| |
Imazahra's posts with tag: charity
 Jam 7 pagi tanggal 15 Juni teman-teman MP-ers yang berjanji akan ngumpul di kosku *sebagai basecamp* satu pun tak kunjung tiba. Aku malah sempat ngejurnal segala untuk menghilangkan deg-degan di dalam hati. Padahal kita semua bersepakat akan berangkat menuju lokasi outbond paling lambat jam 7.30. Waktu terasa berjalan semakin cepat... Oh iya, Ayi [id: dardiri] akhirnya menelponku pagi jam 6 tepat sesuai janjinya untuk membangunkanku. Aku mem ang sedang tak sholat, makanya meminta untuk dibangunkan. Huhuhu, sempat agak gak rela pas dibangunin Ayi, soalnya aku baru bobo sekitar dua jam. Entah apa saja yang kukerjakan malam sebelumnya, intinya aku baru terlelap jelang jam 4 Subuh. Gegas mandi dan berganti pakaian, lalu membuka laptop dan bikin jurnal akhir seb agai checklist semua tetek bengek. Kelar ngejurnal, Ibunya Mba Yanti yang jadi penjaga kos kami memanggilku, "Mba Ima, temannya sudah datang tuh." FYI, beberapa hari sebelumnya aku sudah memberitahu penjaga kos untuk maklum jika pagi tanggal 15 akan terjadi keributan kecil dan mohon maaf jika mengganggu kenyamanan penghuni kos lainnya. Hebaaaaaaat, yang pertama muncul adalah si Ayi dan Jeng Imoy [id: duniamaya]. Pyuh, syukurlah, soalnya Jeng Imoy ini yang akan jadi Master of Ceremony keseluruhan acara hari itu. Saking linglungnya aku pagi itu, aku kelupaan untuk memesankan satu hal, harusnya ada sesi perkenalan MP-ers dengan adik-adik panti sebelum acara outbond dimulai, untuk menghilangkan kekakuan berinteraksi tentunya. Sesi ini sesungguhnya memegang peranan sangat-sangat penting tapi sungguh aku LUPAAAAAAAAA!!! Maafkan aku ya sahabat MP-ers yang sudah datang semua. *Ima mukulin kepala sendiri, kesal dan kecewa sama diri sendiri* Tak lama, HPku berbunyi, sms dari Sovie: "Mba, aku barengan dengan Nati ya, tunggu ya Mba ^_^ Manusia dan motornya masih mau makan." Tak lama berselang setelah sms kuterima, 15 menitan kemudian Sovie [id: iwananashaya] dan temannya yang imut-imut banget [ Nati namanya, entah sudah punya MP apa belum ya?] tiba di gerbang kos. Kusambut dan kupersilahkan duduk menunggu yang lain. Sekitar 10 menit berlalu, Icha datang dengan temannya!!! (Siapa nama temanmu Cha, udah lupa lagi, huhuhu, dasar Ima nenek pikun!) Horey, akhirnya bisa ketemuan juga untuk pertama kalinya dengan pemilik ID nulisaja ini. Icha ini baru saja pulang dari Korea dalam rangka pertukaran mahasiswa. Aku suka banget baca jurnal-jurnalnya Icha, rame dan mengalir. From her blog, I conclude that she is not only mature, but also smart and contemplative person! Boleh dibilang aku suka terkagum-kagum baca jurnalnya Icha. Rasanya ketika aku seumur dia, pemikiranku belum 'sedalam' Icha. Hihihi...sungai kaleee... Kesan setelah ketemuan, Icha ternyata agak pendiam ya, hehehe... Icha sayang, ketemuan lagi yuk :-) Tak terasa, sudah jam 7.30 lebih. Kuminta Jeng Imoy dan Ayi segera berangkat saja, kalau tidak acaranya bakal molor gak karuan, mengingat adik-adik panti sudah kupesan untuk datang sebelum jam delapan tepat. Aku ingin setepat mungkin acara dimulai, supaya banyak jenis aktifitas yang bisa dinikmati hari ini. Jeng Imoy dan Ayi meluncur ke SD IT Nurul Islam dan aku meng-sms Mba Vanny, menanyakan dimana posisi beliau sekarang. Sekaligus minta tolong untuk membawa tikar jika beliau punya. Sms balasan pun masuk, "Ya ampun, aku baru baca sms ini yang minta dibawain tikar. Baru mo berangkat dari rumah. Maaf ada kendala teknis.  Tunggu ya."  Pasti kita tunggu, karena semua barang sumbangan berikut tas-tas sekolah dan goodiebag adik-adik itu akan diangkut oleh Mba Vanny dengan mobil beliau. Akhirnya Mba Vanny menelponku! Sekitar jam 8 pagi, "Ima, di mana kosmu?" Aku langsung berlari keluar pagar sembari memberikan instruksi dimana tepatnya kosku berada. Tak sampai 2 menit Mba Vanny dan Mas Tatang suami beliau dan si cantik Icha (juga namanya) sudah kelu ar dari mobil dan gegas ke kamarku mengangkut semua barang. Sayangnya adegan angkut dan gotong bersama ini tak sempat kuabadikan, akunya sudah panik duluan mengingat waktu yang terus berjalan. Begitu mobil meluncur setengah perjalanan, sms Shant [id: myshant] masuk, "Ima, aku sudah di SDIT Nurul Islam. Katanya mau tepat dimulai jam 8 pagi, kok belum sampai juga, Im?" kurang lebih seperti itu smsnya. Aku agak feeling guilty, tapi mau bagaimana lagi. Aku juga salah sih, bukannya meminta salah satu dari MP-ers untuk berangkat belakangan dan menyerahkan kunci kamarku, aku malah memilih menunggu Mba Vanny dan suami. Uh, sepagi itu aku merutuk diri, kok tulalit makin menjadi!!! Sms Imoy tak lama masuk, kurang lebih begini: "Mba Ima, kita sudah sampai lokasi. Adik-adik juga sudah di sini, kok Pak Irman sebagai instruktur Outbond belum datang ya???" Wah, aku tambah panik dong dapat sms begitu. Untungnya suami Mba Vanny adalah teman Pak Irman juga, jadi beliau segera menelpon Pak Irman. Ternyata oh ternyata, beliau sudah ada di lokasi outbond sejak jam 7 pagi. Tapi..., karena tak melihat satu pun batang hidung MP-ers atau adik-adik panti, si bapak memilih pulang ke rumah. "Perut saya mules Pak Tatang, jadi saya pulang saja dulu." Kurang lebih begitu. Hahahaha, jadi pagi ini semua orang main kucing-kucingan rupanya. Anyway, lega banget akhirnya nyampe juga di lokasi sekitar jam 9-an. Begitu turun dari mobil, kulihat Imoy yang sedang mengatur adik-adik. nametag juga sudah dipasang di baju masing-masing. Pagi itu Mba Tinnie Basuki [id: tinniebasuki] berikut suami dan dua anak beliau juga sudah datang. Mba Tinnie terlihat bersemangat dan cerah dengan jilbab putih dan baju biru bermotif bunga-bunga. Icha [id: nulisaja] dan temannya, Sovie [id: iwananashaya] dan Nati, lalu Shant [id: myshant], Mas Alan [rauffy] dan tentu saja dua MP-ers cilik, Mas Iyog dan Dek Bram lucu :-) Ada juga MP-er yang jarang nongol dan kupaksa datang, si Rizal [id: rizalihadi]. Oh iya, kita juga kedatangan tamu istimewa dari Jakarta looooooo, Jeng Yelli [id: ydiani] yang konon hanya mau datang sebentar dan jam 11 kudu meluncur kondangan ke Graha Sabha. Mari kita lihat, apakah jeng satu ini tak tergoda untuk bermain di arena outbond??? Jeng Yelli datang bersama Mas Zulhanif [id: zulhanif] yang sayangnya sampai kedua orang ini pergi aku tidak sadar sama sekali kalau mas yang selalu bersama Yelly itu adalah Mas Zulhanif. Ih, Ima kacau banget dah!!! Untuk Mas Zulhanif, nyuwun ngapunten nggih, Mas... dimaafkankah aku??? Mas juga sih, sama sekali gak ngajak aku kenalan. Akunya kan sudah autis, walaupun jerit-jerit, tapi otakku statusnya sudah OFF! Huhuhuhu... Hem, siapa lagi ya yang sudah muncul pagi itu sebelum pembukaan? Please, kalau ada nama yang tertinggal kusebut, silahkan reply di bawah. Kalau Stanlie, Cinung dan Mba Wiwit emang datang saat permainan sesi pertama tengah berlangsung. Sayang Mba Wiwit gak bisa ikutan bergabung, suami beliau sedang tak enak badan katanya. Mudahan sekarang sudah baikan ya Mba :-) Andai Mba bergabung, wah gak kebayang deh! Keknya Mba Wiwit bakal sama lincahnya seperti duo ituw! Hu  huhu... kemarin seru banget, banyak ibu-ibu hebat dan jago outbond ternyata, ck ck ck... *Ima melirik-lirik Shant dan Mba Tinnie sambil goyang-goyang kepala saking takjubnya!* Pak Irman akhirnya tiba. Pyuh, aku lega!!! Setelah pembukaan sesaat dipandu oleh Imoy [id: duniamaya dan aku sempat diminta menjelaskan konteks acara ini dan tentu saja tak lupa menyampaikan ke adik-adik bahwa acara ini terselenggara berkat dukungan dan support dana dari MP-ers di seluruh dunia, MC pun menyerahkan acara outbond ke Pak Irman sepenuhnya. Saat membuka acara, sempat terjadi dialog begini, "Multiply itu jejaring maya adik adik." Uhm..., si Ima berfikir di dalam hati. Apa ya bahasa sederhananya jejaring maya? "Uhm, begini adik-adik, Multiply itu adalah sebuah rumah raksasa dimana banyak orang di seluruh penjuru dunia bisa saling bertemu, berkenalan dan interaksi. Adik-adik tau internet kan?" "Tahuuuuuuuuuuuuuuuuuuu...!!!" Mereka menjawab serempak. "Nah, kami bertemu di internet. Kami saling bertukar kabar dan cerita, lalu kami membuat kesepakatan dan saling bahu membahu untuk menyelenggarakan acara ini untuk adik-adik..." Kutatap mereka dan kulihat mata-mata mereka membulat karena rasa penasaran, hehehe... "Jadi, adik-adik pun bisa mengenal teman-teman baru di seluruh dunia, lewat interaksi di Multiply ini..." Teteuppppp, si Ima promosi MP, hahaha... Terakhir, sedikit sambutan itu kututup dengan kalimat di bawah ini, "Selamat bermain sekaligus belajar bersama ya adik-adik. Besok pagi ada yang ujian kan? Jadi pulang dari outbond ini, adik-adik harus janji pada kakak-kakak Multiply, untuk tetap belajar nanti malam, persiapan ujian besok pagi! Janji ya???" Kulihat masing-masing mereka menganggukkan kepalanya kencang-kencang! *** Oke, sampe sini dulu, entar disambung lagi kalau tangannya sudah gak pegal-pegal, hihihi... Untuk mengobati rasa penasaran wujud acara hari itu, silahkan lihat album -album di bawah ini:1. Outbond MP-ers Jogja dengan Adik-adik Panti Korban Kebakaran dan Bencana Alam2. 15/6/08, yogya day 2 :-)3. Outbound dan Baksos bersama MP-ers4. Rangkaian Ber-Outbond Ria5. Makanan di OutbondPoto dariku menyusul ya, soalnya aku motret sedikit sekali, kemarin itu aku sedang "autis" dan "off status" sepanjang hari..., silahkan nikmati poto-poto di link atas ^_^
Whuaaaaaaaaaaa...! Terhitung sejak jurnal pasca survey kutulis tanggal 11 Juni lalu, akhirnya sampai juga pada hari ini. Wow! Tidak pernah kuduga. Berangkat dari ide yang sangat sederhana akhirnya menjadi seperti sekarang ini. MP networking memang LUAR BIASA!!! Teknologi internet dan jejaring maya menciptakan jutaan kemungkinan tak tertuga! Setelah posting poto di sini, Alhamdulillah dana juga perlahan mengalir dan mencapai puncaknya pada hari Jum'at kemarin. Terima kasih sahabat semua. Perlu diingat, kalau sahabat MP ingin tetap menyalurkan dana zakat, shadaqoh dan hadiahnya, aku insyaAllah akan tetap menyalurkan pasca Outbond hari ini. Untuk meminimalisir kekacauan di hari H, kemarin pagi aku menyusun check list di bawah ini: 1. Acara tetap akan berjalan sesuai Rundown yang direvisi terakhir kali, tapi tidak ketat dan mengikat. Sampai hari ini saya belum sempat survey, Alhamdulillah Mba Tinnie telah menjelaskan ulang jadwal acara kita sesuai yang saya cantumkan di jurnal pada Pak Irman. Status = Checked!2. Konsumsi. Kemarin malam saya masih berjuang keras mencari catering yang mau prasmanan sederhana, belasan nomor saya hubungi, hasilnya nihil. Alasan ngotot pingin prasmanan saja, supaya makanan gak mubazir, kan kalau nasibox *pengalaman baksos berkali-kali* kalau adik-adik gak suka isinya, terus dibuang begitu saja. Sayang kan... Akhirnya jam 24.00 kemarin malam itu juga, masalah catering terpecahkan Alhamdulillah. Jadi daftar menunya adalah: - Nasi
- Sayur Capcay sederhana dan Oseng-oseng Buncis Tempe
- Ayam Goreng Tepung
- Ikan dibumbu (terserah ibunya, aku bingung, hehehe...)
- Krupuk
Harga dibandrol 500 ribu untuk porsi sekitar 70 orang. Cukup ya sahabat??? Kan anak-anak makannya gak sebanyak orang dewasa kan? Status = checked!3. Air aqua, sesuai saran Shanti, aku telah mengisi galon air di kos. Lalu untuk tambahan, kemarin malam aku juga telah membeli air aqua kotakan. sebanyak 3 box. Status = Checked!4. Tumpengan insyaAllah tetap jadi, hihihi..., soale ternyata ada MP-er yang ngebettttt banget pingin makan tumpeng, hihihi... bukan aku pastinya :-) *hayo yang ngerasa ngacung* hihihi... Status = Checked!5. Snack pagi sekitar jam 9-10 an insyaAllah telah disiapkan oleh Mba Wiwit tersayang :-) Jazakillah Mbakyu :-p Alhamdulillah Jum'at malam Mba Rhien juga menyatakan mau ikutan menyumbang snack katanya. Alhamdulillah :-) Jadi ceritanya potluck menu nih, Alhamdulillah banget :-) Status = Checked!6. Mobil akhirnya dapat juga, dari Mba Vanny- tersayang, uhuy! Legaaaaaaaaaa banget! Soalnya sempat ketar ketir soal mobil ini, ihiks :-( Makasih ya Mba, Gusti Allah sing balas. Status = Checked! 7. PR-ku tinggal beli isi goodiebag yang kurang, sesuai saran teh Ari yang biasa belanja goodiebag, aku disarankan untuk menambah isi dengan membelikan bedak, sikat gigi, susu, tas sekolah dan snack. Akhirnya rencana satu ini baru terlaksana kemarin siang (14 Juni 2008). Kita menunda membeli untuk melihat isi goodie bag apa saja yang sudah dibelikan oleh teman-teman MP-ers lainnya. Biar tidak dobel-dobel isinya. Terbukti, ada manfaatnya, karena Ekape dan Uwie2099 menyumbangkan 30 buah bungkus snack aneka isi. Lucu-lucu loh kemasannya, aku yang dewasa saja kepingin, apalagi adik-adik itu ya  Rute belanjaku kemarin dengan Sovie (dengan hanya naik motor loh ya dan wira wiri karena tangan dan kemampuan kami membawa barang sangat-sangat terbatas): - Ke Pasar Beringharjo (membeli 23 aneka tas disesuaikan dengan usia dan sekolah adik-adik panti). Status = Checked!
- Ke Progo dan toko Inti Sari Kusumanegara (memilah dan membeli 100 buah wadah styrofoam dan sendok). Wah pas bagian ini lucu, aku coba menenteng pas motor melaju kencang, styrofoam box-nya berkibar-kibar tanpa ampun, hahaha... Status = Checked!
- Membeli isi goodiebag yang belum dibeli oleh penyumbang (laporan ini menyusul ya detil lengkapnya!). Kami kemarin akhirnya meluncur ke berbagai pusat grosir dan memantapkan hati belanja di Makro. Huhuhu..., baru tahu kalau di sana gak disediakan plastik sama sekali. Akhirnya 10 ball pembalut diikat tali rafia dan digantung di bahu kiri kanan Sovie. Wow, adegan yang sungguh-sungguh lucu sekaligus mengharukan. Andai ada yang memoto Sovie sang 'perkasa' kemarin itu, hihihi... *peaceeeeeeeeeee Sovie* :-p
- Membeli isi aqua galon dan 3 box aqua gelas, karena aqua botolnya mahal euy!
Pyuh, akhirnya selesai juga belanjanya kita. Mudahan tidak ada yang terlewat. Hihihi, soalnya saking bingungnya dua hari lalu terjadi peristiwa sungguh memalukan, saking amnesianya aku! Sovie membuktikannya sendiri dan ketawa ngikik bersamaku. Niat mau ngecek sumbangan ke Bank Mandiri dan BNI, yang ada malah nyungsep di halaman Bank BCA jalan Solo, kacauuuuuuuu!!!  Timbunan barang di kamarku sungguh menggunung dan aku panik melihat semuanya. Huaaaaaaa, kapan unpack, repack dan merapikan semuanya? Tulang-tulang rasa-rasanya sudah berlolosan dari tubuhku *hiperbol* Tapi iya kok, melihat gunungan barang-barang berserakan di kamar, membuatku tak bernafsu mengeksekusi semuanya. Saat di Alfa, aku dan Sovie 'gerilya' mencari pertolongan untuk pekerjaan selanjutnya itu. Alhamdulillah! Eka dan Uwie bersedia ke kosku. Yippie, setelah sekitar 2 jam-an berjibaku, goodiebag sumbangan dari MP-ers semua menjadi sangat cantik, rapi dan siap dibagikan pada adik-adik kita. Photo-photo kerajinan tangan Eka dan Uwie menyusul yaaa... Setelah Eka dan Uwie meluncur pulang ke Condong Catur nun jauh di sana, aku baru teringat satu hal! Belum menyiapkan hadiah untuk pemenang outbond! Whuaaaaaaaaa...! Karena Eka sudah gak tega melihat dan mendengar suaraku yang lemas, ihiks, mereka berdua pagi-pagi ini akan meluncur ke Sunday Morning membereskan satu bagian yang terlupa! Makasih ya adinda berdua. I owe both of you, ihiks, terharu... Oh iya, sekedar informasi, Teh Ari (srisariningdiyah) juga setuju kalau acara ini dijadikan sebagai acara ULTAHnya MP Indonesia, soalnya kan MP Indonesia memang ultahnya di bulan April kemarin... Okey MP-ers Jogja dan sekitar, let's have fun together with the orphanage See you all on the spot this morning! Semua yang bisa datang, seluruh MP-ers tak terkecuali, diundang ke sini: SDIT Alam Nurul Islam Jl. Ring Road Barat Pundung Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta
Waktu: Jam 08.00 pagi sampai selesai, hari Minggu, 15 Juni 2008 PS. Kok MP-ers Jogja belum berdatangan juga ya, whuaaaaa, jangan molor dong, ihiks! (Ditulis di kamar kos pagi ini saat menunggu MP-ers).
Teman-teman, khususnya MP-ers Jogja dan sekitarnya, ini susunan acara yang barusan dibuat oleh Jeng Imoy [duniamaya]. Silahkan dilihat dan dikomentari ya. Beliau sudah menelpon pihak penyelenggara Outbond. Semakin pagi katanya semakin bagus. Segar dan sehat. Kita semua bakal 'bergerak lincah' di darat dan air loh ya, jadi jangan lupa bawa baju ganti, okey... Lalu, tolong di bawahnya di-reply jika anda bersedia hadir, karena ini terkait erat dengan konsumsi dan tetek bengeknya, ok! Oh iya, kita hanya sanggup bayar satu paket, yaitu untuk 25 orang dewasa dan 25 anak-anak panti. Jadi, kalau teman-teman yang mau ikutan 'bermain' saat outbond, sangat-sangat dianjurkan untuk ikutan nyumbang, gak mahal kok, per kepala hanya dimintai tambahan 25 ribu perak saja! Silahkan uangnya diserahkan pas hari H atau ditransfer ke rekening Mandiri yang ada di halaman sebelah. Terima kasih.
LOKASI DAN WAKTU OUTBOND:
Tempat: SDIT Alam Nurul IslamJl. Ring Road Barat Pundung Nogotirto Gamping Sleman YogyakartaWaktu: Jam 08.00 pagi hari Minggu, 15 Juni 2008*** RUNDOWN acara BERBAGI dengan ADIK-ADIK PANTI PUTRI (KORBAN BENCANA ALAM)
| WAKTU | DURASI | KEGIATAN | PIC | KETERANGAN | | | | | | | | 07.00 - 08.00 | 60' | panitia kumpul di kos Ima-otw to venue | panita prepare dgn job desk masing2 | property games, goodie bag, konsumsi pagi | | | | | | tumpengan, kamera | | 07.15 - 07.55 | 35' | adik2 berdatangan | MC ready | sound, mike ready | | 08.00 - 08.10 | 15' | sambutan | Ima | sound, mike ready | | 08.15 - 08.30 | 15' | make a group | pengarahan dan persiapan outbound | peralatan ready | | | | konsumsi di bagikan | sie konsumsi | | | 08.30 - 09.30 | 60' | games 1 - FUN GAMES | MC / leader outbound | property games 1 ready & pencatatan pemenang | | 09.30 - 10.30 | 60' | games 2 - LOW IMPACT | MC / leader outbound | property games 2 ready & pencatatan pemenang | | 10.30 - 11.30 | 60' | games 3 - FUN GAMES | MC / leader outbound | property games 3 ready & pencatatan pemenang | | 11.30 - 12.30 | 60' | games 4 - LOW IMPACT | MC / leader outbound | property games 4 ready & pencatatan pemenang | | 12.30 - 13.00 | 30' | games 5 - HIGH IMPACT | MC / leader outbound | property games 5 ready & pencatatan pemenang | | | | cad games untuk adek2 saat yg lain g.5 | MC / sie acara | property games cad ready & pencatatan pemenang | | 13.00 - 13.30 | 30' | GAISO (ganti istirahat sholat) =D | all | ganti baju basah basah basah & sholat | | 13.30 - 14.00 | 30' | tumpengan | MC | foto session dong | | 14.00 - 14.20 | 20' | pembagian goodie bag | sie acara | foto session dong | | 14.20 | | penutupan | MC | | Okey, sementara ini dulu, j urnal ini akan terus saya update seiring perkembangan di lapangan. Oh iya, bagi yang bisa bawa mobil, tolong konfirm di sini juga, soalnya ada beberapa MP-ers yang mau join tapi gak punya transportasi sama sekali.Please please, kerjasama semuanya, terima kasih 
Eits, jangan lupa, cantumkan nama anda jika ingin ikut serta! Ini terkait erat dengan pemesanan konsumsi soalnya, huhuhu... Ya ini dia daftarnya: 1. duniamaya 2. imazahra 3. ardhanamesvari [sepaket dengan suami dan Variiiiiiiiiiiiiii!] 4. iwananashaya 5. Nati (temannya Sovi) 6. dardiri 7. myshant [dan baby Bram, hiiiiiiiiiiiy, gemes!] 8. rauffy 9. yogiswara 10. nulissaja (Icha)11. zulhanif 12. tinniebasuki (sepaket dengan suami dan dua anak-anaknya= 4 orang) 13. iwananashaya 14. rachmasafitri 15. jahewangi 16. nymediana (sepaket bersama suami dan anak) 17. ekape (jadi ngajak teman-temannya gak, Eka?) 18. inimona 19. keluargafasril (2 orang dewasa dan 2 anak-anak) 20. Wahyu [adiknya Titin yang model itu loh, hihihi...] 21. Dyah (temannya Titin Jepang) 22. ekape 23. uwie2099 24. ...... ayo siapa nyusul??? PS.Untuk melihat jurnal dan album terkait silahkan jenguk halaman-halaman di bawah ini:1. Aku Ingin Berbagi, Mau Ikutan??? (Sekaligus Kopdar MP-ers Jogja dan Sekitarnya)2. Sepotong Niat untuk Jogja3. UPDATE "BERBAGI: Hasil Survey, Candi Ratu Boko atau Outbond di Gamping?5. Album hasil survey: Inilah Wajah Adik-Adik Kita (Korban Bencana Alam dari Seluruh Indonesia) O iya, tolong di link ya jadwal acara "MP-er Berbagi" ini, mana tahu kontak teman-teman tertarik bergabung di acara: "Bergembira Sambil Beramal" ini :-)PS.Photo di'culik' dari SINI.
|  | Sepulang dari rumah Shant, aku 'terbang' menuju Panti Asuhan Putri Korban Gempa Bumi dan Kebakaran di daerah Sonayan, Madurejo, Prambanan. Kurang lebih 20 kilometer dari jantung Jogjakarta.
Sempat berkali-kali bertanya dan alhamdulillah sampai juga ke Panti Putra. Setelah melihat-lihat dan mengobrol dengan pengurus Panti, hatiku berbisik kuat,
"Aku harus survey ke Panti Putri!"
Bapak pengurus yang ramah menjelaskan rutenya dan Alhamdulillah tak sampai 15 menit kami sudah sampai di Panti Putri. Bangunannya berwarna hijau, warna yang padu dengan hijaunya pepohonan di sekeliling panti. Menyejukkan mata.
Belum sempat kuketuk pintu panti, sang pengurus sudah membukakan untukku. Beliau tersenyum. Saya dipersilahkan masuk.
Baru sesaat masuk, hatiku langsung berdenyut! Dari luar terlihat bersahaja, rapi dan bersih. Begitu masuk ke ruang tamu, pemandangan yang menghampar di depan mataku membuatku sesak dan mendesakkan rasa tak nyaman hingga rongga mulutku. Aku tak kuasa berucap. Sesaat aku "hening" dalam rasa tak bertuan!
Adik-adik sekitar 6 orang sedang tidur nyenyak tanpa kasur, tanpa bantal, hanya beralaskan karpet kusut tua dan sungguh berbau apek. Sesaat setelah berdamai dengan hatiku, kubuka mulut,
"Maaf, Mas, kenapa adik-adik ini tidur siang di sini? Gak ada kamar ya?"
"Bukan gak ada kamar Mba, kamarnya ada, tapi rumah penampungan ini tak cukup besar untuk menampung 23 anak. Jadi ya seadanya seperti ini"
Duh, hatiku terluka.
"Sejak kapan adik-adik ini tinggal di sini, Mas?"
"Sejak Panti mereka sedikit rusak karena gempa dan tak lama berselang panti kami kebakaran."
"Oh, musibah beruntun ya, Mas? Kalau boleh tahu penyebabnya apa ya?"
"Iya, Mba. Cuma panti kami di Sleman itu memang sudah sangat tua rumahnya. Rumah itu dibangun tahun 1972, jadi kemungkinan ada kabel listrik yang putus lalu menyebabkan kebakaran."
Aku semakin menyelami lara mereka.
"Sekarang, di tempat ini sudah berapa lama? Boleh saya lihat kamar-kamarnya dan saya poto?"
"Kami tinggal di sini pasca gempa Jogja. Sudah dua tahun. Alhamdulillah ada seorang dokter baik hati bersedia membangunkan panti baru untuk kami, setelah beliau menjenguk penampungan sementara ini. InsyaAllah akhir tahun kami mudahan bisa pindah dari sini. Do'akan saja, Mba... Ya beginilah adanya, Mba. Kita harus bersabar menerima apapun keadaan kita. Hidup harus terus dilanjutkan. Yang penting, anak-anak ini tak putus sekolahnya."
Tak terasa kuangguk-anggukkan kepala. Tanpa suara.
"Oh iya, adik-adik di sini pendidikannya apa saja ya?"
"TK 1 anak, SD dari kelas 1 sampai kelas 6 masing-masing satu anak, SMP 3 anak dan SMA 5 anak. Kami berharap ada donatur atau orang tua asuh yang akan bersedia membiayai pendidikan kelima anak kami yang sebentar lagi akan menuju universitas atau minimal kuliah di pendidikan kejuruan. Alhamdulillah anak-anak kami ini berprestasi semua."
"Silahkan, Mba kalau mau melihat-lihat," sembari Mas Triyono membukakan salah satu pintu yang katanya menuju kamar.
Begitu pintu dibuka, terasa sesuatu mengambang di pelupuk mata. Aku terlempar pada masa kecilku yang prihatin. Mirip tapi kondisi mereka jauh lebih parah! Kalau dulu kami berdesak-desakan di sebuah rumah sangat sempit dan harus berbagi dengan ketujuh adik-adikku, sekarang aku menyaksikan lagi putaran film itu, tapi lebih lara. Lebih tabah. Lebih prihatin. Lebih nestapa. Lebih melarat.
Saat kaki kulangkahkan masuk melewati pintu, di kegelapan ruangan berukuran sekitar 4 X 6 meter itu, dadaku seperti tumpah!
Karung beras bergeletakan di sisi kiri pintu kamar. Kemungkinan sumbangan warga sekitar yang punya sawah. Gelantungan baju-baju ditata sembarangan. Tas-tas sederhana tergantung diantara tiang gantungan baju, dibelakangnya rak buku dari kayu muda yang digantung di dinding retak seperti hampir menjerit karena disesaki buku-buku. Mungkin buku pelajaran adik-adik itu.
Kulayangkan mata ke arah adik-adik, mereka sedang tidur lelap bergelimpangan. Aku tak tega memotret mereka walau sudah minta izin pada Mas Triyono. Tunggu sampai mereka bangun dulu.
Kuayun kaki menuju kamar mandi di pojok kamar. Cukup besar tapi sungguh tua dan maaf, seperti kamar mandi di terminal-terminal bus! Tak usah kuteruskan ya deskripsinya, silahkan lihat sendiri potonya.
Saat aku memalingkan wajah dan mengangkat kameraku untuk memoto suasana kamar, adik-adik itu satu persatu bangun. Salah satunya membuka pintu. Eh salah! Bukan pintu! Setelah mataku normal melihat sekeliling setelah sebelumnya terbiasa dengan kegelapan. Aku menahan nafas!
Ternyata ini ruangan GARASI!!!
Ya, lebih tepatnya ini adalah garasi yang disulap menjadi kamar karena keterdesakan keadaan. Mereka tidak punya banyak kamar, hingga garasi ini pun menjadi kamar mereka.
Sungguh, ingin kupeluk mereka satu persatu dan kubisikkan kata-kata:
"Yang tabah ya, Dik, Allah akan bangunkan istana indah di surgaNya kelak jika adik-adik bersabar."
Setelah pintu garasi dibuka, mereka menatapku bersahabat. Wajah-wajahnya kulihat penuh rasa ingin tahu.
Kusapa mereka,
"Maaf ya, Dek. mba moto-moto kamar kalian. Untuk dokumentasi dan laporan."
"Dokumentasi itu apa, Mba?" tanya salah seorang diantara mereka. Sepertinya masih SD kelas 1.
"Dokumentasi itu proses pengumpulan bukti dan keterangan untuk suatu keperluan. Kan kita besok tanggal 15 mau bergembira bersama. Nah biayanya datang dari beberapa penyumbang, jadi Mba harus memoto biar para penyumbang di seluruh dunia melihat kamar adik-adik dan mudahan ada yang bisa nyumbang lebih banyak lagi. Biar adik-adik bisa segera pindah ke rumah yang..., yang... lebih... baik dari ini."
Sungguh, saat menjelaskan itu, airmataku hampir runtuh! Aku hampir saja terpeleset mengatakan kamar mereka tidak layak huni. Tapi alarm pemilihan kataku langsung mengingatkan, "kata-kata itu jangan digunakan, bisa melukai hati adik-adik itu."
"Dek, mau kupoto??? Nanti potonya Mba taruh di internet. Biar adik-adik disapa oleh tante dan om di seluruh dunia," ujarku pelan sambil tersenyum.
"Mau, mauuuuuu..."
Serentak mereka bergerak cepat dan mulai merapikan kasur-kasur busa yang rombeng dan sudah sobek dimana-mana itu. Mereka tumpuk jadi satu lalu mereka duduki bersama-sama.
Semua menyunggingkan senyumnya yang paling manis, walau baru saja bangun tidur. Duh, hatiku semakin biru...
"Oh iya, adik-adik ini darimana saja?"
"Kami ada yang dari Fakfak-Papua ada dua orang, lalu Lampung, lalu ada yang dari Aceh, juga dari Nias dan Bantul. Pokoknya kami semua berasal dari daerah yang terkena musibah akibat gempa bumi dan tsunami."
"Ooooooh..."
Aku hanya sanggup ber-oh oh mendengarkan penjelasan salah satu dari mereka. Mereka semua yatim, bahkan ada beberapa yang sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Bibirku kelu, sampai-sampai lupa menanyakan nama mereka satu persatu. Aku jeri!
"Dek, kalau adik-adik dikasih buku cerita, bakal dibaca gak?"
"Dibacaaaaaaaa Mba, kami semua suka membaca!" jawab salah satu dari mereka sumringah.
"InsyaAllah ya, nanti Mba usahakan buku-buku itu. Ayo senyum yang manis, biar banyak yang mau kirim buku cerita untuk adik-adik."
Tiba-tiba aku teringat obrolanku barusan dengan Mas Triyono, beliau bilang, adik-adik ini sudah lama gak jalan-jalan. Mereka senang sekali waktu ada donatur asing yang mengajak mereka outbond ke Tawangmangu. Mas Tri sempat mengusulkan ide outbond atau piknik saja supaya adik-adik ini merasakan keluar dari daerah mereka, dan terutama menghirup udara segar diluar kamar-kamar mereka yang pengap dan gelap.
"Dek, besok itu kan Mba dan teman-teman lainnya mau syukuran di rumah ini. Mau tumpengan dan berbagi kado dengan adik-adik. Mau enggak? Atau adik-adik pingin yang lain? Seperti piknik atau outbond? Tadi kata Pak Triyono adik-adik baru sekali ya jalan-jalan, tahun 2007 lalu?"
Malu-malu salah seorang dari mereka menjawab, "Kami milih outbond atau piknik saja, Mba" sambil diiringi anggukan keras dari yang lainnya. Duh..., berarti rencana semula harus kurubah lagi...
Semula rencana awalnya kami cukup bertamu ke panti, makan tumpeng bersama-sama lalu membagikan goodie bag dan bingkisan-bingkisan untuk panti. Tapi kondisi real mereka membuatku berpikir keras!
Ah, harus kutanyakan ke teman-teman yang mau ikutan bergabung. Satu orang sudah kukontak, duniamaya dan beliau bersedia menjadi tim kreatif untuk merancang permainan sederhana untuk adik-adik ini.
Duh, sudah panjang saja jurnal kali ini, silahkan teman-teman lihat sendiri kondisi real adik-adik panti di bawah ini: |
 Sepulang dari rumah Shant, aku 'terbang' menuju Panti Asuhan Putri Korban Gempa Bumi dan Kebakaran di daerah Sonayan, Madurejo, Prambanan. Kurang lebih 20 kilometer dari jantung Jogjakarta. Sempat berkali-kali bertanya dan alhamdulillah sampai juga ke Panti Putra. Setelah melihat-lihat dan mengobrol dengan pengurus Panti, hatiku berbisik kuat, "Aku harus survey ke Panti Putri!" Bapak pengurus yang ramah menjelaskan rutenya dan Alhamdulillah tak sampai 15 menit kami sudah sampai di Panti Putri. Bangunannya berwarna hijau, warna yang padu dengan hijaunya pepohonan di sekeliling panti. Menyejukkan mata. Belum sempat kuketuk pintu panti, sang pengurus sudah membukakan untukku. Beliau tersenyum. Saya dipersilahkan masuk. Baru sesaat masuk, hatiku langsung berdenyut! Dari luar terlihat bersahaja, rapi dan bersih. Begitu masuk ke ruang tamu, pemandangan yang menghampar di depan mataku membuatku sesak dan mendesakkan rasa tak nyaman hingga rongga mulutku. Aku tak kuasa berucap. Sesaat aku "hening" dalam rasa tak bertuan! Adik-adik sekitar 6 orang sedang tidur nyenyak tanpa kasur, tanpa bantal, hanya beralaskan karpet kusut tua dan sungguh berbau apek. Sesaat setelah berdamai dengan hatiku, kubuka mulut, "Maaf, Mas, kenapa adik-adik ini tidur siang di sini? Gak ada kamar ya?" "Bukan gak ada kamar Mba, kamarnya ada, tapi rumah penampungan ini tak cukup besar untuk menampung 23 anak. Jadi ya seadanya seperti ini" Duh, hatiku terluka. "Sejak kapan adik-adik ini tinggal di sini, Mas?" "Sejak Panti mereka sedikit rusak karena gempa dan tak lama berselang panti kami kebakaran." "Oh, musibah beruntun ya, Mas? Kalau boleh tahu penyebabnya apa ya?" "Iya, Mba. Cuma panti kami di Sleman itu memang sudah sangat tua rumahnya. Rumah itu dibangun tahun 1972, jadi kemungkinan ada kabel listrik yang putus lalu menyebabkan kebakaran." Aku semakin menyelami lara mereka. "Sekarang, di tempat ini sudah berapa lama? Boleh saya lihat kamar-kamarnya dan saya poto?" "Kami tinggal di sini pasca gempa Jogja. Sudah dua tahun. Alhamdulillah ada seorang dokter baik hati bersedia membangunkan panti baru untuk kami, setelah beliau menjenguk penampungan sementara ini. InsyaAllah akhir tahun kami mudahan bisa pindah dari sini. Do'akan saja, Mba... Ya beginilah adanya, Mba. Kita harus bersabar menerima apapun keadaan kita. Hidup harus terus dilanjutkan. Yang penting, anak-anak ini tak putus sekolahnya." Tak terasa kuangguk-anggukkan kepala. Tanpa suara. "Oh iya, adik-adik di sini pendidikannya apa saja ya?" "TK 1 anak, SD dari kelas 1 sampai kelas 6 masing-masing satu anak, SMP 3 anak dan SMA 5 anak. Kami berharap ada donatur atau orang tua asuh yang akan bersedia membiayai pendidikan kelima anak kami yang sebentar lagi akan menuju universitas atau minimal kuliah di pendidikan kejuruan. Alhamdulillah anak-anak kami ini berprestasi semua." "Silahkan, Mba kalau mau melihat-lihat," sembari Mas Triyono membukakan salah satu pintu yang katanya menuju kamar. Begitu pintu dibuka, terasa sesuatu mengambang di pelupuk mata. Aku terlempar pada masa kecilku yang prihatin. Mirip tapi kondisi mereka jauh lebih parah! Kalau dulu kami berdesak-desakan di sebuah rumah sangat sempit dan harus berbagi dengan ketujuh adik-adikku, sekarang aku menyaksikan lagi putaran film itu, tapi lebih lara. Lebih tabah. Lebih prihatin. Lebih nestapa. Lebih melarat. Saat kaki kulangkahkan masuk melewati pintu, di kegelapan ruangan berukuran sekitar 4 X 6 meter itu, dadaku seperti tumpah! Karung beras bergeletakan di sisi kiri pintu kamar. Kemungkinan sumbangan warga sekitar yang punya sawah. Gelantungan baju-baju ditata sembarangan. Tas-tas sederhana tergantung diantara tiang gantungan baju, dibelakangnya rak buku dari kayu muda yang digantung di dinding retak seperti hampir menjerit karena disesaki buku-buku. Mungkin buku pelajaran adik-adik itu. Kulayangkan mata ke arah adik-adik, mereka sedang tidur lelap bergelimpangan. Aku tak tega memotret mereka walau sudah minta izin pada Mas Triyono. Tunggu sampai mereka bangun dulu. Kuayun kaki menuju kamar mandi di pojok kamar. Cukup besar tapi sungguh tua dan maaf, seperti kamar mandi di terminal-terminal bus! Tak usah kuteruskan ya deskripsinya, silahkan lihat sendiri potonya. Saat aku memalingkan wajah dan mengangkat kameraku untuk memoto suasana kamar, adik-adik itu satu persatu bangun. Salah satunya membuka pintu. Eh salah! Bukan pintu! Setelah mataku normal melihat sekeliling setelah sebelumnya terbiasa dengan kegelapan. Aku menahan nafas! Ternyata ini ruangan GARASI!!!Ya, lebih tepatnya ini adalah garasi yang disulap menjadi kamar karena keterdesakan keadaan. Mereka tidak punya banyak kamar, hingga garasi ini pun menjadi kamar mereka. Sungguh, ingin kupeluk mereka satu persatu dan kubisikkan kata-kata: "Yang tabah ya, Dik, Allah akan bangunkan istana indah di surgaNya kelak jika adik-adik bersabar." Setelah pintu garasi dibuka, mereka menatapku bersahabat. Wajah-wajahnya kulihat penuh rasa ingin tahu. Kusapa mereka, "Maaf ya, Dek. mba moto-moto kamar kalian. Untuk dokumentasi dan laporan." "Dokumentasi itu apa, Mba?" tanya salah seorang diantara mereka. Sepertinya masih SD kelas 1. "Dokumentasi itu proses pengumpulan bukti dan keterangan untuk suatu keperluan. Kan kita besok tanggal 15 mau bergembira bersama. Nah biayanya datang dari beberapa penyumbang, jadi Mba harus memoto biar para penyumbang di seluruh dunia melihat kamar adik-adik dan mudahan ada yang bisa nyumbang lebih banyak lagi. Biar adik-adik bisa segera pindah ke rumah yang..., yang... lebih... baik dari ini." Sungguh, saat menjelaskan itu, airmataku hampir runtuh! Aku hampir saja terpeleset mengatakan kamar mereka tidak layak huni. Tapi alarm pemilihan kataku langsung mengingatkan, "kata-kata itu jangan digunakan, bisa melukai hati adik-adik itu." "Dek, mau kupoto??? Nanti potonya Mba taruh di internet. Biar adik-adik disapa oleh tante dan om di seluruh dunia," ujarku pelan sambil tersenyum. "Mau, mauuuuuu..." Serentak mereka bergerak cepat dan mulai merapikan kasur-kasur busa yang rombeng dan sudah sobek dimana-mana itu. Mereka tumpuk jadi satu lalu mereka duduki bersama-sama. Semua menyunggingkan senyumnya yang paling manis, walau baru saja bangun tidur. Duh, hatiku semakin biru... "Oh iya, adik-adik ini darimana saja?" "Kami ada yang dari Fakfak-Papua ada dua orang, lalu Lampung, lalu ada yang dari Aceh, juga dari Nias dan Bantul. Pokoknya kami semua berasal dari daerah yang terkena musibah akibat gempa bumi dan tsunami." "Ooooooh..." Aku hanya sanggup ber-oh oh mendengarkan penjelasan salah satu dari mereka. Mereka semua yatim, bahkan ada beberapa yang sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Bibirku kelu, sampai-sampai lupa menanyakan nama mereka satu persatu. Aku jeri! "Dek, kalau adik-adik dikasih buku cerita, bakal dibaca gak?" "Dibacaaaaaaaa Mba, kami semua suka membaca!" jawab salah satu dari mereka sumringah. "InsyaAllah ya, nanti Mba usahakan buku-buku itu. Ayo senyum yang manis, biar banyak yang mau kirim buku cerita untuk adik-adik." Tiba-tiba aku teringat obrolanku barusan dengan Mas Triyono, beliau bilang, adik-adik ini sudah lama gak jalan-jalan. Mereka senang sekali waktu ada donatur asing yang mengajak mereka outbond ke Tawangmangu. Mas Tri sempat mengusulkan ide outbond atau piknik saja supaya adik-adik ini merasakan keluar dari daerah mereka, dan terutama menghirup udara segar diluar kamar-kamar mereka yang pengap dan gelap. "Dek, besok itu kan Mba dan teman-teman lainnya mau syukuran di rumah ini. Mau tumpengan dan berbagi kado dengan adik-adik. Mau enggak? Atau adik-adik pingin yang lain? Seperti piknik atau outbond? Tadi kata Pak Triyono adik-adik baru sekali ya jalan-jalan, tahun 2007 lalu?" Malu-malu salah seorang dari mereka menjawab, "Kami milih outbond atau piknik saja, Mba" sambil diiringi anggukan keras dari yang lainnya. Duh..., berarti rencana semula harus kurubah lagi... Semula rencana awalnya kami cukup bertamu ke panti, makan tumpeng bersama-sama lalu membagikan goodie bag dan bingkisan-bingkisan untuk panti. Tapi kondisi real mereka membuatku berpikir keras! Ah, harus kutanyakan ke teman-teman yang mau ikutan bergabung. Satu orang sudah kukontak, duniamaya dan beliau bersedia menjadi tim kreatif untuk merancang permainan sederhana untuk adik-adik ini. Duh, sudah panjang saja jurnal kali ini, silahkan teman-teman lihat sendiri kondisi real adik-adik panti di album poto ini. ==================================================================== Berdasar survey di atas, setelah kasak kusuk tadi malam dengan beberapa MP-ers, kita putuskan panti inilah yang akan kita datangi. Berdasar hasil survey juga, kita tidak jadi tumpengan dan berbagi di panti mereka. Adik-adik kita ingiiiinnnnnn sekali diajak jalan-jalan. Setelah saya telpon Jeng Imoy [duniamaya], beliau bersedia menjadi koordinator tim kreatif untuk menciptakan beberapa permainan sederhana untuk adik-adik.
Lokasinya insyaAllah tidak begitu jauh dari Panti, yaitu Candi Ratu Boko [hasil usulan Mba Tita -ID: suluhpratita- thanks idenya, Mba :-)
UPDATE LAGI!!!
Lokasi 'bermain' di Candi Ratu Boko dibatalkan! Alhamdulillah kita malah dapat penawaran OUTBOND dengan harga miring!!! Tuhan itu Maha Segala ya, baru saja beberapa jam lalu aku ketar ketir, sekarang sudah agak legaan, pyuuuuh!!!
Sementara ini dulu ya. Oh iya, di bawah ini update sumbangan berupa uang yang sudah masuk ke rekening saya:
1. SIS/Jogja : 100.000 2. ENK /Surabaya : 200.000 3. ADS/Jakarta : 200.000 4. UDN/Jakarta : 200.000 5. QKN/Australia : 150.000 6. UTPI/Jakarta : 100.000 7. NATJ/Ternate : 50.000 8. EVND/Jakarta : 150.000 9. ZLHF/Jogjakarta : 300.000 10. IFNLS/Jakarta : 350.000 11. LLYH/Belgia :716000 [disesuaikan dengan nilai tukar hari ini, 1 euro=14320] 12. TIBSI/Jogjakarta : 150.000 13. AFHN/Benelux : 284.600 13. INVC/ Jakarta : 150.000 14. WND/ Bandung : 300.000 15. TTNF/ Jepang : 200.000 16. ABRTT/ USA : 250.000 17. CMMN/ Cairo :500.000 18. WWD&NRL/Jakarta : 200.00019. MTIN/ Jakarta : 200.00020. SNT/ Depok : 100.00021. RINT/ Depok :150.00022. EKP&UW/ Jogja : 100.00023. SNT-ALR/ Jogja : 150.000 24. VNY-TTG/ Jogja :100.000 25. ICNN / Jogjakarta : 50.000 26. MYDM/ Jateng :300.000 27. ...siapa menyusul ingin santuni adik-adik yatim???
Sedangkan goodie bag, buku bekas, baju pantas pakai atau sumbangan dalam bentuk fisik lainnya yang sudah konfirm dan akan diantar di bawah ini:
1. ARYN/Bandung : Buku cerita anak-anak 2. KFRR/Jogja : 4 pak buku tulis dan snack-snack 3. TPH /Jogja : buku alat tulis, selimut, alat bersih2 dkk[diantar Kamis] 4. AMW/Jogja : Snack untuk outbond
Data sumbangan akan diupdate terus ya teman-teman 
Yang jadi pertanyaan besarku sekarang adalah, kalau kita acaranya pindah ke Candi Ratu Boko, kira-kira enaknya mulai jam berapa? Pihak panti sendiri flexsibel saja.
Di sisi lain, ada masukan baru dari Mba Tinnie Basuki, ada paket outbond komplit-plit cukup murah di Kaliurang sana, sekitar 1 juta-an sudah bisa untuk 50 anak. Alias hanya 20 ribu perak per-anak. Yang jadi pertanyaanku, gimana ngatur susunan acaranya yak? huhuhu..., Jeng Imoy help me!
Pihak panti barusan kutelpon, jawabannya:
"Mba, kami tidak menerima uang sumbangan cash enggak apa-apa, soalnya anak-anak ini sudah lama gak jalan-jalan sembari bermain. Mereka pernah dapat free outbond dan senang bukan main, semangat belajar setelah outbond juga meningkat drastis."
Whuaaa, sekarang aku yang kebingungan, huhuhu... Mohon masukannya ya teman-teman. Thanks a lot! =============================================================================== Berhubung banyak yang menanyakan nomor rekeningku, kupajang di sini untuk sementara ya:
1. Atas nama Fatimah Bank Mandiri No Rekening: 031-00-0545787-7
2. Atas nama Zaiyan Ahyadi Bank BNI No Rekening: 0129502358
3. Atas nama Rizali Hadi Bank BCA No Rekening: 0372701917
Buat teman-teman yang sudah mengirimkan bantuan, please please konfirm di sini atau PM saya, biar rapi dan jelas nih pertanggung-jawaban keuangannya.
 Tak terasa aku menapak kepala tiga. Seperti baru kemarin aku belajar membaca-menulis! Aaah waktu, begitu cepat berlari... Alhamdulillah aku masih diberiNya kesehatan, rizki, cinta dan kasih sayang dari sahabat dan semesta. Tak putus kuucap Alhamdulillah atas perjalanan hidupku selama ini. Duka derita yang kukecap tidak sebanding dengan Kasih SayangNya yang tercurah untukku. Alhamdulillah... Jujur, di keluarga kami tidak ada tradisi merayakan ulang tahun. Kembali mengenang masa kecilku dulu, saat itu, jangankan memikirkan perayaan ulang tahun, memikirkan uang makan sehari-hari saja kami sekeluarga sangat-sangat kesulitan. Allah menguji Abahku, beliau benar-benar sedang terpuruk, jatuh bangkrut. Sejak kanakku, aku hanya tahu perayaan ulang tahun teman-temanku. Ulang tahun kawan-kawanku identik dengan meniup lilin, memotong kue dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun, lalu mendapatkan puluhan hadiah dibungkus kertas warna warni memikat mata kanak kami. Tapi aku sendiri dan ketujuh adik-adikku sampai kami besar-besar, belum pernah sekalipun merayakannya. Apalagi Abah kami sering bilang, "Merayakan ultah adalah tradisi jahiliyah." Ya sudah, Ima kecil dan adik-adiknya bisa menerima itu semua dengan lapang dada. Walau yang namanya anak kecil, sekali-kali rasa iri menyala di hati kanakku, hehehe... namanya juga anak-anak ya  Sekarang, setelah aku Alhamdulillah punya sedikit penghasilan pun, tetap saja pesta ulang tahun itu tidak pernah ada. Kami diajarkan oleh Abah untuk berpuasa di hari milad kami masing-masing. Apakah ada tumpengan atau masak-masak besar untuk syukuran di rumah kami? Tidak, itu juga tidak ada. Soalnya Abah belum pernah mengingat ulang tahun anak-anaknya secara spesial. Mungkin kami keluarga kolot dan tradisional sekali ya :-) Tapi kami tidak kehilangan kegembiraan, karena tepat di hari lahir, biasanya yang ingat dan mengucapkan doa-doa adalah kami sesama saudara kandung dan tiri, hihihi... Tak apa, toh buatku milad bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan apalagi sampai menghambur-hamburkan uang. Buatku, milad adalah momentum untuk mengevaluasi diri, "Sudah seberapa besarkah keberadaanku di dunia ini bermanfaat bagi sesama?" Sebagaimana Sang Nabi Mulia mengingatkan , " Khairunnas anfa'uhum linnas!" "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain." Dengan mengusung semangat kemanfaatan itu, mohon maaf, aku tidak berencana mentraktir teman-teman semua di cafe atau restoran mana gitu, [hehehe, soalnya ada yang tanya], khususnya teman-teman MP-ers Jogja, gak papa ya :-) Tapi... Ada tapinya nih, hehehe... Aku mengajak teman-teman khususnya MP-ers Jogja, untuk bersama-sama berbagi kasih sayang [ada sedikit tabungan yang kupunya] ke sebuah panti kecil dan sangat membutuhkan uluran bantuan tangan kita. Aku pikir, di saat harga-harga sedang melonjak naik, tak ada salahnya kita kurangi bersenang-senang secara pribadi, tapi kita salurkan yang kita miliki untuk berbagi. InsyaAllah aku ingin silaturahmi ke Panti Asuhan di Imogiri, Bantul. Tepatnya hari Minggu tanggal 15 Juni besok. Tempat masih tentatif ya, jadwal saja yang fixed! Kok jauh? Iya, soalnya panti asuhan di dalam Jogja sudah lumayan banyak dermawannya, jadi kali ini kudu menyisir pinggiran Jogja. Gak papa kan? Ada yang mau ikutan menambah-nambah isi goodie bag??? Sekalian saja dijadikan ajang baksosnya MP-ers, boleh kan? Darling Shant sih sudah mengacungkan tangan, insyaAllah dia sekeluarga akan join :-) Silahkan PM aku ya kalau mau ikutan berbagi, boleh uang, boleh berupa isi goodie bag atau apa saja yang berguna untuk adik-adik :-) Eh, ajakan ini juga boleh dilink ya, aku akan senang sekali :-) =========================================================================== UPDATE:
Belum juga beberapa jam berlalu sejak jurnal ini kutulis, ternyata reaksi keluarga besar MP-ers Subhanallah mengagumkan. Sejauh ini yang mau mentransfer dana, buku bahkan isi goodiebag terdaftar di bawah ini ya: 1. Ardhanamesvari, insyaAllah berupa isi goodiebag 2. Ngrejekeni, insyaAllah sejumlah uang 3. Arynsis, insyaAllah berupa buku cerita anak-anak 4. Winda, insyaAllah sejumlah uang 5. Eva_nda2 insyaAllah sejumlah uang 6. Teh Tina di Jeddah insyaAllah sejumlah uang 7. Mba Tita insyaAllah goodiebag or uang 8. Sovie insyaAllah ikutan juga 9. Siapa menyusul??? Akan saya update terus ya :-) Hiks, terharu banget. Sampai speechless! Ayo yang jadi penulis atau kerja di penerbitan, boleh loh nyumbang buku-buku. Pas lagi dengan jelang tahun ajaran baru, Alhamdulillah. Nanti total nominal akan saya umumkan juga di sini. Sedikit-sedikit kan jadi bukit. InsyaAllah, berlomba-lomba dalam kebajikan ya :-)
Saat melangkahkan kaki menapaki trotoar dalam perjalanan pulang menuju rumah, pikiranku sering terbang! Aku suka sekali melamunkan berbagai hal yang sudah kualami seharian ini. Entah kenapa, pikiranku kali ini melayang ke masalah-masalah besar yang sedang menimpa hidupku. Masalah pekerjaan, masa depanku, rumah tangga, adik-adikku, keluarga besarku dan seterusnya. Tak henti aku menarik napas. Berkali-kali. Berat dan sesak! Kalau tidak ingat bahwa aku masih punya Allah dan bisa mengadu padaNya, rasanya semua sudah tak tertanggungkan lagi. Sekitar satu kilometer lagi dari rumahku, aku mendadak berhenti di toko circle 24 hours. Ada plang ATM Mandiri tertulis besar-besar. Seingatku, uangku tinggal satu lembar dua puluh ribu saja. Aku melangkah masuk ke dalam toko dan berencana mengambil uang sebanyak dua ratus ribu. Sebanyak itu biasanya untuk ongkos transportasi, makan dan kebutuhan sehari-hari selama kurang lebih seminggu. Sampai di dalam, kumasukkan ATM card dan kuikuti petunjuk yang terpampang di layar monitor. Begitu kartu dikeluarkan dan kusambut, mesinnya meninggalkan pesan, “For this moment, the card cannot be processed” Duh, lagi-lagi anjungan tunai Mandiri out of service alias tidak sedang online. Dengan bibir sedikit tertekuk, aku menuju pintu keluar. Tanpa bisa kucegah, mulutku bergerak, “Mba, Mandiri kok suka gini ya? Out of service lagi ya Mba?” “Oh, bukan Mba! Uangnya habis, baru saja!” Akhirnya aku Cuma bisa ber “Ooo” saja. Agak kesal, tapi mau bagaimana lagi? Pelan kulangkahkan kaki ke luar. Angin malam pukul 10 kembali menderaku. Kesalku seperti melayang diterbangkan angin yang sayup-sayup menghembus. Kuteruskan perjalanan. Tiba-tiba saja, di depan mataku, tepatnya di sisi kanan trotoar, beberapa gelandangan tidur tak beralaskan apapun di undakan tangga-tangga toko di sisi kananku. Mereka pulas beratapkan langit terbuka. Ini bukan pemandangan tak biasa. Adegan seperti ini bertebaran di seantero kota ini. Saking banyaknya, belas kasih di hati ku pun tercerabut. Sudah terbiasa. Sepertinya jumlah gelandangan semakin banyak saja di negeri ini, seiring pertumbuhan ekonomi kata para ekonom ahli di Jakarta. Tapi, gelandangan di sisi kananku kali ini membuatku tercenung! Aku tadi resah bukan main karena uang di dompetku tinggal dua puluh ribu, sementara mereka? Resah kah mereka akan kehidupan mereka esok hari? Pernah kah mereka berfikir bahwa tidur beratap langit bukanlah sebuah pilihan hidup yang layak? Mereka bisa digerogoti paru-paru basah dan bahkan bagi gelandangan perempuan ada ancaman kekerasan seksual! Sambil berjalan, sesekali mataku melirik iba pada mereka. Tapi akal sehatku menolakku untuk menitipkan sedikit uang yang kupunya pada mereka. Mereka kan bisa berusaha! Karena malas saja mereka jadi gelandangan. Lihat, mereka punya organ tubuh lengkap! Gegas kuayun kaki lebih cepat. Seakan aku ingin mengenyahkan pemandangan nestapa yang tidak memberi kelezatan pada hatiku. Kurang dari tiga ratus meter menuju gang rumah, mataku tertumbuk pada seorang pemulung. Dia hanyalah seorang anak berumur belasan. Kulitnya legam, tangannya hitam, rambutnya awut-awutan dan bajunya kotor berjelaga, seperti tidak pernah dicuci. Dia sibuk mengais-ngais sampah di sisi trotoar. Sambil tangannya juga sesekali mengatur tumpukan plastik dalam becak tua di sisinya. Kakiku melangkah persis di sampingnya. Mendadak aku merasakan hatiku yang ‘sakit’ sekaligus tersentuh. Tapi aku abaikan sekuat tenaga! Malah semakin gegas kuayun langkah kakiku menuju pertigaan jalan besar. Entah kenapa, tiba-tiba ada sebuah ‘tenaga raksasa’, menghentikan langkahku! Sampai-sampai aku hampir terjatuh. Ada yang melecut di dalam ‘sana’. Perih…! Dalam keremangan cahaya, perlahan kubuka dompetku. Aku menatap dan menghitung uang di dalamnya. Ada enam lembar ribuan dan satu lembar sepuluh ribu. Bukan dua puluh ribu seperti yang kukira. Aku sibuk menimbang-nimbang, “Uangku tinggal segini!” “ATM sedang out of service!” “Besok aku belum tentu sempat pergi ke ATM karena aku akan sibuk seharian!” “Pagi aku gak bisa beli sarapan dong?” Masih banyak tanya lain mendadak memenuhi rongga kepala…! Peperangan dalam hati ini harus kuakhiri. Sekarang atau tidak sama sekali! Tanganku gemetar meraih semua yang ada dalam dompet. Bismillah…, aku segera membalikkan badan! Dan…, aku terpana! Si pemulung muda tadi sudah tidak ada. Padahal aku hanya berdebat sepersekian detik dengan jiwaku yang tamak! Kesempatanku melayang… sama seperti hembusan angin malam. Datang dan pergi begitu saja. Hanya beberapa detik. Saat itu kurasakan badanku betul-betul gemetar. Aku merasa gagal dalam ujianNya. Bersedekah dalam situasi ‘berat’. Nanar kulemparkan mataku sejauh mungkin. Lurus ke depan. Tanganku menggengam erat uang yang rencananya akan kuserahkan. Dalam gelap tanpa kusadari kakiku berlari kecil. Menyusuri jalanan yang sama ke arah becak pemulung tadi menghadap. Sementara jiwaku larut dalam rasa ‘kalah’ yang mencabik… Aku benar-benar malu dengan diriku sendiri! Pemulung anak-anak dan becaknya tadi sudah tidak ada. Sekitar tiga ratus meter kususuri jalanan, tapi dia sudah hilang. Seperti hantu malam. Muncul mendadak, dan menghilang juga mendadak! Kubalikkan tubuhku penuh sesal sembari kucerca kerdilnya jiwaku. Aku masih saja perhitungan dalam harta yang sesungguhnya hanya titipan Allah. Aku bukan lah siapa-siapa. Betapa sombongnya aku selama ini, yang merasa sudah banyak beramal dan disiplin berzakat. Tapi ketika diberikanNya kesempatan, tetap saja aku ‘kalah’. Gegas kutarik langkahku. Aku ingin segera sampai ke rumah. Lalu semua tiba-tiba terhampar begitu saja! Tiga ratus meter dari rumahku, persis di tempat yang sama! Bukan, bukan anak dekil itu! Tapi seorang bapak kurus dan berwajah bersih. Dia dengan becak yang sama, penuh sampah! Mendadak dadaku berdebar. Diam-diam aku berdoa, Ya Allah, ini bukan mimpi kan? Izinkan hambaMu… Dalam diam kakiku beranjak mendekat dan tanganku terulur. Jantungku berdetak keras, “Permisi Pak, maaf, ini saya punya sedikit, jangan dilihat jumlahnya tapi mohon diterima…” Aku yakin senyumku mengembang tulus. Sang bapak kulihat tertegun dan menatapku bingung. Pelan kudekatkan tanganku ke tangannya. Dia menyambutnya. Aku hampir menangis pada detik itu. Hampir saja kesempatan ini melayang! “Terima kasih, Nak. Saya…, saya doakan mudahan apa-apa yang Anak cita-citakan berhasil,” matanya kulihat berkaca-kaca. Dia seperti ingin mengucap sesuatu, tapi seperti tak kuasa. Padahal dia hanya menerima sedikit saja. Tapi kulihat selaksa syukur menyembul di wajah bercahayanya. “InsyaAllah, Pak. Mari saling mendoakan ya Pak, untuk kebaikan kita semua,” senyumku semakin lebar saja. Aku sudah tidak peduli apakah bapak itu ada hubungannya dengan anak belasan tahun tadi? Bahkan aku yang biasanya suka melontar tanya sudah tidak berminat mengajukan rasa penasaran. Ada buncah bahagia yang bergejolak. Ada kesejukan yang mendadak membasahi rongga dadaku. Rasa ini sudah lebih dari cukup. Aku betul-betul bersyukur. Allah seperti memberiku pelajaran berharga! Untuk tidak terlalu berhitung dengan ukuran duniawi, karena deraan batin lah yang akan kuterima akibat penyesalan ukhrowi. [Seperti yang dituturkan seorang kawan]
Sahabat, masih inget jurnalku yang INI kan ^_^Nah, izinkan aku update daftar peserta dari MP-ers yang menyatakan akan hadir pada acara baksos kita yang bertema: JANGAN MENYERAH PADA KEMISKINAN tanggal 6 besok. Itung-itung bantuin kerjaannya Mas Sabri dan teman-teman sekalian ngomporin teman-teman MP lainnya supaya tertarik datang. Kita tak sekedar kopdar akbar loh, tapi juga beramal, karena uang pendaftaran juga akan digunakan untuk menyantuni adik-adik jalanan dan yatim piatu yang hadir. Kita juga berbagi tawa dan senyum ceria bersama adik-adik itu.Inilah daftar nama teman-teman yang sudah menyatakan niatnya untuk menghadirkan hati dan dirinya, lalu kita sebut sebagai MPers volunteer.Voluntir MPers yang mau dateng + membayar untuk buka puasa Rp. 50.000,- (1 orang MPers membayari 1 orang adik yang disantuni): - Sabri (PJ) - brecs, --> 50.000,- (cash)
- istri, --> 50.000,- (cash)
- Yessi -bujes,
- Prazz - prazz,
- Ciput - ciput,
- Nozqa - nozqa,
- Pritha - pinkq,
- Vera - verans,
- Ari - srisariningdiyah, --> 50.000,- (cash)
- Noval - masopang,
- Tina - tehmanis,
- Ira - skipped,
- Hanum - noem,
- Ira - prajuritkecil,
- Eti - etika, --> 50.000,- (BCA)
- Ade - juzzddey,
- Evi - evgarf,
- Maddy - maddypunyacerita,
- Laras - larashi,
- Nahar - kopiradix,
- Agung - mbot,
- Icha - haorits,
- Yelli - ydiani,
- Icha - lifevolution,
- Ita - greyskymorning,
- Ndaru - ghaya, --> 50.000,- (BCA)
- Tomi - wisat,
- Faiz - masfaiz,
- Helvy - helvytr,
- Asma Nadia - anadia,
- Tita - suluhpratita,
- Inggrid - gried,
- Iman - imansoe,
- Agung P. - agungpramudya,
- Deddy K. - deku,
- Eriq - menhariq,
- Hayat - hayat,
- Edo - edoaprianto,
- Fetry - fetryz,
- Firman - spyro23,
- Hani - honeyz19, --> 50.000,- (cash)
- Fitri - fithab,
- Trizya - trizyalempicka,
- Brilli - brilli,
- Cekar - cekar, --> 50.000,- (BCA)
- Denny - dotten,
- wayofbluesky,
- masdhim,
- muylinda,
- adelloodel,
- Ayu - ayunieka,
- Givang - givangkara,
- Anna - cindil,
- Chika - putrihakim,
- Sofwan - kalipaksi,
- Sansan - ochayank,
- Ima - imazahra, --> 50.000,- (cash)
- Tety - teezone,
- Lena - lenakei,
- Wirdayanti - Wirdayanti,
- Indro - arsenalnumberonefans, --> 50.000,- (cash)
- Maya - h2co4borneo76,
- Ina - cenitcenit,
- Aty - atyrahman, --> 50.000,- (BCA)
- Ewien - ewienanggun, --> 50.000,- (BCA)
- Dyah - dyru, --> 50.000,- (Mandiri)
- Arief - ariefabo --> 50.000,- (Mandiri)
- Evi - evfar --> 50.000,- (cash)
- ...
INFO LENGKAPNYA SILA BUKA JURNAL TERBARU TEH ARI YA DI SINI!
Susunan acaranya sendiri seru loh. Ada outbond nya segala, yang tentu saja melibatkan kita-kita juga. Pokoknya mah ini acara dari kita oleh kita dan untuk kita semua! Jelasnya ini dia susunan acara tentatifnya (kali aja teman2 yang semula gak berminat datang jadi tertarik untuk ikutan berpartisipasi:
Tema : Jangan Menyerah Karena Kemikiskinan! MC : Lula Kamal
13.00 - 13.10 : Sambutan Panitia 13.10 - 13.40 : Chatting with Fauzi Bowo "Memahami Perda Ketertiban Umum DKI" 13.40 - 13.55 : Lelang Lukisan Kaos --> dipandu oleh MC dan Ari, dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan secara simbolik oleh Pak Fauzi, Pak Hidayat, dan Ibu Ari Sarining Diyah kepada anak2 13.55 - 14.05 : Selingan pentas anak2 jalanan/Panti Yatim Piatu 14.05 - 14.35 : Sharing Life with Hidayat Nurwahid --> format: duduk melingkar bersama 14.35 - 14.45 : Selingan pentas anak2 jalanan/Panti Yatim Piatu 14.45 - 15.05 : Religious Story Telling with Inneke Koesherawati --> script by Lisa lifevolution 15.05 - 15.20 : Sholat Ashar 15.20 - 16.20 : Workshop Ketrampilan --> semua MPers ikut terlibat yaaa... 16.20 - 17.15 : Outbound Games --> semua MPers ikut terlibat juga yaaa.. 17.15 - 17.30 : Debriefing Outbound oleh Asma Nadia ---> memetik pelajaran akhlak mulia dari outbound --> interaktif 17.30 - 17.45 : Hiburan oleh Mas Faiz 17.45 - 17.55 : Pencerahan Hati (Kultum) oleh Taufiq Ismail 17.55 - 18.10 : Takjilan Buka Bersama 18.10 - 18.25 : Sholat Maghrib --> dipimpin oleh Pak Taufiq 18.25 - 18.40 : Penyerahan bingkisan oleh semua MPers kepada anak2 18.40 - 19.00 : Foto Keluarga 19.00 : Sayonara
So, buat teman-teman yang tertarik untuk kopdar amal dengan kita-kita dan adik-adik yatim plus adik-adik anjal dari sanggar Akar, yuk yuk ikutaaaaaaaaaaaaaaaaan!Buat teman-teman di luar negeri yang mau bantuin dana dan lain-lainnya, masih bisa loh! Silahkan dikirimkan lewat Western Union / Moneygram, atas nama Sri Sarining Diyah, Jl. Raya Pulogebang No. 2, Jakarta 13950
Sedang up date perkembangan dana sila dijenguk di SITU ya :-)
With love!
 "Kaadal fakru ayyukuuna kufraan" kata sebuah hadits! Sungguh kefakiran sangat dekat pada kekufuran! Makna terdalam kekafiran adalah pengingkaran keberadaan Tuhan, dalam nama apapun Dia Sang Pencipta ingin kau sebut. Dengan kata lain, kekafiran adalah kemiskinan absolut spiritualitas religius. Kemiskinan memiliki berbagai segi. Kemiskinan bisa juga berwujud dalam ketiadaan ilmu, yaitu kemiskinan akal. Kemiskinan harta adalah ketiadaan hak milik. Kemiskinan semangat adalah apatisme. Sedangkan kemiskinan moral adalah pengingkaran terhadap prinsip-prinsip etis dalam sikap dan perilaku. Segi-segi kemiskinan ini seperti lingkaran setan, dan kemunculan salah satunya akan memicu reaksi berantai bagi segi yang lainnya. Bila kita permanai, semakin banyak jumlah orang dan anak-anak yang berkeliaran di perempatan jalan. Bisakah kita menutup mata? Dalam segenap keterbatasan kita, selalu ada yang tersedia untuk sesama. Sudah barang tentu tak mungkin kita memerangi kemiskinan harta, seberapa kayanya pun kita. Terutama karena kemiskinan harta di negeri ini terbentuk oleh sistem yang tak adil bagi si kecil. Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Well, bukankah ada segi-segi kemiskinan lain yang mampu kita tangani? InspirasiSemangatIlmuHarapanJangan pernah menyerah karena kemiskinan! Ya, tema inilah yang akan kita tularkan kepada anak-anak yang kurang beruntung itu. Sebuah langkah kecil untuk memulai pemutusan lingkaran setan kemiskinan. Mudah-mudahan bisa membangkitkan daya juang mereka untuk mampu menolong diri mereka sendiri. Sebab, apalah artinya hidup tanpa harapan? Aku mengetuk pintu hatimu, kawan. Sudilah kiranya kau sisihkan sejenak waktu dan hatimu sedikit saja, untuk terlibat akt |
|