
Jentera malam semakin pekat dan kami saling berkisah. Awalnya ngalur ngidul. Merambah berbagai topik, dari A sampai Z. Disambi aktifitas masing-masing. Juga jeda karena saling pamit untuk mendirikan sholat.
Lalu entah kenapa topik kami berganti:
tentang murottal al-Qur'an.
Kebetulan aku merekam suaraku sendiri ketika mendaras ar Rahman saat menjadi shop keeper di medio Agustus 2006 kedalam handphone.
Kudekatkan handphone ku ke speaker;
dia tertawa, seperti suara anak kecil katanya.
Entah siapa yang memulai...
kita sama-sama melantunkan surat an Nabaa.
Dia beberapa kali mencek panjang pendek harakat ku.
Ups, banyak keseleo!
Hatiku basah,
pelan-pelan lindap cercah cahaya
dalam sudut gelap di sana
Uh!
Memoriku melambung
memetik kenangan masa kecilku
di Mu'allimaat...,
tersentak aku,
raga ini semakin jauh melangkah
meninggalkan hafalanku
yang tak terjaga!
Shubuh beringsut mendekat,
aku merasakan sebongkah beban di dada
meringan:
melayang bersama suara daras
menyapa fajar yang menjelang...
Dek...,
terima kasih banyak
Uhibbuka fillah!
*I dedicate this journal for you*