihat," sembari Mas Triyono membukakan salah satu pintu yang katanya menuju kamar.

Begitu pintu dibuka, terasa sesuatu mengambang di pelupuk mata. Aku terlempar pada masa kecilku yang prihatin. Mirip tapi kondisi mereka jauh lebih parah! Kalau dulu kami berdesak-desakan di sebuah rumah sangat sempit dan harus berbagi dengan ketujuh adik-adikku, sekarang aku menyaksikan lagi putaran film itu, tapi lebih lara. Lebih tabah. Lebih prihatin. Lebih nestapa. Lebih melarat.

Saat kaki kulangkahkan masuk melewati pintu, di kegelapan ruangan berukuran sekitar 4 X 6 meter itu, dadaku seperti tumpah!

Karung beras bergeletakan di sisi kiri pintu kamar. Kemungkinan sumbangan warga sekitar yang punya sawah. Gelantungan baju-baju ditata sembarangan. Tas-tas sederhana tergantung diantara tiang gantungan baju, dibelakangnya rak buku dari kayu muda yang digantung di dinding retak seperti hampir menjerit karena disesaki buku-buku. Mungkin buku pelajaran adik-adik itu.

Kulayangkan mata ke arah adik-adik, mereka sedang tidur lelap bergelimpangan. Aku tak tega memotret mereka walau sudah minta izin pada Mas Triyono. Tunggu sampai mereka bangun dulu.

Kuayun kaki menuju kamar mandi di pojok kamar. Cukup besar tapi sungguh tua dan maaf, seperti kamar mandi di terminal-terminal bus! Tak usah kuteruskan ya deskripsinya, silahkan lihat sendiri potonya.

Saat aku memalingkan wajah dan mengangkat kameraku untuk memoto suasana kamar, adik-adik itu satu persatu bangun. Salah satunya membuka pintu. Eh salah! Bukan pintu! Setelah mataku normal melihat sekeliling setelah sebelumnya terbiasa dengan kegelapan. Aku menahan nafas!

Ternyata ini ruangan GARASI!!!

Ya, lebih tepatnya ini adalah garasi yang disulap menjadi kamar karena keterdesakan keadaan. Mereka tidak punya banyak kamar, hingga garasi ini pun menjadi kamar mereka.

Sungguh, ingin kupeluk mereka satu persatu dan kubisikkan kata-kata:

"Yang tabah ya, Dik, Allah akan bangunkan istana indah di surgaNya kelak jika adik-adik bersabar."

Setelah pintu garasi dibuka, mereka menatapku bersahabat. Wajah-wajahnya kulihat penuh rasa ingin tahu.

Kusapa mereka,

"Maaf ya, Dek. mba moto-moto kamar kalian. Untuk dokumentasi dan laporan."

"Dokumentasi itu apa, Mba?" tanya salah seorang diantara mereka. Sepertinya masih SD kelas 1.

"Dokumentasi itu proses pengumpulan bukti dan keterangan untuk suatu keperluan. Kan kita besok tanggal 15 mau bergembira bersama. Nah biayanya datang dari beberapa penyumbang, jadi Mba harus memoto biar para penyumbang di seluruh dunia melihat kamar adik-adik dan mudahan ada yang bisa nyumbang lebih banyak lagi. Biar adik-adik bisa segera pindah ke rumah yang..., yang... lebih... baik dari ini."

Sungguh, saat menjelaskan itu, airmataku hampir runtuh! Aku hampir saja terpeleset mengatakan kamar mereka tidak layak huni. Tapi alarm pemilihan kataku langsung mengingatkan, "kata-kata itu jangan digunakan, bisa melukai hati adik-adik itu."

"Dek, mau kupoto??? Nanti potonya Mba taruh di internet. Biar adik-adik disapa oleh tante dan om di seluruh dunia," ujarku pelan sambil tersenyum.

"Mau, mauuuuuu..."

Serentak mereka bergerak cepat dan mulai merapikan kasur-kasur busa yang rombeng dan sudah sobek dimana-mana itu. Mereka tumpuk jadi satu lalu mereka duduki bersama-sama.

Semua menyunggingkan senyumnya yang paling manis, walau baru saja bangun tidur. Duh, hatiku semakin biru...

"Oh iya, adik-adik ini darimana saja?"

"Kami ada yang dari Fakfak-Papua ada dua orang, lalu Lampung, lalu ada yang dari Aceh, juga dari Nias dan Bantul. Pokoknya kami semua berasal dari daerah yang terkena musibah akibat gempa bumi dan tsunami."

"Ooooooh..."

Aku hanya sanggup ber-oh oh mendengarkan penjelasan salah satu dari mereka.  Mereka semua yatim, bahkan ada beberapa yang sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Bibirku kelu, sampai-sampai lupa menanyakan nama mereka satu persatu. Aku jeri!

"Dek, kalau adik-adik dikasih buku cerita, bakal dibaca gak?"

"Dibacaaaaaaaa Mba, kami semua suka membaca!" jawab salah satu dari mereka sumringah.

"InsyaAllah ya, nanti Mba usahakan buku-buku itu. Ayo senyum yang manis, biar banyak yang mau kirim buku cerita untuk adik-adik."

Tiba-tiba aku teringat obrolanku barusan dengan Mas Triyono, beliau bilang, adik-adik ini sudah lama gak jalan-jalan. Mereka senang sekali waktu ada donatur asing yang mengajak mereka outbond ke Tawangmangu. Mas Tri sempat mengusulkan ide outbond atau piknik saja supaya adik-adik ini merasakan keluar dari daerah mereka, dan terutama menghirup udara segar diluar kamar-kamar mereka yang pengap dan gelap.

"Dek, besok itu kan Mba dan teman-teman lainnya mau syukuran di rumah ini. Mau tumpengan dan berbagi kado dengan adik-adik. Mau enggak? Atau adik-adik pingin yang lain? Seperti piknik atau outbond? Tadi kata Pak Triyono adik-adik baru sekali ya jalan-jalan, tahun 2007 lalu?"

Malu-malu salah seorang dari mereka menjawab, "Kami milih outbond atau piknik saja, Mba" sambil diiringi anggukan keras dari yang lainnya. Duh..., berarti rencana semula harus kurubah lagi...

Semula rencana awalnya kami cukup bertamu ke panti, makan tumpeng bersama-sama lalu membagikan goodie bag dan bingkisan-bingkisan untuk panti. Tapi kondisi real mereka membuatku berpikir keras!

Ah, harus kutanyakan ke teman-teman yang mau ikutan bergabung. Satu orang sudah kukontak, duniamaya dan beliau bersedia menjadi tim kreatif untuk merancang permainan sederhana untuk adik-adik ini.

Duh, sudah panjang saja jurnal kali ini, silahkan teman-teman lihat sendiri kondisi real adik-adik panti di album poto ini.

====================================================================

Berdasar survey di atas, setelah kasak kusuk tadi malam dengan beberapa MP-ers, kita putuskan panti inilah yang akan kita datangi. Berdasar hasil survey juga, kita tidak jadi tumpengan dan berbagi di panti mereka. Adik-adik kita ingiiiinnnnnn sekali diajak jalan-jalan. Setelah saya telpon Jeng Imoy [duniamaya], beliau bersedia menjadi koordinator tim kreatif untuk menciptakan beberapa permainan sederhana untuk adik-adik.

Lokasinya insyaAllah tidak begitu jauh dari Panti, yaitu Candi Ratu Boko [hasil usulan Mba Tita -ID: suluhpratita- thanks idenya, Mba :-)

UPDATE LAGI!!!

Lokasi 'bermain' di Candi Ratu Boko dibatalkan! Alhamdulillah kita malah dapat penawaran OUTBOND dengan harga miring!!! Tuhan itu Maha Segala ya, baru saja beberapa jam lalu aku ketar ketir, sekarang sudah agak legaan, pyuuuuh!!!

Sementara ini dulu ya. Oh iya, di bawah ini update sumbangan berupa uang yang sudah masuk ke rekening saya:

1. SIS/Jogja             : 100.000
2. ENK /Surabaya      : 200.000
3. ADS/Jakarta          : 200.000
4. UDN/Jakarta          : 200.000
5. QKN/Australia        : 150.000
6. UTPI/Jakarta         : 100.000
7. NATJ/Ternate        :  50.000
8. EVND/Jakarta        : 150.000
9. ZLHF/Jogjakarta     : 300.000
10. IFNLS/Jakarta       : 350.000
11. LLYH/Belgia         :716000 [disesuaikan dengan nilai tukar hari ini, 1 euro=14320]
12. TIBSI/Jogjakarta   : 150.000
13. AFHN/Benelux       : 284.600
13. INVC/ Jakarta       : 150.000
14. WND/ Bandung      : 300.000
15. TTNF/ Jepang       : 200.000
16.
ABRTT/ USA         : 250.000
17.  CMMN/ Cairo        :500.000
18. WWD&NRL/Jakarta : 200.000
19. MTIN/ Jakarta       : 200.000
20. SNT/ Depok          : 100.000
21. RINT/ Depok          :150.000
22. EKP&UW/ Jogja      : 100.000
23. SNT-ALR/ Jogja     : 150.000
24. VNY-TTG/ Jogja     :100.000
25. ICNN / Jogjakarta   :  50.000
26. MYDM/ Jateng        :300.000
27. ...


siapa menyusul ingin santuni adik-adik yatim???

Sedangkan goodie bag, buku bekas, baju pantas pakai atau sumbangan dalam bentuk fisik lainnya yang sudah konfirm dan akan diantar di bawah ini:

1. ARYN/Bandung     : Buku cerita anak-anak
2. KFRR/Jogja          : 4 pak buku tulis dan snack-snack
3. TPH /Jogja          : buku alat tulis, selimut, alat bersih2 dkk[diantar Kamis]
4. AMW/Jogja          : Snack untuk outbond

Data sumbangan akan diupdate terus ya teman-teman

Yang jadi pertanyaan besarku sekarang adalah, kalau kita acaranya pindah ke Candi Ratu Boko, kira-kira enaknya mulai jam berapa? Pihak panti sendiri flexsibel saja.

Di sisi lain, ada masukan baru dari Mba Tinnie Basuki, ada paket outbond  komplit-plit cukup murah di Kaliurang sana, sekitar 1 juta-an sudah bisa untuk 50 anak. Alias hanya 20 ribu perak per-anak. Yang jadi pertanyaanku, gimana ngatur susunan acaranya yak? huhuhu..., Jeng Imoy help me!

Pihak panti barusan kutelpon, jawabannya:

"Mba, kami tidak menerima uang sumbangan cash enggak apa-apa, soalnya anak-anak ini sudah lama gak jalan-jalan sembari bermain. Mereka pernah dapat free outbond dan senang bukan main, semangat belajar setelah outbond juga meningkat drastis."

Whuaaa, sekarang aku yang kebingungan, huhuhu...
Mohon masukannya ya teman-teman. Thanks a lot!


===============================================================================

Berhubung banyak yang menanyakan nomor rekeningku, kupajang di sini untuk sementara ya:

1. Atas nama Fatimah
Bank Mandiri
No Rekening: 031-00-0545787-7

2. Atas nama Zaiyan Ahyadi
Bank BNI
No Rekening: 0129502358

3. Atas nama Rizali Hadi
Bank BCA
No Rekening: 0372701917

Buat teman-teman yang sudah mengirimkan bantuan, please please konfirm di sini atau PM saya, biar rapi dan jelas nih pertanggung-jawaban keuangannya.

Tak terasa aku menapak kepala tiga. Seperti baru kemarin aku belajar membaca-menulis! Aaah waktu, begitu cepat berlari...

Alhamdulillah aku masih diberiNya kesehatan, rizki, cinta dan kasih sayang dari sahabat dan semesta.

Tak putus kuucap Alhamdulillah atas perjalanan hidupku selama ini. Duka derita yang kukecap tidak sebanding dengan Kasih SayangNya yang tercurah untukku. Alhamdulillah...

Jujur, di keluarga kami tidak ada tradisi merayakan ulang tahun. Kembali mengenang masa kecilku dulu, saat itu, jangankan memikirkan perayaan ulang tahun, memikirkan uang makan sehari-hari saja kami sekeluarga sangat-sangat kesulitan. Allah menguji Abahku, beliau benar-benar sedang terpuruk, jatuh bangkrut.

Sejak kanakku, aku hanya tahu perayaan ulang tahun teman-temanku. Ulang tahun kawan-kawanku identik dengan meniup lilin, memotong kue dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun, lalu mendapatkan puluhan hadiah dibungkus kertas warna warni memikat mata kanak kami. Tapi aku sendiri dan ketujuh adik-adikku sampai kami besar-besar, belum pernah sekalipun merayakannya. Apalagi Abah kami sering bilang, "Merayakan ultah adalah tradisi jahiliyah." Ya sudah, Ima kecil dan adik-adiknya bisa menerima itu semua dengan lapang dada. Walau yang namanya anak kecil, sekali-kali rasa iri menyala di hati kanakku, hehehe... namanya juga anak-anak ya

Sekarang, setelah aku Alhamdulillah punya sedikit penghasilan pun, tetap saja pesta ulang tahun itu tidak pernah ada. Kami diajarkan oleh Abah untuk berpuasa di hari milad kami masing-masing. Apakah ada tumpengan atau masak-masak besar untuk syukuran di rumah kami? Tidak, itu juga tidak ada. Soalnya Abah belum pernah mengingat ulang tahun anak-anaknya secara spesial. Mungkin kami keluarga kolot dan tradisional sekali ya :-)

Tapi kami tidak kehilangan kegembiraan, karena tepat di hari lahir, biasanya yang ingat dan mengucapkan doa-doa adalah kami sesama saudara kandung dan tiri, hihihi...

Tak apa, toh buatku milad bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan apalagi sampai menghambur-hamburkan uang. Buatku, milad adalah momentum untuk mengevaluasi diri, "Sudah seberapa besarkah keberadaanku di dunia ini bermanfaat bagi sesama?" Sebagaimana Sang Nabi  Mulia mengingatkan ,

"Khairunnas anfa'uhum linnas!" "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain."

Dengan mengusung semangat kemanfaatan itu, mohon maaf, aku tidak berencana mentraktir teman-teman semua di cafe atau restoran mana gitu, [hehehe, soalnya ada yang tanya], khususnya teman-teman MP-ers Jogja, gak papa ya :-)

Tapi...
Ada tapinya nih, hehehe...

Aku mengajak teman-teman khususnya MP-ers Jogja, untuk bersama-sama berbagi kasih sayang [ada sedikit tabungan yang kupunya] ke sebuah panti kecil dan sangat membutuhkan uluran bantuan tangan kita. Aku pikir, di saat harga-harga sedang melonjak naik, tak ada salahnya kita kurangi bersenang-senang secara pribadi, tapi kita salurkan yang kita miliki untuk berbagi.

InsyaAllah aku ingin silaturahmi ke Panti Asuhan di Imogiri, Bantul. Tepatnya hari Minggu tanggal 15 Juni besok. Tempat masih tentatif ya, jadwal saja yang fixed!

Kok jauh? Iya, soalnya panti asuhan di dalam Jogja sudah lumayan banyak dermawannya, jadi kali ini kudu menyisir pinggiran Jogja. Gak papa kan?

Ada yang mau ikutan menambah-nambah isi goodie bag??? Sekalian saja dijadikan ajang baksosnya MP-ers, boleh kan? Darling Shant sih sudah mengacungkan tangan, insyaAllah dia sekeluarga akan join :-)

Silahkan PM aku ya kalau mau ikutan berbagi, boleh uang, boleh berupa isi goodie bag atau apa saja yang berguna untuk adik-adik :-)

Eh, ajakan ini juga boleh dilink ya, aku akan senang sekali :-)
===========================================================================

UPDATE:

Belum juga beberapa jam berlalu sejak jurnal ini kutulis, ternyata reaksi keluarga besar MP-ers Subhanallah mengagumkan. Sejauh ini yang mau mentransfer dana, buku bahkan isi goodiebag terdaftar di bawah ini ya:

1. Ardhanamesvari, insyaAllah berupa isi goodiebag

2. Ngrejekeni, insyaAllah sejumlah uang

3. Arynsis, insyaAllah berupa buku cerita anak-anak

4. Winda, insyaAllah sejumlah uang

5. Eva_nda2 insyaAllah sejumlah uang

6. Teh Tina di Jeddah insyaAllah sejumlah uang

7. Mba Tita insyaAllah goodiebag or uang

8. Sovie insyaAllah ikutan juga

9. Siapa menyusul??? Akan saya update terus ya :-)

Hiks, terharu banget. Sampai speechless! Ayo yang jadi penulis atau kerja di penerbitan, boleh loh nyumbang buku-buku. Pas lagi dengan jelang tahun ajaran baru, Alhamdulillah.

Nanti total nominal akan saya umumkan juga di sini. Sedikit-sedikit kan jadi bukit. InsyaAllah, berlomba-lomba dalam kebajikan ya :-)

Blog EntrySihir Sebuah TulisanJun 3, '08 10:30 PM
for everyone
Tidak pernah saya duga sebelumnya, tulisan sederhana yang saya ikutsertakan di Lomba CerMin INDOSIAR berbuah reaksi luar biasa dari pembaca.

Tulisan berjumlah enam halaman dan saya tulis sepenuh hati itu semata-mata saya hadiahkan untuk para inspirator saya yang luar biasa. Saya hanya ingin berbagi, bahwa kepedulian pada yang lebih papa [papa di sini juga tidak melulu papa harta] tidak selalu harus ditunjukkan dengan memberi 'ikan', memberikan 'kail' justru jauh lebih penting dan abadi unsur kemanfaatannya.

Lagi-lagi saya teringat pada pesan Nabi: "Ballighuu 'anni walau aayah." "Sampaikanlah, walau hanya satu ayat."

Ayat di sini saya maknai secara luas, tidak hanya ayat yang tertera dalam al-Qur'an, tetapi juga ayat yang terlukis di alam semesta, termasuk 'ayat-ayat' yang diukir manusia. Dalam terminologi agama disebut juga sebagai ayat-ayat kauniyah.

Semangat inilah yang saya usung ketika mengikuti lomba CerMin. Saya sungguh hanya ingin berbagi setitik pengalaman yang saya punya. Saya sungguh mengharap ridhaNya ketika mengirimkan tulisan tersebut.

Tulisan saya kemudian masuk sepuluh besar, lalu lima besar dan panitia meminta kami untuk menggalang pembaca sebanyak-banyaknya agar meraih juara favorit. Sekali lagi, ketika saya dengan senang hati mengirimkan link tulisan saya ke milis Beasiswa -dan pada faktanya malah menyebar lebih luas ke berbagai milis lainnya- dan Multiply sendiri, saya juga tak berharap muluk-muluk Saya hanya menginginkan agar lebih banyak lagi orang yang membaca tulisan tersebut.

Namun tak pernah saya duga, bola salju ini menggelinding dan meraksasa. Sampai hari ini, total saya sudah mendapatkan lebih dari 30 email di inbox yahoo saya, puluhan personal message di Multiply dan ratusan reply di jurnal-jurnal terkait. Belum total jumlah voters yang bisa saya raih yang mengantarkan tulisan saya sebagai pilihan favorit pembaca!

Saat ini hati saya diliputi perasaan haru luar biasa. Tulisan sesederhana itu ternyata menggerakkan banyak orang; untuk mengirimi saya email dan PM, mengajak berkenalan dan menyapa saya, berbagi kisahnya yang paling pribadi, yang paling pahit dan nestapa, menceritakan mimpi-mimpinya, bahkan menanyakan, "Apakah saya sudah bersuami, kalau belum, bla bla bla..."

Kalau dulu saya seringkali setengah sangsi atas kekuatan sebuah tulisan, apalagi kisah dongeng dari negeri antah berantah, sekarang saya sepenuhnya percaya, tulisan yang ditulis dari hati akan sampai ke banyak hati. Tulisan yang dirangkai atas niat berbagi, akan sampai pada yang membutuhkan. Tulisan yang sarat ilmu pengetahuan, akan menciptakan kemanfaatan. Tulisan yang dicipta untuk mengubah dunia yang akhir-akhir ini semakin semrawut, akan benar-benar sanggup mengubah dunia. Semua hanya soal waktu saja.

Sekarang saya berani mengatakan, saya telah mengalaminya secara personal, yaitu pembuktian sihir dari the power of writing!

Jadi, mulai sekarang tidak boleh lagi ada kata malas untuk menulis bagi saya pribadi!  Menulis akan mengantarkan kita pada banyak cakrawala, yang tak terduga sekalipun!

Ayo menulis! Ayo menyihir semesta!

Blog EntrySepotong Kisah Bapak Bercaping dan BBMMay 26, '08 9:55 PM
for everyone
Siang itu aku duduk terpekur menatap langit Jogja yang garang. Gerah bukan main! Untungnya aku duduk di alam terbuka. Saat itu aku duduk di atas sebuah becak yang sedang menunggu sahabatku, teh Ari yang sedang sibuk memesan tiket travel di sebuah sudut jalan Malioboro, dipojok depan RM Cirebon disamping Mirota Batik. Cukup lama aku menunggu, si ibu kemungkinan besar kelayapan juga mencari-cari souvenirs sebagai tanda mata pemahat kenangan jiwa.

Awalnya aku hanya berdiam diri, tapi lama-lama bosan juga. Entah mengapa, aku selalu suka mengajak bicara supir taxi, mas ojek, supir bus, bapak tukang becak. Bahkan kebiasaan ini terbawa-bawa sewaktu di UK dulu.

Siang itu kubuka dialog,

"Bapak, sekarang mbecak di Malioboro persaingannya ketat enggak?" sembari mataku melayangkan pandang ke banyak becak yang berjejer rapi di sepanjang jalan Malioboro dan bisa menduga jawaban apa yang akan diberikan si Bapak tua.

"Duh Nak, bukan ketat lagi, berebut malah! Lha tadi kan saya menjemputmu di depan Beringharjo, bahkan rela hanya 5000 rupiah saja sampai Gerjen"

Tadi saat kami baru saja keluar dari pintu pasar Beringharjo, Bapak tua ini langsung memepet dan menjejeri langkah kami. Sibuk bertanya kemana lagi tujuan kami selanjutnya. Aku sempat panik dan bingung mau mengingat tujuan selanjutnya, seolah-olah hilang orientasi karena saat itu manusia penuh sesak.  Teh Ari sampai menatapku tajam, "Ima, kita mau kemana nih???" Sesaat kupilih diam menenangkan diri, dan... aha!

"Kami mau ke Gerjen Pak! Pinten nggih?"

"5000 mawon..."

Jujur aku kaget. Dugaanku si Bapak bakal minta sepuluh ribu minimal. Langsung saja hatiku dan hati teh Ari luluh. Duh, 5000! Gerjen itu kan jaraknya sekitar lima  tujuh kilometer-an dari Malioboro. Jalannya juga agak berliku dan ramai sekali. Aku langsung menduga, pasti si Bapak masih sedikit sekali nariknya hari ini. Beliau terpaksa pasti...

Aku tersadar dari lamunanku. Si Bapak ternyata sudah tidak di atas sadel, tapi sudah berpindah disampingku, sembari tangannya memegang umbul-umbul hiasan becak di sisi kiriku. Wajahnya adalah nestapa. Kutatap dalam-dalam. Kutaksir umur beliau kisaran 55-60 an. Otot-ototnya bertonjolan membuktikan bahwa hidupnya tidaklah mudah dan bersantai-santai. Kulitnya legam dan kasar memperlihatkan bahwa ia pekerja keras menantang kejamnya kehidupan. Tapi dari situ juga terlihat, si Bapak tidak mau menyerah pada gurat nasib yang sepertinya tak adil untuknya.

"Bapak, maaf, umurnya kalau boleh saya tebak, sudah 55-60-an ya?"

Sang Bapak tersenyum dan menyahut, "Benar Nak, umurku 60."

Duh, saat itu aku mau menangis. Setua ini, masih membanting tulang menjajakan tumpangan becaknya?

"Bapak punya anak? Kenapa masih kerja Pak?"

Aku sadar, aku sudah terlalu jauh bertanya, tapi aku tidak bisa menahan mulutku!

"Ada satu, tapi dia juga penghasilannya pas-pasan, wong cuma lulusan SMA mau kerja apa? Saya juga gak papa kok Nak, sudah biasa bekerja, asal tidak mengemis"

Saat itu kutatap lagi matanya. Mata tua yang melamur dimakan usia. Selaput keabu-abuan terlihat mulai menutupi lingkaran mata hitamnya. Apakah itu gejala katarak? Entahlah... yang pasti kurasakan gerimis membasahi hati. Kemanakah  pemerintahan yang mengayomi rakyatnya yang jelata? Rakyat yang renta, dibawah garis kemiskinan, anak-anak yang terlahir menjadi anak jalanan, yang sepertinya bekerja sekeras apapun sulit lepas dari belitan kemiskinan karena kepapaan pendidikan.

"Bapak, kalau pas ramai sehari bisa dapat berapa?"

"Wah, gak pasti ya Nak. Seperti hari ini, saya belum narik sama sekali. Makanya tadi pas kamu bilang mau ke Gerjen, saya tawarkan saja 5000, saya sudah tidak peduli. Saya cuma berharap, kamu minta diantar ke Bakpia Pathok atau ke Dagadu, biar saya dapat tambahan dari toko-toko itu."

"Enggak Pak, kami tidak kesitu. Cuma mau makan bakso saja, langganan saya jaman saya di pesantren dulu. InsyaAllah nanti Bapak kami ajak makan bersama dan bayaran Bapak juga kami tambahkan."

"Wah Nak, saya gak mau ah makan sama-sama. Saya malu. Saya mau antar dan nunggu. Uang makan saya buat tambah-tambah saya saja. Terima kasih ya."

"Ah enggak, Bapak pokoknya harus ikut makan dengan kami, kan Bapak bilang tadi, Bapak belum makan sejak pagi, nanti jatuh lagi pas bawa becaknya karena kelaparan," aku ingat, saat itu senyumku melebar seusai menyampaikan candaan itu.

"Ah Nak, saya pokoknya gak mau ikut makan. Saya malu. Saya gak mau."

Dalam hatiku aku menyusun rencana supaya si Bapak mau masuk warung Bakso yang kami tuju, hihihi...

"Oh iya Pak, Bapak aslinya darimana???"

"Saya dari Kretek. Berpuluh kilometer dari sini. Jadi, setiap pagi, saya naik angkot dari Kretek sampai Parangtritis. Biayanya 2500. Dari Parangtritis saya naik bus sampai sini. Biayanya 4000. Jadi pulang pergi saya menghabiskan 13000."

Wow, modal yang tidak sedikit dan harus dikeluarkan setiap hari. Berarti untuk balik modal dan bisa membawa uang pulang ke rumah, minimal si Bapak harus memperoleh 30 ribuan sehari!

"Kalau pas ramai turis, sehari bapak bisa dapat berapa?" selidikku lebih jauh.

"Wah, gak tentu ya Nak. Kalau pas beruntung, saya bisa dapat sampai 50 ribu sehari. Tapi ya itu, tak menentu. Kadang-kadang saya cuma narik satu dua kali sehari, seperti hari ini, saya baru bawa Mba, kemarin apalagi, seharian saya gak narik, soalnya ada demo sepanjang hari di jalan Malioboro."

Tak terasa, kepalaku mengangguk-angguk pelan seperti boneka yang bergoyang di sebuah dashboard mobil.

"Ditambah Nak, sekarang mobil di Jogja semakin banyak saja, sepeda motor apalagi. Kami-kami ini benar-benar tersingkir, tidak seperti dulu..."

Mata lamurnya menerawang sampai jauh. Andai ia ayahku, pasti sudah kupeluk tubuh tuanya itu. Aku benar-benar merasa ikut sakit hati. Aku teringat isu BBM yang mau naik.

Entah mengapa, aku berdoa, mudahan orang-orang mengurangi pemakaian mobil dan motornya dan beralih menggunakan becak saja. Tapi waktu sepertinya amat tak bersahabat dengan becak, karena becak itu lambat, tidak seperti motor dan mobil yang sanggup menerabas seluruh hukum rimba jalan raya.


Apalagi, becak ramah lingkungan karena gak pakai bensin! Sayangnya semakin tersingkir oleh gaya hidup modern.

Aku juga tak bisa membayangkan dampak kenaikan BBM bagi Bapak ini dan orang-orang miskin lainnya. Apakah mereka sanggup membeli minyak tanah, apalagi minyak gas yang harganya meroket ini???

Dari koran yang kubaca [kalau aku gak salah ingat koran Jogja] jumlah penerima Bantuan Langsung Tunai [BLT] justru malah berkurang. Apakah ini indikator angka kemiskinan di kota Jogja telah menurun? Aku curiga tidak! Karena data yang dipakai adalah data BPS tahun 2006.

Walaupun ada BLT, itu kan sifatnya sangat temporer! Lalu selanjutnya seperti apa??? Apakah pemerintah pusat kemudian akan dengan suka rela mengalihkan dana subsidi BBM untuk menggratiskan sekolah-sekolah dan Rumah Sakit? Dua hal yang paling asasi dan mendesak karena itu kebutuhan rakyat yang paling primer. Aku kok tidak yakin ya ada iktikad baik ke arah sana.

Aku marah pada pemerintah negeri ini tapi sekaligus merasa tak berdaya. Aku hanya bisa membantu yang perlu kubantu sebisaku. Itu saja. Tapi pada tingkat kebijakan, aku bukan siapa-siapa...

Kurang lebih setengah jam kami mengobrol. Tak lama berselang Teh Ari muncul. Tiket sudah beres dipesan dan souvenirs sudah didapatkan. Sang Bapak membawa kami menelusuri Jogja yang sepertinya juga mulai kejam pada rakyatnya yang kurang berpendidikan dan kurang beruntung hidupnya.

Blog Entry Perumpamaan Sebuah PensilMay 15, '08 5:17 AM
for everyone
Sebuah long quote yang sangat terkenal dan 'kutemukan' kembali dari blog seorang dokter muda cerdas nan sholihah yang sedang bersiap menghadapi defense PHD nya. Good luck Mba Eva, doaku menyertai persiapan defense-mu :-)

Aku fikir perumpamaan ini sangat pas untukku yang sedang ditimpa banyak uji dan musibah dariNya. Terlalu bagus untuk tidak disimpan di sini.

=======================================================================

Parable Of The Pencil - Pencil story


The Pencil Maker took the pencil aside, just before putting him into the box.

"There are 5 things you need to know," He told the pencil, "Before I send you out into the world. Always remember them and never forget, and you will become the best pencil you can be."

"One: You will be able to do many great things, but only if you allow yourself to be held in Someone's hand."

"Two: You will experience a painful sharpening from time to time, but you'll need it to become a better pencil."

"Three: You will be able to correct any mistakes you might make."

"Four: The most important part of you will always be what's inside."

"And Five: On every surface you are used on, you must leave your mark. No matter what the condition, you must continue to write."

The pencil understood and promised to remember, and went into the box with purpose in its heart. Now replacing the place of the pencil with you. Always remember them and never forget, and you will become the best person you can be.

One: You will be able to do many great things, but only if you allow yourself to be held in God's hand. And allow other human beings to access you for the many gifts you possess.

Two: You will experience a painful sharpening from time to time, by going through various problems in life, but you'll need it to become a stronger person.

Three: You will be able to correct any mistakes you might make.

Four: The most important part of you will always be what's on the inside.

And Five: On every surface you walk through, you must leave your mark. No matter what the situation, you must continue to do your duties.



Allow this parable on the pencil to encourage you to know that you are a special person and only you can fulfill the purpose to which you were born to accomplish.

Never allow yourself to get discouraged and think that your life is insignificant and cannot make a change.


Blog EntrySejenak BerhentiMay 8, '08 4:03 PM
for everyone
Teman,

Pernahkah kamu terlibat begitu jauh
pada sepenggal kisah seorang musafir kehidupan?
hingga kemudian emosimu pun menghunjam
dalam rasa bernama:
kepedulian atas nestapa yang maha dalam

Aku pernah
tak hanya sekali
bahkan berkali-kali

Hingga kusadari
semua bukan tanpa rencana Sang Maha Tinggi
'kebetulan-kebetulan' yang kukira adalah tetirah sejenak dari hidupku sendiri
sungguh adalah kepastian yang berjentera turun dari petala langit
sebagaimana rencanaNya sejak alam azali

Dan di senja yang lalu
lembaran nestapa itu berulang
Ia rentakkan kabar lewat angin utara
Ia tumpahkan segenap kepahitan jiwa
untuk kupunguti hikmahnya
dari kolam airmata
yang menggenangi sejarah nasibnya

Aku dalam hening
sejenak berhenti:
untukmu...

Blog Entry[III] Rahasia Dibalik Dentuman Musik Rock ItuMay 2, '08 2:21 PM
for everyone
Attention: Sambungan dari SINI.
============================================================

"Maksudnya, Bu???" Aku mengejar jawab. Bukannya menjawab pertanyaanku, si Ibu malah memanggil anaknya. Aku kurang jelas siapa nama anaknya. Setelah dipanggil berapa kali, sang anak muncul di hadapanku.


"Ada apa, Mba?" sang anak menanyaiku ramah.

"Ini loh Mas, saya kan kos di rumah Ibu Sulis, lalu sudah dua malam ini rumah Joglo di sebelah kos saya menyetel radio, kencangnya bukan main! Tadi saya sudah gak tahan lagi, jadi saya periksa sendiri. Saya ketok-ketok, saya bel juga, gak ada satu pun yang menyahut!" Terpaksa aku harus mengulangi penjelasanku lagi.

"Ooooooooh..." Dia hanya ber oh dan kemudian diam, lalu menatap ibunya berulang kali. Tentu saja aku semakin bingung dengan sikap aneh mereka.

"Ada apa sih, Mas?" Aku tambah gak sabar jadinya.

"Gini Mba, si Mas yang tinggal di rumah itu stres. Seperti yang sudah Ibu saya jelaskan. Cuma stresnya sudah parah. Kalau lagi kumat, ya seperti itu Mba. Tetangga di sini sudah maklum semua kok."

"Apa...?" Aku sama sekali gak menduga akan mendapatkan jawaban ini. Jadi, ada orang stres didalam rumah itu dan penghuni kampung ini maklum semua?

"Kita gak mungkin negur Mba. Kalau ditegur dia ngamuk. Pernah kejadian soalnya."

"Maaf, Mas, didalam rumah itu gak ada yang menjaganya? Gak ada orang lain selain dia yang bisa kuhubungi dan kumintai tolong untuk mematikan radio?"

"Ehm, anu, Mba... Ibunya si Mas itu sudah mengungsi ke Magelang. Beliau saja sudah gak kuat ngurusin anaknya yang stres. Jadi, si Mas itu tinggal sendirian. Kalau kita yang negur gak mempan, Mba." Jelas si anak Ibu berkaos merah panjang lebar.

Pada titik ini aku 'lemas'. Aku ternyata sedang 'berperang' dengan orang sakit jiwa! Oh My God!
"Jadi, saya gak punya pilihan lain ya, Mas. Selain menerima situasi ini. Atau..., saya memang harus pindah cari kos lain lagi." Saya menyahutinya.

"Susah sih, Mba. Begini saja, saya akan coba kontak salah satu saudaranya yang tinggal gak jauh dari sini. Biasanya dia yang menengok Mas yang stres ini. Mas ini baik kok Mba, walau stres tapi gak ganggu orang kampung ini"

Aku sudah tidak begitu menghiraukan jawaban Masa berkacamata ini. Aku mendadak merasa sangat lelah! Lelah karena kurang tidur, merasa lelah juga karena sudah menduga yang tidak-tidak. Lelah atas su'udzhon yang sudah mengotori hatiku. Astaghfirullah...

"Ya sudah Bu, Mas, terima kasih banyak untuk penjelasannya. Mohon maaf juga saya sudah menggangu Ibu dan Mas malam-malam gini. Mari Bu, mari Mas, saya pamit."

Terseok kuseret langkah kakiku menuju gerbang kosku. Pikiranku berkecamuk. Dalam diam kurasakan kepedihan mengalir dalam hatiku. Pemuda di sebelah kamarku adalah laki-laki sakit jiwa? Jadi, saat dia menyetel radio kencang-kencang itu kemungkinan dia sedang merasa sangat-sangat kesepian. Tidak ada siapa-siapa dalam rumahnya. Tidak ada orang yang bisa diajaknya bercakap-cakap saat kesadarannya timbul tenggelam. Bahkan seorang ibu yang semestinya ada di sisinya, merawatnya, membantunya, malah kabur ke kota lain. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan sikap sang ibu atau saudara-saudara Mas stres ini. Mereka punya alasannya masing-masing.

Kalau aku jadi pemuda ini, aku barangkali akan melakukan hal yang sama ketika kesepian mendera. Ketika kesendirian menyiksa. Sebegitu dalam, sebegitu gelap, sebegitu menakutkan. Sekarang yang tersisa adalah doa yang kuterbangkan ke langit. Siapa pun Mas stres itu, mudahan Allah sembuhkan ia...

Allah!
Malam ini Engkau bentangkan lagi hikmah untukku.
Aku harus banyak bersyukur

Aku masih waras...
Seberat apa pun masalah-masalah yang menghadang di depanku

Aku belum gila...
Se-stres dan seberat apapun garis kehidupan yang Engkau goreskan untukku

Aku masih normal, masih sadar menjadi bagian dari kampung ini, sehingga tahu diri untuk menempatkan sikap di kampung yang rumah-rumahnya saling berdempetan ini.

Allah,
Aku bersyukur padaMu...
Aku merasa sangat Engkau cintai
karena masih Engkau mampukan
'menikmati' semua masalah-masalah yang sedang kupetiki hikmahnya satu demi satu
tanpa harus menjadi GILA karenanya!
***

Malam ini, aku mencatat pelajaran kehidupan sekali lagi. Berkali-kali.

PS.
Sampai jurnal ini diselesaikan, dentuman musik di sebelahku semakin menjadi-jadi. Aku gak punya pilihan lain, selain pindah kos atau bertahan! Aku sudah dua malam gak tidur soalnya. Kegilaannya semakin menjadi keliatannya. Kasian...


Blog Entry[II] Rahasia Dibalik Dentuman Musik Rock ItuMay 2, '08 2:16 PM
for everyone
Attention please: Ini sambungan dari SINI.
=====================================================================

Sambil mencari-cari bel yang bisa kutekan, pikiranku melayang kemana-mana.  Aku sampai pada kesimpulan, ini sebuah rumah tua yang aneh. Sama sekali tak terlihat ada tanda-tanda keberadaan manusia di dalamnya, kecuali suara penyiar radio channel musik rock itu sesekali. 


Aduh, jangan-jangan benar kata Mas Agung di jurnalku. Siapa tahu ada orang mati di dalam rumah itu. Sebelum dia menenggak sekaleng racun tikus atau sebelum menjerat lehernya di tali gantungan, dia menyalakan radionya! Imajinasiku bergerak liar. Membuat aku ketakutan sendiri. Tapi aku gak punya pilihan lain! Aku harus bertemu makhluk di dalam rumah ini. Seperti apapun kondisinya. Aku gak mau menyerah. Aku sudah terlalu capek bertoleransi atas polusi suara yang diciptakan penghuni rumah ini!

Saat putus asa dan setengah takut, mataku menangkap bayangan putih kecil di sudut atas kiri pintu. Ah...! Sebuah BEL!!! Langsung kupencet! Saking semangatnya, aku memencetnya dalam dan panjang.

Sekali... Tidak ada reaksi sama sekali. Aku tercenung. Biar bagaimana pun ada adab dalam berkunjung. Apalagi ini sudah malam. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Dia sudah mengganggu kenyamananku juga!

Bismillah. Coba saja kupencet lagi. TEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTT!!! Ini yang kedua kali... Sekitar lima menit kutunggu. Sama sekali tidak terdengar langkah kaki mendekat ke pintu.

Ya Allah, aku hanya punya jatah sekali lagi, sesuai adab bertamu yang diajarkan Nabi. Oke, sekali lagi, kalau tidak dibukakan juga, aku harus menghubungi Pak RT malam ini juga. Biar besok pagi yang bersangkutan ditegur beliau!

Kupencet bel itu sekuat-kuatnya. Sepanjang-panjangnya! TEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTT!!! Semenit, dua menit, lima menit, sepuluh menit! Oke, cukup Ima! Tegurku pada diriku sendiri. Mungkin yang bersangkutan sudah tidur!

Aku tidak punya pilihan lagi. Perlahan kuseret kakiku menjauhi rumah joglo itu. Tentu saja hatiku dongkol bukan main! Panas di dalam sana butuh penyaluran... Segera!

Mataku nyalang menatap sekitar. Ternyata rumah di depan kosku masih benderang. Lamat-lamat kudengar suara mesin jahit. Kudekati. Pintu rumahnya malah terbuka lebar. Mungkin kepanasan. Semakin dekat aku melangkah, aku semakin bisa melihat dengan jelas. Aku melihat seseorang sedang menjahit. Aku sudah tidak berpikir lagi. Aku harus bicara dengan orang itu.

Seorang ibu berumur empat puluhan berkaos merah dengan sepasang kacamata terpasang di wajahnya asik menjahit. Suara mesih jahit mendesing memecah sunyi. Pelan kuucap salam.

"Ibu, maaf... permisi. Saya mau tanya Bu..."

Si ibu setengah kaget dan langsung menghentikan aktifitasnya. Beliau mengangkat wajahnya. Bingung menatapku karena beliau tidak kenal denganku.

"Iya Mba, ada apa ya???" Tatapannya menyelidik.

"Maaf Bu malam-malam begini... saya cuma mau tanya. Rumah joglo di depan itu ada penghuninya gak ya, Bu?"

"Kenapa memangnya, Mba?" Si Ibu terlihat semakin curiga dan menatapku tajam.

"Hhh..., saya terganggu Bu. Sejak kemarin malam, sekitar jam sembilam malam, sampai sekarang, seseorang dalam rumah itu menyetel radio. Gaduh bukan main. Saya gak bisa istirahat, Bu..." Semua meluncur lancar. Aku yakin, suaraku terdengar memelas. Aku sudah berada pada titik hopeless!

"Oooh... gitu!" Wajah Ibu itu terlihat melunak. Dia malah beranjak dari kursinya dan meninggalkan mesin jahitnya.

"Gini Mbak...," Dia menghentikan kalimatnya. Aku semakin penasaran.

"Iya, Bu? Kenapa? Ada orangnya gak ya Bu di rumah itu???" Aku mencecar tak sabar.

"Jadi Mba..., rumah itu hanya dihuni oleh satu orang pemuda..."

"Dia stres Mba..."


Aku bingung dengan jawaban tak terduga!
Apa???
Rumah itu dihuni laki-laki stres???

Padahal aku tidak menginginkan jawaban ini. Kalau dia stres, aku mau tidak mau harus menerima, harus memaklumi.

Tunggu, aku harus memastikan! Aku masih ingin jawaban lain. Siapa tahu aku cuma salah dengar, karena fisikku yang lelah sudah tidak tidur dua malam ini.
***

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Blog Entry[I] Rahasia Dibalik Dentuman Musik Rock itu!May 2, '08 12:26 PM
for everyone
Attention: Sebelum membaca seri ini, supaya paham konteksnya, silahkan baca jurnal saya yang DI SINI. Terima kasih.
=====================================================================

Malam sudah sempurna meluruhkan tirainya. Hening menyelimuti pelosok kampung. Tak terdengar lagi suara orang bercakap-cakap. Sepertinya semua telah lelap di peraduan masing-masing. Istirahat malam adalah sunnatullah, untuk membayar kelelahan berjibaku seharian penuh di kantor-kantor dan tempat lain untuk mengais rejeki atau menuntut ilmu.

Tapi..., sudah dua hari ini aku tak bisa lelap. Sudah kubaringkan tubuhku. Sudah kupejamkan mataku, tapi otakku tetap gelisah. Tak hanya karena deadline-deadline itu, tapi juga dentaman musik rock yang sangat mengganggu.  Menggetarkan seluruh ruang kamarku!

Aku menanggung derita polusi suara ini sejak kemarin malam!  Hingar-bingar yang tercipta lebih dari 24 jam lalu, nonstop. Orang edan seperti apakah yang melakukan kegilaan seperti ini? Sosok egois yang tak kukenal itu mulai memutar radionya sejak jam 9 malam kemarin. Sepertinya channel lagu-lagu rock. Karena hanya sesekali terdengar suara penyiar ngobrol, sisanya lengkingan senar gitar elektrik dan dentuman bass yang mencabik-cabik ketenangan kamarku.

Ini bukan yang pertama kali. Sudah yang kesekian kali semenjak aku kos di sini. Aku juga tidak tinggal diam, berpangku tangan. Waktu ibu kos mampir ke sini, aku memohon pada beliau,

"Ibu, saya sering sekali terganggu dengan tetangga sebelah yang sering kali menyetel musik rock. Kencangnya bukan main. Padahal pekerjaan saya menuntut ketenangan, Bu. Saya pikir anak-anak kos lain juga membutuhkan ketenangan"

Aku tahu, anak-anak kos lain mungkin tidak seterganggu aku, karena kamar-kamar mereka tidak tepat bersebelahan dengan penghuni rumah pembuat onar tersebut. Mungkin hanya terdengar sayup-sayup. Tapi tidak ada salahnya menyertakan anak kos lainnya. Toh semua juga butuh ketenangan sepertiku. Untuk menguatkan permintaan sederhanaku,

"Tolong, Bu, disampaikan ke Pak RT, saya sangat terganggu dan mohon yang bersangkutan ditegur," sambungku.

Ibu kos menjawab dengan keanggunan khas ningrat Jogja,

"Sabar aja Mba, gak setiap hari kan berisik begitu?" raut wajahnya memperlihatkan keberatan atas permintaanku. Entah apa alasannya. Haruskah aku tahu? Aku pikir itu bukan urusanku.

"Tapi Bu, saya butuh ketenangan, saya pikir anak kos lain juga begitu..."

"Yah, mau gimana lagi ya Mba, namanya juga anak kampung..."

Kalimatnya dibiarkan menggantung, aku menebak sambungannya dalam hati,

"Mba Ima kan numpang di sini." Duh, aku sudah menjatuhkan diriku ke jurang su'udzhon!

"Ya sudah, Mba Ima sabar saja dulu ya, nanti kalau kejadian lagi saya akan mengabari Pak RT deh" dan Ibu kos berlalu dari hadapanku.

Seperti inikah penyelesaiannya? Padahal yang aku butuhkan adalah berhentinya musik rock  membahana itu di malam hari. Aku pikir aku juga berhak atas ketenangan. Bukan hanya karena aku sudah membayar uang kos semata, tapi karena permintaanku sederhana!  Aku hanya memohon ketenangan di atas jam 10 malam sampai pagi. Apalagi jam wajib belajar di kampung-kampung di Jogjakarta setahuku diterapkan cukup bagus. Masak hanya menegur satu makhluk pembuat onar ini Pak RT dan Ibu kosku tidak sanggup?
***

Kejadian serupa ini pertama kali terjadi di pertengahan bulan Maret lalu, tapi hanya satu malam. Aku masih bisa bersabar dan menganggapnya sebagai 'selingan' hidupku. Lalu pertengahan April terjadi lagi. Aku masih bisa menahan diri, sambil menjejalkan musik-musik kesukaanku lewat headphone saat musik rock berkumandang! Tapi, Kejadian dua malam terakhir ini sudah menghabiskan sisa toleransiku! Secara fisik juga sudah sangat mengganggu. Aku jadi kurang tidur. Buntutnya panjang, aku jadi lemas, hilang mood seharian dan uring-uringan, pekerjaanku juga terganggu akhirnya. Aku harus melakukan sesuatu! Apapun yang akan terjadi!

Segera kusambar jilbabku dan bergegas membuka gerbang halaman. Setengah tergesa aku keluar pagar diiringi tatapan bingung si penjaga kos. Aku tak peduli. sambil  berjalan ke arah samping kanan kosku, aku menebak-nebak rumah manakah yang menjadi sumber pengganggu malam-malamku selama ini?

Perlahan, setengah ragu kulangkahkan kakiku. Tak sampai  lima menit aku sudah  sampai  di sebuah halaman yang luas. Sekarang aku bingung sendiri, karena ada tiga rumah yang berdiri tegak. Aku harus menentukan rumah yang mana.

Kupilih yang paling dekat dengan kamarku. Sebuah rumah bergaya joglo yang temaram. Hanya ada satu lampu kecil berwarna kuning yang pendar kelipnya tak mampu menerangi halamannya yang luas.

Pilihanku tak salah. Aku mendengar dentuman musik rock yang terdengar jelas! Pasti rumah ini, tak salah lagi! Aku yakin seyakinnya. Dalam gelap aku merasakan mulutku mengembangkan lengkung puas.

Perlahan tapi pasti aku mendekati rumah itu. Apa yang harus kulakukan ya? Kalimat apa yang akan kulontarkan ya? Aku sibuk menyusun kata-kata. Ah, mungkin ini,

"Maaf Mas, Pak, Bu, bisa tolong dikecilkan radionya? Ini bukan yang pertama dan saya sudah cukup sabar selama ini. Tapi sekarang saya punya banyak kerjaan yang menuntut ketenangan di malam hari. Suara gaduh yang Mas, Pak, Bu timbulkan sangat-sangat mengganggu saya, Terima kasih."

Ah sudahlah, gimana nanti saja! Yang penting aku bisa bertemu seseorang dalam rumah ini.

Sekarang langkah kakiku sudah mencapai pintu rumahnya. Rumahnya sangat gelap! Bahkan tirai yang menutupi jendela di sebelah pintu tidak membiaskan cahaya lampu sedikit pun. Aku jadi ragu-ragu mengetuk pintunya.

Setengah ragu, kuketukkan kunci kamarku ke jendela kaca bertirai itu. Kupikir suaranya cukup nyaring untuk menarik perhatian penghuni di dalamnya. Sekali... tak ada sahutan. Dua kali..., masih tak bergeming. Tiga kali, aku putus asa.
***

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Blog EntrySelalu Ada Sisi 'Gelap'Apr 24, '08 4:00 PM
for everyone
Tatkala kita menatap 'gemerlap' dan merasa silau
atas kehidupan seseorang
yang terlihat lebih makmur, lebih baik
, lebih bahagia
Kita merasa 'ingin' seperti dia juga
atau bahkan 'menjadi' dia!

Ketika kita menatap ke rumah sebelah atau seberang halaman kecil kita
rumput tetangga selaluuu terlihat lebih hijau di mata kita

Ketika kita melihat ke 'atas' langit bernama pergaulan dan interaksi sosial
Kita akan merasa kuraaaaaaaannnnnggggg terus!

Tapi pernahkah kita sejenak meluangkan waktu...
menepi dan berfikir
'diam' dan 'membacai' ayat-ayat semesta?
bahwa dalam kehidupan yang fana ini ada dua hal yang abadi:

Sisi tergelap,
dari orang yang kita kagumi, kita irikan, dan kita 'puja-puja' kelebihannya yang kasat mata, yang terliha terang sehingga menyilaukan mata kita, sesungguhnya menyimpan kegelapan yang Maha. Namun karena gelap, tentu saja ia tak nampak dan terhampar begitu saja di hadapan kita.

Ketakabadian yang niscaya abadi,
Apapun yang kita lihat dari seseorang dan membuat hati kita di dalam sana 'berbisik' iri, mengagumi secara berlebihan dan terlebih jadi mendorong hati kecil kita melakukan hal-hal tak pantas demi pemenuhan rasa kagum dan iri over kuota tersebut, semuanya adalah ketakabadian belaka yang dimiliki oleh seseorang itu.

Ketika sosok yang kita kagumi, kita dengki, kita puja, bahkan kita 'sakiti' karena rasa iri kita yang berlebihan, barangkali bahkan tanpa kita sadari sendiri:

Sesungguhnya suatu ketika bisa sakit, bisa jatuh bangkrut, bisa juga 'tergelincir' melakukan khilaf, bisa juga menangis, bisa juga punya segudang masalah, bisa juga punya hal-hal yang bahkan lebih buruk dari yang kita alami dan kita miliki.

Sisi ini adalah sisi tergelap milik seseorang! Persis seperti benda yang ditimpa sinar, selalu ada bayangan berwarna gelap. Sudah menjadi hukum alam, sunnatullah. Sisi yang membuat seseorang  sejatinya menjadi utuh sebagai manusia. Ketidaksempurnaan! Namun karena 'gelap' dia memang tak terlihat oleh kita. Kadang-kadang tak berhasil kita baca karena kita memang selalu mencondongkan diri pada sisi 'terang' yang menyilaukan dari orang tersebut...


Karenanya mari belajar menempatkan segala sesuatunya secara sederhana. Kalau kata Almarhum KH. AR. Fakhruddin,

"Dadi wong ki ojo gumunan..."

Didalamnya terkandung pesan kebijaksanaan, seperti yang diingatkan Nabi:

"Kullu umuurin ausathuhaa"

"Sebaik-baik perkara adalah yang ditengah-tengah"

Tulisan ini sesungguhnya mengajak diri saya sendiri untuk belajar menempatkan diri di'tengah-tengah'. Kalau toh ada rasa iri, kagum dan seterusnya, mudahan memacu saya untuk menjadi diri yang lebih baik. Mudahan tidak menjatuhkan saya ke jurang 'gelap' lainnya. Menambah daftar panjang sisi 'gelap' diri saya sendiri.

PS.
Ditulis dalam kondisi 'melamunkan' banyak hal, karena terbangun ditengah tidur yang gelisah. Untuk contact saya yang milad/ultah hari ini, saya ucapkan "Happy Milad, mudahan resolusi yang anda buat tahun ini, dimudahkan pencapaiannya oleh Sang Pemberi Usia dan Mimpi."

Blog EntryKartini dan SeremoniApr 20, '08 5:18 PM
for everyone
21 April 2008, hari ini...

Mengingatkanku kembali pada surat-surat Kartini yang dikirimkan untuk sahabatnya Stella Zeehandelaar, seorang pegawai muda kantor pos di Amsterdam  yang juga seorang kontributor untuk jurnal-jurnal di De Hollandsche Lelie.

Yang paling membekas dalam memoriku adalah potongan suratnya di bawah ini:

“Hidup ini patut kita hayati! Bagaimana kita mau menang kalau kita tidak berjuang lebih dahulu?”

“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”
***

Aku kadang bertanya-tanya, sudah kah sekolah-sekolah di Indonesia meminta siswanya membaca salah satu saja buku tentang Kartini secara utuh? Lalu diadakan lomba me-review pemikiran-pemikirannya yang sangat maju untuk ukuran zamannya itu, rentang 21 April 1879 sampai 17 September 1904. Agar anak muda penggiat bangsa bisa belajar pada jiwa 'tua' yang arif yang pernah hidup di bumi pertiwi 104 tahun lalu?

Daripada terjebak pada aktifitas seremonial tak berkesudahan seperti lomba berkebaya, lomba masak nasi goreng dan lomba-lomba artifisial lainnya, kenapa tak coba lebih mengenal sosok yang mati muda ini tapi sangat bijak dan visioner pemikirannya? Sosok yang ‘melawan’ feodalisme [tentu saja feodalisme budaya Jawa yang memang akut saat itu] dan 'pembodohan'  dengan caranya sendiri.

Sayangnya, sampai hari ini aku masih saja mengamati ritual yang sama menjelang dan ketika 21 April. Hampir-hampir dimana saja di seluruh negeri ini, Kartini ‘dipaksa’ mewujud dalam tubuh Kartini-Kartini cilik melalui balutan kebaya khasnya. Salon mendadak fully booked. Seperti kisah Shanti di jurnalnya, dia terpaksa naik sepeda berkilo-kilo meter jauhnya mencari tempat penyewaan seragam untuk anaknya, karena hampir semua busana daerah sudah dipesan jauh hari sebelumnya.

Tak terbayang olehku repotnya para orang tua harus mendandani anaknya, atau mengantri di salon, lalu mengantarkan ke sekolah. Berapa biaya yang harus dikeluarkan -yang sebenarnya bisa disalurkan untuk hal-hal yang lebih mendesak-yang kubayangkan Kartini pun pasti lebih setuju?

Belum lagi formalitas lainnya yang diselenggarakan oleh instansi-instansi pemerintahan yang sifatnya tidak esensial dan jauh dari kesan memaknai pemikiran dan semangat 'kesetaraan dan pemberdayaan perempuan' yang diusung Kartini.

Yang menjadi pertanyaanku, peringatan seperti inikah yang diinginkan Kartini?

Sayang beliau tidak bisa menjawab lagi, karena telah tenang di alam keabadian. Al Fatihah untuk Kartini.

Selamat memaknai kembali hari Kartini!


Blog EntrySayangilah Bumi...Apr 19, '08 4:33 PM
for everyone
[Laporan Selayang Pandang Menikmati Pameran KITA!! Japanese Artist Meet Indonesia]

Tempat pameran sangat luas. Kufikir sanggup menampung ribuan pengunjung yang mengalir menikmati karya seni kontemporer. Ruang-ruang yang disediakan cukup besar. Maklum, gedung yang dipakai adalah gedung ASRI tempo dulu.

Setelah berkeliling-keliling melihat aneka instalasi, aku mengambil kesimpulan bahwa seniman Jepang sangat-sangat concern pada isu penyelamatan bumi yang sudah semakin renta.

Ada seni instalasi barang-barang bekas yang diolah menjadi instrumen musik unik dan terdengar aneh karena semua alat bekas tumplek blek di situ [Sonton].

Ada Recycle Art berupa ikan raksasa. Site ini menyedot banyak pengunjung. Sebuah TV yang diletakkan di sisi ikan 'bekas bungkus household things' dinyalakan. TV ini memutar kepingan CD yang menuturkan kisah dibalik layar berupa ide, proses pembuatan dan percobaan menggunakan ikan daur ulang tersebut di atas sungai! Hei, ikan 'palsu' ini tidak sekedar bisa berlayar tegak, tapi juga bisa ditumpangi orang!

Di ruang ini orang ramai bersorak sorai begitu mereka melihat si seniman berhasil menaiki 'kapal' ikan daur ulangnya tanpa rebah di air. Sebuah karya seni yang sangat memperhitungkan ketepatan matematis walau terlihat sangat rapuh secara fisik.


Ada sebuah ruangan yang di-setting sebagai TPS [tempat pembuangan Sampah] dan tentu saja bau busuk menyergap hidung kita. Lagi-lagi isu yang diusung adalah environmental issues. Di depan tumpukan sampah  yang rata-rata merupakan plastik bekas bercampur segala macam 'buangan', diletakkanlah sebuah layar LCD raksasa dua buah, isinya menjelaskan 'kisah' sampah, para pemulung dan anak-anak muda Jepang yang berinteraksi dengan mereka.

Cuma aku kurang 'ngeh' dengan konsep instalasi ini karena perhatianku malah tersedot pada pada kerumunan kecil di sudut ruang itu dengan bunyi musik seperti mesin jahit. Ternyata layar TV tersebut mempertontonkan tatto Jelangkung. Jadi ada seorang seniman Jepang yang dibaringkan dan punggungnya dibiarkan terbuka lalu ditatto oleh teman-temannya beramai-ramai.

Si 'pesakitan' menjerit-jerit sementara mesin tatto juga melengking tanpa ampun menggoreskan jarumnya ke sekujur punggung si seniman. Ada sekitar 4 seniman yang bersama-sama memegang mesin tatto tersebut tanpa mereka sendiri mengerti apa yang mau di'lukis' oleh si roh jelangkung.

Hasilnya ternyata gambar sesosok tengkorak [kurang lebih begitu] dan serangkai kalimat Jepang. Aku gak bisa motret potonya karena manusia berkerumun di situ.

Kreatif sekali ya seniman Bali yang menjual 'ide' dan mitos jelangkung ini, mengawinkan rasa penasaran tentang 'permainan' jelangkung dengan keinginan turis untuk ditatto. Tatto Jelangkung! Ada-ada saja!

Ada angkringan.
Ini 'lucu' juga. Di meja angkringan [sepertinya sih ini angkringan juga apa bukan ya? Soalnya bentuknya seperti gerobak penjual rujak buah] disediakan lembaran kertas yang berisi pertanyaan kurang lebih begini:

"Saya menyapa dunia lewat masakan. Saya sedang melakukan penelitian tentang masakan-masakan yang dianggap paling populer sekaligus merakyat. Masakan apa yang anda sukai di Indonesia???"

Tentu saja dengan bersemangat aku menuliskan daftar masakan kesukaanku:
Bakso
Siomay
Martabak
Soto Banjar
Empek-empek,           
anda sendiri mau menambahkan? Datang saja ke KITA!!

Ada lukisan lumpur.
Aku suka sekali berlama-lama di sini.
Menikmati setiap detil.
Lukisannya beraliran dekoratif. Enak dipandang karena dia menggunakan warna alam. Seniman pembuatnya anak muda bernama Asai Yusuke kelahiran 1981 dari Prefektur Kanagawa. Konsep yang diusungnya berbeda dengan seniman lukis pada umumnya: Jika seniman lukis membutuhkan kanvas dan alat lukis berupa cat dan kuas. Maka Asai hanya membutuhkan alam dan semesta sebagai mediumnya. Sekaligus Asai menganggap bahwa berkesenian harus ramah pada mother earth.

Asai bilang, dia tidak merasa 'sakit hati' ketika lukisannya tidak bertahan lama, hilang atau terhapus karena medium yang dia gunakan adalah alam dan cat yang digunakan pun adalah alam [seperti tanah, lumpur, pewarna tumbuh-tumbuhan, selotip bekas, dan seterusnya]. Dia sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet kimia.

Buatnya, lukisannya adalah perayaan kecintaannya terhadap alam. Terdengar mengagumkan ya!

Semua informasi ini kudapatkan dari exhibition staff yang menyapaku saat aku asik memotret sana sini. Dia fikir aku wartawan. Aku bilang aja aku citizen journalist. Dan dia sukses mengernyitkan keningnya, huehehehe...

Terakhir, yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah koleksi pameran berupa ikan.

Ikan dari perairan Indonesia, hingga 'ikan' yang didatangkan dari Jepang.

Ikan yang dari Jepang terlihat sangat hidup karena keahlian seniman pembuatnya.

Suasana semakin terasa 'real' karena ikan-ikan dari perairan Indonesia itu diawetkan tanpa bahan pengawet kimia juga. Si seniman hanya menggunakan panas matahari sebagai alat pengering dan garam pengawet alami. Tentu saja bau amis menguar ke seluruh ruang dan udara yang kuhirup.

Begitu mataku menjauh dari ikan-ikan aneka jenis tersebut, hatiku mendesir!

Ada sesosok makhluk! Tubuhnya adalah tubuh manusia. Bertelanjang dan hanya memakai celana dalam fancy berwana kuning ngejreng dan sepatu boots berhak lancip berwarna senada!
Manusia ikan yang seksi!

Sekaligus sangat nyata.
Berulang kali aku menatap tak berkedip!

Perasaanku teraduk-aduk.
Antara ngeri, sedih bingung dan agak 'terhina' [kenapa harus ikan perempuan yang seksi? Kenapa gak Deni si manusia ikan yang laki-laki itu???].

Sampai-sampai aku bingung sendiri,
Ini jangan-jangan benar-benar manusia ikan yang ditemukan dan diawetkan, hiiiiiiiyyyyyyy!


'Dia' terkapar tak berdaya dan mati.
Sisa darah kering yang mengalir dari tubuhnya terlihat menyebar di berbagai titik.
Sangat mengenaskan kondisinya.

Saat menatap manusia ikan berupa perempuan 'cantik' ini,
aku mendadak 'hening' sejenak.
Membayangkan biota laut kita yang cantik-cantik di dasar laut sana...
perlahan tapi pasti semakin terancam kepunahan
karena ulah manusia-manusia serakah.

Sebuah repertoir gabungan keahlian beberapa seni yang mengagumkan!

Secara umum, aku puas! Aku seperti menikmati pameran-pameran di museum-museum Inggris. Hanya saja seluruh karyanya diangkut ke Jogja, hehehe...

Yang kuingat setiap kali mengunjungi museum di Inggris, museum di sana bukanlah ruang-ruang pamer tua yang sepi. Museum adalah benar-benar tempat di mana manusia bisa belajar banyak hal atas segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu dan sekarang.


Museum adalah sahabat jiwa yang berulang kali mengingatkan manusia pengunjungnya: jangan lupa pada sejarah dan cintai bumi dan isinya!

Dan KITA!! berhasil menyampaikan pesan itu kembali, setidaknya untukku!

Selamat kuucapkan untuk panitia KITA!! dan tentu saja untuk para seniman Jepang yang sudah berkarya menggunakan sumber daya alam yang ada di Indonesia.

Mudahan seniman Indonesia juga tak mau ketinggalan berkarya. Seni yang kreatif sekaligus environmentally friendly!

PS
Photonya silahkan meluncur ke album berjudul: Ada Manusia Ikan!!!

Photo AlbumAda Manusia Ikan! (14 photos)Apr 19, '08 3:00 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Laporan Photo Selepas Menghadiri Pembukaan KITA!! Japanese Artist Meet Indonesia.

Tempat pameran sangat luas. Kufikir sanggup menampung ribuan pengunjung yang mengalir menikmati karya seni. Ruang-ruang yang disediakan cukup besar. Maklum, gedung yang dipakai adalah gedung ASRI tempo dulu.

Setelah berkeliling-keliling melihat aneka instalasi, aku mengambil kesimpulan bahwa seniman Jepang s