Imazahra's posts with tag: art

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag art
Blog EntrySayangilah Bumi...Apr 19, '08 4:33 PM
for everyone
[Laporan Selayang Pandang Menikmati Pameran KITA!! Japanese Artist Meet Indonesia]

Tempat pameran sangat luas. Kufikir sanggup menampung ribuan pengunjung yang mengalir menikmati karya seni kontemporer. Ruang-ruang yang disediakan cukup besar. Maklum, gedung yang dipakai adalah gedung ASRI tempo dulu.

Setelah berkeliling-keliling melihat aneka instalasi, aku mengambil kesimpulan bahwa seniman Jepang sangat-sangat concern pada isu penyelamatan bumi yang sudah semakin renta.

Ada seni instalasi barang-barang bekas yang diolah menjadi instrumen musik unik dan terdengar aneh karena semua alat bekas tumplek blek di situ [Sonton].

Ada Recycle Art berupa ikan raksasa. Site ini menyedot banyak pengunjung. Sebuah TV yang diletakkan di sisi ikan 'bekas bungkus household things' dinyalakan. TV ini memutar kepingan CD yang menuturkan kisah dibalik layar berupa ide, proses pembuatan dan percobaan menggunakan ikan daur ulang tersebut di atas sungai! Hei, ikan 'palsu' ini tidak sekedar bisa berlayar tegak, tapi juga bisa ditumpangi orang!

Di ruang ini orang ramai bersorak sorai begitu mereka melihat si seniman berhasil menaiki 'kapal' ikan daur ulangnya tanpa rebah di air. Sebuah karya seni yang sangat memperhitungkan ketepatan matematis walau terlihat sangat rapuh secara fisik.


Ada sebuah ruangan yang di-setting sebagai TPS [tempat pembuangan Sampah] dan tentu saja bau busuk menyergap hidung kita. Lagi-lagi isu yang diusung adalah environmental issues. Di depan tumpukan sampah  yang rata-rata merupakan plastik bekas bercampur segala macam 'buangan', diletakkanlah sebuah layar LCD raksasa dua buah, isinya menjelaskan 'kisah' sampah, para pemulung dan anak-anak muda Jepang yang berinteraksi dengan mereka.

Cuma aku kurang 'ngeh' dengan konsep instalasi ini karena perhatianku malah tersedot pada pada kerumunan kecil di sudut ruang itu dengan bunyi musik seperti mesin jahit. Ternyata layar TV tersebut mempertontonkan tatto Jelangkung. Jadi ada seorang seniman Jepang yang dibaringkan dan punggungnya dibiarkan terbuka lalu ditatto oleh teman-temannya beramai-ramai.

Si 'pesakitan' menjerit-jerit sementara mesin tatto juga melengking tanpa ampun menggoreskan jarumnya ke sekujur punggung si seniman. Ada sekitar 4 seniman yang bersama-sama memegang mesin tatto tersebut tanpa mereka sendiri mengerti apa yang mau di'lukis' oleh si roh jelangkung.

Hasilnya ternyata gambar sesosok tengkorak [kurang lebih begitu] dan serangkai kalimat Jepang. Aku gak bisa motret potonya karena manusia berkerumun di situ.

Kreatif sekali ya seniman Bali yang menjual 'ide' dan mitos jelangkung ini, mengawinkan rasa penasaran tentang 'permainan' jelangkung dengan keinginan turis untuk ditatto. Tatto Jelangkung! Ada-ada saja!

Ada angkringan.
Ini 'lucu' juga. Di meja angkringan [sepertinya sih ini angkringan juga apa bukan ya? Soalnya bentuknya seperti gerobak penjual rujak buah] disediakan lembaran kertas yang berisi pertanyaan kurang lebih begini:

"Saya menyapa dunia lewat masakan. Saya sedang melakukan penelitian tentang masakan-masakan yang dianggap paling populer sekaligus merakyat. Masakan apa yang anda sukai di Indonesia???"

Tentu saja dengan bersemangat aku menuliskan daftar masakan kesukaanku:
Bakso
Siomay
Martabak
Soto Banjar
Empek-empek,           
anda sendiri mau menambahkan? Datang saja ke KITA!!

Ada lukisan lumpur.
Aku suka sekali berlama-lama di sini.
Menikmati setiap detil.
Lukisannya beraliran dekoratif. Enak dipandang karena dia menggunakan warna alam. Seniman pembuatnya anak muda bernama Asai Yusuke kelahiran 1981 dari Prefektur Kanagawa. Konsep yang diusungnya berbeda dengan seniman lukis pada umumnya: Jika seniman lukis membutuhkan kanvas dan alat lukis berupa cat dan kuas. Maka Asai hanya membutuhkan alam dan semesta sebagai mediumnya. Sekaligus Asai menganggap bahwa berkesenian harus ramah pada mother earth.

Asai bilang, dia tidak merasa 'sakit hati' ketika lukisannya tidak bertahan lama, hilang atau terhapus karena medium yang dia gunakan adalah alam dan cat yang digunakan pun adalah alam [seperti tanah, lumpur, pewarna tumbuh-tumbuhan, selotip bekas, dan seterusnya]. Dia sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet kimia.

Buatnya, lukisannya adalah perayaan kecintaannya terhadap alam. Terdengar mengagumkan ya!

Semua informasi ini kudapatkan dari exhibition staff yang menyapaku saat aku asik memotret sana sini. Dia fikir aku wartawan. Aku bilang aja aku citizen journalist. Dan dia sukses mengernyitkan keningnya, huehehehe...

Terakhir, yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah koleksi pameran berupa ikan.

Ikan dari perairan Indonesia, hingga 'ikan' yang didatangkan dari Jepang.

Ikan yang dari Jepang terlihat sangat hidup karena keahlian seniman pembuatnya.

Suasana semakin terasa 'real' karena ikan-ikan dari perairan Indonesia itu diawetkan tanpa bahan pengawet kimia juga. Si seniman hanya menggunakan panas matahari sebagai alat pengering dan garam pengawet alami. Tentu saja bau amis menguar ke seluruh ruang dan udara yang kuhirup.

Begitu mataku menjauh dari ikan-ikan aneka jenis tersebut, hatiku mendesir!

Ada sesosok makhluk! Tubuhnya adalah tubuh manusia. Bertelanjang dan hanya memakai celana dalam fancy berwana kuning ngejreng dan sepatu boots berhak lancip berwarna senada!
Manusia ikan yang seksi!

Sekaligus sangat nyata.
Berulang kali aku menatap tak berkedip!

Perasaanku teraduk-aduk.
Antara ngeri, sedih bingung dan agak 'terhina' [kenapa harus ikan perempuan yang seksi? Kenapa gak Deni si manusia ikan yang laki-laki itu???].

Sampai-sampai aku bingung sendiri,
Ini jangan-jangan benar-benar manusia ikan yang ditemukan dan diawetkan, hiiiiiiiyyyyyyy!


'Dia' terkapar tak berdaya dan mati.
Sisa darah kering yang mengalir dari tubuhnya terlihat menyebar di berbagai titik.
Sangat mengenaskan kondisinya.

Saat menatap manusia ikan berupa perempuan 'cantik' ini,
aku mendadak 'hening' sejenak.
Membayangkan biota laut kita yang cantik-cantik di dasar laut sana...
perlahan tapi pasti semakin terancam kepunahan
karena ulah manusia-manusia serakah.

Sebuah repertoir gabungan keahlian beberapa seni yang mengagumkan!

Secara umum, aku puas! Aku seperti menikmati pameran-pameran di museum-museum Inggris. Hanya saja seluruh karyanya diangkut ke Jogja, hehehe...

Yang kuingat setiap kali mengunjungi museum di Inggris, museum di sana bukanlah ruang-ruang pamer tua yang sepi. Museum adalah benar-benar tempat di mana manusia bisa belajar banyak hal atas segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu dan sekarang.


Museum adalah sahabat jiwa yang berulang kali mengingatkan manusia pengunjungnya: jangan lupa pada sejarah dan cintai bumi dan isinya!

Dan KITA!! berhasil menyampaikan pesan itu kembali, setidaknya untukku!

Selamat kuucapkan untuk panitia KITA!! dan tentu saja untuk para seniman Jepang yang sudah berkarya menggunakan sumber daya alam yang ada di Indonesia.

Mudahan seniman Indonesia juga tak mau ketinggalan berkarya. Seni yang kreatif sekaligus environmentally friendly!

PS
Photonya silahkan meluncur ke album berjudul: Ada Manusia Ikan!!!

Photo AlbumAda Manusia Ikan! (14 photos)Apr 19, '08 3:00 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Laporan Photo Selepas Menghadiri Pembukaan KITA!! Japanese Artist Meet Indonesia.

Tempat pameran sangat luas. Kufikir sanggup menampung ribuan pengunjung yang mengalir menikmati karya seni. Ruang-ruang yang disediakan cukup besar. Maklum, gedung yang dipakai adalah gedung ASRI tempo dulu.

Setelah berkeliling-keliling melihat aneka instalasi, aku mengambil kesimpulan bahwa seniman Jepang sangat-sangat concern pada isu penyelamatan bumi yang sudah semakin renta.

Ada seni instalasi barang-barang bekas yang diolah menjadi instrumen musik unik dan terdengar aneh karena semua alat bekas tumplek blek di situ [Sonton].

Ada Recycle Art berupa ikan raksasa. Site ini menyedot banyak pengunjung, karena ada TV yang dinyalakan yang memutar kisah dibalik layar berupa ide, proses pembuatan dan percobaan menggunakan ikan daur ulang tersebut di atas sungai! Hei, tidak sekedar ikan 'palsu' ini bisa berlayar tegak, tapi juga bisa ditumpangi orang! Di ruang ini orang ramai bersorak sorai begitu mereka melihat si seniman berhasil menaiki 'kapal' ikan daur ulangnya tanpa rebah di air. Sebuah karya seni yang sangat memperhitungkan ketepatan matematis walau terlihat sangat rapuh secara fisik.

Ada sebuah ruangan yang di-setting sebagai TPS [tempat pembuangan Sampah] dan tentu saja bau busuk menyergap hidung kita. Lagi-lagi isu yang diusung adalah isu environmental. Jadi di depan gunungan sampah itu diletakkan sebuah layar LCD raksasa dua buah, isinya menjelaskan 'kisah' sampah, para pemulung dan anak-anak muda Jepang yang berinteraksi dengan mereka.

Cuma aku kurang 'ngeh' dengan konsep ini karena perhatianku malah tersedot pada pada kerumunan kecil di sudut ruang itu dengan bunyi musik seperti mesin jahit. Ternyata layar TV tersebut mempertontonkan tatto Jelangkung. Jadi ada seorang seniman Jepang yang dibaringkan dan punggungnya dibiarkan terbuka lalu ditatto oleh teman-temannya beramai-ramai.

Si 'pesakitan' menjerit-jerit sementara mesin tatto juga melengking tanpa ampun menggoreskan jarumnya ke sekujur punggung si seniman. Ada sekitar 4 seniman yang bersama-sama memegang mesin tatto tersebut tanpa mereka sendiri mengerti apa yang mau di'lukis' oleh si roh jelangkung.
Hasilnya ternyata gambar sesosok tengkorak [kurang lebih begitu] dan serangkai kalimat Jepang. Aku gak bisa motret potonya karena manusia berkerumun di situ.

Kreatif sekali ya seniman Bali yang menjual 'ide' dan mitos jelangkung ini, mengawinkan rasa penasaran tentang 'permainan' jelangkung dengan keinginan tourist untuk ditatto. Tatto Jelangkung! Ada-ada saja!

Ada angkringan.
Ini 'lucu' juga. Di meja angkringan disediakan lembaran kertas yang berisi pertanyaan kurang lebih begini:

"Saya menyapa dunia lewat masakan. Saya sedang melakukan penelitian tentang masakan-masakan yang dianggap paling populer sekaligus merakyat. Masakan apa yang anda sukai di Indonesia???"

Tentu saja dengan bersemangat aku menuliskan daftar masakan kesukaanku:
Bakso
Siomay
Martabak
Soto Banjar
Empek-empek,
anda sendiri mau menambahkan? Datang saja ke KITA!!

Ada lukisan lumpur.
Aku suka sekali berlama-lama di sini.
Menikmati setiap detil.
Lukisannya beraliran dekoratif. Enak dipandang karena dia menggunakan warna alam. Seniman pembuatnya anak muda bernama Asai Yusuke kelahiran 1981 dari Prefektur Kanagawa. Konsep yang diusungnya berbeda dengan seniman lukis pada umumnya: Jika seniman lukis membutuhkan kanvas dan alat lukis berupa cat dan kuas. Maka Asai hanya membutuhkan alam dan semesta sebagai mediumnya. Sekaligus Asai menganggap bahwa berkesenian harus ramah pada mother earth.

Asai bilang, dia tidak merasa 'sakit hati' ketika lukisannya tidak bertahan lama, hilang atau terhapus karena medium yang dia gunakan adalah alam dan cat yang digunakan pun adalah alam [seperti tanah, lumpur, pewarna tumbuh-tumbuhan dan seterusnya]. Dia sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet kimia.

Buatnya, lukisannya adalah perayaan kecintaannya terhadap alam. Terdengar mengagumkan ya!

Semua informasi ini kudapatkan dari exhibition staff yang menyapaku saat aku asik memotret sana sini. Dia fikir aku wartawan. Aku bilang aja aku citizen journalist. Dan dia sukses mengernyitkan keninganya, huehehehe...

Terakhir, yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah koleksi pameran berupa ikan.

Ikan dari perairan Indonesia, hingga 'ikan' yang didatangkan dari Jepang.

Ikan yang dari Jepang terlihat sangat hidup karena keahlian seniman pembuatnya.

Suasana semakin terasa 'real' karena ikan-ikan dari perairan Indonesia itu diawetkan tanpa bahan pengawet kimia juga. Si seniman hanya menggunakan panas matahari sebagai alat pengering sekaligus pengering. Bau amis pun menguar ke seluruh ruang dan udara yang kuhirup.

Begitu mataku menjauh dari ikan-ikan aneka jenis tersebut, hatiku mendesir!

Ada sesosok makhluk! Tubuhnya adalah tubuh manusia. Bertelanjang dan hanya memakai celana dalam fancy berwana kuning ngejreng dan sepatu boots berhak lancip berwarna senada!
Manusia ikan yang seksi!

Sekaligus sangat nyata.
Berulang kali aku menatap tak berkedip!
Sampai-sampai bingung sendiri, ini jangan-jangan benar-benar manusia ikan yang ditemukan dan diawetkan, hiiiiiiiyyyyyyy!

'Dia' terkapar tak berdaya dan mati.
Sisa darah kering yang mengalir dari tubuhnya terlihat menyebar di berbagai titik.
Sangat mengenaskan kondisinya.

Saat menatap manusia ikan berupa perempuan 'cantik' ini,
aku mendadak 'hening' sejenak.
Membayangkan biota laut kita yang cantik-cantik di dasar laut sana...
perlahan tapi pasti semakin terancam kepunahan
karena ulah manusia-manusia serakah.

Sebuah repertoir gabungan keahlian beberapa seni yang mengagumkan!

In general, aku merasa seperti menikmati pameran-pameran di museum-museum Inggris. Museum di sana bukanlah ruang-ruang pamer tua yang sepi. Museum adalah benar-benar tempat di mana manusia bisa belajar banyak hal atas segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu dan sekarang.

Museum adalah sahabat jiwa yang berulang kali mengingatkan manusia pengunjungnya: jangan lupa pada sejarah dan cintai bumi dan isinya!

Dan KITA!! berhasil menyampaikan pesan itu kembali, setidaknya untukku!

Selamat kuucapkan untuk panitia KITA!!

Blog EntryKITA!! Apr 19, '08 5:30 AM
for everyone
Kemarin malam tepat pukul 7 aku meluncur membelah kota Jogja bersama seorang kawan. Aku memutuskan 'bersantai dan menikmati kesenian, yang sudah lama tidak kucecap. Happening art terakhir kali yang kusaksikan adalah Pementasan Teater Koma dengan lakon "Ada Apa dengan Leonardo?" dan jujur aku kurang puas pada banyak hal.

Kami menghadiri opening art: KITA!! Japanese Artists Meet Indonesia, yang akan berlangsung sebulan penuh sampai dengan tanggal 18 Mei 2008 di Jogja. Jadwal di Bandung dan Jakarta silahkan dilihat di website: Japan Foundation.

Setiba di lokasi, Jogja National Museum, kulihat gelombang manusia mulai mengerubung pintu masuk menuju pembukaan acara. Rupanya acara pembukaan molor! Kenapa ya? Hampir-hampir aku belum berhasil juga menemukan acara yang diselenggarakan di Indonesia tepat waktu :-)

Kami melangkah masuk. Mendaftar di meja pendaftaran. Mendapatkan selembar jadwal opening ceremony untuk malam itu dan satu stiker Jogja National Museum.

Aku memilih duduk dari pada berdiri, mengingat aku tidak tinggi dan malam itu aku sangat 'bernapsu' ingin memotret setelah tak menyentuh camera tersayang hampir dua bulan lamanya.

Kuayun kaki mendekati panggung kecil untuk pembukaan nanti. Aku duduk tenang. Kusapu pandang ke sekelilingku. Ada banyak seniman terkenal *tapi lupa namanya siapa saja*, bule-bule dan tentu saja Japanese. Orang-orang asik mengobrol menujah waktu. Terdengar bak dengungan lebah dengan berbagai nada, ada celoteh bahasa Jawa, Indonesia, Inggris, Belanda, Jepang. dan entah bahasa apalagi. Unik. Berbeda tapi datang dengan tujuan sama: Menikmati olah seni dan kreasi anak manusia.

Pada titik ini aku tercenung. Seni acapkali menyatukan banyak orang, apapun latar belakangnya! Seni bisa sangat mesra menghubungkan dua manusia yang sama sekali tak saling mengenal. Bahkan berjauhan jaraknya dari satu titik di ujung bumi ke titik bumi lainnya. Kecintaan dan apresiasi pada musik, seni teater, seni lukis dan seterusnya mencipta jembatan tak kasat mata: perayaan budaya universal!

Dalam hal ini makanya sering kutemukan,atheis sekalipun bisa menikmati maha karya Rumi yang sebenarnya secara filsafat theologis sangat 'memuja dan merayu' Tuhan.

Eh jadi ngelantur, hahaha... back to the ceremony!

Acara akhirnya dimulai sekitar pukul 8 kurang. Hampir molor satu jam. Tapi tak apa, aku masih bisa memberi sabar.

Satu hal yang kutemukan malam itu, pembukaan acaranya sangat 'Indonesia'. Berpanjang-panjang kata. Baik sambutan dari pihak Indonesia maupun dari Japanese Artists representative! Ouch!

Katanya acara ini terselenggara berkat kerjasama beberapa art house di Jogja dengan Japan Foundation, untuk memperingati 50 tahun persahabatan Indonesia Jepang.

Setiap kali perwakilan artis itu bicara, MC harus menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia or vice versa. Saat itu hatiku sudah berlari kemana-mana. Ingin segera menyaksikan Chanchiki Tornade [Orchestra music] dan Strange Kinoko Dance Co. Karena dua hal inilah aku datang :-)

Usai sambutan-sambutan, yang kucatat paling penting di benakku adalah keinginan kedua belah pihak, agar lebih terbukanya kesempatan kedua negara untuk lebih mesra dalam berkesenian. Ada harapan agar tercipta ruang-ruang yang lebih luas bagi warga Indonesia untuk belajar pada Jepang yang sudah sangat maju. Tidak hanya Japanese artist saja yang 'hidup dan belajar' seni Indonesia, tapi Indonesia juga bisa 'mencuri ilmu' resep maju ala Jepang.

Seremoni pembukaan akhirnya ditutup dengan dua hal:
Pertama, menyaksikan mereka [panitia Indonesia dan seniman Jepang berjumlah 50 orang] memotong tumpeng dan memakannya beramai-ramai di hadapan kami. Kasian deh penonton :-)

Kedua, sebuah becak ditarik dan dinaikkan ke atas panggung mini, lalu para seniman Jepang itu bergantian menggambar di becak yang sudah dicat putih itu.  Mereka menyebut becak ini SHUTTLE BECAK dan panitia menyediakan transportasi yang semakin tersisih di kota Jogja ini untuk mengunjungi venue lokasi pameran lainnya [Jogja National Museum - MES56 - Cemeti Art House - JNM kembali].

Lucu juga melihat mereka menggambar 'sign'nya masing-masing. Kelihatannya agak kesulitan karena mediumnya berupa cat licin mengkilat dan spidolnya entah kenapa tidak mengalir deras malam itu.

Acara pembukaan ditutup dan kami dipersilahkan menikmati pagelaran perdana malam itu:
  • Karya instalasi
  • Lukisan-lukisan dengan aneka media [banyak yang menarik, nanti kalau gak malas kujurnalkan terpisah atau pas di albumnya saja sedikit kujelaskan].
  • Orchestra music by Chanchiki Tornado [mostly trumpet and big horns played beautifully in harmony]
  • Strange Kinoko Dance Co. [aku sangat-sangat menikmati tarian powerful yang 'berbicara' ini.
  • Sonton [contemporer music]
Daaannnnnnnnn, aku baru pulang hampir jam sebelas malam. Membelah Jogja yang hening kembali setelah keramaian sesaat, merayakan ekspresi manusia berkesenian.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help