
Kemarin malam tepat pukul 7 aku meluncur membelah kota Jogja bersama seorang kawan. Aku memutuskan 'bersantai dan menikmati kesenian, yang sudah lama tidak kucecap. Happening art terakhir kali yang kusaksikan adalah
Pementasan Teater Koma dengan lakon
"Ada Apa dengan Leonardo?" dan jujur aku kurang puas pada banyak hal.
Kami menghadiri opening art:
KITA!! Japanese Artists Meet Indonesia, yang akan berl
angsung sebulan penuh
sampai dengan tanggal 18 Mei 2008 di Jogja. Jadwal di Bandung dan Jakarta silahkan dilihat di website:
Japan Foundation.Setiba di lokasi,
Jogja National Museum, kulihat gelombang manusia mulai mengerubung pintu masuk menuju pembukaan acara. Rupanya acara pembukaan molor! Kenapa ya? Hampir-hampir aku belum berhasil juga menemukan acara yang diselenggarakan di Indonesia tepat waktu :-)
Kami melangkah masuk. Mendaftar di meja pendaftaran. Mendapatkan selembar jadwal opening ceremony untuk malam itu dan satu stiker Jogja National Museum.
Aku memilih duduk dari pada berdiri, mengingat aku tidak tinggi dan malam itu aku sangat 'bernapsu' ingin memotret setelah tak menyentuh camera tersayang hampir dua bulan lamanya.
Kuayun kaki mendekati panggung kecil untuk pembukaan nanti. Aku duduk tenang. Kusapu pandang ke sekelilingku. Ada banyak seniman terkenal *tapi lupa namanya siapa saja*, bule-bule dan tentu saja
Japanese. Orang-orang asik mengobrol menujah waktu. Terdengar bak dengungan lebah dengan berbagai nada, ada celoteh bahasa Jawa, Indonesia, Inggris, Belanda, Jepang. dan entah bahasa apalagi. Unik. Berbeda tapi datang dengan tujuan sama: Menikmati olah seni dan kreasi anak manusia.

Pada titik ini aku tercenung. Seni acapkali menyatukan banyak orang, apapun latar belakangnya! Seni bisa sangat mesra menghubungkan dua manusia yang sama sekali tak saling mengenal. Bahkan berjauhan jaraknya dari satu titik di ujung bumi ke titik bumi lainnya. Kecintaan dan apresiasi pada musik, seni teater, seni lukis dan seterusnya mencipta jembatan tak kasat mata: perayaan budaya universal!
Dalam hal ini makanya sering kutemukan,atheis sekalipun bisa menikmati maha karya Rumi yang sebenarnya secara filsafat theologis sangat 'memuja dan merayu' Tuhan.
Eh jadi ngelantur, hahaha...
back to the ceremony!
Acara akhirnya dimulai sekitar pukul 8 kurang. Hampir molor satu jam. Tapi tak apa, aku masih bisa memberi sabar.
Satu hal yang kutemukan malam itu, pembukaan acaranya sangat 'Indonesia'. Berpanjang-panjang kata. Baik sambutan dari pihak Indone
sia maupun dari Japanese Artists representative! Ouch!
Katanya acara ini terselenggara berkat kerjasama beberapa art house di Jogja dengan Japan Foundation, untuk memperingati 50 tahun persahabatan Indonesia Jepang.
Setiap kali perwakilan artis itu bicara, MC harus menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia or vice versa. Saat itu hatiku sudah berlari kemana-mana. Ingin segera menyaksikan
Chanchiki Tornade [Orchestra music] dan
Strange Kinoko Dance Co. Karena dua hal inilah aku datang :-)
Usai sambutan-sambutan, yang kucatat paling penting di benakku adalah keinginan kedua belah pihak, agar lebih terbukanya kesempatan kedua negara untuk lebih mesra dalam berkesenian. Ada harapan agar tercipta ruang-ruang yang lebih luas bagi warga Indonesia untuk belajar pada Jepang yang sudah sangat maju. Tidak hanya Japanese artist saja yang 'hidup dan belajar' seni Indonesia, tapi Indonesia juga bisa 'mencuri ilmu' resep maju ala Jepang

.
Seremoni pembukaan akhirnya ditutup dengan dua hal:
Pertama, menyaksikan mereka [panitia Indonesia dan seniman Jepang berjumlah 50 orang] memotong tumpeng dan memakannya beramai-ramai di hadapan kami. Kasian deh penonton :-)
Kedua, sebuah becak ditarik dan dinaikkan ke atas panggung mini, lalu para seniman Jepang itu bergantian menggambar di becak yang sudah dicat putih itu. Mereka menyebut becak ini
SHUTTLE BECAK dan panitia menyediakan transportasi yang semakin tersisih di kota Jogja ini untuk mengunjungi venue lokasi pameran lainnya [Jogja National Museum - MES56 - Cemeti Art House - JNM kembali].
Lucu juga melihat mereka menggambar 'sign'nya masing-masing. Kelihatannya agak kesulitan karena mediumnya berupa cat licin mengkilat dan spidolnya entah kenapa tidak mengalir deras malam itu.
Acara pembukaan ditutup dan kami dipersilahkan menikmati pagelaran perdana malam itu:
Daaannnnnnnnn, aku baru pulang hampir jam sebelas malam. Membelah Jogja yang hening kembali setelah keramaian sesaat, merayakan ekspresi manusia berkesenian.